Categories
makalah

Contoh Makalah Pendidikan Dasar

Contoh Makalah Pendidikan Dasar – Hallo, Best Jobbers, apa kabar hari ini? Apakah anda semua dalam keadaan sehat dan bahagia? Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda semua.

Well, Best Jobbers, kembali lagi di portal bestjobaroundtheworld.com portal yang selalu menyajikan artikel keilmuan yang bermanfaat bagi dunia akademis.

Dalam kesempatan kali ini, lagi dan lagi saya akan menyajikan contoh makalah Contoh Makalah Pendidikan Dasar. Contoh makalah pendidikan dasar ini saya peroleh dari hibah teman saya Eka Puji Astutik, calon sarjana Strata 1 FTIK IAIN Pekalongan.

Tema contoh makalah pendidikan dasar ini mengangkat permasalahan seputar dunia pendidikan. Dalam contoh makalah pendidikan dasar ini dijelaskan tentang permasalahan komersialisasi di dunia pendidikan.

Komersialisasi ini menjadi permasalahan yang cukup diperdebatkan dalam dunia pendidikan.

Contoh makalah pendidikan dasar ini tentu akan sangat bermanfaat bagi anda mahasiswa fakultas keguruan maupun pendidikan lain.

Hal itu karena saya selalu menyertakan sumber atau referensi dari buku-buku maupun literasi yang jelas di setiap contoh makalah yang saya hadirkan. Tidak terkecuali dalam contoh makalah pendidikan dasar ini.

Untuk mengetahui tingkat plagiarisme dari contoh makalah pendidikan dasar ini, anda dapat mengcopy teks yang saya sediakan di sini. Anda juga dapat mendownload file asli dalam format Microsoft word nya di sini.

Selain itu anda juga dapat mendownload via google drive di link yang saya sediakan di akhir artikel.

Well, Best Jobbers, kita simak contoh makalah pendidikan dasar di bawah ini.

Baca Juga : Contoh Makalah Pendidikan, Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Pendidikan Dasar : Komersialisasi Dalam Dunia Pendidikan

Contoh Makalah Pendidikan dasar
Source : GEOTIMES

Dalam artikel ini, saya memberikan Contoh Makalah Pendidikan Dasar dengan mengangkat tema : Komersialisasi Dalam Dunia Pendidikan. Contoh Makalah Pendidikan Dasar ini disusun berdasarkan problema yang marak terjadi di dunia pendidikan.

Komersialisasi sering kita jumpai di ranah pendidikan negeri ini. Dalam Contoh Makalah Pendidikan Dasar yang saya unggah ini, akan disebutkan berbagai hal dari problema tersebut.

Anda dapat menjadikan contoh makalah ini sebagai acuan untuk membuat makalah dengan tema yang serupa karena saya mencantumkan teori-teori dari para pakar yang kredibel.

Mari kita simak dengan seksama….

Bab 1: Pendahuluan

Source : PT. NATAKUSUMA

Bab I yang berisi latar belakang dan Rumusan Masalah. Latar belakang berisi tentang perihal atau  urgensi apa yang menyebabkan seorang penulis menyusun makalah.

Penyusunan  contoh makalah ini berawal dari keprihatinan penulis akan adanya permasalahan kesulitan akses pendidikan bagi masyarakat ekonomi kelas bawah.

Seringkali lembaga pendidikan menerapkan standar pembayaran yang tidak mampu dijangkau oleh masyarakat kelas ekonomi tersebut. Adanya komersialisasi dalam lembaga menjadi pemicunya.

Rumusan masalah dibuat agar permasalahan yang dibahas fokus dalam satu titik. Hal ini agar tidak terjadi bias pembahasan dan bias pemahaman dari pembacanya.

Mari kita simak pembahasan Bab I dari makalah ini.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan selain sebagai suatu pembentuk watak atau kepribadian juga mempersiapkan sumber daya manusia yang handal serta dapat dipertanggung jawabkan.

Pendidikan berpengaruh terhadap kehidupan suatu bangsa untuk masuk dan memperoleh dampak-dampak yang ditimbulkan arus globalisasi tersebut.

Dampak yang ditimbulkan arus globalisasi tersebut telah melanda di bidang kehidupan masyarakat bangsa Indonesia pada khususnya, baik bidang sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan dalam bidang pendidikan.

Pendidikan telah terjebak dalam arus kapitalisasi yang dalam istilah lain bernama komersialisasi pendidikan.Adanya biaya pendidikan yang tidak murah.

Oleh karena itu hal ini berakibat berakibat  banyaknya anak yang berasal dari kelas ekonomi bawah sulit mendapatkan akses pendidikan yang lebih bermutu.

Sekolah kemudian menerapkan aturan seperti pasar yang berimplikasi pada visiologis pendidikan yang salah. Keberhasilan pendidikan hanya didasari pada besarnya jumlah lulusan sekolah yang dapat diserap oleh sektor industri.

Dunia pendidikan Indonesia saat ini dianggap belum dapat mencapai titik keberhasilan yang diharapkan bersama.

Permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia begitu banyak dan rumit sehingga solusi yang dilakukan untuk keluar dari permasalahan tersebut tidaklah mudah.

Permasalahan yang tidak kalah penting yaitu menyangkut masalah biaya pendidikan saat ini yang semakin mahal.

Setiap jenjang pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan untuk tingkat sekolah dasar biaya pendidikan yang harus dikeluarkan hampir mendekati atau bahkan jauh lebih mahal daripada sekolah lanjutan sehingga menyaingi biaya pendidikan untuk perguruan tinggi.

Banyak pungutan-pungutan yang ditarik oleh sekolah sehingga biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik semakin banyak dan mahal setiap tahunnya.

Pendidikan di Indonesia masih merupakan investasi yang mahal sehingga diperlukan perencanaan keuangan serta persiapan dana pendidikan sejak dini.

Masyarakat Kelurahan Pabiringa yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan, sehingga harus memiliki perencanaan keuangan sejak awal, agar pendidikan anak terus berlanjut dan tidak putus sekolah.

Rumusan Masalah

Apa makna komersialisasi dalam pendidikan?

Bagaimana upaya meminimalisir komersialisasi dalam pendidikan islam ?

Kegunaan Makalah

Untuk mengetahui makna komersialisasi dalam pendidikan

Untuk menjabarkan  upaya meminimalisir komersialisasi dalam pendidikan islam

Bab II : Pembahasan

Source : Inside Higher Ed

Dalam Bab II, dikemukakan teori-teori yang relevan dengan tema. Teori-teori tentang pendidikan dan komersialisasi dijabarkan di sini.

Selain itu, analisa yang sistematis dari penulis juga sangat menentukan arah pembahasan masalah. Analisa yang tepat akan menentukan kualitas makalah.

Makna komersialisasi dalam pendidikan

Komersialisasi pendidikan menurut Agus Wibowo sebagaimana dikutip Asmirawanti juga mengacu pada dua pengertian yang berbeda.

komersialisasi hanya mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pendidikan serta perlengkapan yang serba mahal.

Selain itu, komersialisasi pendidikan juga mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan penarikan uang pendaftaran dan uang sekolah saja, tetapi mengabaikan kewajiban yang harus diberikan kepada siswa.

Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal.

Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat, sehingga lembaga tersebut tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan, tetapi uang pembayaran sekolah sangat mahal.

Pemungutan biaya tinggi hanya untuk memfasilitasi jasa pendidikan serta menyediakan infrastruktur pendidikan bermutu, seperti menyediakan fasilitas teknologi informasi, laboratorium dan perpustakaan yang baik serta memberikan kepada para guru atau dosen gaji menurut standar.

Sedangkan untuk sisa anggaran yang diperoleh, digunakan untuk menanamkan kembali bentuk infrastruktur pendidikan.

Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila, tetapi dapat menimbulkan diskriminasi dalam pendidikan nasional.

Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang kuliah, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Komersialisasi pendidikan ini biasa dilakukan oleh lembaga atau sekolah-sekolah yang menjanjikan pelayanan pendidikan, tetapi tidak sepadan dengan uang yang pungut.

Komersialisasi pendidikan dapat pula dimaknai  memperdagangkan pendidikan. Hal ini sesuai dengan KBBI yang menyatakan bahwa  kata komersial atau commercialize berarti memperdagangkan.

Adapun istilah “komersialisasi pendidikan”. Dewasa ini terdapat  dua pengertian yang berbeda yang  mengacu pada istilah komersialisasi pendidikan, yaitu:

Komersialisasi pendidikan yang mengacu lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan mahal. Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat.

Berdasarkan kenyataan tersebut,  lembaga seperti ini tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan. Pemungutan biaya yang tinggi digunakan untuk menfasilitasi jasa pendidikan serta menyediakan infrastruktur pendidikan yang bermutu.

Sisa anggaran yang mereka peroleh, mereka tanamkan kembali bentuk infrastruktur pendidikan. Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila.  Akan tetapi perlu dicermati juga, karena dapat menimbulkan diskriminasi dalam pendidikan nasional.

Komersialisasi pendidikan pada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang Pendaftaran dan uang kuliah saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan. Komersialisasi pendidikan ini dilakukan oleh lembaga yang menjanjikan pelayanan pendidikan. Akan tetapi tidak sepadan dengan uang yang mereka pungut.

Pada lembaga atau sekolah yang seperti ini, laba atau selisih anggaran yang diperoleh tidak ditanam kembali ke dalam infrastruktur pendidikan, melainkan dipergunakan untuk memperkaya  pihak-pihak yang tidak secara langsung bekerja menyajikan pelayanan di lembaga tersebut.

Pihak-pihak tersebut adalah anggota yayasan atau badan amal pendidikan yang menguasai lembaga pendidikan.

komersialisasi jenis kedua ini jelas berbahaya bagi tujuan pendidikan karen dapat pula melaksanakan praktik memburu gelar akademik tanpa melalui proses serta mutu yang telah ditentukan.

Hal ini jelas dapat membunuh idealisme pendidikan Pancasila. Hal tersebut jelas tercantum di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 pasal 1 yang berbunyi:

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara

Dalam bab tersebut ditas jelas dinyatakan bahwa pendidikan itu harus melalui proses belajar dan berakhlak mulia, mungkin ini kurang terdapat dalam komersialisasi pendidikan jenis kedua di atas.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa komersialisasi penddiikan adalah pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal.

Sehingga hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang operasional pendidikan, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Dalam hal ini, dapat terlihat dari kebiasaan di sebuah sekolah unggulan di Jawa Timur yaitu SMA Trensains Jombang dan SMA Islam Sabilillah Malang.

Dimana di kedua SMA tersebut memberikan syarat bagi siswa baru untuk membayar sebesar 15 Juta Rupiah untuk  18 juta rupiah untuk SMA Islam Sabilillah Malang SMA Trensains Jombang.

Tetapi hal itu sepadan dengan kualitas kedua sekolah tersebut yang sering menjuarai kejuaraan Sains tingkat Internasional.

Komersialisme pendidikan adalah hasil dari Idealisme liberal yang sesungguhnya adalah produk dari modernisasi Barat yang telah menggilas cara pandang lama yang membuat cara berpikir manusia dikendalikan oleh sesuatu di luar dirinya.

Ide modernisme yang menonjol adalah pencerahan (enlightment), sebuah proses kesadaran dari belenggu adat dan budaya kegelapan yang memasung pikiran manusia selama berabad-abad.

Liberalisme klasik melahirkan banyak pemikir yang memiliki cita-cita untuk mengangkat individu menjadi pemilik dunianya secara otonom dan membebaskan diri dari penghalang yang memasung kebebasan indvidu untukmengekspresikandiri sebagai manusia.

Karenanya liberalisme dan individualisme biasa menjadi suatu hal yang tak terpisahkan.

Keduanya membentuk suatu ideologi dan cara pandang yang sangat penting bagi awal-awal pertumbuhan ide-ide modern di Barat.

Tradisi berpikir liberal dapat diidentifikasi menjadi enam prinsip dasar yang pernah disebutkan oleh JulioTeehankee, yaitu :

Individualisme; Kaum liberal percaya bahwa pribadi atau individu adalah sesuatu yang sangat penting.

Seluruh kebijakan liberal mengarah atau diarahkan untuk memmberikan ruang kepada kebebasan dan hak-hak individu. Bagi liberal, individualisme lebih penting dari kolektivisme.

Rasionalisme; Kaum liberal percaya bahwa dunia memiliki struktur yang rasional, yang dapat dipahami secara logis.

Keteraturan dunia bisa dipahami lewat deliberasi pikiran dan pencarian kritis terus menerus.

Kebebasan; Tak ada kata yang lebih penting bagi seorang liberal selain kebebasan.

Kebebasan adalah kemampuan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan mata hati (conscience) dan determinasi. Seluruh filosofi liberalisme berangkat dari kebebasan manusia.

Tanggungjawab; Kebebasan tanpa tanggungjawab adalah keliaran. Orang sering salah memahami liberalisme sebagai liarisme.

Liberalisme adalah kebebasan plus tanggung jawab.

Keadilan; Kaum liberal percaya bahwa keadilan adalah nilai moral yang harus dijunjung tinggi, Keadilan bukan berarti mengorbankan hak seseorang demi membela hak yang lainnya.

Keadilan adalah pemberian kesempatan kepada setiap individu untuk bersaing dan menggapai hak-haknya,

Toleransi; Sebuah sikap menerima atau menghormati pandangan atau tindakan orang lain, sekalipun pandangan atau tindakan itu belum tentu disetujuinya.

Toleransi adalah dasar bagi kebersamaan dan kerukunan hidup. Tanpa toleransi, kebebasan tidak dapat ditegakkan.

Faktor Penyebab terjadinya Komersialisasi dalam pendidikan

Terjadinya komersialisasi pendidikan di Indonesia adalah sesuatu yang possibel, sebab baik secara eksternal maupun kondisi internal, terdapat ruang yang memberi peluang bagi tumbuh suburnya komersialisasi.

Setidaknya dapat dilihat dari dua aspek.

Faktor eksternal

Dalam bidang pendidikan, Komersialisasi berpangkal pada tiga unsur,

yakni Ideologi neoliberalisme yang menyertai globalisasi, hak untuk mendapat keuntungan, dan bagaimana perguruan tinggi melakukan bisnis dalam sistem ekonomi yang berbasis pada pengetahuan, dengan modal profesional dan intelektual.

Komersialisasi pendidikan dalam kontek idiologi neoliberalisme dan kapitalisme, berhubungan dengan kualitas outputnya, profit yang didapatkan berasal dari prodak ilmu pengetahuan yang dapat dijual,

seperti hasil penelitian ilmiah yang dibutuhkan oleh pihak lain dalam mengembangkan perekonomiannya.

Dengan demikian, mahalnya pembiayaan pendidikan terjadi karena outputnya yang berkualitas, sehingga menjadi penyebab bagi tingginya biaya proses, bukan hanya pembiayaannya saja yang mahalnya.

Indonesia merupakan bagian dari dunia yang sudah tentu tidak terlepasa dari peradaban global, termasuk pada bidang ekonomi, sehingga issu-issu ekonomi dan industrialisasi yang merambah pada dunia pendidikan masuk juga ke Indonesia.

Dengan munculnya sekolah-sekolah yang bertaraf internasional dengan pembiayaan yang mahal dapat menimbulkan diskriminasi pendidikan,

Begitu juga perguruan tinggi yang membuka jalur khusus dengan paradigma siswa yang tergantung kepada kesanggupan pembiayaan yang mahal adalah fenomena komersialisasi pendidikan.

Terlebih jika mahalnya pembiayaan pendidikan yang hanya untuk kepentingan pihak tertentu, serta maraknya lembaga pendidikan yang menawarkan gelar tententu.

Tanpa diikuti dengan proses yang seharusnya dijalankan, merupakan contoh dari komersialisasi pendidikan, hal itu merupakan pelanggaran yang seharusnya mendapat sanksi, sebagaimana orang korupsi atau menipulasi.

Fenomena Internal

Keterbatasan Anggaran

Alokasi anggaran negara untuk pendidikan masih terbatas pada tingkat pendidikan dasar, itupun hanya merupakan standar minimal.

Sedangkan pada tingkat SLTA terlebih pada lembaga pendidikan non formal, masih lebih banyak diserahkan kepada orang tua/wali.Bahkan pada Perguruan Tinggi yang membutuhkan pembiayaan pendidikan justru malah diberi hak otonomi.

Kondisi tersebut memberikan peluang bagi lembaga pendidikan untuk mencari pembiayaan dengan dalih peningkatan mutu pendidikan, dengan program-program yang ditawarkan, misalnya melalui BHMN dan BHP.

Namun demikian Strategi tersebut dapat diminimalisir dengan cara-cara yang legal yang disepakati berdasarkan regulasi yang jelas dan tidak ada pihak manapun yang berupaya untuk memperkaya diri.

Disertai  dengan laporan keuangan secara transparan dan memiliki akuntabilitas yang tinggi.

Mentalitas rendah

Sebagian besar masyarakat  Indonesia cenderung memiliki sikap yang hanya semata-mata materialistis.

Terbukti munculnya orang-orang yang diadili karena menyalahgunakan keuangan (korupsi) dan hal itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan pada sektor apa saja, termasuk dalam dunia pendidikan.

Mentalitas seperti itu akan lebih berbahaya jika dimiliki oleh tenga pendidik dan kependidikan, sebab tugas utama pendidik adalah berkaitan dengan kualitas manusia.

Jika hanya berorientasi materialis semata, ia akan bekerja hanya untuk memenuhi tuntutan materialismenya dan dapat mendorong terjadinya komersialisasi pendidikan.

Kesejahteraan

Tingkat Kesejahteraan pegawai termasuk para pendidik yang belum memadai dan tidak merata, padahal faktor kesejahteraan adalah salah satu paktor pendukung performen kinerja berkualitas, terlebih masalah pemerataan.

Kesejahteraan yang tidak seimbang dan merata dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Kondisi tersebut, dapat mengurangi tanggungjawab sebagai seorang pendidik/pekerja.

Di sisi lain juga dapat memicu untuk menyalahgunakan kewenangannya guna menutupi kekurangannya.

Sehingga apa yang ia kerjakan hanya untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat materialistis sementara tanggungjawab terhadap kewajibannya terabaikan.

Dampak komersialisasi Pendidikan

Komersialisasi pendidikan memiliki dua sisi yang salihg bertolak

belakang. Di satu sisi komersialisasi memang memiliki dampak positif, tetapi di sisi lain juga berdampak negatif terhadap penyelanggaraan pendidikan di lndonesia.

Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai dampak sosial tingginya biaya masuk di perguruan tinggi, penulis akan menguraikan terlebih dahulu dampak positif dan negatif yang dikemukakan oleh Edi Suharto, sebagai analis pekerjaan sosial yang juga concern terhadap dunia pendidikan.

Beberapa dampak positif adanya komercialisasi pendidikan antara lain:

Beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang, sehingga anggaran yang tersedia bisa digunakan untuk membiayai aspek lain yang dianggap lebih mendesak. salah satu contoh untuk membiayai pendidikan alternatif yang ditujukan untuk kalangan miskin, anak jalanan atau suku terasing.

Memberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi mencerdaskan bangsa.

Lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif, sehingga berdampak pada peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

Gaji pengajar (dosen dan guru) dapat lebih ditingkatkan. Haliniditujukan untuk memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam memacu perkembangan anak didik.

Beberapa dampak negatif komersialisasi pendidikan yang dikemukakan oleh Edi Suharto sebagai beriku:

Pendidikan menjadi mahal. Komersialisasi pendidikan menyebabkan masyarakat menjadi sulit untuk menjangkaunya. Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat yang tidak mampu, sehingga memberikan peluang pula pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak dan tindak kriminalitas.

Gap dalam kualitas pendidikan. Komersialisasi pendidikan memunculkan sebuah kompetisi.

Lembaga pendidikan yang menang dalam persaingan dan perburuan dana, akan menjadi sekolah unggulan sedangkan lembaga yang kalah menjaditerpuruk. Perguruan tinggi yang ternama dan diunggulkan memang menjadi acuan bagi peserta didik untuk kelanjutan masa depannya.

Adanya diskriminasi. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan semakin sempit dan cenderung bersifat diskriminatif.

Orang kaya dapat mengakses pendidikan dengan kualitas yang lebih baik, berbanding terbalik dengan orang yang tidak mampu (miskin).

Munculnya stigmatisasi. Terjadi pelabelan sosial dimana orang menilai bahwa sekolah bagus dan ternama adalah milik orang kaya begitupun sebaliknya.

Akibatnya anak-anak golongan menengah kebawah cenderung tumbuh menjadi anak yang minder, karena tidak mampu mengikuti irama dan suasana glamour sekolah.

Terjadi perubahan misi pendidikan. Pada awalnya pendidikan ditujukan untuk mencerdaskan dan membudayakan kehidupan bangsa.

Komersialisasi dapat menggeser’budaya akademik” menjadi “budaya ekonomis.

“Asumi tersebut berangkat dari pemahaman bahwa semestinya lembaga pendidikan merupakan tempat seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan

keahlian dalam memperbaiki keberlangsungan hidupnya, tetapi sekarang berubah menjadi ‘lahan basah’ yang dapat mendatangkan keuntungan berlipat dalam waktu sekejap.

Memacu gaya hidup konsumerisme. Baik pengajar maupun siswanya terobsesi untuk bergaya hidup mewah.

Hal ini dikhawatirkan akan melahirkan mental “diktator”‘ pada pengajar, sehingga berdampak buruk bagi perkembangan siswany.

Hal ini tentu berdampak sangat buruk dalam dunia pendidikan kita, sebab secara tidak langsung membentuk karakter generasi penerus sebagai konsumen terbesar untuk mengikuti trend masa kini.

Tidak hanya peserta didik bahkan penyelenggara pendidikan juga ikut terlibat di dalamnya.

Dikarenakan konsumerisme tersebut maka mereka tidak segan untuk menarik biaya tinggi pada penerimaan mahasiswa baru.

Memperburuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kepemimpinan di masa depan.

Hal ini didorong oleh keinginan meningkatkan akumulasi kapital sebesar-besarnya. Kondisi tersebut akan mengancam regenerasi kualitas kepemimpinan masa depan.

Praktek komersialisasi pada penyelenggaraan pendidikan khususnya biaya pendidikan di perguruan tinggi, memang akan sangat sulit sekali untuk ditiadakan.

Umumnya yang terjadi adalah pewarisan sistem tersebut pada generasi selanjutnya.

Rantai kemiskinan semakin mustahil untuk diputuskan. Pendidikan sebagai alat pemberdayaan yang dapat memutus rantai kemiskinan semakin akan kehilangan fungsinya.

Upaya Meminimalisir Komersialisasi Dalam Pendidikan Islam

Pada dasarnya fungsi dan tujuan pendidikan  adalah untuk menghasilkan sumber daya manusia yang cakap, cerdas dan mampu terjun keranah persaingan global.

Fungsi dan tujuan pendidikan Indonesia dalam UU No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 dijelaskan

”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pendidikan Indonesia menjadi sebuah problem jangka panjang ketika arah pendidikan nasional kita jauh dari apa yang dicita – citakan.

Pendidikan kita saat ini menjadi sebuah ranah komersialisasi dimana siapa yang berduit akan mendapatkan fasilitas pendidikan yang berkualitas sedangkan yang miskin baru mendapat pendidikan yang di inginkannya ketika harus dikasihani dulu.

Bukankah dalam pembukaan UUD 1945 tersurat “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan sebuah kalimat yang tidak mendiskrimanasi si kaya dan si miskin dalam mendapatkan kualitas pendidikan.

Namun, sayangnya dilapangan jauh berbeda untuk masuk sekolah yang mutunya bagus harus membayar mahal dan untuk dapat masuk kuliah harus membayar uang pembangunan yang mahal.

Inikah sebuah sistem yang mengarahkan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik ketika dalam pendidikan masih uang yang berbicara.

Ketika ingin masuh sekolah atau perguruan tinggi yang bagus harus uang yang berbicara sehingga si miskin hanya bisa bercita – cita untuk sekolah ditempat berkualitas itu tapi tak pernah mampu untuk menggapai cita – citanya.

Semua karena belum juga ingin mendaftar maka biaya tinggi menjadi seperti roh jahat yang siap menerkam mereka ketik ingin masuk kesana.

Tataran pendidikan kita harus terarah dan sesuai dengan fungsi dan tujuan UU yang berlaku sehingga arah kebijakan pendidikan nasional searah dengan ketetapan UU yang bebas dari diskriminasi dan komersialisasi pendidikan.

Memberikan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak bangsa yang memang memiliki kemampuan dalam memperoleh fasilitas pendidikan yang berkualitas dengan dorongan pemerintah khususnya yang berwenang yakni Kementrian Pendidikan Nasional.

Dengan pemerataan pendidikan akan memberikan adil positif bagi si miskin keluar dari kemiskinannya dimasa depan karena pendidikan yang didapatkannya. Andil positif inilah yang akan mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia semakin menuju arah yang lebih baik.

Peringatan 77 tahun International Students’ Day (ISD) tahun 2016 diperingati oleh gerakan mahasiswa di Samarinda, Kalimantan Timur sebagai momentum untuk mengkonsolidasikan kembali perlawanan dalam melawan komersialisasi pendidikan.

Grand Isu “Reformasi Pendidikan Dari, Oleh, dan Untuk Rakyat” dalam aksi tersebut memuat beberapa tuntutan diantaranya :

Tolak Komersialisasi Pendidikan;

Wujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas dalam dunia pendidikan;

Wujudkan demokrasi dalam dunia pendidikan;

Perangi korupsi dan pungli dalam dunia pendidikan;

Tangkap dan adili pelaku kekerasan seksual dalam dunia pendidika.  Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) meskipun tidak terlibat dalam pembentukan aliansi juga turut bergabung dalam aksi tersebut untuk memberikan dorongan perspektif dengan menyebarkan pamflet berjudul

“Mahasiswa dan Buruh Bersatulah, Lawan Kapitalisme dan Komersialisasi Pendidikan”

Saat ini kita hidup dimana 1 persen orang didunia memiliki kekayaan yang sebanding dengan 99 persen penduduk dunia.

Di Indonesia, Kekayaan 40 orang terkaya setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin.

Hal ini di karenakan sumber penghidupan seperti tanah, sumber daya alam, mesin dan industri pabrik, serta alat-alat produksi lainnya yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak hanya dimiliki secara pribadi, yakni segelintir orang yang mempunyai modal yang sangat besar.

Pemilik modal (kapitalis) ini sangat berkepentingan untuk terus memperluas modalnya tanpa memperdulikan kerusakan lingkungan, budaya, pendidikan, bahkan kemanusiaan. Inilah yang kita sebut sebagai sistem kapitalisme.

Perkembangan yang dicapai oleh manusia dalam sistem tersebut bukan sebesar-besarnya untuk kebutuhan manusia melainkan sebagai komoditi atau barang dagangan, termasuk pada dunia pendidikan.

Dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme sejatinya bukan untuk mencerdaskan dan membebaskan manusia

Dunia pendidikan menjadi sarana untuk mencetak tenaga kerja terdidik yang berbiaya murah demi kebutuhan pasar kapital.

Semenjak kapitalisme mengemuka pasca revolusi Industri di Inggris (1750-1850) yang menandai perkembangan alat produksi manusia, tenaga ahli sangat berguna untuk menjalankan mesin-mesin dan teknologi baru agar tidak jadi rusak dan  berkarat, untuk itulah awal mula dunia pendidikan dibentuk pada awal kemunculan sistem kapitalisme.

Dalam perkembangannya dunia pendidikan di arahkan untuk memproduksi perluasan provit kaum kapialis.

Contohnya pada Perang Dunia ke-II, dimana dunia pendidikan diberi subsidi untuk melakukan berbagai riset dan penemuan untuk memproduksi alat-alat perang, kesehatan, pangan, dan sebagainya.

Setelah penemuan baru ditemukan, hasilnya justru dipatenkan oleh kaum kapilis untuk kepemilikan pribadi bukan kemaslahatan umat manusia.

Sampai sekarang dimana perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dan pabrik-pabrik besar semakin banyak terbuka, maka kebutuhan akan tenaga terdidik yang berbiaya murah menjadi semakin besar akan tetapi hal ini tidak sejalan dengan keberadaan perguruan tinggi yang berkualitas.

Tenaga terdidik yang menjadi prioritas adalah mereka yang memiliki fisik yang bagus, bukan yang serba kekurangan (cacat, difabel, dan disabilitas) karena akan menghambat perkembangan modal.

Dunia pendidikan menjadi tempat untuk mendidik generasi muda agar menjadi penurut dalam tatanan masyarakat kapitalis.

Proses tersebut tersebut dapat kita lihat semenjak mahasiswa memasuki perguruan tinggi.

Baru masuk kuliah saja calon mahasiswa sudah dihadapkan oleh ratusan pesaing untuk masuk di universitas sesuai dengan jurusan yang diinginkannya, tidak sedikit dari mereka yang salah jurusan karena sistem persaingan seperti ini, ditambah lagi dengan mahalnya biaya kuliah.

Setelah masuk perkuliahan mahasiswa dicekoki oleh doktrin untung ruginya para dosen dan menekan mahasiswanya untuk lulus dengan cepat agar mendapatkan pekerjaan, serta berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi.

Alhasil setelah lulus IPK yang tinggi tadi tidak berguna dalam menghadapi realitas keseharian dan masalah yang ada dalam masyarakat.

Namun kembali berlomba-lomba dengan jutaan sarjana lainnya untuk menggantungkan nasibnya pada institusi-institus kapitalis besar termasuk negara yang notabane hanya untuk menambah provit kaum kapitalis.

Inilah yang membuat banyak generasi muda menjadi teralienasi dari lingkungannya, sebab belajar bukan lagi karena ekspresi diri melainkan kemendesakan dalam hidup.

Model pendidikan seperti ini yang disebut Paulo Freire. sebagai pendidikan “gaya bank”.

Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar, dosen tidak memberikan pengertian sejati terhadap ilmu pengetahuan, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada para mahasiswa untuk dikeluarkan dalam bentuk yang sama.

Dosen bertindak sebagai penabung yang menabung informasi sementara mahasiswa dijejali informasi untuk disimpan. Mahasiswa tak lebih hanya sebuah objek, menjadikannya miskin daya cipta.

Dunia pendidikan menjadi tempat berlangsungnya akumulasi modal itu sendiri terjadi.

Proses akumulasi modal tersebut diperas dari nilai lebih yang didapat dari keringat para buruh.

Ini juga yang menyebabkan buruknya sistem belajar mengajar yang dialami oleh mahasiswa.

Dosen misalnya mayoritas berstatus tenaga kerja kontrak (outsourching), honorer, bahkan hubungan kerja yang tak jelas (upah murah, jaminan kesehatan, kecelakaan kerja dan jaminan hari tua).

Ini juga menimpa buruh-buruh di lingkungan kampus lainnya seperti staf-staf kampus, pegawai akademik, satpam, dan pedagang kecil.

Pemotongan anggaran jaminan sosial dan PHK yang terus membayangi para buruh dunia pendidikan tidak sebanding dengan dipotongnya perjalanan dinas para pejabat, pajak progresif bagi perusahaan besar, dan lain-lain.

Oleh karena itu, mahasiswa maupun dosen dan buruh pendidikan lainnya harus menempatkan dirinya sebagai subjek yang berkepentingan mengubah objek, yakni situasi sosio-ekonomi yang kapitalistis sebab sama-sama dirugikan olehnya.

Sudah seharusnya pemilihan pejabat kampus (ketua prodi, dekan, dan rektor) dipilih secara demokratis oleh seluruh buruh-buruh pendidikan.

Karena para buruh inilah yang menentukan berjalannya dunia pendidikan, bukan ditangan segelintir orang birokrat seperti sekarang ini.

Upaya meminimalisir komersialisasi pendidikan yaitu Anggaran pendidikan dalam APBN yang mencapai 20 % harus di gunakan dengan baik.

Gunakan dana yang bertrilyun – trilyun itu secara bijak khususnya pemerataan pendidikan Indonesia.

Jangan ada komersialisasi pendidikan yang hanya akan mengarahkan pendidikan di Indonesia sebagai pendidikan diskriminatif yang hanya dijangkau orang berduit saja.

Komersialisasi pendidikan hanya akan membuka kesempatan adanya korupsi dilembaga pendidikan karena kita tahu korupsi sudah merasuk dalam sendi – sendi dan segala bidang kehidupan negara ini termasuk pendidikan.

Kita yakinkan bersama dengan arah pendidikan Indonesia yang berkeadilan dan menjangkau keseluruh lapisan masyarakat akan membantu dalam memajukan manusia – manusia Indonesia menuju yang lebih baik berdasarkan amanat Undang – Undang Dasar.

Pendidikan akan memberikan sebuah masa depan yang cerah bagi anak bangsa ini yang akan menghadapi era globalisasi yang penuh persaingan.

Sumber daya alam kita yang kaya akan termanfaatkan dengan baik dengan manusia – manusia yang berpendidikan dan terdidik dari pendidikan yang baik.

Membuat anak Indonesia yang miskin pada masa anak – anak dengan ilmu yang dimiliki dan didapat dari pendidikan akan menjadikan mereka terbebas dari sebuah kemiskinan yang membelenggu.

Pendidikan adalah aset penting bangsa ini maka dari itu kita harus mengawal pendidikan nasional kita kearah pendidikan yang merata.

Karena pendidikan adalah hak seluruh warga negara dan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. oleh karena itu untuk meminimalkan komersialisasi dalam pendidikan maka pemerintah mencanangkan program diantaranya :

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan menjadi landasan kuat untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan. Pendidikan  sebagai bekal dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antar bangsa yang berlangsung sangat ketat.

Dengan demikian, pendidikan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pendidikan  merupakan faktor determinan bagi suatu bangsa untuk bisa memenangi kompetisi global.

Sejak tahun 1984, pemerintah Indonesia secara formal telah mengupayakan pemerataan pendidikan Sekolah Dasar.

Selanjutnya, pemerintah mencanangkan  wajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. Upaya-upaya ini mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan (dimensi equality of access).

Di samping itu pada tahapan selanjutnya pemberian program beasiswa (dimensi equality of survival) menjadi upaya yang cukup mendapat perhatian dengan mendorong keterlibatan masyarakat melalui Gerakan Nasional Orang Tua Asuh.

Program beasiswa ini semakin intensif ketika terjadi krisis ekonomi, dan dewasa ini dengan program BOS untuk pendidikan dasar.

Hal ini menunjukan bahwa pemerataan pendidikan menuntut pendanaan yang cukup besar tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas tapi juga pemeliharaan siswa agar tetap bertahan mengikuti pendidikan di sekolah.

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1999-2004 (TAP MPR No. IV/MPR/1999) mengamanatkan, antara lain:

Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti,

Meningkatkan mutu lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk menetapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, olah raga dan seni.

Sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”, dan pasal 11, ayat (1) menyatakan

“Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”.

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya.

Peningkatan taraf pendidikan merupakan salah satu kunci utama mencapai tujuan negara. Tujuan negara bukan saja mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menciptakan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa.

Pendidikan memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial. Pendidikan akan menciptakan masyarakat terpelajar (educated people) yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yang sejahtera.

Membangun Sistem Pendidikan Demokratis.

Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan terciptanya lingkup demokrasi pendidikan.

Lingkup demokrasi pendidikan demokrasi pendidikan hanya dapat diwujudkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Namun, faktanya kehidupan yang demokratis masih belum mampu diwujudkan oleh masyarakat kita.

Agar memungkinkan terwujudnya nilai-nilai demokrasi, konsep sistem pendidikan yang demokratis terkait dengan bagaimana pendidikan tersebut disiapkan, dirancang dan dikembangkan.

Ketiga hal tersebut berlaku bagi seluruh komponen pendidikan, yaitu kurikulum, materi pendidikan, sarana prasarana, lingkungan siswa, guru, tenaga pendidik, proses pendidikan dan lainnya.

Bisa juga bersifat khusus yaitu pengemasan komponen-komponen tertentu dari sistem pendidikan tersebut misalnya kurikulum,  bahan pelajaran atau proses belajar mengajar.

Ketiga hal tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan dan memungkinkan terbentuknya nilai-nilai demokrasi.

Dalam mengembangkan sistem pendidikan yang demokratis di Indonesia, perlu memperhatikan tujuh butir prinsip dibawah ini:

Mengutamakan kepentingan masyarakat,

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain,

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama,

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan,

Memiliki i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah,

Musyawarah yang dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur,

Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Ada beberapa alasan yang mendasari terjadinya komersialisasi pendidikan.

Swastanisasi adalah anak kandung liberalisasi yang semakin menggelobal dan menyentuh berbagai bidang kehidupan.

Merujuk pada George Ritzer, privatisasi pendidikan adalah konsekuensi logis dari menjunjung prinsip kuantifikasi, efisiensi, terprediksi, dan teknologis setiap dalam sendi kehidupan.

Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai public good, pemerintah secara massal untuk menjamin harga murah. Pemerintah merasa tida memiliki dana yang cukup untuk membiayai sektor pendidikan.

Misalnya, karena mengalami kesulitan dana akibatnya krisis ekonomi. Keadaan ini bisa real, dalam arti memang benar pemerintah kekuarangan dana. Namun, bisa juga palsu.

Artinya pemerintah bukan tidak mampu, melainkan tidak mau atau tidak memiliki visi untuk berinvestasi di bidang pendidikan. Dan mungkin pemerintah lebih suka membelanjakan anggrana dengan hal yang lain.

Pemerintah tidak mampu mengelola pendidikan sebagai sektor publik dengan baik.

Akibatnya lembaga pendidikan menjadi tidak efisien (mahal dan tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan), tidak kompetitif (tidak termotivasi untuk bersaing meningkatkan mutu), dan tidak berkembang (mandeg).

Karena swastanisasi merupakan cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Lembaga pendidikan kurang memiliki kreativitas dan inovasi dalam melakukan “Fund Raising”, Sehingga hanya mengandalkan siswa dan orang tuanya sebagai target utama perolehan dana.

Secara teoritis, privatisasi pendidikan sesungguhnya tidak selalu bersifat negatif. Berbeda dampak positif yang dapat kita ambil,

Pertama beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang. Sehingga anggaran yang tersedia bisa digunakan untuk membiayai aspek lain yang dianggap lebih mendesak.

Misalnya, untuk membiayai “Pendidikan Alternatif”. Semisal pendidikan non-formal untuk kalangan miskin, anak jalanan atau suku terasingkan.

Kedua memeberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi mencerdaskan bangsa.

Ketiga lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif. Dapat berdampak pada peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

Keempat gaji penggiat pendidikan (Dosen dan Guru) dapat lebih ditingkatkan kesejahtraannya yang baik diharapkan dapat memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam mencerahkan anak didiknya.

Lemahnya perangkat kebijakan dan penegakan hukum dapat mendistorsi swastanisasi pendidikan yang seblumnya bertujuan mulia.

Privatisasi pendidikan juga dapat membawa dampak sosial yang diharapkan jika tidak disertai aturan main yang jelas dan etika sosial yang benar.

Pendidikan menjadi mahal. Pendidikan menjadi “barang mewah” yang sulit dijangkau oleh masyarakat luas, khsusnya warga kurang mampu.

Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat miskin yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak, dan kriminalisasi.

Privatisasi pendidikan dapat meningkatkan kompetisi. Di sisi lain, dampak dari kompetisi adalah terciptanya polarisasi lembaga pendidikan.

Lembaga yang menang dalam persaingan dan perburuan dana akan menjadi sekolah unggulan. Dan sebaliknya lembaga yang kalah dalam persaingan akan menjadi yang terbelakang.

Diskriminasi kesempatan memproleh pendidikan semakin sempit dan diskriminatif.

Orang kaya dapat memproleh pendidikan relatif mudah. Sedangkan orang miskin akan semakin sulit, stigmatisasi.

Terjadi segregasi kelas sosial antara orang kaya dan miskin konsekuensinya terjadi pelebelan sosial yang lebih parah berdampak kepada sikologis anak (kurang mampu) si anak akan merasa minder karena tidak mampu mengikuti irama dan suasana glamour sekolah.

Perubahan misi pendidikan. Pada mulanaya pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan dan memberdayakan masayarakat.

Komersialisasi pendidikan akan menggeser “ budaya akademik” menjadi “ budaya ekonomis”. Para guru akan memiliki mentalitas “ pedagang” ketimbang mentalitas pendidik.

Mereka lebih tertarik mencari pendapatan dari pada mengembangkan pengetahuan.

Gaya Hidup. “besar pasak daripada tiang” banyak anak-anak sekolah gedongan yang membawa mobil mahal (milik orang tuannya) ke sekolah.

Guru dan Dosen dapat terobsesi oleh gaya hidup mewah. Ini akan melahirkan mental “dikator” pada pengajar, yaitu “menjaual diktat untuk beli motor”.

Rantai kemiskinan semakin mustahil diputuskan oleh pendidikan.

Secara sederhana, rantai kemiskinan dapat digambarkan “ Karena Miskin orang tidak sekolah, karena tidak sekolah, ia tidak dapat Pekerjaan.

Karena tidak dapat pekerjaan, ia menjadi miskin dan begitu seterusnnya. Pendidikan sebagai pemberdayaan yang dapat memutus rantai kemiskinan semakin kehilangan fungsinya.

Bab III : Penutup

Source : CNN Indonesia

Makna komersialisasi penddikan adalah bahwa komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal sehingga hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang operasional pendidikan, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Upaya memimalisir komersialisasi dalam pendidikan diantaranya:

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Membangun Sistem Pendidikan Demokratis.

Daftar Pustaka

Asmirawanti,”Komersialisasi Pendidikan”Jurnal Equilibrium Pendidikan Sosiologi Volume IV No. 2 November 2016 ISSN e-2477-0221 p-2339-2401

Astri, Herlina. 2011. “Dampak Sosisal Komersialisasi Pendidikan Tinggi Di Indonesia” Kajian Bidang Kesejahteraan Sosial pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi Setjen DPR RI. 16 (3) : 617-622

Bakar , M. Yunus Abu “Pengaruh Paham Liberalisme dan Neoliberalisme Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia” Institut Agama IslamNegeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Vol. 8, No.1,April 2012

Dokumentasi KKL JOMBANG-MALANG PAI IAIN Pekalongan, 24-25 September 2019

Irawaty A. Kahar “ Komersialisasi Pendidikan Di Indonesia : Suatu Tinjauan Dari Aspek Politik, Sosial, Ekonomi dan Budaya. “ Ragam Edisi NO. 23 Tahun XI Januari 2007. Universitas Sumatera Utara

Jayadi, Yadi “ DAMPAK SOSIAL KOMERSIALISASI PENDIDIKAN” (Kemanakah Kita langkahkan Kaki Ini)”, , Mahasiswa UIN SGD Bandung, Bandung, Senin 07 November 2016.

Rustiawan, Hafid. 2015. “Komersialisasi Pendidikan (Analisis Pembiayaan Pendididkan)” Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan dan Kebudayaan. 16 (1): 56-60

Suara Progresif, “ Bagaimana Melawan Komersialisasi Pendidikan “Posted on November 27, 2016 by Lingkar Studi Kerakyatan

Demikianlah contoh makalah pendidikan dasar ini saya buat. Untuk lebih memahami sistematika penulisan makalahnya, dapat anda semua download file dalam bentuk Microsoft word di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

Semoga bermanfaat untuk anda semua dan sampai jumpa di contoh makalah berikutnya.

Baca Juga : Contoh Makalah Singkat, Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

 

Categories
Karya Tulis makalah

Contoh Makalah Pendidikan

Contoh Makalah Pendidikan – Hallo, best Jobbers. Salam sejahtera di manapun anda berada. Bagaimana kabar anda hari ini? Semoga anda senantiasa dalam keadaan yang baik dan luar biasa.

Best Jobbers, kembali lagi kita bertemu dalam portal keilmuan kesayangan kita bestjobaroundtheworld.com. Portal keilmuan yang akan selalu hadir untuk membantu anda dalam menemukan berbagai contoh karya ilmiah.

Dalam portal ini kembali saya akan memberikan contoh makalah. Tema contoh makalah kali ini adalah contoh makalah pendidikan. Dalam contoh makalah pendidikan ini saya akan mengulas beberapa teori tentang dunia pendidikan.

Contoh makalah pendidikan inimenggunakan desain makalah sederhana. Dalam contoh makalah pendidikan ini, desain makalah saya buat dalam 3 bab.

Contoh makalah pendidikan berisi BAB I: Pendahuluan, BAB II: Pembahasan dan BAB III: Penutup. Saya tidak menuliskan kata pengantar, daftar isi, maupun hal-hal lain yang jarang digunakan dalam makalah di berbagai perguruan tinggi.

Saya membuat contoh makalah pendidikan ini atas rekomendasi dari teman-teman saya dari Fakultas Tarbiyah IAIN Pekalongan. Banyak teman-teman yang merekomendasikan membuat contoh makalah pendidikan karena kebutuhan akan contoh makalah pendidikan ini cukup tinggi.

Hal ini mengingat mahasiswa yang mengambil jurusan ilmu kependidikan cukup banyak di kota ini.

Di bawah ini dapat Best Jobbers semua simak contoh makalah pendidikan yang saya sadur dari makalah karya Eka Puji Astutik, dkk mahasiswa FTIK IAIN Pekalongan. Semoga contoh makalah pendidikan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan Best Jobbers semua.

Dalam artikel ini, saya juga menyediakan sumber dari makalah asli (otentik) dalam format document Microsoft Word yang dapat anda semua download DI SINI atau dapat juga melalui link yang saya sediakan di akhir artikel.

Baca Juga : Contoh Makalah Doc.  

Contoh Makalah : Keterampilan Dasar Guru Dalam Proses Pembelajaran

Contoh Makalah Pendidikan

TheMoonDoggies

Dalam artikel contoh makalah pendidikan ini saya mengangkat tema : Keterampilan Dasar Guru Dalam Proses Pembelajaran. Di sini kita akan belajar mengenai beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran.

Dalam contoh makalah pendidikan ini juga akan dibahas keterampilan dasar apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai professional.

Bab I : Pendahuluan

Source : Mypurohith.com

Bab I merupakan bab pendahuluan. Dalam contoh makalah pendidikan ini yang melatar belakangi penulisan makalah adalah urgensi tentang kompetensi guru sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Latar Belakang

Seorang guru adalah pencetak generasi terdidik masa depan. Oleh karena itu pemerintah selalu berupaya membenahi kompetensi yang dimiliki oleh guru.

Dalam hal ini melalui Kementerian Pendidikan, yaitu Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan. Dimana dalam prakteknya, setiap daerah memiliki perwakilan.

Namun demikian, sebagai seorang guru yang diharapkan dapat mencetak generasi emas, maka beberapa kompetensi harus dimiliki oleh para guru. Kompetensi itu berguna dalam menunjang keprofesionalan kinerja guru.

Dalam pembehasan, beberapa undang-undang guru, kompetensi guru telah diatur dalam undang-undang yaitu UU no. 14 th. 2005.

Hal itu berkaitan juga salah satunya kompetensi guru dalam mengajar.

Meskipun tidak dipungkiri masih banyak guru yang cara mengajarnya konvensional, namaun dewasa ini pemerintah telah menggalakan peran serta peserta didik dalam prose pembelajaran.

Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya jika kami membahas lebih dalam akan kompetensi guru dalam mengajar.

Rumusan Masalah

Adapun dalam membatasi pembahasan maka kami merumusakan masalah sebagai berikut :

Apa pengertian mendidik dan mengajar ?

Bagaimana keterampilan dasar guru dalam pembelajaran ?

Bagaimana peran guru dalam proses pembelajaran ?

Bab II : Pembahasan

source : Waspada Online

Bab III berisi pembahasan dalam contoh makalah pendidikan ini. Sistematika pembahasan dimulai dari pengertian dengan menyebutkan teori-teori dari para ahli. Dalam pembahasan ini, kemampuan analisa sangat mempengaruhi kualitas makalah.

Pengertian Mengajar Dan Mendidik

Pakar pendidikan, Sikun Pribadi, mempunyai pendapat bahwa pengajaran adalah kegiatan pembinaan dalam ranah kognitif dan psikomotorik . Demikian yang dikutip oleh Zaenal Mustakim dalam bukunya Strategi dan Metode Pembelajaran.

Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa ranah kognitif bertujuan untuk mencerdaskan peserta didik, berpikir kritis dan banyak pengetahuan sedangkan ranah psikomotorik berhubungan dengan syaraf motorik kasar.

Yaitu diantaranya sebuah gerakan nyata yang dilakukan oleh seseorang. [1]

Secara praktis mengajar dan mendidik adalah kegiatan bersama guru dan peserta didik dalam berinteraksi dalam pembelajaran.

Namun perlu diketahui bahwa mengajar lebih bersifat menyampaikan pengetahuan sedangkan mendidik bersifat penanaman nilai-nilai moral.

Mengajar merupakan aktivitas yang dilakukan oleh guru. Dimana guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

Sukses tidaknya mengajar maka dapat dilihat dari adanya perubahan pada peserta didik.[2]

Keterampilan Dasar Guru Dalam Mengajar

Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran (set induction and closure skills)

Keterampilan membuka pelajaran ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi murid agar minat dan perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya.

Dengan demikian usaha tersebut akan memberikan efek yang positif bagi kegiatan pembelajaran.

Dengan kata lain, kegiatan yang dilakukan oleh guru dimaksudkan untuk menciptakan suasana mental siswa agar terpusat pada hal-hal yang dipelajarinya.

Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaan yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya.

Tujuan keterampilan membuka pelajaran, yaitu:

Untuk membantu siswa mempersiapkan diri agar sejak semula sudah dapat membayangkan pelajaran yang akan dipelajarinya.

Untuk menimbulkan minat dan perhatian siswa pada apa yang akan dipelajari dalam kegiatan belajar mengajar.

Untuk membantu siswa agar mengetahui batas-batas tugas yang akan dikerjakan.

Untuk membantu siswa agar mengetahui hubungan antara pengalaman- pengalaman yang telah dikuasainya dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dikenalnya.[3]

 

Hal-hal yang harus diperhatiakan oleh guru  sebagai komponen utama dalam menutup dan membuka pembelajaran diantaranya:

Menarik perhatian peserta didik

Menumbuhkan motivasi peserta didik

Memberikan acuan

Mengaitkan pembelajaran dengan beberapa hal[4]

Meninjau kembali

Mengadakan evaluasi

Memberi tindak lanjut.[5]

Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengahiri kegiatan pembelajaran.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.

Hal itu dapat dilakukan dengan merefleksikan pembelajaran. [6]

Dalam membuka dan menutup pembelajaran maka hal-hal paling prinsip yang harus diperhatikan oleh guru diantaranya :

Bermakna, supaya kegiatan membuka dan menutup lebih bermakna maka kegiatan tersebut harus relevan dengan tujuan dan materi pembelajaran.

Berurutan dan berkesinambungan, kegiatan membuka dan menutup dalam pembelajaran itu satu kesatuan yang salaing terkait oleh kerena itu harus dilakukan secara berkesinambungan

Dilakukan diawal dan diakhir topik. [7]

Keterampilan Menjelaskan Materi

Hubungan dengan menjelaskan materi maka ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh guru supaya dalam menjelaskan materi tersebut akan berjalan dengan abik diantaranya adalah bahwa guru ahrus memiliki wawasan yang luas khususnya dalam kependidikan.

Hal itu bertujuan supaya guru dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menentukan tindakan pendidikan. Keputusan yang tepat akan meminimalisir guru dari kesalahan dalam menangani peserta didik.  [8]

Selain wawasan kependidikan maka yang lebih penting yaitu wawasan tentang apa yang akan diajarkan. Seorang guru harus benar-benar telah menguasai materi yang akan diajarkan.

Oleh sebab itu, teknik belajar sepanjang hayat harus diterapkan oleh guru untuk dirinya sendiri.

Hal itu dikarenakan bahwa semakin lama zaman telah berubah maka berubah pula perlakuan dan cara guru menyampaikan materi kepada peserta didik.

Dalam menjelaskan kepada peserta didik maka yang herus guru lakukan sekurang-kurangya :

Kejelasan dalam pengucapan yang dapat dimengerti siswa

Menggunakan ilustrasi yang dapat memperjelas maksud

Memberikan tekanan pada materi yang penting

Imbal balik dengan mengajukan pertanyaan

Keterampilan mengajar dan membimbing diskusi kelompok kecil, kelompok besar, dan individu

Hal diatas dapat dilakukan dengan langkah awal diantaranya :

Mengadakan pendekatan secara pribadi

Mengorganisasi kelompokmdengan baik

Membimbing dan memudahkan belajar

Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran[9]

Siswa adalah subyek belajar. Maka pembelajaran hendaknya berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus aktif dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu teknik diskusi kecil atau juga diskusi besar dalam kelas memungkinkan siswa untuk belajar aktif dan berbicara.

Sebagai salah satu alternatif bentuk pembelajaran maka Edi sugito dan Yuliani Nuraini demikian yang dikutip dalam bukunya Barnawi dan Muhammad Arifin maka manfaat diskusi diantaranya :

Mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomunikasi

Meningkatkan disiplin

Meningkatkan motivasi belajar

Mengembangkan sikap saling membantu

Meningkatkan pemahaman materi

Supaya diskusi dapat berjalan dengan baik maka guru dituntut untuk memiliki ketrampilan :

Memusatkan perhatian, hal itu dilakukan guru jika suatu kelompok gagal memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dibahas maka tugas guru untuk mengarahkan kembali supaya sesuai denga yang dibahas.

Memperjelas masalah supaya menghindari perbedaan persepsi

Menganalisis pandangan siswa yang berbeda

Meningkatkan kontribusi peserta didik. Misalnya dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan

Mendistribusikan peserta didik, misalnya mendorong siswa yang diam untuk berbicara

Menutup diskusi dengan menyimpulkan hasil diskusi.[10]

Keterampilan bertanya

Guru harus menciptakan kegiatan bertanya. Setelah itu, guru juga harus memancing siswa agar mau menjawab pertanyaan dari guru.

Kegiatan komunikasi ini hemdaknya dilakukan multi arah anatara guru dan beberaspa murid. Dengan demikian akan meningkatkan interaks aktif.

Interaksi aktif dapat meningkatka frekuensi berpikir sehingga struktur kognitifnya semakin berkembang.

Menurut Egi Sugiyono dan Yuliani Nuraini dalam bukunya Barnawi dan Muhammad Arifin, maka tujuan guru mengajukan pertanyaan diantaranya :

Mengembangkan pendekatan supaya siswa dapat aktif, sehingga keterlibatan siswa akan terjalin

Menimbulkan keingintahuan supaya dapat membangkitkan siswa berminat pada masalah yang dihadapi

Merangsang pola pikir

Menuntun proses berfikir siswa

Memfokuskan perhatian siswa

Menstrukturkan tugas yang akan diberikan

Mendiagnosis kesuliatan belajar

Mengkomunikasikan harapan guru

Merangsang terjadinya diskusi[11]

Keterampilan Memberi penguatan

Penguatan maksudnya merespon positif dalam pembelajaran terhadap perilaku peserta didik yang positif dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut.

Penguatan yang diberikan oleh guru sangat penting bagi peserta didik. Hal itu bertujuan untuk :

Meningkatkan perhatian siswa

Meningkatkan motivasi belajar siswa

Mengarahkan pengembangan berfikir siswa

Mengendalikan tingkah laku siswa

Cara-cara umum yang dapat guru lakukan diantaranya penguatan dengan verbal contohnya memuji perbuatan baik dan memberitahukan perbuatan yang buruk. Sednagkan non verbal dapat dilakukan dengan cara mimik dan gerakan tubuh.

Keterampilan Variasi dalam mengajar dan menggunakan media  pembelajaran.

Variasi diantaranya dapat dilakukan dengan variasi gaya mengajar, metode mengajar, bisa pula dengan variasi gerak tubuh. Bisa pula dengan pindah posisi, kontak pandang dan lain sebagainya.

Adapun prinsip-prinsip dalam menggunakan variasi dinataranya ;

Variasi hendaknya bertujuan dalam pemelajaran

Variasi diberikan antusiasme dan kehangatan oleh pendidik

Tidak berlebihan

Fleksibel

Berkesinambungan

Direncanakan dengan baik[12]

Media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan keterampilan menggunakan media pembelajaran, yaitu:

Memperjelas penyajian pesan agar terlalu verbalistis

Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera

Memperlancar jalannya proses pembelajaran

Menimbulkan kegairahan belajar

Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan kenyataan

Memberi kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai  dengan kemampuan dan minatnya.

Komponen-komponen keterampilan menggunakan media pembelajaran, yaitu:

Media audio, yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang mempunyai sifat dapat didengarkan oleh siswa, seperti radio.

Media visual, yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu dalam

pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat oleh siswa, seperti peta.

Media audio visual, yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat dan didengar oleh siswa, seperti TV Edukasi.

Keterampilan mengelola kelas

Dalam pembelajaran maka ada kompetensi yang harus dimiliki guru yaitu kemempuan mengelola kelas supaya kondusif dinataranya bertujuan untuk :

Memelihara kondisi belajar yang optimal

Menyadari kebutuhan siswa

Merespon perilaku siswa

Mengembangkan peserta didik agar tanggungjawab

Mengarahkan siswa agar mematuhi tata tertib

Menumbuhkan kesdaran supaya aktiv dalam kelas[13]

Dalam bukunya Buchari Alma disebutkan bahwa ada beberapa keterampilan dasar mengajar diantaranya :

Konsep dari James Cooper Et Al

a.1 keterampilan menyususn rencana pembelajaran

a.2 keterampilan merumuskan tujuan pembelajaran

a.3 keterampilan menyampaikan bahan ajar

a.4 keterampilan bertanya

a.5 keterampilan penyususnan konsep/ persiapan mengajar

a.6 keterampilan melakukan komunikasi antar personal

a.7 keterampilan mengelola kelas

a.8 keterampilan mengadakan observasi

a.9 keterampilan mengadakan evaluasi

Konsep Turney Et. al

b.1 keterampilan bertanya

b.2 keterampilan mengelola kelas dan menumbuhkan disiplin

b.3 keterampilan memberikan stimulus secara bervariasi

b.4 keterampilan memberi penguatan

b.5 keterampilan menjelaskan

b.6 keterampilan membuka pertemuan

b.7 keterampilan mengajar secara kelompok

b.8 keterampilan untuk mengembangkan pola pikir

b.9 keterampilan mengajar secara individu[14]

Peran Guru Dalam Pembelajaran

Guru sebagai perancang penbelajaran

Merancang dan merencanakan pembelajaran

Proses pembelajaran yang dilakukan sesuai kondisional

Pengendalian kelas dan evaluasi[15]

Guru sebagai pengelola pembelajaran

Guru berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari kerah tingkah laku dan kepribadian yang matang. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah ketersediaan kesempatan bagi siswa dalam mengurangi ketergantunganya kepada guru.

Guru sebagai pengarah pembelajaran

Hal itu dilakukan dengan memotivasi siswa diantaranya :

Membangkitkan siswa untuk belajar

Menjelaskan apa yang dapat dilakukan saat akhir pembelajaran

Memberikan apresiasi pada prestasi siswa

Membiasakan belajar yang baik

Guru sebagai evaluator dan fasilitator

Diantaranya guru berperan dalam mengevaluasi pembelajaran siswa dan memfasilitsi belajar siswa supaya menemukan cara yang baik dalam belajar.

Guru sebagai konselor

Diantaranya :

Menolong peserta didik menyelesaikan masalah

Membina hubungan baik dengan lingkungan

Guru sebagai pelaksana kurikulum

Guru adalah pelaksana langsung kurikulum kelas

Guru bertugas mengembangkan kurikulum

Guru yang menghadapi berbagai masalah yang berhubungan kurikulum

Tugas guru yang mencari upaya pemecahanya.

Guru sebagai penghubung dengan lingkungan

Guru adalah sosok yang menghubungkan anak dengan lingkungan disekitarnya. Yang memperkenalkan anak dengan berbagai macam lingkungan. Oleh karena itu, maka guru dituntut untuk mengenali lingkunganya dalam rangka membina hubungan baik dengan masyarakat. [16]

Bab III : Penutup

source : Liputan6.com

Step terakhir dari penyusunan makalah yaitu membuat kesimpulan. Kesimpulan ini diambil dari pemaparan-pemaparan teori dan analisa-analisa yang sudah kita tuliskan dalam BAB II.

Simpulan

Guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik dengan menanamkan nilai-nilai yag ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Guru merupakan tonggak lahirnya peradaban yang maju dan beretika oleh karena itu guru harus memiliki beberapa kompetensi sebagai sarana penunjang pekerjaaanya sebagai pendidik.

Dalam kaitanya dengan kompetensi guru, maka kompetensi dasar dalam mengelola pembelajaran harus dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai guru.

Keterampilan itu diantaranya keterampilan membuka dan menutup pembelajaran. Dianjutkan dengan keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan atas argumen para sisiwa, keterampilan menggunakan media pembelajaran.

Kemudian selanjutnya keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil maupun besar, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan menggunakan variasi pembelajaran.

Dalam melaksanakan tugasnya guru memiliki peranan diantaranya Guru sebagai Merancang dan merencanakan pembelajaran, melakukan proses pembelajaran yang dilakukan sesuai kondisional, mengendalian kelas dan evaluasi, mengelola pembelajaran

Guru berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari kerah tingkah laku dan kepribadian yang matang.

Salah satu manajemen kelas yang baik adalah ketersediaan kesempatan bagi siswa dalam mengurangi ketergantunganya kepada guru. Guru juga sebagai konselor, fasilitator, dan motivator.

Guru juga sebagai pelaksana kurikulum dan menghubungkan anak dengan lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Alma , Buchari.  2009 . Guru Profesional ( Bandung : Alfabeta)

Barnawi dan Muhammad Arifin. 2012 .Etika dan Profesi Kependidikan ( Yogyakarta : Arruz)

Mulyasa. 2008 .Standar kompetensi dan sertifikasi Guru ( Bandung : Remaja Rosda Karya)

Mustakim , Zaenal. 2018. Strategi dan Metode Belajar Mengajar ( Yogyakarta : Managraf)

Sutarsih , Cicih. 2012. Etika Profesi ( Jakarta : DirJenDikIs ).

Uno, Hamzah. B . Profesi Kependidikan , ( Jakarta : Bumi Aksara, 2007 ).

di bawah ini adalah footnote referensi yang menjadi sumber pembuatan makalah ini

[1] Zaenal Mustakim,Strategi dan Metode Belajar Mengajar, ( Yogyakarta : Managraf, 2018 ). Hlm : 30-31

[2] Ibid . Hlm : 32-33

[3] Cicih Sutarsih, Etika Profesi ( Jakarta : DirJenDikIs,2012 ). Hlm : 88

[4] Barnawi dan Muhammad Arifin, Etika dan Profesi Kependidikan ( Yogyakarta : Arruz, 2012 ).Hlm : 226

[5] Ibid hlm 228

[6] Zaenal Mustakim, Op.Cit.  Hlm : 34

[7] Barnawi dan Muhammad Arifin, low.cit . Hlm : 228

[8] Ibid . Hlm 122

[9] Zaenal Mustakim, Op.cit. Hlm: 35

[10] Barnawi dan Muhammad Arifin, low.cit . Hlm: 232-233

[11] Ibid: Hlm 202

[12] Ibid. Hlm : 208-220

[13] Ibid Hlm : 233

[14] Buchari Alma, Guru Profesional ( Bandung : Alfabeta, 2009 ). Hlm : 11-13

[15] E. Mulyasa, Standar kompetensi dan sertifikasi Guru ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 2008 ) Hlm : 77-78

[16] Hamzah. B Uno , Profesi Kependidikan , ( Jakarta : Bumi Aksara, 2007 ). Hlm 22-27

download link :

Contoh Makalah Yang Benar

Demikian artikel contoh makalah pendidikan kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat memberikan tambahan keilmuan bagi Best Jobbers semua. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Salam sejahtera.

Categories
makalah

Contoh Makalah Doc

Contoh Makalah Doc – Halo, best jobbers. Salam jumpa dalam portal ilmiah https://bestjobaroundtheworld.com.

Dalam kesempatan kali ini saya akan mengajak Best Jobbers semua untuk kembali membuat karya ilmiah yang menjadi kebutuhan utama kaum intelektual.

Yups apalagi kalau bukan makalah. dalam membuat makalah, format yang sering digunakan adalah bentuk dokumen atau doc. Oleh karena itu, kali ini saya akan mengangkat judul Contoh Makalah Doc untuk artikel saya ini.

Contoh makalah doc ini merupakan makalah asli yang saya buat bersama kawan-kawan saya. Contoh makalah doc ini juga memberikan sumber referensi yang jelas.

Kami sertakan pula footnote dan daftar pustaka, karena memang menjadi syarat utama dalam membuat contoh makalah doc.

Dalam menyusun contoh makalah doc ini saya sedapat mungkin menghindari plagiasi. Mengapa demikian??? Tentu saja karena saya menginginkan hasil yang optimal yang nantinya dapat bermanfaat bagi Best Jobbers semua.

Sehingga dapat Best Jobbers gunakan sebagai salah satu sumber referensi yang jelas. Tak lupa, di akhir artikel ini saya cantumkan pula link download untuk contoh makalah doc  yang otentik.

Di dalam contoh makalah doc  yang otentik ini, semua teori dan materi dapat Best Jobbers jadikan sebagai referensi untuk pembuatan karya ilmiah anda semua.

Kami menggunakan sumber yang jelas dari buku-buku maupun literatur-literatur yang ada dan terverifikasi. Jadi, portal ini akan memudahkan anda untuk membuat sebuah karya ilmiah.

Tanpa menunggu lama lagi, mari kita simak ulasan di bawah ini.

Baca juga : Contoh Makalah Sederhana, Contoh Makalah Singkat

Contoh Makalah Doc Bertema Pendekatan  REBT

contoh makalah doc
source : Irvanhermawanto

Seperti yang telah dijelaskan diatas, membuat makalah biasanya menggunakan format doc atau dibuat dalam software Microsoft Word. Kenapa demikian? Karena software ini sangat familiar digunakan di Indonesia.

Oleh karena itu contoh makalah doc akan sangat membantu anda dalam membuat tugas makalah. Selain itu materi-materi yang saya tuliskan juga dapat anda semua jadikan referensi.

Hal tersebut  karena mengambil teori-teori yang berasal dari sumber yang jelas. dalam artikel ini saya membuat contoh makalah doc dengan tema pendekatan REBT.  Mari Best Jobbers semua kita simak contoh makalah doc di bawah ini.

Contoh Cover Makalah

source : My Archive

Membuat suatu karya ilmiah harus mengikuti prosedur-prosedur yang ada. Ada tata cara dan urutan yang telah ditentukan. Bagian paling awal dalam membuat suatu karya ilmiah adalah membuat cover.

Dalam contoh makalah doc ini, anda dapat melihat cover makalah yang baik seperti contoh  dalam gambar.

Bab I. Pendahuluan

Setelah membuat cover, kita hrus membuat isi dari makalah. Makalah merupakan karya ilmiah sederhana. Setiap makalah berisi 3 bab. Bab I merupakan bagian pendahuluan.

Pada bab I mengulas tentang latar belakang masalah yang diangkat sebagai tema. Latar belakang menjelaskan tentang mengapa penulis mengangkat tema tersebut, apa urgensinya?

Selain itu, latar belakang juga menjadi pijakan teori yang nantinya akan kita abahas pada bab II. Di bawah ini adalah contoh latar belakang

Latar belakang

Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. Pendekatan ini dipelopori oleh Elbert Ellis.

Pandangan dasar tentang manusia dalam pendekatan ini menyatakan bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang didapat melalui belajar sosial.

Disamping itu, individu juga memiliki kapasitas belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.  Pada waktu  berpikir  dan  bertingkah laku  rasional  manusia  akan menjadi individu yang efektif, bahagia, dan kompeten.

Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi,  interpretasi,  dan  filosofi  yang  disadari  maupun  tidak  disadari.

Hambatan psikologis  atau  emosional  adalah  akibat  dari  cara  berpikir  yang  tidak  logis  dan irasional.

Hambatan psikologis  atau  emosional ini akan selalu   menyertai  individu  yang  berpikir  dengan  penuh  prasangka,  sangat personal,  dan  irasional. Berpikir  irasional  diawali  dengan  belajar  secara  tidak  logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan.

Berpikir secara irasional akan  tercermin  dari  penggunaan verbalisasi oleh individu.

Rumusan masalah

Apa yang dimaksud dengan pendekatan REBT?

Bagaimana sejarah REBT?

Bagaimana Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT?

Bagaimana Konsep Dasar REBT?

Apa Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy?

Apa Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT?

Bagaimana Teknik dan Tahapan REBT?

BAB II. PEMBAHASAN

Perspectives of Troy

Inti dari contoh makalah doc dalam artikel ini terdapat pada bab II. Pada bab II ini, semua teori dikomparasikan membentuk suatu pembahasan yang ilmiah.

Penulis dituntut untuk membuat analisa dari teori-teori yang diambil dari literatur yang telah dihasilkan oleh para pakar.

Pengertian Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan psikologis yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran.

Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCD.[1]

Menurut Corey, terapi REBT adalah pemecahan masalah yang fokus pada aspek berpikir, menilai, memutuskan, direktif tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.[2]

Menurut W.S. Winkel, REBT merupakan pendekatan konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dengan akal sehat, berperasaan dan berperilaku, serta menekankan pada perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dan berperasaan yang berakibat pada perubahan perasaan dan perilaku.[3]

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, REBT merupakan terapi yang berusaha menghilangkan cara berpikir klien yang tidak logis, menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional .

Konselor  mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya serta menyerang, menentang, mempertanyakan, dan membahas keyakina-keyakinan yang irasional.

Sejarah REBT

REBT adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tengah tahun 1950-an. Pendekataan ini menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku.

Pada awalnya pendekatan ini disebut dengan Rational Therapy. Kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational Emotive Therapy padat ahun 1961.

Lalu pada tahun 1993 Ellis mengumumkan bahwa ia mengganti menjadi Rational Emotive Behavior Therapy. REBT merupakan pendekatan kognitif-behavioral.

Dalam proses konselingnya, REBT berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi REBT menekankan bahwa tingkah laku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga focus penanganan pada pendekatan REBT adalah pemikiran individu.

Kata rational yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berpikir yang efektif dalam membantu diri sendiri bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis.

Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada penilaian individu berdasarkan keinginan atau pilihannya atau berdasarkan emosi dan perasaannya.

Ellis memperkenalkan kata behavior pada pendekatan REBT dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan.[4]

Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT

Pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem peraasaan.

Sistem berfikir dan sistem peraasaan ini saling berkaitan dalam sistem psikis individu. Individu berfungsi secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut :

Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir. Ia dapat berpikir  rasional dan irasional

Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya

Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional

Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbaling) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akan permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri

Individu berpotensi mengubah arah hidup personal maupun sosialnya

Pikiran dan perasaan yang negatif merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali pesepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional (George & Cristiani, 1990, p,82-83).[5]

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia tergambar dalam Quation dari Epictetus yang dikutip oleh Eliis :

Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them”. (manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karen pandangan terhadap sesuatu).

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia, melekat oada epistemology atau theory of knowledge, dialectic, atau sitem berpikir, sistem nilai dan prinsip etik.

Secara epistimology, individu diajak mencari cara yang reliabel dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menetukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris.

Secara dialetik, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis itu tidak mudah. Kebanyakan individu cenderung ahli dalam befikir tidak logis.

Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah :

saya harus sempurna

saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!

Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.

Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit daam filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan,

yaitu : 1) nilai untuk bertahan hidup (survival) , 2) nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisirkan stres emosional  dan tingkah laku yang merusak diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia.

Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu.

Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut. [6]

Selanjutnya, manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental, yaitu: untuk bertahan hidup (to survie), untuk bebas dari kesakitan (to be relatively free from pain), dan untuk mencapai kepuasan (to be reasonably satisfied or content.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) juga berpendapat bahwa individu adalah makhluk hedonistik, dimana tujuan utama hidupnya  adalah  kesenangan dan bertahan hidup.

Hedonisme dapat diartikan sebagai pencarian kenikamatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonisme khusus yang membutuhkan perhatian adalah penghindaran terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan.

Dalam Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerence (LFT), individu yang memiliki LFT terlihat dari pernyataan-pernyataan verbalnya seperti: ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.

Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu :

Dicintai dan disetujui oleh orang lain adalah sesuatu yang sangat esensial

Untuk menjadi orang yang berharga, individu harus kompeten dan mencapai setiap usahanya

Orang yang tidak bermoral, kriminal dan nakal merupakan pihak yang harus disalahkan

Hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila segala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan

Ketidakbahagiaan merupakan hasil dari peristiwa eksternal yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri

Sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan harus selalu diingat dalam pikiran

Lari dari kesulitan dan tanggung jawab lebih mudah daripada menghadapinya

Seseorang harus memiliki orang lain sebagai tempat bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat yang dapat menjadi tempat bersandar

Masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa diubah

Individu bertanggung jawab atas masalah dan kesulitan yang dialami oleh orang lain

Selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah. Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang benar merupakan bencana.

Ellis berpendapat bahwa secara natural berpikir irasional dan memiliki kecenderungan merusak diri (self-derecting behavior), oleh karena itu individu memerlukan bantuan untuk berpikir sebaliknya.

Namun Ellis juga mengatakan bahwa individu memiliki cinta dan menolong orang lain selama mereka tidak berpikir irasional. Untuk menjelaskannya dalm lingkaran berpikir irasional (the circle of irational thingking).

Berpikir irasional mengarah kepada kebencian terhadap diri (self-hate). Self hate mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri (self distructed behavior).

Setelah itu  individu akan membenci orang lain sehingga pada akhirnya menyebabkan bertindak irasional kepada orang lain.  Pola yang demikian terjadi  secara terus menerus mengikuti lingkaran tersebut. [7]

Konsep Dasar REBT

Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasa REBT yang dapat dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:

Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berineraksi dan mempengaruhi satu sama lain

Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan

Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain disekitarnya.

Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah laku. Individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu selalu menciptakan keyakinan yang irasional mengenai kejadian tersebut.

Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu.

Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya

Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-defeating behavior).

Proses Berpikir

Menurut pandangan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) individu memiliki tiga tingkatan berpikir, yaitu berpikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences), mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation), dan keyakinan terhadap proses inferences dan evaluasi (core belief).

Menurut Ellis, yang menjadinya sumber terjadinya masalah-masalah emosional adalah evaluative belief. Dalam  istilah Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), evaluative belief adalah irational belief  yang dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu

Demands (tuntutan) adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan absolut terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenali dengan kata-kata seperti, harus, sebaiknya, dan lebih baik.

Awfusiling adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.

Low frustaion tolerance (LFT) adalah kelanjutan dari tuntutan untuk selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan.

Global evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bermakna individu dapat diberi peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi bebrapa orang lebih buruk atau tidak berharga dari yang lain.

Ellis membagi pikiran individu dalam iga tingkatan, yaitu: dingin (cool), hangat (warm), dan panas (hot), yang mengilustrasikan bagaimana emosi terintregasi dalam pikiran.

Pikiran dingin (cool) adalah pikiran yang bersifat deskriptif dan mengandung sedikit emosi, sedangkan pikiran yang hangat (warm) adalah pikiran yang mengarah pada suatu preferensi atau atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung unsur evaluasi yang mempengaruhi pembentukan perasaan.

Adapun pikiran yang panas (hot) adalah pikiran yang mengandung unsur evaluasi yang tinggi dan penuh dengan perasaan.

Rasionalitas Sebagai Filosofi Personal (Rationality as a Personal Philosopy)

RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) membantu individu untuk mengembangkan filosofi hidup yang baru yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan kebahagiaan.

Pandangan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) bahwa individu dapat memilih untuk menyakiti diri sendiri dengan pikiran yang tidak logis dan tidak ilmiah aau mengembangkan kebahagiaan hidup dengan berpikir rasional berdasarkan bukti-bukti dan fakta.

Tujuan-tujuan prinsip rasional adalah untuk meningkakan keyakinan dan kebiasaan yang sesuai dengan prinsip untuk bertahan hidup, mecapai kepuasan dalam hidup, berhubungan dengan orang lain dengan cara positif, dan mencapai keterlibatan yang intim dengan beberapa orang.

Teori ABC

Teori ABC adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang pendekatan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT), kemudian ditambahkan D dan E mengakomodasi perubahan dan hasil yang diiginkan dari perubahan tersebut.

Selanjutnya, ditambahkan G yang diletakkan di awal untuk memberikan konteks pada kepribadian individu:

G: (goals) atau tujuan-tujuan yaitu tujuan fundamental

A: (activating evens in a person’s life) atau kejadian yang mengaktifkan atau mengakibatkan individu

B: (beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasional

C: (consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah laku

D: (disputing irrational belief) atau membantah pikiran irasional

E: (effective new philosophy of life) atau mengembangkan filosofi hidup baru yang lebih efektif

F: (further action/new feeling) atau aksi yang akan dilakukan lebih lanjut dan perasaan baru yang dikembangkan.[8]

Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy

Ciri-ciri tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Dalam menelusuri masalah, konselor berperan lebih aktif dibandingkan klien.

Maksudnya adalah konselor harus melibatkan diri dalam proses konseling dengan bersikap efektif, memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien serta bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah klien sesuai dengan keinginan dan disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam proses hubungan konseling harus tetap diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengan klien.

Sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan sangat berpengaruh dalam suksesnya proses konseling karena dapat menciptakan proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.

Hubungan baik ini dapat dipergunakan oleh konselor untuk membantu mengubah cara berfikir klien yang irasional menjadi rasional.

Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.[9]

Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT

Tujuan Konseling

Tujuan utama konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah membantu individu menyadari bahwa mereka dapt hidup dengan lebih rasional dan lebih produktif.

Secara lebih gamblang, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengajarkan individu untuk mengevaluasi kesalahan berfikir.

Hal tersebut diperlukan untuk mereduksi emosi yang tidak diharapkan, selain itu Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) membantu individu untuk mengubah kebiasaan berfikir dan tingkah laku yang merusak diri.

Secara umum, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mendukung konseli untuk menjadi lebuh toleran terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

Ellis dan Benard (1986) mendiskripsikan beberapa sub dan tujuan yang sesuai dengan nilai dasar pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).

Sub tujuan ini dapat membantu individu mencapai nilai untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). tujuan tersebut adalah :

Memiliki minat diri (self interest)

Memiliki minat sosial (social interest)

Memiliki pengarahan diri (self direction)Toleransi (tolerance)

Fleksibel (flexibility)

Memiliki penerimaan (acceptance)

Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)

Dapat menerima diri sendiri (self acceptance)

Dapat mengambil resiko (risk taking)

Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation)

Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi

Memiliki tanggung jawab pribadi

Peran dan Fungsi Konselor

Berikut ini adalah peran konselor dalam pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT):

Aktif Direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk memberikan penjelasan terutama pada awal konseling

Mengkonfrontasi fikiran irasional konseli secara langsung

Menstimulus konseli dengan berbagai teknik untuk berfikir dan mendidik kembali diri konseli sendiri

Secara terus menerus ”menyerang” pemikiran irasional koseli

Mengajak konseli untuk mengatasi maslah ya dengan kekuatan berfikir bukan emosi

Bersifat didajtif (George & Cristiani, 1990, p.86).

Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) banyak didominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal.

Oleh karena itu,  dalam melaksanakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), konselor diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena.

Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan untuk membangun hubungan konseling.

Adapaun keterampilan konseling yang harus dimiliki konselor yang akan menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), adalah sebagi berikut:

Empati (empathy)

Menghargai (Respect)

Ketulusan (gemuineness) [10]

Teknik dan tahapan REBT

Teknik-teknik Rational Emotive Behaviour Therapy

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. teknik-teknik Rational Emotive Behavior Therapy sebagai berikut :

Teknik-Teknik Kognitif

Teknik-teknik kognitif digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik kognitif:

Tahap Pengajaran

Dalam REBT, konselor mengambil peranan yang  lebih aktif. Tahap ini memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.

Tahap Persuasif

Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Dan Konselor juga mencoba meyakinkan, berbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.

Tahap Konfrontasi

Konselor mengubah cara berpikir klien yang tidak logis dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logika.

Tahap Pemberian Tugas

Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.

Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat jika mereka merasa dikucilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.[11]

Teknik-Teknik Emotif

Teknik-teknik emotif  digunakan untuk mengubah arah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:

Teknik Sosiodrama

Konselor memberi peluang kepada klien untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang menekan dirinya melalui suasana yang didramatisasikan.

Dengan demikian, klien dapat secara bebas mengungkapkan emosi dalam dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis. [12]

Teknik Self Modelling

Konselor meminta klien berjanji untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya.

Teknik Assertive Training

Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.

Teknik-Teknik Behaviouristik

Terapi Rasional Emotif banyak menggunakan teknik behavioristik terutama dalam hal upaya modifikasi perilaku negatif klien, dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:

Teknik reinforcement

Teknik reinforcement (penguatan), yaitu: untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis denagn jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).

Teknik ini dimaksudkan untuk mengubah sistem nilai-nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang lebih positif.

Teknik social modeling (pemodelan sosial)

Teknik social modeling (pemodelan sosial), yaitu teknik untuk membentuk perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan.

Model sosial yang dimaksud dapat dilakukan dengan cara mutasi (meniru), mengobservasi dan menyesuaikan dirinya maupun  menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan konselor.

Teknik live models

Teknik live models (mode kehidupan nyata), yaitu teknik yang digunakan untuk menggambar perilaku-perilaku tertentu seperti situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapanpercakapan sosial, interaksi dengan memecahkan maslah-masalah.[13]

Langkah-langkah atau tahap dalam  Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional.

Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk membantu mengatasi permasalahannya.

Dalam proses konseling dengan pendekatan REBT terdapat beberapa tahap yang dikerjakan oleh konselor dan konseli.[14]

Untuk mencapai tujuan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) konselor melakukan langkah-langkah konseling antara lainnya :

Langkah pertama

Menunjukkan pada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai sikapnya yang menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukkan banyak keharusan, sebaiknya dan semestinya klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinannya yang rasional dan keyakinan irasional, agar klien mencapai kesadaran.

Langkah kedua

Membawa klien ketahapan kesadaran dengan menunjukan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosionalnya untuk tetap aktif dengan terus menerus berfikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang dengan kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan mengabadikan masa kanak-kanak, terapi tidak cukup hanya menunjukkan pada klien bahwa klien memiliki proses-proses yang tidak logis.

Langkah ketiga

Berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irasional. Maksudnya adalah agar klien dapat berubah fikiran yang jelek atau negatif dan tidak masuk akal menjadi yang masuk akal.

Langkah keempat

Adalah menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupanya yang rasional, dan menolak kehidupan yang irasional. Maksudnya adalah mencoba menolak fikiran-fikiran yang tidak logis untuk masuk dalam dirinya.[15]

BAB III. PENUTUP

source : Inc.com

Bab III merupakan kesimpulan dari apa yang telah diuraikan di bab II. Dengan demikian contoh makalah doc ini sudah lengkap. Cantumkan pula daftar pustaka yang berisi tentang literatur-literatur yang dijadikan sumber.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.

Ketika  berpikir  dan  bertingkahlaku  rasional  manusia  akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir danbertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.

Dalam pendekatan Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) yang dipelopori oleh Albert Ellis ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Pada teknik kognitif terdapat tahap pengajaran, persuasif, konfrontasi dan pemberian tugas.

Pada teknik emotif terdapat teknik sosiodrama, self modeling, assertive training. Pada teknik behavioristic terbagi menjadi teknik reinsforcemen, teknik social modeling, dan teknik lives models.

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional. Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Eresco.

Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks.

Natawidjaya, Rochman. 2009. Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi Press.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Teori Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Surya, Muhammad. 2003. Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Winkel, W.S. 2007. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia.

Oke, Best Jobbers demikian contoh makalah doc ini saya buat.

Semoga dapat menambah khazanah keilmuan kita semua. Sebelum saya akhiri silahkan download file aslinya dengan klik link di bawah ini untuk mendapatkan format yang lebih sesuai dengan aturan.

download link

Contoh Makalah Yang Benar

       [1]Gantina Komalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT Indeks, 2011), hlm. 201.

       [2]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: PT. Eresco, 1988), hlm. 156.

       [3]W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan (Jakarta: PT. Gramedia, 2007), hlm. 364.

       [4]Gantina Komalasari dkk, Teori dan teknik konseling,… hlm. 201-202.

       [5]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.203

       [6]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.204

       [7]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.205

       [8]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 207-211.

       [9]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.89.

       [10] Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 213-214.

       [11]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985), hlm. 91-92

       [12] Rochman Natawidjaya, Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan (Bandung: Rizqi Press, 2009), hal. 288

       [13]Muhammad Surya, Teori-teori Konseling (Bandung Pustaka Bani Quraisy, 2003),

       [14]Gantina Komalasari,dkk, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 215.

       [15]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konselig,… hlm. 246.

Categories
Karya Tulis makalah

Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Sederhana – Hallo Best Jobbers, salam sejahtera untuk kita semua. Makalah merupakan salah satu bentuk karya ilmiah wajib bagi pelajar dan mahasiswa.

Bagi pelajar yang duduk di bangku SMA/SMK, makalah sudah menjadi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang wajib dikerjakan. Biasanya, siswa SMA/SMK disuruh untuk membuat contoh makalah sederhana oleh guru.

Para siswa disuruh membuat contoh makalah sederhana, disesuaikan dengan kemampuan intelegensi.

Siswa SMA/SMK membuat contoh makalah sederhana, selain sebagai tugas wajib tetapi juga untuk mempersiapkan diri apabila mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi.

Saat mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, makalah adalah hal wajib yang setiap pertemuan harus ada. Mahasiswa tidak lagi membuat contoh makalah sederhana, tetapi diwajibkan membuat makalah yang berdasarkan penelitian.

Berikut saya berikan kepada Best Jobbers semua contoh makalah sederhana. Jangan lupa untuk download file contoh makalah sederhana dalam bentuk dokumen Microsoft Word di link yang sudah saya sediakan diakhir artikel contoh makalah sederhana ini. Simak yaa….

Baca juga : Contoh Makalah Singkat  Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Sederhana Dengan Tema Psikologi Behavioral

contoh makalah sederhana
Source : FIA UB – Universitas Brawijaya

Contoh Makalah Sederhana – Dibawah ini saya akan memberikan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral secara lengkap. Skema penulisan yang baik dalam membuat contoh makalah sederhana berisi tentang:

Cover Makalah

Kata Pengantar Makalah

Daftar Isi Makalah

BAB I : Pendahuluan Makalah

BAB II : Pembahasan Makalah

BAB III : Penutup Makalah

Daftar Pustaka Makalah

Dalam artikel ini saya langsung membahas BAB I sampai BAB III yang merupakan struktur utama dari suatu makalah. Selamat menyimak, Best Jobbers…

Contoh Bab I : Pendahuluan

source : Lokerbali

Dalam contoh makalah sederhana ini, saya tidak menyertakan contoh cover. Contoh cover yang baik sudah pernah saya lampirkan di artikel sebelumnya.

Untuk penjelasannya sudah pernah saya kupas dalam artikel Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar. Mari kita simak isi dari pendahuluan contoh makalah sederhana seperti di bawah ini.

Latar Belakang

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam ilmu psikologi.  Behaviorisme yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913, lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bahwa sadar yag tidak tampak.

Dalam analisis behaviorisme perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan.  Berbeda dari psikoanalisis, perilaku ini lebih mengonsentrasikan pada modifikasi tindakan.

Perilaku ini berfokus pada perilaku saat ini dari pada masa lampau. Belakangan kaum behaviorisme lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.[1]

Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar.

Sehingga, manusia mengembangkan perilaku berdasarkan belajar sosial dengan lingkungan sekitar dirinya bersosialisasi.

Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah pendekatan behavioristik?

Bagaimana pandangan manusia menurut pendekatan behavioristik?

Bagaimana konsep dasar pendekatan behavioristik?

Bagaimana teknik-teknik pendekatan behavioristik?

Contoh Bab II : Pembahasan

source : Vandeputte Law

Contoh makalah sederhanaseperti dalam artikel-artikel sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ujung tombak dari sebuah makalah adalah BAB II yang berisi pembahasan.

Di sini, seluruh teori yang kita gunakan, asumsi-asumsi para pakar dan analisis tentang pembahasan makalah kita tuliskan. Penulisan pembahasan haruslah sistematis dan menggunakan tata bahasa yang baku dan efektif.

Dibawah ini saya contohkan pembahasan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral. Simak ya…

Sejarah

Pendekatan behavioral muncul akibat penolakan terhadap aliran struktualisme. Aliran strukturalisme ini berpendapat bahwa perilaku manusia ingin dipahami, mental, perasaan, dan pikiran hendaknya ditemukan terlebih dahulu.

Maka dari itu, maka munculah teori intropeksi. Berbeda dengan aliran behavioristik, yang mana intropeksi tidak dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para pakar behavioristik adalah sesuatu yang Dubios.

Yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Pendekatan behavioristik memandang point pentingnya adalah perilaku yang dimunculkan oleh seseorang. Berikut beberapa ahli behavior:

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)

Pavlov berasal dari warga Rusia, yang melahirkan teori calssical conditioning. Yang mana eksperimennya menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan diruang kedap suara sebagai penelitian.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa rangsangan secara berulang-ulang ditambah dengan unsur penguat maka akan menghasilkan reaksi. Menurut Pavlov ada dua jenis aktivitas organisme yaitu aktvitas yang bersifa reflektif dan aktifitas yang didasadari. [2]

Pavlov dalam eksperimennya mengguanakan anjing sebagai binatang coba. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila  air liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang yang telah disediakan.

Menurut Pavlov apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur. Perilaku  ini merupakan respons yang alami yang reflektif, yang disebut sebagai respons yang tidak berkondisi.

Apabila anjing mendengar bunyi bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ini juga merupakan respons yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak berkondisi atau gerak telinga sebagai stimulus yang berkondisi.

Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat dibentuk pada anjing suatu perilaku atau respons apabila anjing mendengar bunyi bel lalu mengeluarkan air liur. Hal inlah yang kemudian diteliti secara eksperimental oleh Pavlov.

Dalam eksperimen ini, hasil pada akhirnya bunyi bel berkedudukan sebagai stimulus yang berkondisi dan mengeluarkan air liur sebagai respons berkondisi. Apabila bunyi bel diberikan setelah diberikan makanan, maka tidak akan terjadi respons yang berkondisi tersebut.[3]

Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Thorndike lahir di Williamsbug tahun 1874, salah satu hasil karyanya yaitu penelitian mengenai psikologi binatang serta teori belajar trial and error.

Konsepnya menekankan kepada aspek fungsional perilaku adalah proses mental dan perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Eksperimen Thorindike menetapkan tiga macam hukum yang dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, berikut tiga macam hukum :

The Law of readiness, adalah salah satu faktor penting dalam belajar. Seseorang harus memiliki kesiapan dan kesediaan, yang mana keduanya akan mempengaruhi hasil belajar apakah baik atau buruk.

The law of excercise, mempunyai dua hal penting yaitu hukum kegunaan hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon menjadi semakin kuat jika sering digunakan, kedua

The law of effec, lebih menitikberatkan kepada penguatan atau memperlemah hubungan stimulus dan respons tergantung kepada hasil dari respon yang bersangkutan.

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner ini melahirkan teori pengkondisian operan (operant conditioning). Eksperimen Skinner didemonstrasikan dengan seekor tikus yang lapar, yang diletakkan dalam sebuah kotak yang dinamakan kotak Skinner.

Didalam kotak Skinner tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol dimana terdapat piring makanan dibawahnya. Sebuah lampu kecil diatas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak pelaku eskperimen.

Tikus yang dibiarkan sendiri didalam kotak, berjalan kesana kemari menjelajahi aan sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebut dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkat dasar penekanan jeruji.

Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan diluar kotak Skinner. Sekarang setiap kali tikus menekan jeruji, butir halus makanan terluncur jatuh ke piring makanan.

Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi. Makanan menguatkan (reinforce) penekanan jeruji dan laju penekanan meningkat secara drastic.

Bila tempat makanan tidak dihubungkan dengan jeruji, sehingga penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkan makanan, laju penekanan jeruji akan berkurang.

Berarti, respon operan mengalami pemadaman (extinction) tanpa adanya penguatan, sama seperti yang terjadi pada respon pengkondisian klasik.[4]

John Broadus Watson (1878-1958)

Inti Behavioristik yaitu memprediksi dan mengontrol perilaku. Menurutnya perilaku yang dapat dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran. Karena kesadaran adalah sesuatu yang dubios.

Metode yang dikembangkannya adalah kajian binatang dan anak-anak, seperti pengkondisian pobia dan rasa takut pada anak.

Pandangan Manusia

Menurut Dustin dan George mengemukakan pandangan behavioristik terhadap konsep manusia yaitu:

Manusia dipandang sebagai individu yang pada hakekatnya bukan individu yang baik atau jahat, tetapi sebagai individu yang selalu berada dalam keadaan yang sedang menjalani, yang memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu pada semua jenis perilaku.

Manusia dapat menjabarkan dan mengartikan serta dapat mengontrol perilaku yang ada pada dirinya sendiri. Manusia mampu memperoleh perilaku yang baru.

Manusia bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya peirlakunya yang bisa dipengaruhi orang lain[5]

Ciri Khusus Konseling Behavior

Proses konseling mendasarkan pada prinsip dan prosedur metode ilmiah Mengkaji perilaku saat ini dan faktor yang mempengaruhinya.

Konseli yang terlibat dalam konseling behavior berperan aktif dengan terlibat dalam tindakan spesifik untuk mengangani masalah mereka.

Fokusnya adalah oada menilai perilaku terbuka dan rahasia secara langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan Penaksiran objek atas hasil-hasil konseling[6]

Pribadi sehat

Tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Pribadi yang sehat adalah pribadi yang tingkahlakunya sesuai dengan pengkondisian. Dalam pandangan teori ini kepribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut:

Dapat merespon stimulus yang ada di lingkungan secara tepat

Tidak kurang dan tidak berlebihan dalam tingkah laku, memenuhi kebutuhan

Mempunyai derajat kepuasan yang tinggi atas tingkah laku atau bertingkahlaku dengan tidak mengecewakan diri dan lingkungan

Dapat mengambul keputusan yang tepat atas konflik yang dihadapi

Mempunyai self control yang memadai

Pribadi tidak sehat

Menurut Namora Lumongga Lubis mengatakan adapun peirlaku bermasalah dalam konsep behavioristim adalah perilaku yang tidak sesuai/tepat dengan yang diharapkan oleh lingkungan.

Perilaku yang salah ini dapat ditandai dengan muncuknya konflik antar individu dengan lingkungannya. Pribadi yang tidak sehat adalah sebagai berikut:

Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan

Cara belajar atau lingkungan yang salah

Cenderung merespon tingkah laku negatif dari lingkungan

Gagal dalam belajar[7]

Ciri unik terapi tingkah laku

Terapi tingkah laku berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya ditandai oleh:

Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik

Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah, dan’

Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi

Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku maladaptif, serta memperkua dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.

Tujuan treatment yang spesifik ini maksudnya adalah klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya.

Kemudian, setelah mengembangkan pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment, terapis harus memilih prosedur-prosedur yang paling sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Berbagai teknik tersedia, yang keefetifannya bervariasi dalam mengangani masalah-masalah tertentu.

Misalnya teknik-teknik aversi tampaknya paling berguna sebagai cara-cara untuk mengembangkan kendali dorongan, orang yang mengalami hambatan dalam menampilkan diri dan dalam bergaul bisa mengambil manfaar dari latihan asertif.

Pengulangan tingkah laku berguna untuk menguatkan tingkah laku yang baru diperoleh, desentisasi tampaknya paling berguna bagi penanganan fobia-fobia.

percontohan yang digabunkan dengan perkuatan positif tampaknya cocok bagi perolehan tingkah laku sosial yang kompleks.

Tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas. Tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, untuk mendapatkan  hasil-hasil yang menjadi dapat dievaluasi.

Terapi tingkah laku kriteria yang didefinisikan dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku menekankan evaluasi atas keefektifan teknik-teknik yang digunakan.

Evolusi dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosedur-prosedur treatment menandai proses terapeutik. [8]

Tujuan Konseling Pendekatan Behavior

Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar

Penghapusan hasil belajar yang maladaptive

Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari

Membantu konseli membuang respons-respons yang lama yang merusak diri atau maladaptive dan mempelajari respons-respons baru yang lebih sehat dan sesuai

Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku maladaptive,memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan

Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan Bersama antara konseli dan konselor

Peran dan Fungsi

Konselor harus memainkan peran aktif, direktif, dan menggunakan pengetahuan ilmiah dalam menemukan solusi masalah konseli.

Konselor berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli. Dalam proses konseling, konseli yang menentukan tingkah laku apa (what) yang akan diubah, sedangkan konselor menentukan cara yang digunakan untuk mengubahnya (how). [9]

Desentisasi sistematik (DS)

Teknik DS digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku meghindar. DS dilakukan dengan menerapkan pengkondisian klasik yaitu dengan melemahkan kekuatan stimulus penghasil kecemasan.

Melibatkan Teknik relaksasi Melatih konseli untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi. Cocok untuk : fobia, takut ujian, impotensi, ketakutan yang digeneralisasi

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan

Menyususn tingkat kecemasan

Membuat daftar situasi yang memunculkan taraf kecemasan dari paling rendah hingga paling tinggi

Melatih relaksasi konseli

Konseli mempraktikkan 30 menit setiap hari, hingga terbiasa untuk santai

Pelaksanaan desensitisasi konseli dalam santai dan mata tertutup

Meminta konseli membayangkan situasi yang membuat rileks, kemudian diikuti membayangkan pemicu kecemasan paling rendah

Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas, dan hentikan

Kemudan dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, kemudian membayangkan pemicu kecemasan lagi pada tahap yang lebih tinggi dari seblumnya

Terapi selesai ketika konseli mampu tetap santai pada kondisi membayangkan kecemasan yang sebelumnya dianggap paling menggelisahkan.

Implosif dan pembanjiran

Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan.

Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi sistematik dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengondisian balik maupun tingkatan kecemasan.

Terapis memunculkam stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis beruasaha mempertahankan klien.

Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubugan dengan teknik pembanjiran, yang disebut “terapi impolsif” : seperti halnya dengan desensitisasi sistematik.

Terapi impolsif berasumsi bahwa tingkah laku neurotic melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Terapi impolsif berbeda dengan desensitisasi sistematik dalam usaha terapis  untuk menghadirkan luapan emosi yang masif.

Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhempas.

Klien di arahkan untuk membayangkan situasi-situasi (stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dan dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul.

Stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilan kecemasannya, dan penghindaran neurotic pun terhapus.

Menurut Stampfl (1975), mencontohkan terapi impulsif langsung dengan melukiskan seorang klien yang mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif pada kebersihan.

Klien memiliki ketakutan yang berlebian terhadap kuman dan mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari.

Prosedur-prosedur penanganan klien mencakup :

(1) pencarian stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala,

(2) menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk tingkah laku klien,

(3)meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa desertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya,

(4) bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan ;

(5) mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

Latihan asertif

Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa di terapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakakan yang layak atau benar.

Latihan asertif membantu bagi orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,

(3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkanafeksi dan respons-respons positif lainnya, dan (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-peraaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Shaffer dan Galinsky (1974) menerapkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau “latihan ekspresif” dibentuk dan berfungsi.

Kelompok terdiri atas delapan sampai sepuluh anggota memiliki latar belakang yang sama, dan session terapi berlangsung selama dua jam. Terapis menjadi penyelenggara dan pengarah permainan peran, pelatih, pemberi perkuatan, dan sebagai model peran.

Dalam diskusi-diskusi kelompok, terapis bertindak sebagai seorang ahli, memberikan bimbingan dalam situasi-situasi permainan peran, dan memberikan umpan balik kepada para anggota.

Sepert kelompok terapi tingkah laku lainnya, kelompok laihan asertif ditandai dengan struktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas session berstruktur sebagai berikut :

(1) yang dimulai dengan pengenalan didaktik tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan respons-respons internal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurangtegasan dan pada belajar peran tingkah laku baru yang asertif.

(2) memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing-masing anggota menerangkan tingkah laku spesfik dalam situasi-situasi interpersonal yang dirasakannya menjadi masalah.

Peran anggota kemudian membuat perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri yang semula mereka hindari sebelum memasuki session selanjutnya.

(3) para anggota menerangkan tentang tingkah laku menegaskan diri yang telah di coba dijalankan oleh mereka dalam situasi-situasi dalam kehidupan nyata.

Mereka berusaha mengevaluasi dan jika mereka belum sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan permainan peran.

(4) penambahan lahitan relaksasi, pengulangan perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri, dan yang diikuti oleh evaluasi.

(5) di sesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan individual para anggota. Sejumlah kelompok cenderung berfokus pada permainan peran tambahan, evaluasi, dan latihan.

Kelompok yang lainnya berfokus pada usaha mendiskusikan sikap-sikap dan perasaan-perasaan yang telah membuat tingkah laku menegaskan diri sulit dijalankan.

Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.

Fokusnya adalah mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh.

Dengan demikian individu-individu diharapkan mampu mengatasi dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.

Terapi Aversi

Teknik aversi digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk, meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus tersebut.

Respons dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya. Contohnya ialah untuk menyembuhkan pria homoseks. Kepada pria homoseks diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalirkan setrum listrik pada kakinya yang tidak beralas.

Dalam terapi ini, setiap kali kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang) diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik. Selalu seperti itu setiap melihat foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak tertarik lagi pada pria.

Teknik- teknik pengkondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.

Stimulus-situmulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.

Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan ditarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekuensinya.

Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik kepada anak autistik ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.

Teknik ini merupakan metode yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode untuk membawa orang kepada tingkah laku yang diinginkan.

Dimana kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif.

Sebagian besar lembaga sosial menggunakan teknik ini untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan apa yang telah digariskan.

Sebagai contoh di Gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguhan pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.

Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif seperti ketergantungan alkohol, obat bius, kecanduan merokok, serta penyimpangan seksual seperti homoseksual maupun pedofilia.

Seperti contohnya dalam menangani seorang alkoholik, dia tidak dipaksa untuk menjauhkan diri dari alkohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol disertai pemberian ramuan yang akan membuat mual dan kemudian muntah.

Si alkoholik lambat laun akan merasa sakit bahkan meskipun hanya melihat botol alkohol.[10]

Pengkondisan operant

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif.  Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

Menurut Skinner jika suatu tingkah laku diganjar, maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi.

Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengkondisian operan.

Pengkondisian operan ini mencakup teknik-teknik lain yaitu perkuatan positif, pembetukan respons, perkuatan intermiten, penghapusam percontohan, dan token ekonomi.[11]

Perkuatan positif

Cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku adalah dengan pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Pemerkuat-pemerkuat ini dapat berupa:

Pemerkuat primer, memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh makanan dan tidur atau istirahat.

Pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dan sosial, memiliki nilai-nilai karena berasosiasi dengan pemerkuat-pemerkuat primer. Contoh senyuman, persetujuan, pujian, penghargaan, dan hadiah-hadiah.

Pembentukan respons

Dalam pembentukan respons, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkyat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir.

Pemberntukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam pembentukan respons ini.

Perkuatan intermiten

Disamping membentuk perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memlihara tingkah laku yang telah terbentuk. terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul agar dapat memaksimalkan nilai-nilai pemerkuat.

Oleh kerenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Penguatan ini akan terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan penguatan intermiten diberikan secara lebih bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik.

Tingkah laku yang dikoondisikan oleh penguatan intermiten lebih tahan terhadap penghapusan dibanding tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus.

Terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan pada tahap-tahap permulaan. Hal ini dilakukan dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku.

Setelah tingkah laku yang diinginkan itu muncul, perkuatan-perkuatan diberikan segera. Dengan cara ini, penerimaan perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar.

Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu emningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi.

Seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, misalnya memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan apabila si anak hanya diberi pujian sekali-kali.

Prinsip perkuatan intermiten bisa menerangkan mengapa orang-orang bisa tahan dalam bermain judi atau dalam memasang taruhan paa pacuan kuda. Mereka cukup terganjar untuk bertahan meskipun mereka lebih banyak kalah daripada menang.[12]

Penghapusan

Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tanpa perkuatan maka respon tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode .

cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam itu berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama.

Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh.

Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kebandelan dirumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk mrnghapus kebandelan anak tersebut.

Perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan pada saat yang sama.

Terapis, guru, dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tidak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi.

Contohnya seorang anak yang telah belajar bahwa dia biasanya memperoleh apa yang diinginkan dengan mengomel mungkin akan memperhebat omelannya.

Hal itu dilakukan ketika permintaan tidak segera dipenuhi. Jadi kesabaran menghadapi periode peralihan sangat diperlukan.[13]

Percontohan

Individu cenderung mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model.

Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengamatan langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensinya.

Jadi kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

Juga reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati tanpa mengalami akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.

Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model sangat berarti dan ornag-orang pada umunya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status yang tinggi dan terhormat dimata mereka sebagai pengamat.

Token economy

Apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh, metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku.

Contoh Bab III : Penutup

 

source : Davidson Lawyers LLP

Terakhir, contoh makalah sederhana ditutup dengan BAB III yang berisi kesimpulan dari semua materi yang telah kita tulis di bab sebelumnya. Jangan lupa juga untuk menyertakan daftar pustaka literasi yang menjadi referensi.

Kesimpulan

Pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama.

Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.

Hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar.

Konseling behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang digunakan untuk melakukan pengubahan perilaku berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita L. & Richard G. 2009. Atkinson, Pengantar Psikologi.Jakarta : Erlangga

Setiawan, M. Andi.2018.Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), Yogyakarta:CV Budi Utama

Suryabrata,Sumadi.1998.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Corey,Gerald.2009.Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.Bandung:PT Refika Aditama.

Demikianlah contoh makalah sederhana yang saya tuliskan di artikel ini. Jangan lupa untuk download file Ms. Wordnya di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

[1]Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm. 8

[2]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018), hlm. 33

[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1998), hlm. 261

[4] Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi,…, hlm. 305

[5]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.36

[6]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.38-39

[7]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm. 40

[8]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, (Bandung : PT Refika Aditama, 2009),Hlm. 196-197

[9] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 202

[10]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm.  214-218

[11]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 218-129

[12]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 220

[13]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 221