Categories
makalah

Contoh Makalah Pendidikan Dasar

Contoh Makalah Pendidikan Dasar – Hallo, Best Jobbers, apa kabar hari ini? Apakah anda semua dalam keadaan sehat dan bahagia? Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda semua.

Well, Best Jobbers, kembali lagi di portal bestjobaroundtheworld.com portal yang selalu menyajikan artikel keilmuan yang bermanfaat bagi dunia akademis.

Dalam kesempatan kali ini, lagi dan lagi saya akan menyajikan contoh makalah Contoh Makalah Pendidikan Dasar. Contoh makalah pendidikan dasar ini saya peroleh dari hibah teman saya Eka Puji Astutik, calon sarjana Strata 1 FTIK IAIN Pekalongan.

Tema contoh makalah pendidikan dasar ini mengangkat permasalahan seputar dunia pendidikan. Dalam contoh makalah pendidikan dasar ini dijelaskan tentang permasalahan komersialisasi di dunia pendidikan.

Komersialisasi ini menjadi permasalahan yang cukup diperdebatkan dalam dunia pendidikan.

Contoh makalah pendidikan dasar ini tentu akan sangat bermanfaat bagi anda mahasiswa fakultas keguruan maupun pendidikan lain.

Hal itu karena saya selalu menyertakan sumber atau referensi dari buku-buku maupun literasi yang jelas di setiap contoh makalah yang saya hadirkan. Tidak terkecuali dalam contoh makalah pendidikan dasar ini.

Untuk mengetahui tingkat plagiarisme dari contoh makalah pendidikan dasar ini, anda dapat mengcopy teks yang saya sediakan di sini. Anda juga dapat mendownload file asli dalam format Microsoft word nya di sini.

Selain itu anda juga dapat mendownload via google drive di link yang saya sediakan di akhir artikel.

Well, Best Jobbers, kita simak contoh makalah pendidikan dasar di bawah ini.

Baca Juga : Contoh Makalah Pendidikan, Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Pendidikan Dasar : Komersialisasi Dalam Dunia Pendidikan

Contoh Makalah Pendidikan dasar
Source : GEOTIMES

Dalam artikel ini, saya memberikan Contoh Makalah Pendidikan Dasar dengan mengangkat tema : Komersialisasi Dalam Dunia Pendidikan. Contoh Makalah Pendidikan Dasar ini disusun berdasarkan problema yang marak terjadi di dunia pendidikan.

Komersialisasi sering kita jumpai di ranah pendidikan negeri ini. Dalam Contoh Makalah Pendidikan Dasar yang saya unggah ini, akan disebutkan berbagai hal dari problema tersebut.

Anda dapat menjadikan contoh makalah ini sebagai acuan untuk membuat makalah dengan tema yang serupa karena saya mencantumkan teori-teori dari para pakar yang kredibel.

Mari kita simak dengan seksama….

Bab 1: Pendahuluan

Source : PT. NATAKUSUMA

Bab I yang berisi latar belakang dan Rumusan Masalah. Latar belakang berisi tentang perihal atau  urgensi apa yang menyebabkan seorang penulis menyusun makalah.

Penyusunan  contoh makalah ini berawal dari keprihatinan penulis akan adanya permasalahan kesulitan akses pendidikan bagi masyarakat ekonomi kelas bawah.

Seringkali lembaga pendidikan menerapkan standar pembayaran yang tidak mampu dijangkau oleh masyarakat kelas ekonomi tersebut. Adanya komersialisasi dalam lembaga menjadi pemicunya.

Rumusan masalah dibuat agar permasalahan yang dibahas fokus dalam satu titik. Hal ini agar tidak terjadi bias pembahasan dan bias pemahaman dari pembacanya.

Mari kita simak pembahasan Bab I dari makalah ini.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan selain sebagai suatu pembentuk watak atau kepribadian juga mempersiapkan sumber daya manusia yang handal serta dapat dipertanggung jawabkan.

Pendidikan berpengaruh terhadap kehidupan suatu bangsa untuk masuk dan memperoleh dampak-dampak yang ditimbulkan arus globalisasi tersebut.

Dampak yang ditimbulkan arus globalisasi tersebut telah melanda di bidang kehidupan masyarakat bangsa Indonesia pada khususnya, baik bidang sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan dalam bidang pendidikan.

Pendidikan telah terjebak dalam arus kapitalisasi yang dalam istilah lain bernama komersialisasi pendidikan.Adanya biaya pendidikan yang tidak murah.

Oleh karena itu hal ini berakibat berakibat  banyaknya anak yang berasal dari kelas ekonomi bawah sulit mendapatkan akses pendidikan yang lebih bermutu.

Sekolah kemudian menerapkan aturan seperti pasar yang berimplikasi pada visiologis pendidikan yang salah. Keberhasilan pendidikan hanya didasari pada besarnya jumlah lulusan sekolah yang dapat diserap oleh sektor industri.

Dunia pendidikan Indonesia saat ini dianggap belum dapat mencapai titik keberhasilan yang diharapkan bersama.

Permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia begitu banyak dan rumit sehingga solusi yang dilakukan untuk keluar dari permasalahan tersebut tidaklah mudah.

Permasalahan yang tidak kalah penting yaitu menyangkut masalah biaya pendidikan saat ini yang semakin mahal.

Setiap jenjang pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan untuk tingkat sekolah dasar biaya pendidikan yang harus dikeluarkan hampir mendekati atau bahkan jauh lebih mahal daripada sekolah lanjutan sehingga menyaingi biaya pendidikan untuk perguruan tinggi.

Banyak pungutan-pungutan yang ditarik oleh sekolah sehingga biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik semakin banyak dan mahal setiap tahunnya.

Pendidikan di Indonesia masih merupakan investasi yang mahal sehingga diperlukan perencanaan keuangan serta persiapan dana pendidikan sejak dini.

Masyarakat Kelurahan Pabiringa yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan, sehingga harus memiliki perencanaan keuangan sejak awal, agar pendidikan anak terus berlanjut dan tidak putus sekolah.

Rumusan Masalah

Apa makna komersialisasi dalam pendidikan?

Bagaimana upaya meminimalisir komersialisasi dalam pendidikan islam ?

Kegunaan Makalah

Untuk mengetahui makna komersialisasi dalam pendidikan

Untuk menjabarkan  upaya meminimalisir komersialisasi dalam pendidikan islam

Bab II : Pembahasan

Source : Inside Higher Ed

Dalam Bab II, dikemukakan teori-teori yang relevan dengan tema. Teori-teori tentang pendidikan dan komersialisasi dijabarkan di sini.

Selain itu, analisa yang sistematis dari penulis juga sangat menentukan arah pembahasan masalah. Analisa yang tepat akan menentukan kualitas makalah.

Makna komersialisasi dalam pendidikan

Komersialisasi pendidikan menurut Agus Wibowo sebagaimana dikutip Asmirawanti juga mengacu pada dua pengertian yang berbeda.

komersialisasi hanya mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pendidikan serta perlengkapan yang serba mahal.

Selain itu, komersialisasi pendidikan juga mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan penarikan uang pendaftaran dan uang sekolah saja, tetapi mengabaikan kewajiban yang harus diberikan kepada siswa.

Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal.

Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat, sehingga lembaga tersebut tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan, tetapi uang pembayaran sekolah sangat mahal.

Pemungutan biaya tinggi hanya untuk memfasilitasi jasa pendidikan serta menyediakan infrastruktur pendidikan bermutu, seperti menyediakan fasilitas teknologi informasi, laboratorium dan perpustakaan yang baik serta memberikan kepada para guru atau dosen gaji menurut standar.

Sedangkan untuk sisa anggaran yang diperoleh, digunakan untuk menanamkan kembali bentuk infrastruktur pendidikan.

Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila, tetapi dapat menimbulkan diskriminasi dalam pendidikan nasional.

Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang kuliah, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Komersialisasi pendidikan ini biasa dilakukan oleh lembaga atau sekolah-sekolah yang menjanjikan pelayanan pendidikan, tetapi tidak sepadan dengan uang yang pungut.

Komersialisasi pendidikan dapat pula dimaknai  memperdagangkan pendidikan. Hal ini sesuai dengan KBBI yang menyatakan bahwa  kata komersial atau commercialize berarti memperdagangkan.

Adapun istilah “komersialisasi pendidikan”. Dewasa ini terdapat  dua pengertian yang berbeda yang  mengacu pada istilah komersialisasi pendidikan, yaitu:

Komersialisasi pendidikan yang mengacu lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan mahal. Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat.

Berdasarkan kenyataan tersebut,  lembaga seperti ini tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan. Pemungutan biaya yang tinggi digunakan untuk menfasilitasi jasa pendidikan serta menyediakan infrastruktur pendidikan yang bermutu.

Sisa anggaran yang mereka peroleh, mereka tanamkan kembali bentuk infrastruktur pendidikan. Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila.  Akan tetapi perlu dicermati juga, karena dapat menimbulkan diskriminasi dalam pendidikan nasional.

Komersialisasi pendidikan pada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang Pendaftaran dan uang kuliah saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan. Komersialisasi pendidikan ini dilakukan oleh lembaga yang menjanjikan pelayanan pendidikan. Akan tetapi tidak sepadan dengan uang yang mereka pungut.

Pada lembaga atau sekolah yang seperti ini, laba atau selisih anggaran yang diperoleh tidak ditanam kembali ke dalam infrastruktur pendidikan, melainkan dipergunakan untuk memperkaya  pihak-pihak yang tidak secara langsung bekerja menyajikan pelayanan di lembaga tersebut.

Pihak-pihak tersebut adalah anggota yayasan atau badan amal pendidikan yang menguasai lembaga pendidikan.

komersialisasi jenis kedua ini jelas berbahaya bagi tujuan pendidikan karen dapat pula melaksanakan praktik memburu gelar akademik tanpa melalui proses serta mutu yang telah ditentukan.

Hal ini jelas dapat membunuh idealisme pendidikan Pancasila. Hal tersebut jelas tercantum di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 pasal 1 yang berbunyi:

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara

Dalam bab tersebut ditas jelas dinyatakan bahwa pendidikan itu harus melalui proses belajar dan berakhlak mulia, mungkin ini kurang terdapat dalam komersialisasi pendidikan jenis kedua di atas.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa komersialisasi penddiikan adalah pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal.

Sehingga hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang operasional pendidikan, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Dalam hal ini, dapat terlihat dari kebiasaan di sebuah sekolah unggulan di Jawa Timur yaitu SMA Trensains Jombang dan SMA Islam Sabilillah Malang.

Dimana di kedua SMA tersebut memberikan syarat bagi siswa baru untuk membayar sebesar 15 Juta Rupiah untuk  18 juta rupiah untuk SMA Islam Sabilillah Malang SMA Trensains Jombang.

Tetapi hal itu sepadan dengan kualitas kedua sekolah tersebut yang sering menjuarai kejuaraan Sains tingkat Internasional.

Komersialisme pendidikan adalah hasil dari Idealisme liberal yang sesungguhnya adalah produk dari modernisasi Barat yang telah menggilas cara pandang lama yang membuat cara berpikir manusia dikendalikan oleh sesuatu di luar dirinya.

Ide modernisme yang menonjol adalah pencerahan (enlightment), sebuah proses kesadaran dari belenggu adat dan budaya kegelapan yang memasung pikiran manusia selama berabad-abad.

Liberalisme klasik melahirkan banyak pemikir yang memiliki cita-cita untuk mengangkat individu menjadi pemilik dunianya secara otonom dan membebaskan diri dari penghalang yang memasung kebebasan indvidu untukmengekspresikandiri sebagai manusia.

Karenanya liberalisme dan individualisme biasa menjadi suatu hal yang tak terpisahkan.

Keduanya membentuk suatu ideologi dan cara pandang yang sangat penting bagi awal-awal pertumbuhan ide-ide modern di Barat.

Tradisi berpikir liberal dapat diidentifikasi menjadi enam prinsip dasar yang pernah disebutkan oleh JulioTeehankee, yaitu :

Individualisme; Kaum liberal percaya bahwa pribadi atau individu adalah sesuatu yang sangat penting.

Seluruh kebijakan liberal mengarah atau diarahkan untuk memmberikan ruang kepada kebebasan dan hak-hak individu. Bagi liberal, individualisme lebih penting dari kolektivisme.

Rasionalisme; Kaum liberal percaya bahwa dunia memiliki struktur yang rasional, yang dapat dipahami secara logis.

Keteraturan dunia bisa dipahami lewat deliberasi pikiran dan pencarian kritis terus menerus.

Kebebasan; Tak ada kata yang lebih penting bagi seorang liberal selain kebebasan.

Kebebasan adalah kemampuan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan mata hati (conscience) dan determinasi. Seluruh filosofi liberalisme berangkat dari kebebasan manusia.

Tanggungjawab; Kebebasan tanpa tanggungjawab adalah keliaran. Orang sering salah memahami liberalisme sebagai liarisme.

Liberalisme adalah kebebasan plus tanggung jawab.

Keadilan; Kaum liberal percaya bahwa keadilan adalah nilai moral yang harus dijunjung tinggi, Keadilan bukan berarti mengorbankan hak seseorang demi membela hak yang lainnya.

Keadilan adalah pemberian kesempatan kepada setiap individu untuk bersaing dan menggapai hak-haknya,

Toleransi; Sebuah sikap menerima atau menghormati pandangan atau tindakan orang lain, sekalipun pandangan atau tindakan itu belum tentu disetujuinya.

Toleransi adalah dasar bagi kebersamaan dan kerukunan hidup. Tanpa toleransi, kebebasan tidak dapat ditegakkan.

Faktor Penyebab terjadinya Komersialisasi dalam pendidikan

Terjadinya komersialisasi pendidikan di Indonesia adalah sesuatu yang possibel, sebab baik secara eksternal maupun kondisi internal, terdapat ruang yang memberi peluang bagi tumbuh suburnya komersialisasi.

Setidaknya dapat dilihat dari dua aspek.

Faktor eksternal

Dalam bidang pendidikan, Komersialisasi berpangkal pada tiga unsur,

yakni Ideologi neoliberalisme yang menyertai globalisasi, hak untuk mendapat keuntungan, dan bagaimana perguruan tinggi melakukan bisnis dalam sistem ekonomi yang berbasis pada pengetahuan, dengan modal profesional dan intelektual.

Komersialisasi pendidikan dalam kontek idiologi neoliberalisme dan kapitalisme, berhubungan dengan kualitas outputnya, profit yang didapatkan berasal dari prodak ilmu pengetahuan yang dapat dijual,

seperti hasil penelitian ilmiah yang dibutuhkan oleh pihak lain dalam mengembangkan perekonomiannya.

Dengan demikian, mahalnya pembiayaan pendidikan terjadi karena outputnya yang berkualitas, sehingga menjadi penyebab bagi tingginya biaya proses, bukan hanya pembiayaannya saja yang mahalnya.

Indonesia merupakan bagian dari dunia yang sudah tentu tidak terlepasa dari peradaban global, termasuk pada bidang ekonomi, sehingga issu-issu ekonomi dan industrialisasi yang merambah pada dunia pendidikan masuk juga ke Indonesia.

Dengan munculnya sekolah-sekolah yang bertaraf internasional dengan pembiayaan yang mahal dapat menimbulkan diskriminasi pendidikan,

Begitu juga perguruan tinggi yang membuka jalur khusus dengan paradigma siswa yang tergantung kepada kesanggupan pembiayaan yang mahal adalah fenomena komersialisasi pendidikan.

Terlebih jika mahalnya pembiayaan pendidikan yang hanya untuk kepentingan pihak tertentu, serta maraknya lembaga pendidikan yang menawarkan gelar tententu.

Tanpa diikuti dengan proses yang seharusnya dijalankan, merupakan contoh dari komersialisasi pendidikan, hal itu merupakan pelanggaran yang seharusnya mendapat sanksi, sebagaimana orang korupsi atau menipulasi.

Fenomena Internal

Keterbatasan Anggaran

Alokasi anggaran negara untuk pendidikan masih terbatas pada tingkat pendidikan dasar, itupun hanya merupakan standar minimal.

Sedangkan pada tingkat SLTA terlebih pada lembaga pendidikan non formal, masih lebih banyak diserahkan kepada orang tua/wali.Bahkan pada Perguruan Tinggi yang membutuhkan pembiayaan pendidikan justru malah diberi hak otonomi.

Kondisi tersebut memberikan peluang bagi lembaga pendidikan untuk mencari pembiayaan dengan dalih peningkatan mutu pendidikan, dengan program-program yang ditawarkan, misalnya melalui BHMN dan BHP.

Namun demikian Strategi tersebut dapat diminimalisir dengan cara-cara yang legal yang disepakati berdasarkan regulasi yang jelas dan tidak ada pihak manapun yang berupaya untuk memperkaya diri.

Disertai  dengan laporan keuangan secara transparan dan memiliki akuntabilitas yang tinggi.

Mentalitas rendah

Sebagian besar masyarakat  Indonesia cenderung memiliki sikap yang hanya semata-mata materialistis.

Terbukti munculnya orang-orang yang diadili karena menyalahgunakan keuangan (korupsi) dan hal itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan pada sektor apa saja, termasuk dalam dunia pendidikan.

Mentalitas seperti itu akan lebih berbahaya jika dimiliki oleh tenga pendidik dan kependidikan, sebab tugas utama pendidik adalah berkaitan dengan kualitas manusia.

Jika hanya berorientasi materialis semata, ia akan bekerja hanya untuk memenuhi tuntutan materialismenya dan dapat mendorong terjadinya komersialisasi pendidikan.

Kesejahteraan

Tingkat Kesejahteraan pegawai termasuk para pendidik yang belum memadai dan tidak merata, padahal faktor kesejahteraan adalah salah satu paktor pendukung performen kinerja berkualitas, terlebih masalah pemerataan.

Kesejahteraan yang tidak seimbang dan merata dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Kondisi tersebut, dapat mengurangi tanggungjawab sebagai seorang pendidik/pekerja.

Di sisi lain juga dapat memicu untuk menyalahgunakan kewenangannya guna menutupi kekurangannya.

Sehingga apa yang ia kerjakan hanya untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat materialistis sementara tanggungjawab terhadap kewajibannya terabaikan.

Dampak komersialisasi Pendidikan

Komersialisasi pendidikan memiliki dua sisi yang salihg bertolak

belakang. Di satu sisi komersialisasi memang memiliki dampak positif, tetapi di sisi lain juga berdampak negatif terhadap penyelanggaraan pendidikan di lndonesia.

Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai dampak sosial tingginya biaya masuk di perguruan tinggi, penulis akan menguraikan terlebih dahulu dampak positif dan negatif yang dikemukakan oleh Edi Suharto, sebagai analis pekerjaan sosial yang juga concern terhadap dunia pendidikan.

Beberapa dampak positif adanya komercialisasi pendidikan antara lain:

Beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang, sehingga anggaran yang tersedia bisa digunakan untuk membiayai aspek lain yang dianggap lebih mendesak. salah satu contoh untuk membiayai pendidikan alternatif yang ditujukan untuk kalangan miskin, anak jalanan atau suku terasing.

Memberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi mencerdaskan bangsa.

Lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif, sehingga berdampak pada peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

Gaji pengajar (dosen dan guru) dapat lebih ditingkatkan. Haliniditujukan untuk memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam memacu perkembangan anak didik.

Beberapa dampak negatif komersialisasi pendidikan yang dikemukakan oleh Edi Suharto sebagai beriku:

Pendidikan menjadi mahal. Komersialisasi pendidikan menyebabkan masyarakat menjadi sulit untuk menjangkaunya. Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat yang tidak mampu, sehingga memberikan peluang pula pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak dan tindak kriminalitas.

Gap dalam kualitas pendidikan. Komersialisasi pendidikan memunculkan sebuah kompetisi.

Lembaga pendidikan yang menang dalam persaingan dan perburuan dana, akan menjadi sekolah unggulan sedangkan lembaga yang kalah menjaditerpuruk. Perguruan tinggi yang ternama dan diunggulkan memang menjadi acuan bagi peserta didik untuk kelanjutan masa depannya.

Adanya diskriminasi. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan semakin sempit dan cenderung bersifat diskriminatif.

Orang kaya dapat mengakses pendidikan dengan kualitas yang lebih baik, berbanding terbalik dengan orang yang tidak mampu (miskin).

Munculnya stigmatisasi. Terjadi pelabelan sosial dimana orang menilai bahwa sekolah bagus dan ternama adalah milik orang kaya begitupun sebaliknya.

Akibatnya anak-anak golongan menengah kebawah cenderung tumbuh menjadi anak yang minder, karena tidak mampu mengikuti irama dan suasana glamour sekolah.

Terjadi perubahan misi pendidikan. Pada awalnya pendidikan ditujukan untuk mencerdaskan dan membudayakan kehidupan bangsa.

Komersialisasi dapat menggeser’budaya akademik” menjadi “budaya ekonomis.

“Asumi tersebut berangkat dari pemahaman bahwa semestinya lembaga pendidikan merupakan tempat seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan

keahlian dalam memperbaiki keberlangsungan hidupnya, tetapi sekarang berubah menjadi ‘lahan basah’ yang dapat mendatangkan keuntungan berlipat dalam waktu sekejap.

Memacu gaya hidup konsumerisme. Baik pengajar maupun siswanya terobsesi untuk bergaya hidup mewah.

Hal ini dikhawatirkan akan melahirkan mental “diktator”‘ pada pengajar, sehingga berdampak buruk bagi perkembangan siswany.

Hal ini tentu berdampak sangat buruk dalam dunia pendidikan kita, sebab secara tidak langsung membentuk karakter generasi penerus sebagai konsumen terbesar untuk mengikuti trend masa kini.

Tidak hanya peserta didik bahkan penyelenggara pendidikan juga ikut terlibat di dalamnya.

Dikarenakan konsumerisme tersebut maka mereka tidak segan untuk menarik biaya tinggi pada penerimaan mahasiswa baru.

Memperburuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kepemimpinan di masa depan.

Hal ini didorong oleh keinginan meningkatkan akumulasi kapital sebesar-besarnya. Kondisi tersebut akan mengancam regenerasi kualitas kepemimpinan masa depan.

Praktek komersialisasi pada penyelenggaraan pendidikan khususnya biaya pendidikan di perguruan tinggi, memang akan sangat sulit sekali untuk ditiadakan.

Umumnya yang terjadi adalah pewarisan sistem tersebut pada generasi selanjutnya.

Rantai kemiskinan semakin mustahil untuk diputuskan. Pendidikan sebagai alat pemberdayaan yang dapat memutus rantai kemiskinan semakin akan kehilangan fungsinya.

Upaya Meminimalisir Komersialisasi Dalam Pendidikan Islam

Pada dasarnya fungsi dan tujuan pendidikan  adalah untuk menghasilkan sumber daya manusia yang cakap, cerdas dan mampu terjun keranah persaingan global.

Fungsi dan tujuan pendidikan Indonesia dalam UU No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 dijelaskan

”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pendidikan Indonesia menjadi sebuah problem jangka panjang ketika arah pendidikan nasional kita jauh dari apa yang dicita – citakan.

Pendidikan kita saat ini menjadi sebuah ranah komersialisasi dimana siapa yang berduit akan mendapatkan fasilitas pendidikan yang berkualitas sedangkan yang miskin baru mendapat pendidikan yang di inginkannya ketika harus dikasihani dulu.

Bukankah dalam pembukaan UUD 1945 tersurat “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan sebuah kalimat yang tidak mendiskrimanasi si kaya dan si miskin dalam mendapatkan kualitas pendidikan.

Namun, sayangnya dilapangan jauh berbeda untuk masuk sekolah yang mutunya bagus harus membayar mahal dan untuk dapat masuk kuliah harus membayar uang pembangunan yang mahal.

Inikah sebuah sistem yang mengarahkan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik ketika dalam pendidikan masih uang yang berbicara.

Ketika ingin masuh sekolah atau perguruan tinggi yang bagus harus uang yang berbicara sehingga si miskin hanya bisa bercita – cita untuk sekolah ditempat berkualitas itu tapi tak pernah mampu untuk menggapai cita – citanya.

Semua karena belum juga ingin mendaftar maka biaya tinggi menjadi seperti roh jahat yang siap menerkam mereka ketik ingin masuk kesana.

Tataran pendidikan kita harus terarah dan sesuai dengan fungsi dan tujuan UU yang berlaku sehingga arah kebijakan pendidikan nasional searah dengan ketetapan UU yang bebas dari diskriminasi dan komersialisasi pendidikan.

Memberikan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak bangsa yang memang memiliki kemampuan dalam memperoleh fasilitas pendidikan yang berkualitas dengan dorongan pemerintah khususnya yang berwenang yakni Kementrian Pendidikan Nasional.

Dengan pemerataan pendidikan akan memberikan adil positif bagi si miskin keluar dari kemiskinannya dimasa depan karena pendidikan yang didapatkannya. Andil positif inilah yang akan mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia semakin menuju arah yang lebih baik.

Peringatan 77 tahun International Students’ Day (ISD) tahun 2016 diperingati oleh gerakan mahasiswa di Samarinda, Kalimantan Timur sebagai momentum untuk mengkonsolidasikan kembali perlawanan dalam melawan komersialisasi pendidikan.

Grand Isu “Reformasi Pendidikan Dari, Oleh, dan Untuk Rakyat” dalam aksi tersebut memuat beberapa tuntutan diantaranya :

Tolak Komersialisasi Pendidikan;

Wujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas dalam dunia pendidikan;

Wujudkan demokrasi dalam dunia pendidikan;

Perangi korupsi dan pungli dalam dunia pendidikan;

Tangkap dan adili pelaku kekerasan seksual dalam dunia pendidika.  Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) meskipun tidak terlibat dalam pembentukan aliansi juga turut bergabung dalam aksi tersebut untuk memberikan dorongan perspektif dengan menyebarkan pamflet berjudul

“Mahasiswa dan Buruh Bersatulah, Lawan Kapitalisme dan Komersialisasi Pendidikan”

Saat ini kita hidup dimana 1 persen orang didunia memiliki kekayaan yang sebanding dengan 99 persen penduduk dunia.

Di Indonesia, Kekayaan 40 orang terkaya setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin.

Hal ini di karenakan sumber penghidupan seperti tanah, sumber daya alam, mesin dan industri pabrik, serta alat-alat produksi lainnya yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak hanya dimiliki secara pribadi, yakni segelintir orang yang mempunyai modal yang sangat besar.

Pemilik modal (kapitalis) ini sangat berkepentingan untuk terus memperluas modalnya tanpa memperdulikan kerusakan lingkungan, budaya, pendidikan, bahkan kemanusiaan. Inilah yang kita sebut sebagai sistem kapitalisme.

Perkembangan yang dicapai oleh manusia dalam sistem tersebut bukan sebesar-besarnya untuk kebutuhan manusia melainkan sebagai komoditi atau barang dagangan, termasuk pada dunia pendidikan.

Dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme sejatinya bukan untuk mencerdaskan dan membebaskan manusia

Dunia pendidikan menjadi sarana untuk mencetak tenaga kerja terdidik yang berbiaya murah demi kebutuhan pasar kapital.

Semenjak kapitalisme mengemuka pasca revolusi Industri di Inggris (1750-1850) yang menandai perkembangan alat produksi manusia, tenaga ahli sangat berguna untuk menjalankan mesin-mesin dan teknologi baru agar tidak jadi rusak dan  berkarat, untuk itulah awal mula dunia pendidikan dibentuk pada awal kemunculan sistem kapitalisme.

Dalam perkembangannya dunia pendidikan di arahkan untuk memproduksi perluasan provit kaum kapialis.

Contohnya pada Perang Dunia ke-II, dimana dunia pendidikan diberi subsidi untuk melakukan berbagai riset dan penemuan untuk memproduksi alat-alat perang, kesehatan, pangan, dan sebagainya.

Setelah penemuan baru ditemukan, hasilnya justru dipatenkan oleh kaum kapilis untuk kepemilikan pribadi bukan kemaslahatan umat manusia.

Sampai sekarang dimana perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dan pabrik-pabrik besar semakin banyak terbuka, maka kebutuhan akan tenaga terdidik yang berbiaya murah menjadi semakin besar akan tetapi hal ini tidak sejalan dengan keberadaan perguruan tinggi yang berkualitas.

Tenaga terdidik yang menjadi prioritas adalah mereka yang memiliki fisik yang bagus, bukan yang serba kekurangan (cacat, difabel, dan disabilitas) karena akan menghambat perkembangan modal.

Dunia pendidikan menjadi tempat untuk mendidik generasi muda agar menjadi penurut dalam tatanan masyarakat kapitalis.

Proses tersebut tersebut dapat kita lihat semenjak mahasiswa memasuki perguruan tinggi.

Baru masuk kuliah saja calon mahasiswa sudah dihadapkan oleh ratusan pesaing untuk masuk di universitas sesuai dengan jurusan yang diinginkannya, tidak sedikit dari mereka yang salah jurusan karena sistem persaingan seperti ini, ditambah lagi dengan mahalnya biaya kuliah.

Setelah masuk perkuliahan mahasiswa dicekoki oleh doktrin untung ruginya para dosen dan menekan mahasiswanya untuk lulus dengan cepat agar mendapatkan pekerjaan, serta berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi.

Alhasil setelah lulus IPK yang tinggi tadi tidak berguna dalam menghadapi realitas keseharian dan masalah yang ada dalam masyarakat.

Namun kembali berlomba-lomba dengan jutaan sarjana lainnya untuk menggantungkan nasibnya pada institusi-institus kapitalis besar termasuk negara yang notabane hanya untuk menambah provit kaum kapitalis.

Inilah yang membuat banyak generasi muda menjadi teralienasi dari lingkungannya, sebab belajar bukan lagi karena ekspresi diri melainkan kemendesakan dalam hidup.

Model pendidikan seperti ini yang disebut Paulo Freire. sebagai pendidikan “gaya bank”.

Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar, dosen tidak memberikan pengertian sejati terhadap ilmu pengetahuan, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada para mahasiswa untuk dikeluarkan dalam bentuk yang sama.

Dosen bertindak sebagai penabung yang menabung informasi sementara mahasiswa dijejali informasi untuk disimpan. Mahasiswa tak lebih hanya sebuah objek, menjadikannya miskin daya cipta.

Dunia pendidikan menjadi tempat berlangsungnya akumulasi modal itu sendiri terjadi.

Proses akumulasi modal tersebut diperas dari nilai lebih yang didapat dari keringat para buruh.

Ini juga yang menyebabkan buruknya sistem belajar mengajar yang dialami oleh mahasiswa.

Dosen misalnya mayoritas berstatus tenaga kerja kontrak (outsourching), honorer, bahkan hubungan kerja yang tak jelas (upah murah, jaminan kesehatan, kecelakaan kerja dan jaminan hari tua).

Ini juga menimpa buruh-buruh di lingkungan kampus lainnya seperti staf-staf kampus, pegawai akademik, satpam, dan pedagang kecil.

Pemotongan anggaran jaminan sosial dan PHK yang terus membayangi para buruh dunia pendidikan tidak sebanding dengan dipotongnya perjalanan dinas para pejabat, pajak progresif bagi perusahaan besar, dan lain-lain.

Oleh karena itu, mahasiswa maupun dosen dan buruh pendidikan lainnya harus menempatkan dirinya sebagai subjek yang berkepentingan mengubah objek, yakni situasi sosio-ekonomi yang kapitalistis sebab sama-sama dirugikan olehnya.

Sudah seharusnya pemilihan pejabat kampus (ketua prodi, dekan, dan rektor) dipilih secara demokratis oleh seluruh buruh-buruh pendidikan.

Karena para buruh inilah yang menentukan berjalannya dunia pendidikan, bukan ditangan segelintir orang birokrat seperti sekarang ini.

Upaya meminimalisir komersialisasi pendidikan yaitu Anggaran pendidikan dalam APBN yang mencapai 20 % harus di gunakan dengan baik.

Gunakan dana yang bertrilyun – trilyun itu secara bijak khususnya pemerataan pendidikan Indonesia.

Jangan ada komersialisasi pendidikan yang hanya akan mengarahkan pendidikan di Indonesia sebagai pendidikan diskriminatif yang hanya dijangkau orang berduit saja.

Komersialisasi pendidikan hanya akan membuka kesempatan adanya korupsi dilembaga pendidikan karena kita tahu korupsi sudah merasuk dalam sendi – sendi dan segala bidang kehidupan negara ini termasuk pendidikan.

Kita yakinkan bersama dengan arah pendidikan Indonesia yang berkeadilan dan menjangkau keseluruh lapisan masyarakat akan membantu dalam memajukan manusia – manusia Indonesia menuju yang lebih baik berdasarkan amanat Undang – Undang Dasar.

Pendidikan akan memberikan sebuah masa depan yang cerah bagi anak bangsa ini yang akan menghadapi era globalisasi yang penuh persaingan.

Sumber daya alam kita yang kaya akan termanfaatkan dengan baik dengan manusia – manusia yang berpendidikan dan terdidik dari pendidikan yang baik.

Membuat anak Indonesia yang miskin pada masa anak – anak dengan ilmu yang dimiliki dan didapat dari pendidikan akan menjadikan mereka terbebas dari sebuah kemiskinan yang membelenggu.

Pendidikan adalah aset penting bangsa ini maka dari itu kita harus mengawal pendidikan nasional kita kearah pendidikan yang merata.

Karena pendidikan adalah hak seluruh warga negara dan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. oleh karena itu untuk meminimalkan komersialisasi dalam pendidikan maka pemerintah mencanangkan program diantaranya :

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan menjadi landasan kuat untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan. Pendidikan  sebagai bekal dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antar bangsa yang berlangsung sangat ketat.

Dengan demikian, pendidikan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pendidikan  merupakan faktor determinan bagi suatu bangsa untuk bisa memenangi kompetisi global.

Sejak tahun 1984, pemerintah Indonesia secara formal telah mengupayakan pemerataan pendidikan Sekolah Dasar.

Selanjutnya, pemerintah mencanangkan  wajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. Upaya-upaya ini mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan (dimensi equality of access).

Di samping itu pada tahapan selanjutnya pemberian program beasiswa (dimensi equality of survival) menjadi upaya yang cukup mendapat perhatian dengan mendorong keterlibatan masyarakat melalui Gerakan Nasional Orang Tua Asuh.

Program beasiswa ini semakin intensif ketika terjadi krisis ekonomi, dan dewasa ini dengan program BOS untuk pendidikan dasar.

Hal ini menunjukan bahwa pemerataan pendidikan menuntut pendanaan yang cukup besar tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas tapi juga pemeliharaan siswa agar tetap bertahan mengikuti pendidikan di sekolah.

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1999-2004 (TAP MPR No. IV/MPR/1999) mengamanatkan, antara lain:

Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti,

Meningkatkan mutu lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk menetapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, olah raga dan seni.

Sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”, dan pasal 11, ayat (1) menyatakan

“Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”.

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya.

Peningkatan taraf pendidikan merupakan salah satu kunci utama mencapai tujuan negara. Tujuan negara bukan saja mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menciptakan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa.

Pendidikan memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial. Pendidikan akan menciptakan masyarakat terpelajar (educated people) yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yang sejahtera.

Membangun Sistem Pendidikan Demokratis.

Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan terciptanya lingkup demokrasi pendidikan.

Lingkup demokrasi pendidikan demokrasi pendidikan hanya dapat diwujudkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Namun, faktanya kehidupan yang demokratis masih belum mampu diwujudkan oleh masyarakat kita.

Agar memungkinkan terwujudnya nilai-nilai demokrasi, konsep sistem pendidikan yang demokratis terkait dengan bagaimana pendidikan tersebut disiapkan, dirancang dan dikembangkan.

Ketiga hal tersebut berlaku bagi seluruh komponen pendidikan, yaitu kurikulum, materi pendidikan, sarana prasarana, lingkungan siswa, guru, tenaga pendidik, proses pendidikan dan lainnya.

Bisa juga bersifat khusus yaitu pengemasan komponen-komponen tertentu dari sistem pendidikan tersebut misalnya kurikulum,  bahan pelajaran atau proses belajar mengajar.

Ketiga hal tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan dan memungkinkan terbentuknya nilai-nilai demokrasi.

Dalam mengembangkan sistem pendidikan yang demokratis di Indonesia, perlu memperhatikan tujuh butir prinsip dibawah ini:

Mengutamakan kepentingan masyarakat,

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain,

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama,

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan,

Memiliki i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah,

Musyawarah yang dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur,

Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Ada beberapa alasan yang mendasari terjadinya komersialisasi pendidikan.

Swastanisasi adalah anak kandung liberalisasi yang semakin menggelobal dan menyentuh berbagai bidang kehidupan.

Merujuk pada George Ritzer, privatisasi pendidikan adalah konsekuensi logis dari menjunjung prinsip kuantifikasi, efisiensi, terprediksi, dan teknologis setiap dalam sendi kehidupan.

Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai public good, pemerintah secara massal untuk menjamin harga murah. Pemerintah merasa tida memiliki dana yang cukup untuk membiayai sektor pendidikan.

Misalnya, karena mengalami kesulitan dana akibatnya krisis ekonomi. Keadaan ini bisa real, dalam arti memang benar pemerintah kekuarangan dana. Namun, bisa juga palsu.

Artinya pemerintah bukan tidak mampu, melainkan tidak mau atau tidak memiliki visi untuk berinvestasi di bidang pendidikan. Dan mungkin pemerintah lebih suka membelanjakan anggrana dengan hal yang lain.

Pemerintah tidak mampu mengelola pendidikan sebagai sektor publik dengan baik.

Akibatnya lembaga pendidikan menjadi tidak efisien (mahal dan tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan), tidak kompetitif (tidak termotivasi untuk bersaing meningkatkan mutu), dan tidak berkembang (mandeg).

Karena swastanisasi merupakan cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Lembaga pendidikan kurang memiliki kreativitas dan inovasi dalam melakukan “Fund Raising”, Sehingga hanya mengandalkan siswa dan orang tuanya sebagai target utama perolehan dana.

Secara teoritis, privatisasi pendidikan sesungguhnya tidak selalu bersifat negatif. Berbeda dampak positif yang dapat kita ambil,

Pertama beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang. Sehingga anggaran yang tersedia bisa digunakan untuk membiayai aspek lain yang dianggap lebih mendesak.

Misalnya, untuk membiayai “Pendidikan Alternatif”. Semisal pendidikan non-formal untuk kalangan miskin, anak jalanan atau suku terasingkan.

Kedua memeberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi mencerdaskan bangsa.

Ketiga lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif. Dapat berdampak pada peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

Keempat gaji penggiat pendidikan (Dosen dan Guru) dapat lebih ditingkatkan kesejahtraannya yang baik diharapkan dapat memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam mencerahkan anak didiknya.

Lemahnya perangkat kebijakan dan penegakan hukum dapat mendistorsi swastanisasi pendidikan yang seblumnya bertujuan mulia.

Privatisasi pendidikan juga dapat membawa dampak sosial yang diharapkan jika tidak disertai aturan main yang jelas dan etika sosial yang benar.

Pendidikan menjadi mahal. Pendidikan menjadi “barang mewah” yang sulit dijangkau oleh masyarakat luas, khsusnya warga kurang mampu.

Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat miskin yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak, dan kriminalisasi.

Privatisasi pendidikan dapat meningkatkan kompetisi. Di sisi lain, dampak dari kompetisi adalah terciptanya polarisasi lembaga pendidikan.

Lembaga yang menang dalam persaingan dan perburuan dana akan menjadi sekolah unggulan. Dan sebaliknya lembaga yang kalah dalam persaingan akan menjadi yang terbelakang.

Diskriminasi kesempatan memproleh pendidikan semakin sempit dan diskriminatif.

Orang kaya dapat memproleh pendidikan relatif mudah. Sedangkan orang miskin akan semakin sulit, stigmatisasi.

Terjadi segregasi kelas sosial antara orang kaya dan miskin konsekuensinya terjadi pelebelan sosial yang lebih parah berdampak kepada sikologis anak (kurang mampu) si anak akan merasa minder karena tidak mampu mengikuti irama dan suasana glamour sekolah.

Perubahan misi pendidikan. Pada mulanaya pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan dan memberdayakan masayarakat.

Komersialisasi pendidikan akan menggeser “ budaya akademik” menjadi “ budaya ekonomis”. Para guru akan memiliki mentalitas “ pedagang” ketimbang mentalitas pendidik.

Mereka lebih tertarik mencari pendapatan dari pada mengembangkan pengetahuan.

Gaya Hidup. “besar pasak daripada tiang” banyak anak-anak sekolah gedongan yang membawa mobil mahal (milik orang tuannya) ke sekolah.

Guru dan Dosen dapat terobsesi oleh gaya hidup mewah. Ini akan melahirkan mental “dikator” pada pengajar, yaitu “menjaual diktat untuk beli motor”.

Rantai kemiskinan semakin mustahil diputuskan oleh pendidikan.

Secara sederhana, rantai kemiskinan dapat digambarkan “ Karena Miskin orang tidak sekolah, karena tidak sekolah, ia tidak dapat Pekerjaan.

Karena tidak dapat pekerjaan, ia menjadi miskin dan begitu seterusnnya. Pendidikan sebagai pemberdayaan yang dapat memutus rantai kemiskinan semakin kehilangan fungsinya.

Bab III : Penutup

Source : CNN Indonesia

Makna komersialisasi penddikan adalah bahwa komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal sehingga hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang operasional pendidikan, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Upaya memimalisir komersialisasi dalam pendidikan diantaranya:

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Membangun Sistem Pendidikan Demokratis.

Daftar Pustaka

Asmirawanti,”Komersialisasi Pendidikan”Jurnal Equilibrium Pendidikan Sosiologi Volume IV No. 2 November 2016 ISSN e-2477-0221 p-2339-2401

Astri, Herlina. 2011. “Dampak Sosisal Komersialisasi Pendidikan Tinggi Di Indonesia” Kajian Bidang Kesejahteraan Sosial pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi Setjen DPR RI. 16 (3) : 617-622

Bakar , M. Yunus Abu “Pengaruh Paham Liberalisme dan Neoliberalisme Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia” Institut Agama IslamNegeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Vol. 8, No.1,April 2012

Dokumentasi KKL JOMBANG-MALANG PAI IAIN Pekalongan, 24-25 September 2019

Irawaty A. Kahar “ Komersialisasi Pendidikan Di Indonesia : Suatu Tinjauan Dari Aspek Politik, Sosial, Ekonomi dan Budaya. “ Ragam Edisi NO. 23 Tahun XI Januari 2007. Universitas Sumatera Utara

Jayadi, Yadi “ DAMPAK SOSIAL KOMERSIALISASI PENDIDIKAN” (Kemanakah Kita langkahkan Kaki Ini)”, , Mahasiswa UIN SGD Bandung, Bandung, Senin 07 November 2016.

Rustiawan, Hafid. 2015. “Komersialisasi Pendidikan (Analisis Pembiayaan Pendididkan)” Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan dan Kebudayaan. 16 (1): 56-60

Suara Progresif, “ Bagaimana Melawan Komersialisasi Pendidikan “Posted on November 27, 2016 by Lingkar Studi Kerakyatan

Demikianlah contoh makalah pendidikan dasar ini saya buat. Untuk lebih memahami sistematika penulisan makalahnya, dapat anda semua download file dalam bentuk Microsoft word di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

Semoga bermanfaat untuk anda semua dan sampai jumpa di contoh makalah berikutnya.

Baca Juga : Contoh Makalah Singkat, Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

 

Categories
Karya Tulis makalah

Contoh Makalah Pendidikan

Contoh Makalah Pendidikan – Hallo, best Jobbers. Salam sejahtera di manapun anda berada. Bagaimana kabar anda hari ini? Semoga anda senantiasa dalam keadaan yang baik dan luar biasa.

Best Jobbers, kembali lagi kita bertemu dalam portal keilmuan kesayangan kita bestjobaroundtheworld.com. Portal keilmuan yang akan selalu hadir untuk membantu anda dalam menemukan berbagai contoh karya ilmiah.

Dalam portal ini kembali saya akan memberikan contoh makalah. Tema contoh makalah kali ini adalah contoh makalah pendidikan. Dalam contoh makalah pendidikan ini saya akan mengulas beberapa teori tentang dunia pendidikan.

Contoh makalah pendidikan inimenggunakan desain makalah sederhana. Dalam contoh makalah pendidikan ini, desain makalah saya buat dalam 3 bab.

Contoh makalah pendidikan berisi BAB I: Pendahuluan, BAB II: Pembahasan dan BAB III: Penutup. Saya tidak menuliskan kata pengantar, daftar isi, maupun hal-hal lain yang jarang digunakan dalam makalah di berbagai perguruan tinggi.

Saya membuat contoh makalah pendidikan ini atas rekomendasi dari teman-teman saya dari Fakultas Tarbiyah IAIN Pekalongan. Banyak teman-teman yang merekomendasikan membuat contoh makalah pendidikan karena kebutuhan akan contoh makalah pendidikan ini cukup tinggi.

Hal ini mengingat mahasiswa yang mengambil jurusan ilmu kependidikan cukup banyak di kota ini.

Di bawah ini dapat Best Jobbers semua simak contoh makalah pendidikan yang saya sadur dari makalah karya Eka Puji Astutik, dkk mahasiswa FTIK IAIN Pekalongan. Semoga contoh makalah pendidikan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan keilmuan Best Jobbers semua.

Dalam artikel ini, saya juga menyediakan sumber dari makalah asli (otentik) dalam format document Microsoft Word yang dapat anda semua download DI SINI atau dapat juga melalui link yang saya sediakan di akhir artikel.

Baca Juga : Contoh Makalah Doc.  

Contoh Makalah : Keterampilan Dasar Guru Dalam Proses Pembelajaran

Contoh Makalah Pendidikan

TheMoonDoggies

Dalam artikel contoh makalah pendidikan ini saya mengangkat tema : Keterampilan Dasar Guru Dalam Proses Pembelajaran. Di sini kita akan belajar mengenai beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses pembelajaran.

Dalam contoh makalah pendidikan ini juga akan dibahas keterampilan dasar apa saja yang harus dimiliki oleh seorang guru sebagai professional.

Bab I : Pendahuluan

Source : Mypurohith.com

Bab I merupakan bab pendahuluan. Dalam contoh makalah pendidikan ini yang melatar belakangi penulisan makalah adalah urgensi tentang kompetensi guru sebagaimana diatur dalam undang-undang.

Latar Belakang

Seorang guru adalah pencetak generasi terdidik masa depan. Oleh karena itu pemerintah selalu berupaya membenahi kompetensi yang dimiliki oleh guru.

Dalam hal ini melalui Kementerian Pendidikan, yaitu Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan. Dimana dalam prakteknya, setiap daerah memiliki perwakilan.

Namun demikian, sebagai seorang guru yang diharapkan dapat mencetak generasi emas, maka beberapa kompetensi harus dimiliki oleh para guru. Kompetensi itu berguna dalam menunjang keprofesionalan kinerja guru.

Dalam pembehasan, beberapa undang-undang guru, kompetensi guru telah diatur dalam undang-undang yaitu UU no. 14 th. 2005.

Hal itu berkaitan juga salah satunya kompetensi guru dalam mengajar.

Meskipun tidak dipungkiri masih banyak guru yang cara mengajarnya konvensional, namaun dewasa ini pemerintah telah menggalakan peran serta peserta didik dalam prose pembelajaran.

Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya jika kami membahas lebih dalam akan kompetensi guru dalam mengajar.

Rumusan Masalah

Adapun dalam membatasi pembahasan maka kami merumusakan masalah sebagai berikut :

Apa pengertian mendidik dan mengajar ?

Bagaimana keterampilan dasar guru dalam pembelajaran ?

Bagaimana peran guru dalam proses pembelajaran ?

Bab II : Pembahasan

source : Waspada Online

Bab III berisi pembahasan dalam contoh makalah pendidikan ini. Sistematika pembahasan dimulai dari pengertian dengan menyebutkan teori-teori dari para ahli. Dalam pembahasan ini, kemampuan analisa sangat mempengaruhi kualitas makalah.

Pengertian Mengajar Dan Mendidik

Pakar pendidikan, Sikun Pribadi, mempunyai pendapat bahwa pengajaran adalah kegiatan pembinaan dalam ranah kognitif dan psikomotorik . Demikian yang dikutip oleh Zaenal Mustakim dalam bukunya Strategi dan Metode Pembelajaran.

Lebih lanjut beliau mengemukakan bahwa ranah kognitif bertujuan untuk mencerdaskan peserta didik, berpikir kritis dan banyak pengetahuan sedangkan ranah psikomotorik berhubungan dengan syaraf motorik kasar.

Yaitu diantaranya sebuah gerakan nyata yang dilakukan oleh seseorang. [1]

Secara praktis mengajar dan mendidik adalah kegiatan bersama guru dan peserta didik dalam berinteraksi dalam pembelajaran.

Namun perlu diketahui bahwa mengajar lebih bersifat menyampaikan pengetahuan sedangkan mendidik bersifat penanaman nilai-nilai moral.

Mengajar merupakan aktivitas yang dilakukan oleh guru. Dimana guru merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

Sukses tidaknya mengajar maka dapat dilihat dari adanya perubahan pada peserta didik.[2]

Keterampilan Dasar Guru Dalam Mengajar

Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran (set induction and closure skills)

Keterampilan membuka pelajaran ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan prakondisi murid agar minat dan perhatiannya terpusat pada apa yang akan dipelajarinya.

Dengan demikian usaha tersebut akan memberikan efek yang positif bagi kegiatan pembelajaran.

Dengan kata lain, kegiatan yang dilakukan oleh guru dimaksudkan untuk menciptakan suasana mental siswa agar terpusat pada hal-hal yang dipelajarinya.

Kegiatan membuka pelajaran tidak hanya dilakukan oleh guru pada awal jam pelajaran, tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara mengemukakan tujuan yang akan dicapai, menarik perhatian siswa, memberi acuan, dan membuat kaitan antara materi pelajaan yang telah dikuasai oleh siswa dengan bahan yang akan dipelajarinya.

Tujuan keterampilan membuka pelajaran, yaitu:

Untuk membantu siswa mempersiapkan diri agar sejak semula sudah dapat membayangkan pelajaran yang akan dipelajarinya.

Untuk menimbulkan minat dan perhatian siswa pada apa yang akan dipelajari dalam kegiatan belajar mengajar.

Untuk membantu siswa agar mengetahui batas-batas tugas yang akan dikerjakan.

Untuk membantu siswa agar mengetahui hubungan antara pengalaman- pengalaman yang telah dikuasainya dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang belum dikenalnya.[3]

 

Hal-hal yang harus diperhatiakan oleh guru  sebagai komponen utama dalam menutup dan membuka pembelajaran diantaranya:

Menarik perhatian peserta didik

Menumbuhkan motivasi peserta didik

Memberikan acuan

Mengaitkan pembelajaran dengan beberapa hal[4]

Meninjau kembali

Mengadakan evaluasi

Memberi tindak lanjut.[5]

Menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengahiri kegiatan pembelajaran.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.

Hal itu dapat dilakukan dengan merefleksikan pembelajaran. [6]

Dalam membuka dan menutup pembelajaran maka hal-hal paling prinsip yang harus diperhatikan oleh guru diantaranya :

Bermakna, supaya kegiatan membuka dan menutup lebih bermakna maka kegiatan tersebut harus relevan dengan tujuan dan materi pembelajaran.

Berurutan dan berkesinambungan, kegiatan membuka dan menutup dalam pembelajaran itu satu kesatuan yang salaing terkait oleh kerena itu harus dilakukan secara berkesinambungan

Dilakukan diawal dan diakhir topik. [7]

Keterampilan Menjelaskan Materi

Hubungan dengan menjelaskan materi maka ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh guru supaya dalam menjelaskan materi tersebut akan berjalan dengan abik diantaranya adalah bahwa guru ahrus memiliki wawasan yang luas khususnya dalam kependidikan.

Hal itu bertujuan supaya guru dapat mengambil keputusan yang tepat dalam menentukan tindakan pendidikan. Keputusan yang tepat akan meminimalisir guru dari kesalahan dalam menangani peserta didik.  [8]

Selain wawasan kependidikan maka yang lebih penting yaitu wawasan tentang apa yang akan diajarkan. Seorang guru harus benar-benar telah menguasai materi yang akan diajarkan.

Oleh sebab itu, teknik belajar sepanjang hayat harus diterapkan oleh guru untuk dirinya sendiri.

Hal itu dikarenakan bahwa semakin lama zaman telah berubah maka berubah pula perlakuan dan cara guru menyampaikan materi kepada peserta didik.

Dalam menjelaskan kepada peserta didik maka yang herus guru lakukan sekurang-kurangya :

Kejelasan dalam pengucapan yang dapat dimengerti siswa

Menggunakan ilustrasi yang dapat memperjelas maksud

Memberikan tekanan pada materi yang penting

Imbal balik dengan mengajukan pertanyaan

Keterampilan mengajar dan membimbing diskusi kelompok kecil, kelompok besar, dan individu

Hal diatas dapat dilakukan dengan langkah awal diantaranya :

Mengadakan pendekatan secara pribadi

Mengorganisasi kelompokmdengan baik

Membimbing dan memudahkan belajar

Merencanakan dan melaksanakan pembelajaran[9]

Siswa adalah subyek belajar. Maka pembelajaran hendaknya berpusat pada peserta didik. Peserta didik harus aktif dalam proses pembelajaran.

Oleh karena itu teknik diskusi kecil atau juga diskusi besar dalam kelas memungkinkan siswa untuk belajar aktif dan berbicara.

Sebagai salah satu alternatif bentuk pembelajaran maka Edi sugito dan Yuliani Nuraini demikian yang dikutip dalam bukunya Barnawi dan Muhammad Arifin maka manfaat diskusi diantaranya :

Mengembangkan kemampuan berfikir dan berkomunikasi

Meningkatkan disiplin

Meningkatkan motivasi belajar

Mengembangkan sikap saling membantu

Meningkatkan pemahaman materi

Supaya diskusi dapat berjalan dengan baik maka guru dituntut untuk memiliki ketrampilan :

Memusatkan perhatian, hal itu dilakukan guru jika suatu kelompok gagal memusatkan perhatian pada masalah yang sedang dibahas maka tugas guru untuk mengarahkan kembali supaya sesuai denga yang dibahas.

Memperjelas masalah supaya menghindari perbedaan persepsi

Menganalisis pandangan siswa yang berbeda

Meningkatkan kontribusi peserta didik. Misalnya dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan

Mendistribusikan peserta didik, misalnya mendorong siswa yang diam untuk berbicara

Menutup diskusi dengan menyimpulkan hasil diskusi.[10]

Keterampilan bertanya

Guru harus menciptakan kegiatan bertanya. Setelah itu, guru juga harus memancing siswa agar mau menjawab pertanyaan dari guru.

Kegiatan komunikasi ini hemdaknya dilakukan multi arah anatara guru dan beberaspa murid. Dengan demikian akan meningkatkan interaks aktif.

Interaksi aktif dapat meningkatka frekuensi berpikir sehingga struktur kognitifnya semakin berkembang.

Menurut Egi Sugiyono dan Yuliani Nuraini dalam bukunya Barnawi dan Muhammad Arifin, maka tujuan guru mengajukan pertanyaan diantaranya :

Mengembangkan pendekatan supaya siswa dapat aktif, sehingga keterlibatan siswa akan terjalin

Menimbulkan keingintahuan supaya dapat membangkitkan siswa berminat pada masalah yang dihadapi

Merangsang pola pikir

Menuntun proses berfikir siswa

Memfokuskan perhatian siswa

Menstrukturkan tugas yang akan diberikan

Mendiagnosis kesuliatan belajar

Mengkomunikasikan harapan guru

Merangsang terjadinya diskusi[11]

Keterampilan Memberi penguatan

Penguatan maksudnya merespon positif dalam pembelajaran terhadap perilaku peserta didik yang positif dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut.

Penguatan yang diberikan oleh guru sangat penting bagi peserta didik. Hal itu bertujuan untuk :

Meningkatkan perhatian siswa

Meningkatkan motivasi belajar siswa

Mengarahkan pengembangan berfikir siswa

Mengendalikan tingkah laku siswa

Cara-cara umum yang dapat guru lakukan diantaranya penguatan dengan verbal contohnya memuji perbuatan baik dan memberitahukan perbuatan yang buruk. Sednagkan non verbal dapat dilakukan dengan cara mimik dan gerakan tubuh.

Keterampilan Variasi dalam mengajar dan menggunakan media  pembelajaran.

Variasi diantaranya dapat dilakukan dengan variasi gaya mengajar, metode mengajar, bisa pula dengan variasi gerak tubuh. Bisa pula dengan pindah posisi, kontak pandang dan lain sebagainya.

Adapun prinsip-prinsip dalam menggunakan variasi dinataranya ;

Variasi hendaknya bertujuan dalam pemelajaran

Variasi diberikan antusiasme dan kehangatan oleh pendidik

Tidak berlebihan

Fleksibel

Berkesinambungan

Direncanakan dengan baik[12]

Media pembelajaran adalah sarana pembelajaran yang digunakan sebagai perantara dalam proses pembelajaran untuk mempertinggi efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Tujuan keterampilan menggunakan media pembelajaran, yaitu:

Memperjelas penyajian pesan agar terlalu verbalistis

Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera

Memperlancar jalannya proses pembelajaran

Menimbulkan kegairahan belajar

Memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan dan kenyataan

Memberi kesempatan pada siswa untuk belajar secara mandiri sesuai  dengan kemampuan dan minatnya.

Komponen-komponen keterampilan menggunakan media pembelajaran, yaitu:

Media audio, yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu pembelajaran yang mempunyai sifat dapat didengarkan oleh siswa, seperti radio.

Media visual, yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu dalam

pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat oleh siswa, seperti peta.

Media audio visual, yaitu media yang digunakan sebagai alat bantu dalam pembelajaran yang mempunyai sifat dapat dilihat dan didengar oleh siswa, seperti TV Edukasi.

Keterampilan mengelola kelas

Dalam pembelajaran maka ada kompetensi yang harus dimiliki guru yaitu kemempuan mengelola kelas supaya kondusif dinataranya bertujuan untuk :

Memelihara kondisi belajar yang optimal

Menyadari kebutuhan siswa

Merespon perilaku siswa

Mengembangkan peserta didik agar tanggungjawab

Mengarahkan siswa agar mematuhi tata tertib

Menumbuhkan kesdaran supaya aktiv dalam kelas[13]

Dalam bukunya Buchari Alma disebutkan bahwa ada beberapa keterampilan dasar mengajar diantaranya :

Konsep dari James Cooper Et Al

a.1 keterampilan menyususn rencana pembelajaran

a.2 keterampilan merumuskan tujuan pembelajaran

a.3 keterampilan menyampaikan bahan ajar

a.4 keterampilan bertanya

a.5 keterampilan penyususnan konsep/ persiapan mengajar

a.6 keterampilan melakukan komunikasi antar personal

a.7 keterampilan mengelola kelas

a.8 keterampilan mengadakan observasi

a.9 keterampilan mengadakan evaluasi

Konsep Turney Et. al

b.1 keterampilan bertanya

b.2 keterampilan mengelola kelas dan menumbuhkan disiplin

b.3 keterampilan memberikan stimulus secara bervariasi

b.4 keterampilan memberi penguatan

b.5 keterampilan menjelaskan

b.6 keterampilan membuka pertemuan

b.7 keterampilan mengajar secara kelompok

b.8 keterampilan untuk mengembangkan pola pikir

b.9 keterampilan mengajar secara individu[14]

Peran Guru Dalam Pembelajaran

Guru sebagai perancang penbelajaran

Merancang dan merencanakan pembelajaran

Proses pembelajaran yang dilakukan sesuai kondisional

Pengendalian kelas dan evaluasi[15]

Guru sebagai pengelola pembelajaran

Guru berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari kerah tingkah laku dan kepribadian yang matang. Salah satu manajemen kelas yang baik adalah ketersediaan kesempatan bagi siswa dalam mengurangi ketergantunganya kepada guru.

Guru sebagai pengarah pembelajaran

Hal itu dilakukan dengan memotivasi siswa diantaranya :

Membangkitkan siswa untuk belajar

Menjelaskan apa yang dapat dilakukan saat akhir pembelajaran

Memberikan apresiasi pada prestasi siswa

Membiasakan belajar yang baik

Guru sebagai evaluator dan fasilitator

Diantaranya guru berperan dalam mengevaluasi pembelajaran siswa dan memfasilitsi belajar siswa supaya menemukan cara yang baik dalam belajar.

Guru sebagai konselor

Diantaranya :

Menolong peserta didik menyelesaikan masalah

Membina hubungan baik dengan lingkungan

Guru sebagai pelaksana kurikulum

Guru adalah pelaksana langsung kurikulum kelas

Guru bertugas mengembangkan kurikulum

Guru yang menghadapi berbagai masalah yang berhubungan kurikulum

Tugas guru yang mencari upaya pemecahanya.

Guru sebagai penghubung dengan lingkungan

Guru adalah sosok yang menghubungkan anak dengan lingkungan disekitarnya. Yang memperkenalkan anak dengan berbagai macam lingkungan. Oleh karena itu, maka guru dituntut untuk mengenali lingkunganya dalam rangka membina hubungan baik dengan masyarakat. [16]

Bab III : Penutup

source : Liputan6.com

Step terakhir dari penyusunan makalah yaitu membuat kesimpulan. Kesimpulan ini diambil dari pemaparan-pemaparan teori dan analisa-analisa yang sudah kita tuliskan dalam BAB II.

Simpulan

Guru tidak hanya mengajar tetapi juga mendidik dengan menanamkan nilai-nilai yag ada dalam kehidupan bermasyarakat.

Guru merupakan tonggak lahirnya peradaban yang maju dan beretika oleh karena itu guru harus memiliki beberapa kompetensi sebagai sarana penunjang pekerjaaanya sebagai pendidik.

Dalam kaitanya dengan kompetensi guru, maka kompetensi dasar dalam mengelola pembelajaran harus dimiliki oleh seseorang yang berprofesi sebagai guru.

Keterampilan itu diantaranya keterampilan membuka dan menutup pembelajaran. Dianjutkan dengan keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan atas argumen para sisiwa, keterampilan menggunakan media pembelajaran.

Kemudian selanjutnya keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil maupun besar, keterampilan mengelola kelas dan keterampilan menggunakan variasi pembelajaran.

Dalam melaksanakan tugasnya guru memiliki peranan diantaranya Guru sebagai Merancang dan merencanakan pembelajaran, melakukan proses pembelajaran yang dilakukan sesuai kondisional, mengendalian kelas dan evaluasi, mengelola pembelajaran

Guru berperan dalam membimbing pengalaman sehari-hari kerah tingkah laku dan kepribadian yang matang.

Salah satu manajemen kelas yang baik adalah ketersediaan kesempatan bagi siswa dalam mengurangi ketergantunganya kepada guru. Guru juga sebagai konselor, fasilitator, dan motivator.

Guru juga sebagai pelaksana kurikulum dan menghubungkan anak dengan lingkungan sekitar.

DAFTAR PUSTAKA

Alma , Buchari.  2009 . Guru Profesional ( Bandung : Alfabeta)

Barnawi dan Muhammad Arifin. 2012 .Etika dan Profesi Kependidikan ( Yogyakarta : Arruz)

Mulyasa. 2008 .Standar kompetensi dan sertifikasi Guru ( Bandung : Remaja Rosda Karya)

Mustakim , Zaenal. 2018. Strategi dan Metode Belajar Mengajar ( Yogyakarta : Managraf)

Sutarsih , Cicih. 2012. Etika Profesi ( Jakarta : DirJenDikIs ).

Uno, Hamzah. B . Profesi Kependidikan , ( Jakarta : Bumi Aksara, 2007 ).

di bawah ini adalah footnote referensi yang menjadi sumber pembuatan makalah ini

[1] Zaenal Mustakim,Strategi dan Metode Belajar Mengajar, ( Yogyakarta : Managraf, 2018 ). Hlm : 30-31

[2] Ibid . Hlm : 32-33

[3] Cicih Sutarsih, Etika Profesi ( Jakarta : DirJenDikIs,2012 ). Hlm : 88

[4] Barnawi dan Muhammad Arifin, Etika dan Profesi Kependidikan ( Yogyakarta : Arruz, 2012 ).Hlm : 226

[5] Ibid hlm 228

[6] Zaenal Mustakim, Op.Cit.  Hlm : 34

[7] Barnawi dan Muhammad Arifin, low.cit . Hlm : 228

[8] Ibid . Hlm 122

[9] Zaenal Mustakim, Op.cit. Hlm: 35

[10] Barnawi dan Muhammad Arifin, low.cit . Hlm: 232-233

[11] Ibid: Hlm 202

[12] Ibid. Hlm : 208-220

[13] Ibid Hlm : 233

[14] Buchari Alma, Guru Profesional ( Bandung : Alfabeta, 2009 ). Hlm : 11-13

[15] E. Mulyasa, Standar kompetensi dan sertifikasi Guru ( Bandung : Remaja Rosda Karya, 2008 ) Hlm : 77-78

[16] Hamzah. B Uno , Profesi Kependidikan , ( Jakarta : Bumi Aksara, 2007 ). Hlm 22-27

download link :

Contoh Makalah Yang Benar

Demikian artikel contoh makalah pendidikan kali ini. Semoga bermanfaat dan dapat memberikan tambahan keilmuan bagi Best Jobbers semua. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Salam sejahtera.

Categories
Karya Tulis

Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Yang Benar – Salam Sejahtera, Best Jobbers di manapun Anda berada saat ini. Selamat datang di portal bestjobaroundtheworld.com, portal  keilmuan yang aktual dan terpercaya.

Makalah adalah salah satu jenis karya tulis ilmiah dengan pembahasan permasalahan tertentu berdasarkan hasil kajian teori atau kajian lapangan.

Pada umumnya contoh makalah yang benar dibuat untuk memenuhi tugas-tugas tertentu baik tugas akademik maupun tugas non-akademik.

Contoh makalah yang benar menjadi sarana informasi, demonstrasi dan pemahaman penulis tentang sebuah permasalahan yang dikaji oleh penulis.

Dalam hal ini contoh makalah yang benar selalu menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau teori yang berhubungan dengan masalah tertentu.

Selain itu, makalah bukan sebuah rangkuman dari penelitian yang sudah pernah dilakukan atau literatur tertentu.

Contoh makalah yang benar harus menjadi  sarana untuk menunjukkan kemampuan pemahaman terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah.

Baca Juga : Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Fungsi yang harus dipenuhi dalam membuat contoh makalah yang benar antara lain:

  • Media pelatihan  untuk menyusun karya ilmiah secara benar dan cermat.
  • Media untuk  memperluas wawasan keilmuan bagi penulis dan pembaca.
  • Mendemostrasikan pemahaman teori seorang penulis maupun kemampuan untuk menerapkan prosedur-prosedur yang berkaitan dengan permasalahan.
  • Memberikan sumbangan pemikiran secara teoretis maupun praktis.
  • Memberikan andil kemanfaatan bagi perkembangan konsep keilmuan.

Di bawah ini, akan saya berikan contoh makalah yang benar dengan tema pembahasan Pendekatan Studi Islam. Silahkan Best Jobbers simak dengan seksama….jangan lupa di akhir artikel ini akan saya berikan link untuk melihat file asli dari contoh makalah yang benar ya….

Contoh Makalah Yang Benar Dengan Tema Pendekatan Studi Islam

Contoh Makalah Yang Benar
source : The New York Times

Pendekatan Studi Islam merupakan salah satu subbab dari mata kuliah Metodologi Studi Islam. Mata kuliah ini biasa  diajarkan dalam fakultas maupun perguruan tinggi Islam di seluruh Indonesia.

Di bawah ini akan saya paparkan sistematika contoh makalah yang benar dengan tema pendekatan studi Islam. Simak terus ya…

Contoh Cover

Contoh cover yang benar memuat tentang informasi seperti : judul makalah, peruntukkan makalah, logo institusi, identitas penulis, nama institusi dan tahun pembuatan makalah. Untuk detailnya bisa dilihat di sini.

Contoh Pendahuluan Makalah Yang Benar

source : SlideShare

Bab pertama (BAB I) dari contoh makalah yang benar adalah bab Pendahuluan. Pendahuluan berisi  tentang persoalan yang akan dibahas meliputi:

Latar Belakang

Latar belakang adalah penjelasan dalam bentuk uraian paragraf. Latar belakang berisi alasan mengapa sebuah makalah dibuat.

Misalnya, dalam artikel kali ini saya memuat contoh makalah yang benar tentang Pendekatan Studi Islam, berarti saya harus menjelaskan mengapa topik makalah tersebut dibuat.

Pembaca dapat mengetahui apa yang akan dibahas dalam makalah  dengan adanya latar belakang.

Nah, agar latar belakang yang kita tulis tidak melenceng dari pembahasan,  kita harus memperhatikan beberapa poin penting di bawah ini:

Kondisi ideal tentang bagaimana seharusnya suatu keadaan dari permasalahan yang kita tuliskan.

Kondisi faktual tentang sebuah suatu objek penelitian, dapat berupa masalah sehingga menjadi dasar dibuatnya suatu makalah.

Membahas penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain.

Tujuan penelitian, dan Metode penelitian yang digunakan dalam makalah.

Perumusan singkat mengenai pertanyaan seputar penelitian.

Nah langsung saja best Jobbers, kita akan melihat contoh Latar Belakang dari contoh makalah yang benar dengan tema Pendekatan Studi Islam berikut ini.

Contoh Latar Belakang

Metodologi Studi Islam secara etimologi, metodologi berasal dari kata “method” yang berati cara dan “logos” yang berarti ilmu.[1]

Islam berasal dari bahasa arab dari kata “salima, aslamaa” yang berarti selamat, tunduk, berserah dan kepatuhan.

Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat, dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran maupun sejarahya.[2]

Dalam Studi Islam dikenal berbagai macam pendekatan antara lain pendekatan teologis, pendekatan normatif, pendekatan antropologis, dan pendekatan sosiologi.

Selain itu adapula  pendekatan fisiolofis, pendekatan psikologis, pendektan historis, pendekatan fenomenologi, pendekatan arkeologis, pendekatan sufism/ tasawuf, pendekatan tekstual dan kontekstual, dan pendekatan kawasan/studi wilayah.

Berbagai pendekatan tersebut diperlukan agar kehaidiran Islam secara fungsional dapat dirasakan.

Dalam hal ini akan membahas mengenai pendekatan arkeologis, pendekatan sufism/ tasawuf, pendekatan tekstual dan kontekstual, dan pendekatan kawasan/ studi wilayah.

Pendekatan arkeologi, Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.

Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi), ekofak (benda lingkungan) maupun fitur (situs arkeologi).

Pendekatan Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek kerohanian manusia yang selanjutnya menimbulkan kebaikan akhlak mulia.

Lalu pendekatan tekstual dan kontekstual, pendekatan tekstual artinya sebuah pendekatan studi terhadap suatu pendekatan studi terhadap suatu nash/teks.

Pendekatan tekstual menjadikan lafal-lafal nash/teks tersebut sebagai obyek, dan pendekatan kontekstual yiatu suatu pendekatan yang semata-mata tidak hanya melihat keumuman lafadz, tetapi lebih dipengaruhi latar belakang turunnya.

Studi Kawasan Islam adalah kajian yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi.

Fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya.

Contoh Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pendekatan arkeologis dalam studi Islam ?
  2. Bagaimana pendekatan sufism/ tasawuf dalam studi Islam ?
  3. Bagaimana pendekatan tekstual dan kontekstual dalam studi Islam ?
  4. Bagaimana pendekatan kawasan/ studi wilayah dalam studi Islam ?

Contoh Pembahasan

Contoh Makalah Yang Benar
source SlideShare

Pembahasan merupakan inti dari masalah. Berbagai teori dan analisis permasalahan yang dibahas dan  tuangkan dalam pembahasan. Dalam pembahasan teori dipaparkan secara sistematis. Berikut adalah contoh pembahasan dari contoh makalah yang benar. Lanjut menyimak ya, Best Jobbers…

Pendekatan Arkeologis

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuno” dan logos, “ilmu”. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.

Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data.  Interpretasi data dapat berupa artefak , ekofak  maupun fitur (artekfaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi).

Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologi, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.[3]

Dalam kaitannya dengan studi Islam, maka arkeologi sebagai satu disiplin ilmu digunakan untuk merekontruksi perkembangan Islam di suatu tempat.

Caranya adalah  melalui benda-benda artefak maupun situs peninggalan Islam sehingga memahami Islam di suatu tempat tersebut pada masa lampau.

Hal tersebut dilakukan agar generasi mendatang dapatmemahami Islam dengan bukti-bukti benda material.

Dengan demikian akan muncul arkeo-Islamologi atau arkeologi Islam yakni hubungan antara studi Islam dengan arkeologi ilmu-ilmu bantu arkeologi.

Melalui prinsip-prisip arkeologi dan ilmu-ilmu bantunya, kajian tentang Islam dapat direkonstruksi sejak pra-Kerasulan, masa Kerasulan, dan pasca Kerasulan Nabi Muhammad Saw.

Secara lebih luas dapat mengaitkan titik temporal yang kaitan dengan Islam, misalnya: orang Islam, dunia Islam, domain Islam, negara Islam dan lain-lain ke dalamsuatu tata urutan tertentu.

Sebagai satu disiplin ilmu arkeologi sebagai salah salah satu pendekatan dlam studi Islam tidak dapat terlepas dari ilmu-ilmu lain.

Misalnya, arkeologi Islam dengan epigrafi studi prasasti, arkeologi Islam dengan filologi studi naskah kuno, arkeologi Islam dengan arsitektur bangunan sakral, arkeologi Islam dengan antropologi kebudayaan, arkeologi Islam dengan sosiologi sejarah pesantren.[4]

Pendekatan Sufism/ Tasawuf

Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek kerohanian manusia yang selanjutnya menimbulkan kebaikan akhlak mulia.

Pembersihan aspek rohani manusia selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia.

Melalui Tasawuf seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya dan tampil sebagai manusia yang dapat mengendalikan dirinya.

Atau ketika manusia melakukan aktivitas dapat menjaga kejujuran hati nurani, keikhlasan, tanggung jawab dan dapat membendung penyimpangan moral, seperti manipulasi nilai, korupsi nilai, kolusi dan lain-lain yang subur dalam negara kita yang notabene mayoritas Islam.[5]

Istilah yang berkembang pertama dalam tasawuf adalah tasawuf itu sendiri. Secara etimologi merupakan bentuk masdar darikata “suf” yang berarti “wol”, yaitu untuk menunjukkan penggunaanjubah wol.

Kata suf (kain wol) menggambarkan orang yang hidupsederhana dan tidak mementingkan dunia.

Dari segi linguistic (kebahasaan) dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mentalyang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana,rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap kebajikan.

Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia.

Kedua, sufi. Sufi yaitu suci. Seorang sufi adalah orang yang disufikan atau yang disucikan dan kaum sufi adalah orang-orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.

Dalam arti yang lain sufi atau sufiyah diartikan sebagai orang yang selalu mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, sufi merupakan orang yang mensucikan dirinya dangan mengingat Allah (zikrullah), menempuh jalan kembali kepada Allah sampai kepada pengetahuan yang hakiki (ma`rifah).[6]

Tasawwuf atau sufisme ialah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam.

Tujuan dari mistisisme itu adalah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seorang berada di hadirat Tuhan.

Intisari dari mistisisme termasuk di dalamnya tasawuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi.

Kesadaran itu selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan dalam istilah Arab disebut ittihad dan istilah Inggris mystical union.[7]

Sejalan dengan fungsi dan peran tasawuf, maka kalangan para ahli tasawuf timbul upaya dalam membuat bentuk dalam penelitian tasawuf. Secara ringkas akan dikemukakan model-model penelitian tasawuf.

Model Sayyed Husein Nashr (Metode Tematik)

Pendekatan tematik dalam pengkajian tasawuf yakni pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu.

semacam ini dilakukan oleh HuseinNasir dan termasuk di dalamnya pada kritik terhadap ajaran tasawufyang pernah berkembang dalam sejarah Islam.

Hasil penelitiannya dalam bidang tasawuf ia sajikan dalam bukunya yangberjudul Tasawuf dulu dan sekarang yang diterjemahkan oleh Abdul Hadi WM dan diterbitkan oleh pustaka Firdaus, Jakarta tahun 1985.

Di dalam bukunya tersebut disajikan hasil penelitiannya di bidang tasawuf dengan menggunakan pendekatan tematik.

Model Mustafa Zahri (Pendekatan Eksploratif)

Pendekatan eksploratif menggali ajaran tasawuf dari berbagai literatur ilmu tasawuf.

Dalam penelitian ini menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama dengan mencari sandaran dari Alquran dan Hadis.

Seperti yang dilakukan oleh Mustafa Zahri, karyanya Kunci Memahami Ilmu Tasawuf  dengan menggali dari berbagai sumber yang membahas tentang ajaran-ajaran tasawuf.

Model Kautsar Azhari Noor (Pendekatan Tokoh)

Pendekatan yang dilakukan dengan studi tokoh seperti yang dilakukan oleh dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Kautsar Azhari, Ibn Arabi Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan.  

\Penelitian ini cukup menarik, karena dilihat dari paham yang dibawakannnya Wahdat al-Wujud, yang menimbulkan kontroversi di kalangan para ulama karena paham tersebut membawa paham reingkarnasi.

Yakni  paham serba Tuhan, yakni Tuhan menjelma dalam berbagai ciptaan-Nya, sehingga mengganggu zat Tuhan.

Model Harun Nasution (pendekatan tematik)

Hasil penelitiannya dalam bidang tasawuf ia tuangkan antaralain dalam bukunya yang berjudul falsafat dan misitisisme dalam Islam, yang diterbitkan oleh Bulan Bintang Jakarta terbitan pertama tahun 1973.

Penelitian yang dilakukan Harun Nasution pada bidang tasawuf ini mengambil pendekatan tematik.

Model AJ. Arberry (Pendekatan Kesejarahan)

Pendekatan kombinasi yaitu dengan menggabungkan antarapendekatan tematik dengan studi tokoh.

Hal ini dilakukan oleh A.J. Alberry dalam bukunya yang berjudul Pasang Surut Aliran Tasawuf.

Dengan mencoba mengemukakan firman Tuhan, kehidupan Nabi, para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, struktur teori tasawufdan amalan tasawuf.

Dalam penelitian tersebut nampak bahwa beliau menggunakan analisa kesejarahan.

Yakni berbagai tema dipahami berdasarkan konteks sejarahnya, dan tidak dilakukan proses aktualisasi nilai atau mentrasformasikan ajaran-ajaran tersebut ke dalam kehidupan modern.[8]

Pendekatan Tekstual dan Kontekstual

Pendekatan Tekstual

Secara etimologis, tekstual berasal dari kata benda bahasa Inggris text, yang berarti isi, bunyi, dan gambar-gambar dalam sebuah buku.

Tekstual juga berarti catatan yang samapersis menurut naskahnya dan sama benar dengan naskahnya.  Secara terminologis, pemahaman tekstual adalah pemahaman yang berorientasi pada teks dalam dirinya.

Oleh karena itu, lewat pendekatan ini, wahyu dipahami melalui pendekatan kebahasaan, tanpa melihat latar sosio-historis, kapan dan dimana wahyu itu diturunkan

Al Qur’an sebagai teks utama dalam Islam dan merupakan firman Tuhan yang abadi.

Al Qur’an merupakan kitab tunggal dimana dengan melaluinya, Tuhan mentransformasi umat Islam menjadi sebuah peradaban buku.Metode tekstualmenjadikan teks wahyu sebagai pegangan dalam memahami Islam.

Al Qur’an dan hadis telah komplit dan sempurna menyediakan pelbagai konsep dan jawaban terhadap segala persoalan keagamaan yang dihadapi manusia sejak masa Rasulullah hingga akhir zaman.

Ada tiga elemen yang berperan dalam menentukan makna suatu teks. Yaitu:

Makna ditentukan oleh pengarang

Pengarang teks memformulasikan maksudnya ketika ia membentuk sebuah teks, dan pembaca harus memahami maksud dari pengarang. Untuk teks al Qur’an, ia adalah media pengarang (Tuhan) untuk mengungkapkan maksudnya.

Makna ditentukan oleh teks

Perdebatan apapun di seputar makna, maka yang menjadi rujukan perdebatan adalah teks.

Al Qur’an adalah teks yang memiliki otonomi tersendiri (maksud tekstual), memiliki kaidah-kaidah bahasa yang dapat digunakan untuk memahami dan menentukan makna.

Penetapan makna dilakukan oleh pembaca.

Teks al Qur’an tidak akan bermakna tanpa peran pembaca. Dan, dalam melakukan proses pembaaan teks sangat dimungkin membawa subjektifitasnya sendiri-sendiri.

Jadi, yang dimaksud dengan istilah pendekatan tekstual dalam kajian ini adalah suatu kecenderungan atau metode pendekatan yang menitikberatkan pada makna teks harfiah.

Dengan tanpa menyertakan konteks sosio-historis teks dalam aktivitas penafsiran: dimana, kapan, dan mengapa teks tersebut lahir, dan bagaimana proyeksi makna teks ke depan.

Karena mengedepankan makna harfiah teks  di satu sisi dan menafikan peran dan keterlibatan sang penafsir di sisi lain, maka penetapan maknanya sepenuhnya menjadi domain otoritas teks.

Di luar teks tidak ada makna yang bisa diyakini maupun dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pendekatan Kontekstual

Kontekstual berasal dari bahasa Inggris, context yang berarti istilah yang berhubungan dengan kata-kata, konteks, suasana, dan keadaan.

Lalu menjadi contextual yang berhubungan dengan konteks, atau dengan pengertian lain yakni keadaan atau situasi dimana suatu kalimat atau perkataan itu dikatakan.

Dengan pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa Islam kontekstual adalah Islam yang dipahami sesuai dengan situasi dan kondisi dimana Islam itu dikembangkan.

Menurut Suryadi, batasan pendekatan kontesktual antara lain: Menyangkut bentuk atau sarana yang tertuang secara tekstual. Dalam hal ini tidak menuntut seseorang untuk mengikuti secara saklek (apa adanya).

Sehingga bila ingin mengikuti Nabi tidak harus berbicara dengan bahasa Arab, memberi nama yang Arabisme, berpakaian Gamis ala Timur Tengah dan sebagainya.

Karena semua ini produk budaya yang tentu secara zahir antara setiap wilayah berbeda.

Aturan yang menyangkut manusiasebagai makhluk individu dan biologi

Jika Rasulullah makan hanya menggunakan tiga jari maka tidak harus mengikuti dengan tiga jari, karena kontek yang dimakan Rasulullah adalah kurma atau roti.

Sedangkan bila makan nasidan sayur asem harus tiga jari betapa malah tidak efektifnya.

Ide dasar yang dapat runut pada diri Nabi dalam konteks ini adalah bagaimana makan yang halal baik, tidak berlebihan dan dengan ahlak yang baik pula.

Aturan yang menyangkut manusia sebagai mahluk sosial.

Bagaimana manusia berhubungan dengan sesama, alam sekitar dan binatang adalah wilayah kontekstual. Sebagaimana isyarat hadis antum a’lamu biumuri dunyakum.

Ide dasar yang disandarkan pada Nabi adalah tidak melanggar tatanan dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan keadilan dan persamaan serta stabilitas secara umum sebagai wujud ketundukan pada Sang Pencipta.

Terkait masalah sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dimana kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya yang sedemikian kompleks, maka kondisi pada zaman Nabi tidak dapat dijadikan sebagai parameter sosial.[9]

Pendekatan Kawasan / Studi Wilayah

Pengertian Studi Kawasan Islam adalah kajian yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi.

Fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya.

Mulai dari pertumbuhan, perkembangan, serta ciri-ciri karakteristik sosial budaya yang ada didalamnya, termasuk juga tentang faktor-faktor pendukung bagi munculnya berbagai ciri dan karakter serta pertumbuhan kebudayaan dimasing-masing dunia kawasan Islam.

Oleh karena itu, objek formal studinya harus meliputi aspek-aspek geografis, demografis, historis, bahasa serta berbagai perkembangan sosial dan budaya, yang merupakan ciri-ciri umum dari keseluruhan perkembangan yang ada setiap kawasan budaya.[10]

Terkait dengan pembelajaran Islam dengan menggunakan pendekatan wilayah, berikut ada beberapa perkembngan Islam di berbagai kawasan:

Islam di Asia tenggara

Adapun mengenai kedatangan Islam ke Asia Tenggara terdapat tiga pendapat yaitu:

Pertama, pendapat pertama menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia tenggara berasal langsung dari arab atau tepatnya Hadramaut.

Pendapat ini pertama-tama dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann, de Hollander (1861), dan Veth (1878).

Kedua, pendapat kedua menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggar dari India. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel pada tahun 1872.

Ketiga, pendapat yang ketiga menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Banggali (kini Bangladseh). Pendapat ini digunakan oleh Fatimi.[11]

Islam di Indonesia

Agama Islam yang masuk ke Indonesia di anggap sebagai agama yang asing, karena hampir semua wilayah Nusantara masyarakatnya sudah memiliki kepercayaan dan tradisi keberagamaan sendiri yang sudah melekat kuat.

Akan tetapi dengan sifat agama Islam yang fleksibel atau tidak kaku, Islam akhirnya dapat membaur dengan berbagai bentuk kebudayaan yang ada.

Terdapat beberapa Teori tentang cara masuknya agama Islam ke Indonesia. Terdapat 4 teori besar yang dikenal dengan empat Grand Teory, yaitu:

Teory Gujarat, teori ini dikemukakan oleh G.W.J. Drewer dan dikembangkan oleh Snouk Hurgronje.

Pendapat iini didasarkan pada kesamaan orang-orang Arab yang menetap di Gujarat dan Malabar yang bermadzhab syafi’i dengan orang-orang Gujarat dan malabar yang menetap di Indonesia.

Teori Bengal, menyatakan bahwa Islam datang dari Bengal.

Pendapat ini didasarkan bahwa adanya batu nisan Fatimah  Binti Maimun yang ditemukan di Leran Gersik Jawa timur bertahun 475 H atau 1082 M memiliki kesamaan dengan batu nisan yang ada di wilayah bengal.

Teori Malabar, Menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia itu berasal dari kolomader dan malabar pendapat ini dikemukakan oleh W. Arnold da Marison.

Alasan yang memperkuat pendapat ini adalah bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki kesamaan madzhab dengan agama Islam yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Teori Arab, itu Islam datang berasal dari sumber  aslinya yaitu Arab pendapat ini banyak dikemukakan oleh para sejarawan yang intens dengan kajian Islam di Asia Tenggara.

di antaranya adalah Crawfurd 1820, Keyzer 1859, Nieman 1861, De Holander 1861, Veth 1878.

Teori ini juga didukung olelh sejarawan Asia Tenggara asal Malaysia yaitu Naquib Al Attas, dan juga sejarawan Indonesia Uka Tjandra Sasmita dan S.Q. Fatimi.[12]

Islam di Timur Tengah

Masyarakat Islam dibangun diatas peradaban Timur Tengah Kuno yang telah mapam sebelumnya.

Masyarakat Islam berkembang dalam sebuah lingkungan yang sejak masa awal sejarah umat manusia telah menampilkan dua aspek yang fundamental, yaitu asal-usul dan struktur sejarah yang telah berlangsung.[13]

Perjalanan panjang Islam di daerah Tiimur tengah berlangsung sekitar 622 M Sampai 1002 M, yang berlangsung dalam 3 fase:

Fase penciptaan sebuah komunitas baru yang bercorak Islam di Arabia sebagai hasil dari transformasi wilayah pemikiran dengan sebuah masyarakat kekerabatan yang telah berkembang sebelumnya menjadi sebuah tipe monotheistik Timur Tengah.

Fase Penaklukan terhadap kawasan-kawasan di Timur Tengah oleh komunitas muslim yang telah terbentuk tersebut, kemudian membangun sebuah kebudayaan Islam secara menyeluruh.

Fase kesultanan (945-1200), pada fase pola dasar kultural dan institusional dari era khalifah berubah menjadi pola-pola negara dan institusi Islam.[14]

 Contoh Penutup

source : SlideShare

Penutup berada di BAB III yang merupakan bab terakhir dari contoh makalah yang benar. Bab III minimal berisi tentang kesimpulan dari pembahasan makalah. Selanjutnya, makalah ditutup dengan daftar pustaka. Daftar pustaka mencantumkan sumber atau literatur yang kita jadikan  rujukan teorinya.

Kesimpulan

Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat, dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran maupun sejarahya.

Dalam studi Islam dikenal berbagai macam pendekatan antara lain pendekatan arkeologis, pendekatan sufism/ tasawuf, pendekatan tekstual dan kontekstual, dan pendekatan kawasan/ studi wilayah.

Dalam kaitannya dengan studi Islam, maka arkeologi sebagai satu disiplin ilmu digunakan untuk merekontruksi perkembangan Islam di suatu tempat melalui benda-benda artefak maupun situs peninggalan Islam sehingga memahami Islam di suatu tempat tersebut pada masa lampau.

Dalam pendekatan sufisma ada beberapa meodel yang dapat dipelajari diantarnya, Model Sayyed Husein Nashr (Metode Tematik), Model Mustafa Zahri (Pendekatan Eksploratif),

Model Kautsar Azhari Noor (Pendekatan Tokoh), Model harun Nasution (pendekatan tematik) dan Model AJ. Arberry (Pendekatan Kesejarahan).

Pendekatan tekstual dalam kajian ini adalah metode pendekatan yang menitik beratkan pada makna teks harfiah dengan tanpa menyertakan konteks sosio-historis teks dalam aktivitas penafsiran.

Pendekatan kontesktual antara lain: Menyangkut bentuk atau sarana yang tertuang secara tekstual. Dalam hal ini tidak menuntut seseorang untuk mengikuti secara saklek (apa adanya).

Pengertian Studi Kawasan Islam adalah kajian yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi, karena fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya.

 DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. 2009.Studi Kawasan Dunia Islam. Jakarta: Rajawali       Pers.

Hakim Abdul. 2017. Metodologi Studi Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hakim, Atang Abd dan Jaih Mubarok. 2000. Metodologi Studi Islam.          Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Khalim, Samidi. 2008.Islam dan Spiritualitas Jawa. Semarang: Ra Sail        Media Group.

Lapidus, Ira M. 1999.Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: PT Raja            Grapindo Persada.

Mustofa,Hidayatul. 2018.Pendekatan Tekstual Dan Kontekstual Dalam      Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Al- Muhamadiyah Cepu.

Wanto, Sugeng. 2014. Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan           Aplikasinya Di Era Modern. Jurnal At-Tafkir Vol. VII No. 1.            Sumatera Utara: IAIN Sumatera Utara.

https://www.academia.edu/8682537/pendekatan_arkeologis (diakses 30/10/2019, pukul 07.18)

http://khamidun-khamidun.blogspot.com/2011/10/pendekatan-arkeologi-dalam-studi-Islam.html?m=1 (diakses 30/10/2019, pukul 07.51).

Footnote :

[1] Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017)  hal. 3.

[2] Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam…, hal. 4.

[3]https://www.academia.edu/8682537/pendekatan_arkeologis (diakses 30/10/2019, pukul 07.18)

[4]http://khamidun-khamidun.blogspot.com/2011/10/pendekatan-arkeologi-dalam-studi-islam.html?m=1 (diakses 30/10/2019, pukul 07.51).

[5] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern, JurnalAt-Tafkir Vol. VII No. 1 (Sumatera Utara: IAIN Sumatera Utara, 2014), Hlm 131.

[6] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,… 132.

[7] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,… 137.

[8] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,… 138-139.

[9]Hidayatul Mustofa, Pendekatan Tekstual Dan Kontekstual Dalam Islam, ( Sekolah Tinggi Agama Islam Al- Muhamadiyah Cepu, 2018)

[10]Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), Hlm 2.

[11] Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), Hlm 168-169.

[12] Samidi Khalim, Islam dan Spiritualitas Jawa, (Semarang: Ra Sail Media Group, 2008), Hlm 2-3.

[13] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 1999), Hlm 3.

[14] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam,… Hlm 14

Nah, itulah tadi contoh makalah yang benar dari saya. Untuk file aslinya dapat langsung Best Jobbers semua download di link yang sudah saya sediakan di sini :

Contoh Makalah Yang Benar

Semoga bermanfaat.

Categories
Karya Tulis

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar merupakan kebutuhan pokok mahasiswa karena makalah merupakan suatu karya ilmiah wajib bagi mahasiswa yang sedang melaksanakan studi di perguruan tinggi. Sebagian besar dosen di berbagai Perguruan tinggi, seringkali menugaskan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah berupa makalah.

Seringkali, mahasiswa merasa kesulitan karena banyaknya tugas makalah yang dibebankan kepadanya.  Hal ini disebabkan oleh pembuatan makalah yang memakan waktu yang cukup lama, mulai dari mengumpulkan materi, mencari referensi materi sampai mengetiknya. Hal tersebut jelas memakan banyak waktu. Hal tersebut pula yang menjadikan mahasiswa cenderung frustasi. Dengan demikian, mereka perlu mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar di internet.

Dewasa ini, internet menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak terkecuali kebutuhan mahasiswa dalam membuat makalah. Mahasiswa sering kesulitan untuk membuat makalah dan sering kebingungan dalam menyusun makalah.

Oleh karena itu, mahasiswa banyak memanfaatkan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar dari portal-portal yang bertebaran di internet. Buat anda best jobbers yang yang sedang mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar,

di bawah ini portal bestjobaroundtheworld.com akan memberikan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar secara lengkap mulai dari Pendahuluan, pembahasan, penutupan daftar isi dan dilengkapi pula dengan footnote dari sumber yang sangat jelas dan terpercaya.

Contoh Makalah Gangguan Kepribadian

Contoh Makalah Yang Baik dan benar
source :Amen Clinics

Contoh Makalah yang Baik Dan Benar dengan tema pembahasan Gangguan Kepribadian di bawah ini kami berikan kepada Best Jobbers semua . Di sini kita akan bersama-sama belajar tentang membuat Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar.

Contoh Pendahuluan

source: Hello Sehat

Pada dasarnya, pendahuluan berisi tentang gambaran umum tema pembahasan dalam makalah. Dalam Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar,  pendahuluan  minimal berisikan beberapa sub bab. Sebuah Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar , minimal berisi 3 sub bab, yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penulisan.

1. Latar Belakang Masalah

Kepribadian adalah watak  atau temperamen spesifik, reaktivitas emosional,  kewajaran, hubungan interpersonal yang dibangun, kebutuhan, harapan, kekikiran, kedermawanan, arogansi, kemerdekaan, dll.
Yang terbentuk sejak masa anak, remaja sampai dewasa dini, dan dipertahankan sepanjang kehidupan.

Kepribadian  terbentuk dan ada sebagai hasil interaksi antara faktor herediter dan kontak psikososial. Kepribadian merupakan kombinasi dari pikiran, emosi dan perilaku yang membuat seseorang unik, berbeda satu sama lain. dan juga bagaimana seseorang melihat diri sendiri.

Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain. Sedangkan gangguan kepribadian merupakan istilah umum untuk suatu jenis penyakit di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.

Dalam beberapa kasus, kemungkinan penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan kepribadian karena cara berpikir dan berperilaku tampak alami bagi si penderita, dan penderita mungkin  menyalahkan orang lain atas keadaannya.

Sehingga penderita yang mengalami gangguan kepribadian yang akut saja yang ditindak lanjuti dan diberi solusi penanganan oleh psikiater atau psikolog.  edangkan orang awam yang ingin mengetahui apakah kepribadian mereka mengalami gangguan, terkadang mengalami kendala bagaimana solusi untuk bisa berkonsultasi tanpa harus menemui seorang psikiater atau psikolog.

2. Rumusan Masalah

  1. Sebutkan dan jelaskan apa itu gangguan kepribadian !
  2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis gangguan kepribadian !

3. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui apa itu gangguan-gangguan kepribadian.
  2. Untuk mengetahui jenis-jenis gangguan kepribadian.

Contoh Pembahasan

source : My Archive

Pembahasan masalah merupakan inti dari semua makalah. Segala teori, metode penelitian  dan penjabaran atas penelitian dipaparkan dalam pembahasan. Pembahasan merupakan penjabaran dari teori-teori yang sudah kita ulas di dalam rumusan masalah.

Pada bagian ini data-data ilmiah yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif disajikan. Teori-teori dari para ahli digunakan untuk menguatkan gagasan. Apabila kita mengambil teori dari suatu referensi, kita harusmenuliskan sumber referensi tersebut dalam bentuk footnote maupun innote.

Semua asumsi yang ada dalam pembahasan ini harus didasarkan referensi yang berupa literatur maupun data empiris. Kita tidak diperbolehkan untuk mencantumkan gagasan kita sendiri yang bersifat objektif.

Berikut ini adalah contoh pembahasan yang dapat anda Best jobbers gunakan sebagai bahan referensi.

A.Gangguan-gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.

Gangguan-gangguan kepribadian disebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya. Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama.

Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari (misalnya, dalam relasi sosial dan pekerjaan). Perlu juga diketahui bahwa:

(1) kebanyakan individu yang menderita gangguan kepribadian tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, dan walaupun tetap dirawat, tetapi hanya dirawat sebagai pasien luar;

(2) Banyak diantara orang orang tersebut tidak menganggap diri mereka sakit, dengan demikian mereka tidak mencari perawatan;

(3) sejumlah besar individu tersebut dikurung sebagai narapidana.

B.Jenis-jenis Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.[1]  Gangguan-gangguan kepribadian  disebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya.[2]

Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari (misalnya, dalam relasi sosial dan pekerjaan).[3]

Perlu juga diketahui bahwa: (1) kebanyakan individu yang menderita gangguan kepribadian tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, dan walaupun tetap dirawat, tetapi hanya dirawat sebagai pasien luar; (2) Banyak diantara orang orang tersebut tidak menganggap diri mereka sakit, dengan demikian mereka tidak mencari perawatan;

(3) sejumlah besar individu tersebut dikurung sebagai narapidana. Oleh karena itu pada statistik mereka digabung sebagai penghuni lembaga lembaga penjara. [4]

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa orang yang menderita gangguan-gangguan kepribadian memiliki pola tingkah laku yang maladaptif, tidak mampu menyesuaikan diri dan hal tersebut berlangsung lama. Pada dasarnya mereka tidak menyadari hal tersebut, karena mereka tidak merasa ada hal yang aneh dalam dirinya (merasa tidak sakit).

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of  Mental Disorders (DSM-IV) gangguan kepribadian dibagi ke dalam 3 kelompok besar, yaitu :

Kelompok A    :

Gangguan-gangguan pola kepribadian, orang-orang yang dianggap aneh atau eksentrik.  Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal;

Kelompok B    :

Kelompok ini terdiri dari gangguan kepribadian antisosisal;

Kelompok C   :

Gangguan-gangguan sifat kepribadian, orang yang sering kali tampak cemas dan ketakutan. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian menghindar, dan obsesif-kompulsif, dependen, histrionik, narsistik..[5]

1.Gangguan-gangguan pola kepribadian

a.Gangguan kepribadian Paranoid

Kepekaan tajam dalam hubungan hubungan antar pribadi yang disertai dengan kecenderungan untuk memproyeksikan perasaan perasaan curiga, cemburu yang extrem, dan iri hati dalam hubungan hubungan itu merupakan ciri yang sangat khas dari kepribadian paranoid. Ia juga hypersensitive, rigid (kaku), anxious (pecemburu) dan argumentatif (suka berdebat).[6]

Mereka cenderung melihat diri sendiri sebagai yang baik, yang tidak memiliki cacat, dan jarang mampu melihat kekurangan dirinya, meskipun dia tahu. Mereka juga sangat sensitif terhadap kritikan, baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Karena mereka hypersensitive, mereka akan cenderung tidak mempercayakan rahasia pribadi pada orang lain karena mereka yakin bahwa informasi pribadi akan digunakan untuk menyerang mereka.

b.Gangguan kepribadian Skizoid

Simtom utama gangguan kepribadian skizoid ialah tidak tertarik kepada orang lain atau hubungan hubungan sosial.[7] Dia sering sering kali digambarkan sebagai penyendiri atau eksentrik, ia juga kehilangan minat pada hubungan sosial serta jarang memberikan respons terhadap orang lain.

Boleh dikatakan bahwa orang yang memiliki gangguan kepribadian skizoid adalah orang yang selalu menyendiri, tidak mampu memasuki hubungan-hubungan antar pribadi yang hangat. Mereka tampak selalu menjaga jarak, dan sikap acuh tak acuh terhadap pujian, kritikan atau perasaan orang lain. Wajah mereka cenderung tidak menampilkan ekspresi emosional, dan mereka jarang bertukar senyum sosial atau salam.

c.Gangguan kepribadian Skizotipal

Individu yanng mengalami gangguan skizotipal memiliki ciri-ciri khas skizofrenia. Orang yang menderita gangguan ini memiliki kepercayaan-kepercayaan yang aneh, secara sosial aneh dan terisolasi atau memperlihatkan tingkah laku eksentrik atau khas atau tidak memberi perhatian sedikitpun terhadap penampilanya.

Tetapimeskipunsimtom-simtomituadanamunorang yang mengalamigangguankepribadianskizotipal tetap berada pada posisi normal dalam garis yang memisahkan orang-orang normal dari skizofrenia.

d.Gangguan Kepribadian Perbatasan (borderline)

Gangguan kepribadian ini ciri utamanya adalah ketidakstabilan yang berat dalam tingkah laku, emosi, identitas, dan hubungan hubungan antarpribadi. Ketidakstabilan tingkah laku kelihatan dalam tingkah laku impulsif, dalam seks, makan, penyalahgunaan zat zat (obat-obat), dan tindakan-tindakan yang merusak diri sendiri (langkah-langkah bunuh diri, misalnya).

Ketidakstabilan itu juga terlihat  pada emosi yang terjadi tiba- tiba dan menderita depresi. Jadi, individu ini tidak hanya mengalami suatu gangguan tunggal, tetapi mengalami berbagai gangguan yang kemudian dinamakan gangguan perbatasan.

2.Gangguan-gangguan Sifat Kepribadian

a.Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Karena dasarnya sama dengan psikopatologi, maka tipe gangguan sifat kepribadian ini dikelompokkan sebagai berikut: tipe pasif-dependen, tipe pasif-agresif, dan tipe agresif.

Tipe pasif-dependen

Ciri-ciri khasnya ialah tidak berdaya, tidak tegas dan tergantung pada orang lain. Apabila mereka dituntut untuk memikul tanggung jawab atau mengambil prakarsa, mereka segera cemas dan panik.

Tipe pasif-agresif

Sikap pasif mereka hampir sama dengan tipe pasif-dependen, namun orang orang ini memiliki pola agresi yang halus dan tak langsung pada hubungan mereka dengan orang lain, mengungkapkan kebencian dengan cara mencibir, bersungut-sungut, keras kepala, tidak efisien, membuang-buang waktu atau berlengah-lengah. Mereka sering kali menghalangi kegiatan orang lain yang berhubungan dengan diri mereka dengan melawan secara pasif.

Dalam dunia digital masa kini, mereka inilah yang disebut dengan haters oleh sebagian besar netizen.mereka adalah orang-orang yang mengujar kebencian terhadap sesuatu tidak secara langsung.

Tipe agresif

Simtom utama penderita gangguan ini adalah emosinya cenderung tidak stabil dan anti sosial, memperlihatkan ledakan-ledakan kemarahan, dan bertingkah laku merusak respons terhadap frustasi-frustasi yang kecil sekalipun. Reaksi mereka dapat berbentuk perasaan dendam yang tidak sehat atau patologik. Bentuk-bentuk agresi mereka secara terbuka ialah menyebarkan desas-desus dan dengki.

Penderita gangguan ini tidak segan-segan menunjukkan kebencian ataupun kemarahan pada setiap hal yang mereka temui, sering merasa frustasi dengan keadaan, walau sekecil apapun permasalahan yang dihadapinya.

b.Gangguan kepribadian Obsesif Kompulsif

Orang orang dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki kebutuhan yang tinggi akan kesempurnaan, tata tertib dan kontrol; kehidupan mereka dikuasai oleh sifat yang teratur dan disiapkan dengan baik. Perhatian mereka yang berlebihan terhadap hal hal yang terinci menyebabkan mereka tidak dapat melihat “gambaran yang luas” dan mereka mungkin menghabiskan begitu banyak waktu pada aspek suatu masalah yang tidak berarti dan tidak penting.

Orang orang yang mengalami gangguan kepribadian obsesif kompulsif tidak mampu mengadakan hubungan antar pribadi yang bermakna karena mereka sangat terikat pada usaha supaya pekerjaan mereka teratur dan tidak memiliki waktu untuk persahabatan. Obsesi mereka akan kontrol menyebabkan pribadi mereka kaku, tidak hangat dan tidak dapat merasakan persahabatan yang hangat dan akrab.

Dalam kehidupan sehari-hari, gangguan kepribadian ini sering disebut juga over-perfeksionis, di mana mereka sangat terpaku pada kebutuhan akan kesempurnaan sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu. Apa yang orang lain lakukan pasti gagal memenuhi harapan mereka, dan mereka memaksa diri untuk mengerjakan ulang pekerjaan tersebut.

c.Gangguan kepribadian yang menghindar (Avoidant)

Individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian yang menghindar sangat peka terhadap penolakan orang lain dan merasa terhina oleh penolakan itu. Karena mereka berpikir tentang penolakan, maka individu-individu ini menghindari hubungan dengan orang lain kecuali kalau ada jaminan bahwa mereka diterima tanpa dicela.

Individu dengan gangguan ini sebenarnya sangat ingin berelasi dengan orang lain, namun mereka malu dan sangat takut jika tidak diterima. Mereka juga memiliki perasaan rendah diri, tidak percaya diri, takut berbicara di depan publik atau meminta sesuatu dari orang lain. Mereka sering kali menyalah artikan komentar dari orang lain sebagai menghina atau mempermalukan dirinya

d.Gangguan kepribadian dependen

Individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian dependen membiarkan secara pasif orang lain mengambil keputusan yang penting untuk mereka. Ketidakmampuan individu-individu ini untuk mengambil keputusan dapat menyebabkan kecemasan dan depresi serta dapat mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu apabila mereka ditempatkan dalam peran-peran dan tugas-tugas yang memerlukan tanggung jawab atau kepemimpinan.

Dapat dikatakan pula sebagai  orang yang memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk  diasuh oleh orang lain. Hal ini membuat mereka sangat patuh dan melekat dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Mereka juga sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain.

e.Gangguan kepribadian histrionik

Ada tiga karakteristik individu yang mengalami gangguan kepribadian histrionik.  Pertama, orang seperti itu biasanya menarik mempesona, dan menggiurkan secara seksual. Namun bila orang orang lain mulai bersungguh-sungguh ia mundur dengan cepat. Kedua, individu ingin menjadi pusat perhatian dan sering bertindak dalam cara-cara yang sangat dramatis dan emosional untuk menarik perhatian.

Ketiga, walaupun memperlihatkan afek yang hebat, namun emosi dari individu histrionik sangat dangkal dan emosinya mungkin cepat sekali berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain atau dari positif ke negatif. Biasanya individu histrionik memiliki tingkah laku yang bersemangat , cenderung menonjolkan diri dan ekstrovert pada individu yang emosional dan mudah terstimulasi oleh lingkungan.

Namun, dia tidak mampu menciptakan hubungan yang mendalam dan menjaga hubungan dalam jangka waktu panjang.

f.Gangguan kepribadian narsisistik

Arketipe untuk gangguan kepribadian narsistik adalah Narcissus__sandiwara dalam mitologi Yunani__ yang jatuh cinta dalam bayangannya sendiri dalam kolam. Individu yang mengalami gangguan ini adalah orang yang merasa bahwa dirinya sangat penting dan ia dikuasai oleh fantasi-fantasi tentang keberhasilan, kekuasaan, kecerdasan, dan kecantikan.

Karena ia berfikir bahwa ia adalah orang yang istimewa, maka ia menuntut perhatian dan kekaguman terus menerus dari orang orang yang ada disekitarnya.

Individu ini memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian.

g.Gangguan kepribadian sadistik

Gangguan kepribadian sadistik digunakan untuk orang yang memperlihatkan suatu pola yang tetap untuk bersikap kejam dan agresif dalam respons terhadap orang lain. Individu yang mengalami gangguan ini memperoleh kesenangan dalam menyakiti atau menghina orang lain atau senang melihat serta terhibur oleh penderitaan orang orang lain.

h.Gangguan kepribadian yang merusak diri sendiri

Individu dengan gangguan ini cenderung menghindari atau mengabaikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan masuk ke dalam hubungan-hubungan atau situaasi-situasi dimana ia akan menderita dan tidak membiarkan orang lain membantunya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa orang ini kelihatanya mencari kegagalan. Beberapa ahli teori mengemukakan bahwa individu yang bertingkah laku merusak diri sendiri berusaha untuk menghukum dirinya sendiri.

Individu dengan gangguan ini memiliki rasa percaya diri yang sangat minor. Dia terlalu tidak percaya pada dirinya sendiri dan menganggap kegagalan bersumber dari dirinya. Individu ini sangat rentan dengan depresi, tidak mampu bangkit dari kondisi tersebut dan ujung-ujungnya dia akan melampiaskannya perasaan tertekannya dengan melukai dirinya sendiri. Individu dengan gangguan ini sangat memiliki kecenderungan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara-cara yang tragis.

3.Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan kepribadian anti sosial adalah sebutan diagnosis untuk masalah yang akan dibicaarakan dalam bagian ini, tetapi individu yang mengalami gangguan ini biasanya disebut sebagai orang yang psikopat atau sosiopat. Orang yang didiagnosis sebagai orang yang megalami gangguan kepribadian antisosial adalah orang yang tidak memiliki kematangan emosi, kurang memiliki pertimbangan dan rasa tangguang jawab, tidak mampu menilai akibat akibat dari tingkah laku.

a.Simtom

Simtom simtom gangguan kepribadian antisosial dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yakni simtom suasana hati, simtom kognitif dan simtom motor.

1)Simtom suasana hati

Simtom pertama yang sangat penting dalam gangguan kepribadian antisosial adalah tidak ada kecemasan atau rasa bersalah. Simtom kedua ialah orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial hedonist (mencari kesenangan). Simtom ketiga adalah kedangkalan perassaan perassaan dan tidak ada cinta emosional

2)Simtom kognitif

Sesuatu yang penting diketahui adalah orang yang mengalami gangguan kepribadian kelihatan sangat cerdas, memiliki keterampilan verbal dan sosial yang berkembang dengan baik dan memiliki kemampuan ini, maka kalau ia menemuai kesulitan maka dapat menemukan jalan keluar tapi merasionalisasikan tingkah laku yang tidak tepat sehingga kelihatanya masuk akal dan dapat dibenarkan.

3)Simtom motor

Karena orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial tidak cemas, maka ia bertinngkah laku impulsif. Suatu hal yang menarik dari tingkah lakunya mencari sensasi yang tinggi. Orang dengan gangguan kepribadian ini melakukan kegiatan kegiatan yang berbahaya.

b.Penyebab

Tiga pendekatan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan kepribadian antisosial, yakni pendekatan psikodinamik, pendekatan belajar, penddekatan fisiologis. Ketiga pendekatan itu akan dibahas secara rinci dalam bagian ini.

1)Pendekatan Psikodinamik

Terdapat dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisosial. Pertama, menggunakan pendekaatan struktural dari Freud terhadap kepribadian beberapa ahli mengemukakan karena kurang cemas dan kurang merasa bersalah karena ia tidak mengembangkan superego yang kuat.

Kedua, penjelasan psikoanalisis mengemukakan karena telah melekat pada tahap awal perkembangan psikoseksual artinya disebabkan karena kebutuhan kebutuhan akan cinta, dukungan dan penerimaan tidak dipuaskan oleh orang tuanya dan kegagalan dalam memuaskan kebutuhan kebutuhan ini menghalangi perkembangan ke tahap tahap berikuttnya.

2)Pendekatan belajar

Ada dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisosial, yakni teori kekurangan dalam pengondisian klasik dan teori penghindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Teori kekurangan dalam pengondisian klasik. Mengemukakan bahwa orang yang menderita gangguan antisosial tidak cemas karena ia tidak mampu mengembangkan respons respons kecemasan yang terkondidi secara klasik kurang (lemah).

Teori penghindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Mengemukakan bahwa anak anak itu menghindari hukuman yang menyusul tingkah laku yang tidak tepat dan dengan demikian menghindari kecemasan dan melenyapkan kekangan kekangan terhadap tingkah laku yang buruk.

3)Pendekatan fisiologis

Mengemukakan bahwa orang orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial disebabkan oleh “rangsangan neurologis yang kurang”. Rangsangan neurologis yang kurang itu digunakan untuk menjelaskan kecemasan yang relatif kurang yang kelihatan pada orang orang yang mengalami gangguan tersebut. Rangsangan elektrokortikal. Ini mengacu pada tingkat tingkataktivitas listrik pada otak dan aktivitas diukur dengan rekaman-rekaman EEG. Genetika.

Dalamkebanyakanpenelitian yang telahdifokuskan, padaherita- bilitasgangguankepribadianantisosial, tingkah

kriminal digunakan sebagai ukuran gangguan tersebut. Tetapi tingkah laku kriminal bukan satu satunya ukuran untuk gangguan itu dan karena tingkah laku kriminal bukan suatu ukuran yang baik, maka hasil hasil dari penelitian akan menyimpang.

4.Gangguan-gangguan Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ketergantungan dan penyalahgunaan zat merupakan bentuk lain dari gangguan kepribadian. Pada umumnya, mereka yang melakukan penyalahgunaan zat dan mengalami ketergantungan, memiliki gangguan kepribadian. Ada beberapa kategori ketergantungan dan penyalahgunaan zat, diantaranya :

a.Diagnosis Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ketergantungan zat psikoaktif, ditunjukkan dengan simtom-simtom di bawah ini :

Individu tidak dapat mengontrol penggunaan obat / zat tersebut;

Individu mengalami deteriorisasi tingkah laku; dan,

Individu mengalami simtom-simtom putus zat.

Penyalahgunaan zat psikoaktif, yaitu perilaku maladaptive yang dilakukan oleh seseorang akibat dari penyalahgunaan obat, dan bukan merupakan ketergantungan (kecanduan). aksi kebut-kebutan dalam kondisi mabuk, depresi dan memilih untuk mengonsumsi alkohol sebagai pelarian.

Gangguan mental organik disebabkan oleh terlalu banyak dari zat psikoaktif (psikotoksik). Contoh : penggunaan obat batuk cair dalam dosis tinggi dan jumlah yang banyak dapat

efek nge-fly (mabuk) dan halusinasi hebat dalam jangka waktu sampai berjam-jam. [9]

Jika ditilik lebih dalam,  diagnosis pertama adalah kondisi terparah dari gangguan mental akibat ketergantungan zat, dimana individu sudah tidak mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri. Perilaku ini cenderung lebih sulit disembuhkan, kecuali dengan rehabilitasi dan berada di lingkungan yang terisolir. Bahkan, bila tidak segera mendapatkan tindakan dapat berakibat fatal.

Dengan toleransi yang makin berkembang bukan tidak mungkin individu akan overdosis dalam penggunaan obat untuk efek yang dia inginkan, hal ini tidak jarang dapat menyebabkan kematian.

Pada diagnosis yang kedua dan ketiga, individu melakukan perilaku yang maladaptive dan kadang berbahaya, namun ada kemungkinan dapat disembuhkan lebih mudah karena individu masih memiliki control penuh atas dirinya, setelah efek obat tersebut berakhir.

b.Penyebab Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk menggunakan zat psikoaktif, yaitu : 1) ekspose media tentang zat psikoaktif; 2) faktor situasi individu, misalnya individu yang mengalami gangguan insomnia cenderung akan mengkonsumsi pil tidur dengan dosis berlebihan;

3) Karakteristik keluarga pada masa kanak-kanak; 4) faktor kepribadian antisosial dan depresif; 5) faktor genesis dan lingkungan (fisiologis).Menurut penelitian, Faktor lingkungan memiliki dampak yang sangat signifikan. Seseorang yang tinggal di lingkungan kondusif, memiliki kecenderungan jauh dari perilaku maladaptif dan penyalah gunaan zat psikoaktif, atau sebaliknya.[10]

c.Berbagai Macam Zat Psikoaktif dan Masalah yang timbul Akibat Ketergantungan dan Penyalahgunaannya

Ketergantungan terhadap pemakaian narkoba ini sangat berbahaya dikarenakan beberapa hal di bawah ini :

Otak dan syaraf dipaksa untuk bekerja di luar kemampuan yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak wajar.

Peredaran darah dikarenakan pengotoran darah oleh zat-zat yang mempunyai efek yang sangat keras, akibatnya jantung di rangsang untuk bekerja di luar kewajiban.

Pernapasan tidak akan bekerja dengan baik dan cepat lelah.

Penggunaan lebih dari dosis yang dapat ditahan oleh tubuh akan mendatangkan kematian secara mengerikan.

Timbul ketergantungan baik rohani maupun jasmani sampai timbulnya keadaan yang serius karena putus obat.[11]

Berdasarkan efeknya, zat psikoaktif dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu :

1)Depresan (Alkohol, Barbiturat dan Benzodiazepin)

Alkohol yang diminum berpengaruh pada penglihatan dan kesadaran, mengganggu kemampuan kognitif, meninggalkan alkohol dapat mengalami simtom putus alkohol berupa  traumatis yang berat hingga berujung kematian. Simtom putus alkohol yang pertama adalah agitasi dan kontraksi otot yang tidak terkendali, selanjutnya akan merasa mual, muntah dan bercucuran keringat disertai delirium.

Penggunaan barbiturate pada dosis tertentu akan menimbulkan efek simtom putus barbiturate. Simtom-simtomnya biasanya meliputi tremor, tegangan, kehilangan control motor, mual-mual, delirium berupa penglihatan dan pendengaran, dan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan kematian.

Narkotika (opium, morphin dan heroin)

Mereka yang terbiasa memakai zat yang berasal dari opiat umumnya mempunyai sugesti tinggi untuk menginginkannya terus menerus. Gejala lainnya adalah cemas, sulit tidur, tak punya nafsu makan, tak berani menatap mata lawan bicara dan seringkali disertai tindak kekerasan.[12]

Pemakaian dalam waktu lama akan menyebabkan ketergantungan dan toleransi dari ketiga obat ini semakin lama semakin meningkat. Simtom pertama putus opiate adalah gelisah yang memicu agitasi dan kekerasan disertai panas dingin dan sesak nafas. Individu tidak dapat mengontrol motorik tubuh, kejang otot yang menyakitkan, diare dan berkeringat banyak. Individu menjadi lebih agresif dan cenderung berlaku bengis, berusaha melakukan apa saja untuk mendapatkan zat psikoaktif ini.

Pada dosis yang tinggi dia bisa menyayat-nyayat tangan dan meminum darahnya sendiri, karena darah itu telah bercampur dengan zat opiate. Simtom tingkat akhir adalah mengeluarkan busa dari mulut, gagal jantung dan kematian.

2)Stimulan (amfetamin, kokain, kafein, nikotin)

Penggunaan amfetamin dosis tinggi dapat menyebabkan euphoria berujung tingkah depresif, pembuluh darah otak juga bisa pecah karena tekanan darah meningkat drastis, mengalami simtom delusi seperti skizofrenia paranoid, dan cenderung berperilaku agresif.

Simtom-simtompenggunakokain yaitu dapat menyebabkan kerusakan yang berat pada membran lendir dan dapat menyebabkan kematian. penggunaan kafein dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan agitasi, tegangan, iritabilitas, meningkatnya denyut jantung, kehilangan selera makan dan sakit kepala.

Efek nikotin dalam jangka waktu yang lama yaitu tremor otot, penyempitan pembuluh darah dalam kulit dan memicu beberapa penyakit seperti kanker paru-paru, jantung dan pembuluh nadi koroner.

3)Halusinogen (canabis, LSD, psilobin dan maskalin)

Ganja umumnya relatif jarang menimbulkan sugesti ketagihan. Sementara efek LSD pada kesehatan bisa mengganggu sistem pernafasan dan otak, terkena halusinasi dan menjadi paranoid. [13] Pengguna halusinogen dalam dosis tinggi menyebabkan perilaku maladaptif yang sangat merugikan. Misalnya, dia bisa saja melompat dari jendela atau atap gedung karena berhalusinasi bisa terbang.

Oleh karena itu, meskipun cenderung tidak menimbulkan efek ketagihan, namun halusinasi yang ditimbulkan sangat berbahaya. Apabila diteruskan maka lama-kelamaan akan merusak sistem kerja otak, mematikan pandangan terhadap kenyataan dan tidak jarang berakibat kematian.

 

[1] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene, Psikologi Abnormal : Edisi ke lima jilid I, (Jakarta : Erlangga, 2005), hlm. 273

[2] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.17

[3] Fitri Fausiah, dan Julianti Widury, Psikologi Abnormal : Klinis Dewasa, (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2008) hlm. 142

[4] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.18

[5] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene, Op.Cit. hlm. 273

[6] Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Psikologi Abormal, (Bandung  : PT Refika Aditama,  2007), cet. 2, hlm. 117

[7] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.

[8] Yustinus Semium, Kesehatan mental 2, (yogyakarta : kanisius, 2006), hlm 43

[9]Yustinus semium, Kesehatan mental 2. (yogyakarta : kanisius, 2006). hlm .18-135

[10] Yustinus semium, Kesehatan mental 2, (yogyakarta : kanisius, 2006), hlm 121-124

[11] Fransiska Novita Eleanora, Jurnal Hukum, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (suatu tinjauan teoritis) Vol XXV, No. 1, April 2011. Jakarta:  FH Universitas MPU Tantular

[12]  Topo Santoso dan Anita Silalah.Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I .2000. hal. 37 – 45

[13] Topo Santoso dan Anita Silalah.Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I .2000. hal. 37 – 45

Contoh Penutup

Source : My Archive

Setelah pembahasan selesai maka step terakhir dari Contoh Makalah Yang Baik dan Benar adalah membuat penutup. Penutup ini berisikan ringkasan-ringkasan dari pembahasan makalah yang sudah dituangkan dalam pembahasan. Jangan lupa pula Best Jobbers untuk membuat daftar pustaka yang berisikan literatur-literatur yang menjadi sumber referensi anda semua dalam menyusun makalah.

Kesimpulan

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.

Jenis-jenis Gangguan Kepribadian :

Gangguan-gangguan pola kepribadian : gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian skizoid , gangguan kepribadian skizotipal, gangguan kepribadian perbatasan (borderline).

Gangguan-gangguan Sifat Kepribadian : gangguan kepribadian pasif-agresif (tipe pasif-dependen, tipe pasif-agresif, tipe agresif), gangguan kepribadian obsesif kompulsif, gangguan kepribadian yang menghindar (avoidant), gangguan kepribadian dependen, gangguan kepribadian histrionik, gangguan kepribadian narsisistik,gangguan kepribadian sadistik, gangguan kepribadian yang merusak diri sendiri.

Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan-gangguan seksual : homoseksualitas, parafilia, disfungsi-disfungsi seksual, gangguan identitas gender

Gangguan-gangguan Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Diagnosis Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat : ketergantungan zat psikoaktif, penyalahgunaan zat psikoaktif, gangguan mental organik.

Penyebab Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat : ekspose media, faktor situasi, Karakteristik keluarga, faktor kepribadian antisosial dan depresif, faktor genesis

Berbagai Macam Zat Psikoaktif : Depresan,Narkotika, Stimulan, Halusinogen

DAFTAR PUSTAKA

  1. Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Psikologi Abormal. cet. 2. Bandung: PT Refika Aditama

Eleanora, Fransiska Novita. 2011. Jurnal Hukum, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (suatu tinjauan teoritis) Vol XXV, No. 1.Jakarta:  FH Universitas MPU Tantular

Fausiah, Fitri dan Julianti Widury. 2008. Psikologi Abnormal: Klinis Dewasa. Jakarta : UI-Press

Nevid, Jeffrey S, Spencer A. Rathus dan Beverly Greene. 2005 . Psikologi Abnormal : Edisi ke lima jilid I, Jakarta : Erlangga.

Santoso, Topo dan Anita Silalah. 2000.  Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I

Semium, Yustinus.2006.Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar seperti itu bisa Best Jobbers semua dapatkan gambaran utuh dengan cara mendownload file yang sudah kami sediakan. Caranya, klik tombol download di bawah ini. Selamat mencoba, semoga sukses !


atau di sini