Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Sederhana – Hallo Best Jobbers, salam sejahtera untuk kita semua. Makalah merupakan salah satu bentuk karya ilmiah wajib bagi pelajar dan mahasiswa.

Bagi pelajar yang duduk di bangku SMA/SMK, makalah sudah menjadi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang wajib dikerjakan. Biasanya, siswa SMA/SMK disuruh untuk membuat contoh makalah sederhana oleh guru.

Para siswa disuruh membuat contoh makalah sederhana, disesuaikan dengan kemampuan intelegensi.

Siswa SMA/SMK membuat contoh makalah sederhana, selain sebagai tugas wajib tetapi juga untuk mempersiapkan diri apabila mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi.

Saat mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, makalah adalah hal wajib yang setiap pertemuan harus ada. Mahasiswa tidak lagi membuat contoh makalah sederhana, tetapi diwajibkan membuat makalah yang berdasarkan penelitian.

Berikut saya berikan kepada Best Jobbers semua contoh makalah sederhana. Jangan lupa untuk download file contoh makalah sederhana dalam bentuk dokumen Microsoft Word di link yang sudah saya sediakan diakhir artikel contoh makalah sederhana ini. Simak yaa….

Baca juga : Contoh Makalah Singkat  Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Sederhana Dengan Tema Psikologi Behavioral

contoh makalah sederhana
Source : FIA UB – Universitas Brawijaya

Contoh Makalah Sederhana – Dibawah ini saya akan memberikan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral secara lengkap. Skema penulisan yang baik dalam membuat contoh makalah sederhana berisi tentang:

Cover Makalah

Kata Pengantar Makalah

Daftar Isi Makalah

BAB I : Pendahuluan Makalah

BAB II : Pembahasan Makalah

BAB III : Penutup Makalah

Daftar Pustaka Makalah

Dalam artikel ini saya langsung membahas BAB I sampai BAB III yang merupakan struktur utama dari suatu makalah. Selamat menyimak, Best Jobbers…

Contoh Bab I : Pendahuluan

source : Lokerbali

Dalam contoh makalah sederhana ini, saya tidak menyertakan contoh cover. Contoh cover yang baik sudah pernah saya lampirkan di artikel sebelumnya.

Untuk penjelasannya sudah pernah saya kupas dalam artikel Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar. Mari kita simak isi dari pendahuluan contoh makalah sederhana seperti di bawah ini.

Latar Belakang

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam ilmu psikologi.  Behaviorisme yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913, lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bahwa sadar yag tidak tampak.

Dalam analisis behaviorisme perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan.  Berbeda dari psikoanalisis, perilaku ini lebih mengonsentrasikan pada modifikasi tindakan.

Perilaku ini berfokus pada perilaku saat ini dari pada masa lampau. Belakangan kaum behaviorisme lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.[1]

Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar.

Sehingga, manusia mengembangkan perilaku berdasarkan belajar sosial dengan lingkungan sekitar dirinya bersosialisasi.

Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah pendekatan behavioristik?

Bagaimana pandangan manusia menurut pendekatan behavioristik?

Bagaimana konsep dasar pendekatan behavioristik?

Bagaimana teknik-teknik pendekatan behavioristik?

Contoh Bab II : Pembahasan

source : Vandeputte Law

Contoh makalah sederhanaseperti dalam artikel-artikel sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ujung tombak dari sebuah makalah adalah BAB II yang berisi pembahasan.

Di sini, seluruh teori yang kita gunakan, asumsi-asumsi para pakar dan analisis tentang pembahasan makalah kita tuliskan. Penulisan pembahasan haruslah sistematis dan menggunakan tata bahasa yang baku dan efektif.

Dibawah ini saya contohkan pembahasan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral. Simak ya…

Sejarah

Pendekatan behavioral muncul akibat penolakan terhadap aliran struktualisme. Aliran strukturalisme ini berpendapat bahwa perilaku manusia ingin dipahami, mental, perasaan, dan pikiran hendaknya ditemukan terlebih dahulu.

Maka dari itu, maka munculah teori intropeksi. Berbeda dengan aliran behavioristik, yang mana intropeksi tidak dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para pakar behavioristik adalah sesuatu yang Dubios.

Yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Pendekatan behavioristik memandang point pentingnya adalah perilaku yang dimunculkan oleh seseorang. Berikut beberapa ahli behavior:

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)

Pavlov berasal dari warga Rusia, yang melahirkan teori calssical conditioning. Yang mana eksperimennya menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan diruang kedap suara sebagai penelitian.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa rangsangan secara berulang-ulang ditambah dengan unsur penguat maka akan menghasilkan reaksi. Menurut Pavlov ada dua jenis aktivitas organisme yaitu aktvitas yang bersifa reflektif dan aktifitas yang didasadari. [2]

Pavlov dalam eksperimennya mengguanakan anjing sebagai binatang coba. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila  air liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang yang telah disediakan.

Menurut Pavlov apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur. Perilaku  ini merupakan respons yang alami yang reflektif, yang disebut sebagai respons yang tidak berkondisi.

Apabila anjing mendengar bunyi bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ini juga merupakan respons yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak berkondisi atau gerak telinga sebagai stimulus yang berkondisi.

Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat dibentuk pada anjing suatu perilaku atau respons apabila anjing mendengar bunyi bel lalu mengeluarkan air liur. Hal inlah yang kemudian diteliti secara eksperimental oleh Pavlov.

Dalam eksperimen ini, hasil pada akhirnya bunyi bel berkedudukan sebagai stimulus yang berkondisi dan mengeluarkan air liur sebagai respons berkondisi. Apabila bunyi bel diberikan setelah diberikan makanan, maka tidak akan terjadi respons yang berkondisi tersebut.[3]

Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Thorndike lahir di Williamsbug tahun 1874, salah satu hasil karyanya yaitu penelitian mengenai psikologi binatang serta teori belajar trial and error.

Konsepnya menekankan kepada aspek fungsional perilaku adalah proses mental dan perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Eksperimen Thorindike menetapkan tiga macam hukum yang dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, berikut tiga macam hukum :

The Law of readiness, adalah salah satu faktor penting dalam belajar. Seseorang harus memiliki kesiapan dan kesediaan, yang mana keduanya akan mempengaruhi hasil belajar apakah baik atau buruk.

The law of excercise, mempunyai dua hal penting yaitu hukum kegunaan hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon menjadi semakin kuat jika sering digunakan, kedua

The law of effec, lebih menitikberatkan kepada penguatan atau memperlemah hubungan stimulus dan respons tergantung kepada hasil dari respon yang bersangkutan.

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner ini melahirkan teori pengkondisian operan (operant conditioning). Eksperimen Skinner didemonstrasikan dengan seekor tikus yang lapar, yang diletakkan dalam sebuah kotak yang dinamakan kotak Skinner.

Didalam kotak Skinner tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol dimana terdapat piring makanan dibawahnya. Sebuah lampu kecil diatas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak pelaku eskperimen.

Tikus yang dibiarkan sendiri didalam kotak, berjalan kesana kemari menjelajahi aan sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebut dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkat dasar penekanan jeruji.

Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan diluar kotak Skinner. Sekarang setiap kali tikus menekan jeruji, butir halus makanan terluncur jatuh ke piring makanan.

Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi. Makanan menguatkan (reinforce) penekanan jeruji dan laju penekanan meningkat secara drastic.

Bila tempat makanan tidak dihubungkan dengan jeruji, sehingga penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkan makanan, laju penekanan jeruji akan berkurang.

Berarti, respon operan mengalami pemadaman (extinction) tanpa adanya penguatan, sama seperti yang terjadi pada respon pengkondisian klasik.[4]

John Broadus Watson (1878-1958)

Inti Behavioristik yaitu memprediksi dan mengontrol perilaku. Menurutnya perilaku yang dapat dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran. Karena kesadaran adalah sesuatu yang dubios.

Metode yang dikembangkannya adalah kajian binatang dan anak-anak, seperti pengkondisian pobia dan rasa takut pada anak.

Pandangan Manusia

Menurut Dustin dan George mengemukakan pandangan behavioristik terhadap konsep manusia yaitu:

Manusia dipandang sebagai individu yang pada hakekatnya bukan individu yang baik atau jahat, tetapi sebagai individu yang selalu berada dalam keadaan yang sedang menjalani, yang memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu pada semua jenis perilaku.

Manusia dapat menjabarkan dan mengartikan serta dapat mengontrol perilaku yang ada pada dirinya sendiri. Manusia mampu memperoleh perilaku yang baru.

Manusia bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya peirlakunya yang bisa dipengaruhi orang lain[5]

Ciri Khusus Konseling Behavior

Proses konseling mendasarkan pada prinsip dan prosedur metode ilmiah Mengkaji perilaku saat ini dan faktor yang mempengaruhinya.

Konseli yang terlibat dalam konseling behavior berperan aktif dengan terlibat dalam tindakan spesifik untuk mengangani masalah mereka.

Fokusnya adalah oada menilai perilaku terbuka dan rahasia secara langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan Penaksiran objek atas hasil-hasil konseling[6]

Pribadi sehat

Tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Pribadi yang sehat adalah pribadi yang tingkahlakunya sesuai dengan pengkondisian. Dalam pandangan teori ini kepribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut:

Dapat merespon stimulus yang ada di lingkungan secara tepat

Tidak kurang dan tidak berlebihan dalam tingkah laku, memenuhi kebutuhan

Mempunyai derajat kepuasan yang tinggi atas tingkah laku atau bertingkahlaku dengan tidak mengecewakan diri dan lingkungan

Dapat mengambul keputusan yang tepat atas konflik yang dihadapi

Mempunyai self control yang memadai

Pribadi tidak sehat

Menurut Namora Lumongga Lubis mengatakan adapun peirlaku bermasalah dalam konsep behavioristim adalah perilaku yang tidak sesuai/tepat dengan yang diharapkan oleh lingkungan.

Perilaku yang salah ini dapat ditandai dengan muncuknya konflik antar individu dengan lingkungannya. Pribadi yang tidak sehat adalah sebagai berikut:

Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan

Cara belajar atau lingkungan yang salah

Cenderung merespon tingkah laku negatif dari lingkungan

Gagal dalam belajar[7]

Ciri unik terapi tingkah laku

Terapi tingkah laku berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya ditandai oleh:

Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik

Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah, dan’

Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi

Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku maladaptif, serta memperkua dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.

Tujuan treatment yang spesifik ini maksudnya adalah klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya.

Kemudian, setelah mengembangkan pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment, terapis harus memilih prosedur-prosedur yang paling sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Berbagai teknik tersedia, yang keefetifannya bervariasi dalam mengangani masalah-masalah tertentu.

Misalnya teknik-teknik aversi tampaknya paling berguna sebagai cara-cara untuk mengembangkan kendali dorongan, orang yang mengalami hambatan dalam menampilkan diri dan dalam bergaul bisa mengambil manfaar dari latihan asertif.

Pengulangan tingkah laku berguna untuk menguatkan tingkah laku yang baru diperoleh, desentisasi tampaknya paling berguna bagi penanganan fobia-fobia.

percontohan yang digabunkan dengan perkuatan positif tampaknya cocok bagi perolehan tingkah laku sosial yang kompleks.

Tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas. Tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, untuk mendapatkan  hasil-hasil yang menjadi dapat dievaluasi.

Terapi tingkah laku kriteria yang didefinisikan dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku menekankan evaluasi atas keefektifan teknik-teknik yang digunakan.

Evolusi dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosedur-prosedur treatment menandai proses terapeutik. [8]

Tujuan Konseling Pendekatan Behavior

Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar

Penghapusan hasil belajar yang maladaptive

Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari

Membantu konseli membuang respons-respons yang lama yang merusak diri atau maladaptive dan mempelajari respons-respons baru yang lebih sehat dan sesuai

Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku maladaptive,memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan

Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan Bersama antara konseli dan konselor

Peran dan Fungsi

Konselor harus memainkan peran aktif, direktif, dan menggunakan pengetahuan ilmiah dalam menemukan solusi masalah konseli.

Konselor berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli. Dalam proses konseling, konseli yang menentukan tingkah laku apa (what) yang akan diubah, sedangkan konselor menentukan cara yang digunakan untuk mengubahnya (how). [9]

Desentisasi sistematik (DS)

Teknik DS digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku meghindar. DS dilakukan dengan menerapkan pengkondisian klasik yaitu dengan melemahkan kekuatan stimulus penghasil kecemasan.

Melibatkan Teknik relaksasi Melatih konseli untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi. Cocok untuk : fobia, takut ujian, impotensi, ketakutan yang digeneralisasi

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan

Menyususn tingkat kecemasan

Membuat daftar situasi yang memunculkan taraf kecemasan dari paling rendah hingga paling tinggi

Melatih relaksasi konseli

Konseli mempraktikkan 30 menit setiap hari, hingga terbiasa untuk santai

Pelaksanaan desensitisasi konseli dalam santai dan mata tertutup

Meminta konseli membayangkan situasi yang membuat rileks, kemudian diikuti membayangkan pemicu kecemasan paling rendah

Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas, dan hentikan

Kemudan dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, kemudian membayangkan pemicu kecemasan lagi pada tahap yang lebih tinggi dari seblumnya

Terapi selesai ketika konseli mampu tetap santai pada kondisi membayangkan kecemasan yang sebelumnya dianggap paling menggelisahkan.

Implosif dan pembanjiran

Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan.

Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi sistematik dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengondisian balik maupun tingkatan kecemasan.

Terapis memunculkam stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis beruasaha mempertahankan klien.

Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubugan dengan teknik pembanjiran, yang disebut “terapi impolsif” : seperti halnya dengan desensitisasi sistematik.

Terapi impolsif berasumsi bahwa tingkah laku neurotic melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Terapi impolsif berbeda dengan desensitisasi sistematik dalam usaha terapis  untuk menghadirkan luapan emosi yang masif.

Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhempas.

Klien di arahkan untuk membayangkan situasi-situasi (stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dan dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul.

Stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilan kecemasannya, dan penghindaran neurotic pun terhapus.

Menurut Stampfl (1975), mencontohkan terapi impulsif langsung dengan melukiskan seorang klien yang mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif pada kebersihan.

Klien memiliki ketakutan yang berlebian terhadap kuman dan mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari.

Prosedur-prosedur penanganan klien mencakup :

(1) pencarian stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala,

(2) menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk tingkah laku klien,

(3)meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa desertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya,

(4) bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan ;

(5) mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

Latihan asertif

Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa di terapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakakan yang layak atau benar.

Latihan asertif membantu bagi orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,

(3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkanafeksi dan respons-respons positif lainnya, dan (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-peraaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Shaffer dan Galinsky (1974) menerapkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau “latihan ekspresif” dibentuk dan berfungsi.

Kelompok terdiri atas delapan sampai sepuluh anggota memiliki latar belakang yang sama, dan session terapi berlangsung selama dua jam. Terapis menjadi penyelenggara dan pengarah permainan peran, pelatih, pemberi perkuatan, dan sebagai model peran.

Dalam diskusi-diskusi kelompok, terapis bertindak sebagai seorang ahli, memberikan bimbingan dalam situasi-situasi permainan peran, dan memberikan umpan balik kepada para anggota.

Sepert kelompok terapi tingkah laku lainnya, kelompok laihan asertif ditandai dengan struktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas session berstruktur sebagai berikut :

(1) yang dimulai dengan pengenalan didaktik tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan respons-respons internal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurangtegasan dan pada belajar peran tingkah laku baru yang asertif.

(2) memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing-masing anggota menerangkan tingkah laku spesfik dalam situasi-situasi interpersonal yang dirasakannya menjadi masalah.

Peran anggota kemudian membuat perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri yang semula mereka hindari sebelum memasuki session selanjutnya.

(3) para anggota menerangkan tentang tingkah laku menegaskan diri yang telah di coba dijalankan oleh mereka dalam situasi-situasi dalam kehidupan nyata.

Mereka berusaha mengevaluasi dan jika mereka belum sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan permainan peran.

(4) penambahan lahitan relaksasi, pengulangan perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri, dan yang diikuti oleh evaluasi.

(5) di sesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan individual para anggota. Sejumlah kelompok cenderung berfokus pada permainan peran tambahan, evaluasi, dan latihan.

Kelompok yang lainnya berfokus pada usaha mendiskusikan sikap-sikap dan perasaan-perasaan yang telah membuat tingkah laku menegaskan diri sulit dijalankan.

Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.

Fokusnya adalah mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh.

Dengan demikian individu-individu diharapkan mampu mengatasi dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.

Terapi Aversi

Teknik aversi digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk, meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus tersebut.

Respons dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya. Contohnya ialah untuk menyembuhkan pria homoseks. Kepada pria homoseks diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalirkan setrum listrik pada kakinya yang tidak beralas.

Dalam terapi ini, setiap kali kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang) diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik. Selalu seperti itu setiap melihat foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak tertarik lagi pada pria.

Teknik- teknik pengkondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.

Stimulus-situmulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.

Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan ditarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekuensinya.

Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik kepada anak autistik ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.

Teknik ini merupakan metode yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode untuk membawa orang kepada tingkah laku yang diinginkan.

Dimana kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif.

Sebagian besar lembaga sosial menggunakan teknik ini untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan apa yang telah digariskan.

Sebagai contoh di Gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguhan pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.

Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif seperti ketergantungan alkohol, obat bius, kecanduan merokok, serta penyimpangan seksual seperti homoseksual maupun pedofilia.

Seperti contohnya dalam menangani seorang alkoholik, dia tidak dipaksa untuk menjauhkan diri dari alkohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol disertai pemberian ramuan yang akan membuat mual dan kemudian muntah.

Si alkoholik lambat laun akan merasa sakit bahkan meskipun hanya melihat botol alkohol.[10]

Pengkondisan operant

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif.  Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

Menurut Skinner jika suatu tingkah laku diganjar, maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi.

Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengkondisian operan.

Pengkondisian operan ini mencakup teknik-teknik lain yaitu perkuatan positif, pembetukan respons, perkuatan intermiten, penghapusam percontohan, dan token ekonomi.[11]

Perkuatan positif

Cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku adalah dengan pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Pemerkuat-pemerkuat ini dapat berupa:

Pemerkuat primer, memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh makanan dan tidur atau istirahat.

Pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dan sosial, memiliki nilai-nilai karena berasosiasi dengan pemerkuat-pemerkuat primer. Contoh senyuman, persetujuan, pujian, penghargaan, dan hadiah-hadiah.

Pembentukan respons

Dalam pembentukan respons, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkyat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir.

Pemberntukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam pembentukan respons ini.

Perkuatan intermiten

Disamping membentuk perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memlihara tingkah laku yang telah terbentuk. terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul agar dapat memaksimalkan nilai-nilai pemerkuat.

Oleh kerenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Penguatan ini akan terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan penguatan intermiten diberikan secara lebih bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik.

Tingkah laku yang dikoondisikan oleh penguatan intermiten lebih tahan terhadap penghapusan dibanding tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus.

Terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan pada tahap-tahap permulaan. Hal ini dilakukan dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku.

Setelah tingkah laku yang diinginkan itu muncul, perkuatan-perkuatan diberikan segera. Dengan cara ini, penerimaan perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar.

Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu emningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi.

Seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, misalnya memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan apabila si anak hanya diberi pujian sekali-kali.

Prinsip perkuatan intermiten bisa menerangkan mengapa orang-orang bisa tahan dalam bermain judi atau dalam memasang taruhan paa pacuan kuda. Mereka cukup terganjar untuk bertahan meskipun mereka lebih banyak kalah daripada menang.[12]

Penghapusan

Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tanpa perkuatan maka respon tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode .

cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam itu berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama.

Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh.

Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kebandelan dirumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk mrnghapus kebandelan anak tersebut.

Perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan pada saat yang sama.

Terapis, guru, dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tidak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi.

Contohnya seorang anak yang telah belajar bahwa dia biasanya memperoleh apa yang diinginkan dengan mengomel mungkin akan memperhebat omelannya.

Hal itu dilakukan ketika permintaan tidak segera dipenuhi. Jadi kesabaran menghadapi periode peralihan sangat diperlukan.[13]

Percontohan

Individu cenderung mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model.

Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengamatan langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensinya.

Jadi kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

Juga reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati tanpa mengalami akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.

Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model sangat berarti dan ornag-orang pada umunya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status yang tinggi dan terhormat dimata mereka sebagai pengamat.

Token economy

Apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh, metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku.

Contoh Bab III : Penutup

 

source : Davidson Lawyers LLP

Terakhir, contoh makalah sederhana ditutup dengan BAB III yang berisi kesimpulan dari semua materi yang telah kita tulis di bab sebelumnya. Jangan lupa juga untuk menyertakan daftar pustaka literasi yang menjadi referensi.

Kesimpulan

Pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama.

Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.

Hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar.

Konseling behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang digunakan untuk melakukan pengubahan perilaku berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita L. & Richard G. 2009. Atkinson, Pengantar Psikologi.Jakarta : Erlangga

Setiawan, M. Andi.2018.Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), Yogyakarta:CV Budi Utama

Suryabrata,Sumadi.1998.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Corey,Gerald.2009.Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.Bandung:PT Refika Aditama.

Demikianlah contoh makalah sederhana yang saya tuliskan di artikel ini. Jangan lupa untuk download file Ms. Wordnya di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

[1]Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm. 8

[2]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018), hlm. 33

[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1998), hlm. 261

[4] Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi,…, hlm. 305

[5]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.36

[6]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.38-39

[7]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm. 40

[8]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, (Bandung : PT Refika Aditama, 2009),Hlm. 196-197

[9] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 202

[10]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm.  214-218

[11]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 218-129

[12]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 220

[13]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 221

Contoh Makalah Pendidikan

Dwi Saloka
9 min read

Contoh Makalah Doc

Dwi Saloka
14 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *