Contoh Makalah Doc

Contoh Makalah Doc – Halo, best jobbers. Salam jumpa dalam portal ilmiah https://bestjobaroundtheworld.com.

Dalam kesempatan kali ini saya akan mengajak Best Jobbers semua untuk kembali membuat karya ilmiah yang menjadi kebutuhan utama kaum intelektual.

Yups apalagi kalau bukan makalah. dalam membuat makalah, format yang sering digunakan adalah bentuk dokumen atau doc. Oleh karena itu, kali ini saya akan mengangkat judul Contoh Makalah Doc untuk artikel saya ini.

Contoh makalah doc ini merupakan makalah asli yang saya buat bersama kawan-kawan saya. Contoh makalah doc ini juga memberikan sumber referensi yang jelas.

Kami sertakan pula footnote dan daftar pustaka, karena memang menjadi syarat utama dalam membuat contoh makalah doc.

Dalam menyusun contoh makalah doc ini saya sedapat mungkin menghindari plagiasi. Mengapa demikian??? Tentu saja karena saya menginginkan hasil yang optimal yang nantinya dapat bermanfaat bagi Best Jobbers semua.

Sehingga dapat Best Jobbers gunakan sebagai salah satu sumber referensi yang jelas. Tak lupa, di akhir artikel ini saya cantumkan pula link download untuk contoh makalah doc  yang otentik.

Di dalam contoh makalah doc  yang otentik ini, semua teori dan materi dapat Best Jobbers jadikan sebagai referensi untuk pembuatan karya ilmiah anda semua.

Kami menggunakan sumber yang jelas dari buku-buku maupun literatur-literatur yang ada dan terverifikasi. Jadi, portal ini akan memudahkan anda untuk membuat sebuah karya ilmiah.

Tanpa menunggu lama lagi, mari kita simak ulasan di bawah ini.

Baca juga : Contoh Makalah Sederhana, Contoh Makalah Singkat

Contoh Makalah Doc Bertema Pendekatan  REBT

contoh makalah doc
source : Irvanhermawanto

Seperti yang telah dijelaskan diatas, membuat makalah biasanya menggunakan format doc atau dibuat dalam software Microsoft Word. Kenapa demikian? Karena software ini sangat familiar digunakan di Indonesia.

Oleh karena itu contoh makalah doc akan sangat membantu anda dalam membuat tugas makalah. Selain itu materi-materi yang saya tuliskan juga dapat anda semua jadikan referensi.

Hal tersebut  karena mengambil teori-teori yang berasal dari sumber yang jelas. dalam artikel ini saya membuat contoh makalah doc dengan tema pendekatan REBT.  Mari Best Jobbers semua kita simak contoh makalah doc di bawah ini.

Contoh Cover Makalah

source : My Archive

Membuat suatu karya ilmiah harus mengikuti prosedur-prosedur yang ada. Ada tata cara dan urutan yang telah ditentukan. Bagian paling awal dalam membuat suatu karya ilmiah adalah membuat cover.

Dalam contoh makalah doc ini, anda dapat melihat cover makalah yang baik seperti contoh  dalam gambar.

Bab I. Pendahuluan

Setelah membuat cover, kita hrus membuat isi dari makalah. Makalah merupakan karya ilmiah sederhana. Setiap makalah berisi 3 bab. Bab I merupakan bagian pendahuluan.

Pada bab I mengulas tentang latar belakang masalah yang diangkat sebagai tema. Latar belakang menjelaskan tentang mengapa penulis mengangkat tema tersebut, apa urgensinya?

Selain itu, latar belakang juga menjadi pijakan teori yang nantinya akan kita abahas pada bab II. Di bawah ini adalah contoh latar belakang

Latar belakang

Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. Pendekatan ini dipelopori oleh Elbert Ellis.

Pandangan dasar tentang manusia dalam pendekatan ini menyatakan bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang didapat melalui belajar sosial.

Disamping itu, individu juga memiliki kapasitas belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.  Pada waktu  berpikir  dan  bertingkah laku  rasional  manusia  akan menjadi individu yang efektif, bahagia, dan kompeten.

Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi,  interpretasi,  dan  filosofi  yang  disadari  maupun  tidak  disadari.

Hambatan psikologis  atau  emosional  adalah  akibat  dari  cara  berpikir  yang  tidak  logis  dan irasional.

Hambatan psikologis  atau  emosional ini akan selalu   menyertai  individu  yang  berpikir  dengan  penuh  prasangka,  sangat personal,  dan  irasional. Berpikir  irasional  diawali  dengan  belajar  secara  tidak  logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan.

Berpikir secara irasional akan  tercermin  dari  penggunaan verbalisasi oleh individu.

Rumusan masalah

Apa yang dimaksud dengan pendekatan REBT?

Bagaimana sejarah REBT?

Bagaimana Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT?

Bagaimana Konsep Dasar REBT?

Apa Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy?

Apa Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT?

Bagaimana Teknik dan Tahapan REBT?

BAB II. PEMBAHASAN

Perspectives of Troy

Inti dari contoh makalah doc dalam artikel ini terdapat pada bab II. Pada bab II ini, semua teori dikomparasikan membentuk suatu pembahasan yang ilmiah.

Penulis dituntut untuk membuat analisa dari teori-teori yang diambil dari literatur yang telah dihasilkan oleh para pakar.

Pengertian Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan psikologis yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran.

Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCD.[1]

Menurut Corey, terapi REBT adalah pemecahan masalah yang fokus pada aspek berpikir, menilai, memutuskan, direktif tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.[2]

Menurut W.S. Winkel, REBT merupakan pendekatan konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dengan akal sehat, berperasaan dan berperilaku, serta menekankan pada perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dan berperasaan yang berakibat pada perubahan perasaan dan perilaku.[3]

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, REBT merupakan terapi yang berusaha menghilangkan cara berpikir klien yang tidak logis, menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional .

Konselor  mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya serta menyerang, menentang, mempertanyakan, dan membahas keyakina-keyakinan yang irasional.

Sejarah REBT

REBT adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tengah tahun 1950-an. Pendekataan ini menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku.

Pada awalnya pendekatan ini disebut dengan Rational Therapy. Kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational Emotive Therapy padat ahun 1961.

Lalu pada tahun 1993 Ellis mengumumkan bahwa ia mengganti menjadi Rational Emotive Behavior Therapy. REBT merupakan pendekatan kognitif-behavioral.

Dalam proses konselingnya, REBT berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi REBT menekankan bahwa tingkah laku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga focus penanganan pada pendekatan REBT adalah pemikiran individu.

Kata rational yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berpikir yang efektif dalam membantu diri sendiri bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis.

Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada penilaian individu berdasarkan keinginan atau pilihannya atau berdasarkan emosi dan perasaannya.

Ellis memperkenalkan kata behavior pada pendekatan REBT dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan.[4]

Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT

Pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem peraasaan.

Sistem berfikir dan sistem peraasaan ini saling berkaitan dalam sistem psikis individu. Individu berfungsi secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut :

Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir. Ia dapat berpikir  rasional dan irasional

Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya

Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional

Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbaling) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akan permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri

Individu berpotensi mengubah arah hidup personal maupun sosialnya

Pikiran dan perasaan yang negatif merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali pesepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional (George & Cristiani, 1990, p,82-83).[5]

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia tergambar dalam Quation dari Epictetus yang dikutip oleh Eliis :

Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them”. (manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karen pandangan terhadap sesuatu).

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia, melekat oada epistemology atau theory of knowledge, dialectic, atau sitem berpikir, sistem nilai dan prinsip etik.

Secara epistimology, individu diajak mencari cara yang reliabel dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menetukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris.

Secara dialetik, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis itu tidak mudah. Kebanyakan individu cenderung ahli dalam befikir tidak logis.

Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah :

saya harus sempurna

saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!

Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.

Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit daam filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan,

yaitu : 1) nilai untuk bertahan hidup (survival) , 2) nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisirkan stres emosional  dan tingkah laku yang merusak diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia.

Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu.

Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut. [6]

Selanjutnya, manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental, yaitu: untuk bertahan hidup (to survie), untuk bebas dari kesakitan (to be relatively free from pain), dan untuk mencapai kepuasan (to be reasonably satisfied or content.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) juga berpendapat bahwa individu adalah makhluk hedonistik, dimana tujuan utama hidupnya  adalah  kesenangan dan bertahan hidup.

Hedonisme dapat diartikan sebagai pencarian kenikamatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonisme khusus yang membutuhkan perhatian adalah penghindaran terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan.

Dalam Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerence (LFT), individu yang memiliki LFT terlihat dari pernyataan-pernyataan verbalnya seperti: ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.

Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu :

Dicintai dan disetujui oleh orang lain adalah sesuatu yang sangat esensial

Untuk menjadi orang yang berharga, individu harus kompeten dan mencapai setiap usahanya

Orang yang tidak bermoral, kriminal dan nakal merupakan pihak yang harus disalahkan

Hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila segala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan

Ketidakbahagiaan merupakan hasil dari peristiwa eksternal yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri

Sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan harus selalu diingat dalam pikiran

Lari dari kesulitan dan tanggung jawab lebih mudah daripada menghadapinya

Seseorang harus memiliki orang lain sebagai tempat bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat yang dapat menjadi tempat bersandar

Masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa diubah

Individu bertanggung jawab atas masalah dan kesulitan yang dialami oleh orang lain

Selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah. Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang benar merupakan bencana.

Ellis berpendapat bahwa secara natural berpikir irasional dan memiliki kecenderungan merusak diri (self-derecting behavior), oleh karena itu individu memerlukan bantuan untuk berpikir sebaliknya.

Namun Ellis juga mengatakan bahwa individu memiliki cinta dan menolong orang lain selama mereka tidak berpikir irasional. Untuk menjelaskannya dalm lingkaran berpikir irasional (the circle of irational thingking).

Berpikir irasional mengarah kepada kebencian terhadap diri (self-hate). Self hate mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri (self distructed behavior).

Setelah itu  individu akan membenci orang lain sehingga pada akhirnya menyebabkan bertindak irasional kepada orang lain.  Pola yang demikian terjadi  secara terus menerus mengikuti lingkaran tersebut. [7]

Konsep Dasar REBT

Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasa REBT yang dapat dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:

Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berineraksi dan mempengaruhi satu sama lain

Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan

Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain disekitarnya.

Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah laku. Individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu selalu menciptakan keyakinan yang irasional mengenai kejadian tersebut.

Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu.

Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya

Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-defeating behavior).

Proses Berpikir

Menurut pandangan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) individu memiliki tiga tingkatan berpikir, yaitu berpikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences), mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation), dan keyakinan terhadap proses inferences dan evaluasi (core belief).

Menurut Ellis, yang menjadinya sumber terjadinya masalah-masalah emosional adalah evaluative belief. Dalam  istilah Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), evaluative belief adalah irational belief  yang dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu

Demands (tuntutan) adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan absolut terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenali dengan kata-kata seperti, harus, sebaiknya, dan lebih baik.

Awfusiling adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.

Low frustaion tolerance (LFT) adalah kelanjutan dari tuntutan untuk selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan.

Global evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bermakna individu dapat diberi peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi bebrapa orang lebih buruk atau tidak berharga dari yang lain.

Ellis membagi pikiran individu dalam iga tingkatan, yaitu: dingin (cool), hangat (warm), dan panas (hot), yang mengilustrasikan bagaimana emosi terintregasi dalam pikiran.

Pikiran dingin (cool) adalah pikiran yang bersifat deskriptif dan mengandung sedikit emosi, sedangkan pikiran yang hangat (warm) adalah pikiran yang mengarah pada suatu preferensi atau atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung unsur evaluasi yang mempengaruhi pembentukan perasaan.

Adapun pikiran yang panas (hot) adalah pikiran yang mengandung unsur evaluasi yang tinggi dan penuh dengan perasaan.

Rasionalitas Sebagai Filosofi Personal (Rationality as a Personal Philosopy)

RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) membantu individu untuk mengembangkan filosofi hidup yang baru yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan kebahagiaan.

Pandangan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) bahwa individu dapat memilih untuk menyakiti diri sendiri dengan pikiran yang tidak logis dan tidak ilmiah aau mengembangkan kebahagiaan hidup dengan berpikir rasional berdasarkan bukti-bukti dan fakta.

Tujuan-tujuan prinsip rasional adalah untuk meningkakan keyakinan dan kebiasaan yang sesuai dengan prinsip untuk bertahan hidup, mecapai kepuasan dalam hidup, berhubungan dengan orang lain dengan cara positif, dan mencapai keterlibatan yang intim dengan beberapa orang.

Teori ABC

Teori ABC adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang pendekatan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT), kemudian ditambahkan D dan E mengakomodasi perubahan dan hasil yang diiginkan dari perubahan tersebut.

Selanjutnya, ditambahkan G yang diletakkan di awal untuk memberikan konteks pada kepribadian individu:

G: (goals) atau tujuan-tujuan yaitu tujuan fundamental

A: (activating evens in a person’s life) atau kejadian yang mengaktifkan atau mengakibatkan individu

B: (beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasional

C: (consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah laku

D: (disputing irrational belief) atau membantah pikiran irasional

E: (effective new philosophy of life) atau mengembangkan filosofi hidup baru yang lebih efektif

F: (further action/new feeling) atau aksi yang akan dilakukan lebih lanjut dan perasaan baru yang dikembangkan.[8]

Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy

Ciri-ciri tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Dalam menelusuri masalah, konselor berperan lebih aktif dibandingkan klien.

Maksudnya adalah konselor harus melibatkan diri dalam proses konseling dengan bersikap efektif, memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien serta bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah klien sesuai dengan keinginan dan disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam proses hubungan konseling harus tetap diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengan klien.

Sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan sangat berpengaruh dalam suksesnya proses konseling karena dapat menciptakan proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.

Hubungan baik ini dapat dipergunakan oleh konselor untuk membantu mengubah cara berfikir klien yang irasional menjadi rasional.

Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.[9]

Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT

Tujuan Konseling

Tujuan utama konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah membantu individu menyadari bahwa mereka dapt hidup dengan lebih rasional dan lebih produktif.

Secara lebih gamblang, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengajarkan individu untuk mengevaluasi kesalahan berfikir.

Hal tersebut diperlukan untuk mereduksi emosi yang tidak diharapkan, selain itu Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) membantu individu untuk mengubah kebiasaan berfikir dan tingkah laku yang merusak diri.

Secara umum, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mendukung konseli untuk menjadi lebuh toleran terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

Ellis dan Benard (1986) mendiskripsikan beberapa sub dan tujuan yang sesuai dengan nilai dasar pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).

Sub tujuan ini dapat membantu individu mencapai nilai untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). tujuan tersebut adalah :

Memiliki minat diri (self interest)

Memiliki minat sosial (social interest)

Memiliki pengarahan diri (self direction)Toleransi (tolerance)

Fleksibel (flexibility)

Memiliki penerimaan (acceptance)

Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)

Dapat menerima diri sendiri (self acceptance)

Dapat mengambil resiko (risk taking)

Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation)

Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi

Memiliki tanggung jawab pribadi

Peran dan Fungsi Konselor

Berikut ini adalah peran konselor dalam pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT):

Aktif Direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk memberikan penjelasan terutama pada awal konseling

Mengkonfrontasi fikiran irasional konseli secara langsung

Menstimulus konseli dengan berbagai teknik untuk berfikir dan mendidik kembali diri konseli sendiri

Secara terus menerus ”menyerang” pemikiran irasional koseli

Mengajak konseli untuk mengatasi maslah ya dengan kekuatan berfikir bukan emosi

Bersifat didajtif (George & Cristiani, 1990, p.86).

Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) banyak didominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal.

Oleh karena itu,  dalam melaksanakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), konselor diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena.

Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan untuk membangun hubungan konseling.

Adapaun keterampilan konseling yang harus dimiliki konselor yang akan menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), adalah sebagi berikut:

Empati (empathy)

Menghargai (Respect)

Ketulusan (gemuineness) [10]

Teknik dan tahapan REBT

Teknik-teknik Rational Emotive Behaviour Therapy

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. teknik-teknik Rational Emotive Behavior Therapy sebagai berikut :

Teknik-Teknik Kognitif

Teknik-teknik kognitif digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik kognitif:

Tahap Pengajaran

Dalam REBT, konselor mengambil peranan yang  lebih aktif. Tahap ini memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.

Tahap Persuasif

Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Dan Konselor juga mencoba meyakinkan, berbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.

Tahap Konfrontasi

Konselor mengubah cara berpikir klien yang tidak logis dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logika.

Tahap Pemberian Tugas

Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.

Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat jika mereka merasa dikucilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.[11]

Teknik-Teknik Emotif

Teknik-teknik emotif  digunakan untuk mengubah arah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:

Teknik Sosiodrama

Konselor memberi peluang kepada klien untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang menekan dirinya melalui suasana yang didramatisasikan.

Dengan demikian, klien dapat secara bebas mengungkapkan emosi dalam dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis. [12]

Teknik Self Modelling

Konselor meminta klien berjanji untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya.

Teknik Assertive Training

Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.

Teknik-Teknik Behaviouristik

Terapi Rasional Emotif banyak menggunakan teknik behavioristik terutama dalam hal upaya modifikasi perilaku negatif klien, dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:

Teknik reinforcement

Teknik reinforcement (penguatan), yaitu: untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis denagn jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).

Teknik ini dimaksudkan untuk mengubah sistem nilai-nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang lebih positif.

Teknik social modeling (pemodelan sosial)

Teknik social modeling (pemodelan sosial), yaitu teknik untuk membentuk perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan.

Model sosial yang dimaksud dapat dilakukan dengan cara mutasi (meniru), mengobservasi dan menyesuaikan dirinya maupun  menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan konselor.

Teknik live models

Teknik live models (mode kehidupan nyata), yaitu teknik yang digunakan untuk menggambar perilaku-perilaku tertentu seperti situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapanpercakapan sosial, interaksi dengan memecahkan maslah-masalah.[13]

Langkah-langkah atau tahap dalam  Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional.

Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk membantu mengatasi permasalahannya.

Dalam proses konseling dengan pendekatan REBT terdapat beberapa tahap yang dikerjakan oleh konselor dan konseli.[14]

Untuk mencapai tujuan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) konselor melakukan langkah-langkah konseling antara lainnya :

Langkah pertama

Menunjukkan pada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai sikapnya yang menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukkan banyak keharusan, sebaiknya dan semestinya klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinannya yang rasional dan keyakinan irasional, agar klien mencapai kesadaran.

Langkah kedua

Membawa klien ketahapan kesadaran dengan menunjukan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosionalnya untuk tetap aktif dengan terus menerus berfikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang dengan kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan mengabadikan masa kanak-kanak, terapi tidak cukup hanya menunjukkan pada klien bahwa klien memiliki proses-proses yang tidak logis.

Langkah ketiga

Berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irasional. Maksudnya adalah agar klien dapat berubah fikiran yang jelek atau negatif dan tidak masuk akal menjadi yang masuk akal.

Langkah keempat

Adalah menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupanya yang rasional, dan menolak kehidupan yang irasional. Maksudnya adalah mencoba menolak fikiran-fikiran yang tidak logis untuk masuk dalam dirinya.[15]

BAB III. PENUTUP

source : Inc.com

Bab III merupakan kesimpulan dari apa yang telah diuraikan di bab II. Dengan demikian contoh makalah doc ini sudah lengkap. Cantumkan pula daftar pustaka yang berisi tentang literatur-literatur yang dijadikan sumber.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.

Ketika  berpikir  dan  bertingkahlaku  rasional  manusia  akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir danbertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.

Dalam pendekatan Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) yang dipelopori oleh Albert Ellis ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Pada teknik kognitif terdapat tahap pengajaran, persuasif, konfrontasi dan pemberian tugas.

Pada teknik emotif terdapat teknik sosiodrama, self modeling, assertive training. Pada teknik behavioristic terbagi menjadi teknik reinsforcemen, teknik social modeling, dan teknik lives models.

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional. Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Eresco.

Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks.

Natawidjaya, Rochman. 2009. Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi Press.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Teori Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Surya, Muhammad. 2003. Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Winkel, W.S. 2007. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia.

Oke, Best Jobbers demikian contoh makalah doc ini saya buat.

Semoga dapat menambah khazanah keilmuan kita semua. Sebelum saya akhiri silahkan download file aslinya dengan klik link di bawah ini untuk mendapatkan format yang lebih sesuai dengan aturan.

download link

Contoh Makalah Yang Benar

       [1]Gantina Komalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT Indeks, 2011), hlm. 201.

       [2]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: PT. Eresco, 1988), hlm. 156.

       [3]W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan (Jakarta: PT. Gramedia, 2007), hlm. 364.

       [4]Gantina Komalasari dkk, Teori dan teknik konseling,… hlm. 201-202.

       [5]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.203

       [6]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.204

       [7]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.205

       [8]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 207-211.

       [9]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.89.

       [10] Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 213-214.

       [11]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985), hlm. 91-92

       [12] Rochman Natawidjaya, Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan (Bandung: Rizqi Press, 2009), hal. 288

       [13]Muhammad Surya, Teori-teori Konseling (Bandung Pustaka Bani Quraisy, 2003),

       [14]Gantina Komalasari,dkk, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 215.

       [15]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konselig,… hlm. 246.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *