Categories
makalah

Contoh Makalah Doc

Contoh Makalah Doc – Halo, best jobbers. Salam jumpa dalam portal ilmiah https://bestjobaroundtheworld.com.

Dalam kesempatan kali ini saya akan mengajak Best Jobbers semua untuk kembali membuat karya ilmiah yang menjadi kebutuhan utama kaum intelektual.

Yups apalagi kalau bukan makalah. dalam membuat makalah, format yang sering digunakan adalah bentuk dokumen atau doc. Oleh karena itu, kali ini saya akan mengangkat judul Contoh Makalah Doc untuk artikel saya ini.

Contoh makalah doc ini merupakan makalah asli yang saya buat bersama kawan-kawan saya. Contoh makalah doc ini juga memberikan sumber referensi yang jelas.

Kami sertakan pula footnote dan daftar pustaka, karena memang menjadi syarat utama dalam membuat contoh makalah doc.

Dalam menyusun contoh makalah doc ini saya sedapat mungkin menghindari plagiasi. Mengapa demikian??? Tentu saja karena saya menginginkan hasil yang optimal yang nantinya dapat bermanfaat bagi Best Jobbers semua.

Sehingga dapat Best Jobbers gunakan sebagai salah satu sumber referensi yang jelas. Tak lupa, di akhir artikel ini saya cantumkan pula link download untuk contoh makalah doc  yang otentik.

Di dalam contoh makalah doc  yang otentik ini, semua teori dan materi dapat Best Jobbers jadikan sebagai referensi untuk pembuatan karya ilmiah anda semua.

Kami menggunakan sumber yang jelas dari buku-buku maupun literatur-literatur yang ada dan terverifikasi. Jadi, portal ini akan memudahkan anda untuk membuat sebuah karya ilmiah.

Tanpa menunggu lama lagi, mari kita simak ulasan di bawah ini.

Baca juga : Contoh Makalah Sederhana, Contoh Makalah Singkat

Contoh Makalah Doc Bertema Pendekatan  REBT

contoh makalah doc
source : Irvanhermawanto

Seperti yang telah dijelaskan diatas, membuat makalah biasanya menggunakan format doc atau dibuat dalam software Microsoft Word. Kenapa demikian? Karena software ini sangat familiar digunakan di Indonesia.

Oleh karena itu contoh makalah doc akan sangat membantu anda dalam membuat tugas makalah. Selain itu materi-materi yang saya tuliskan juga dapat anda semua jadikan referensi.

Hal tersebut  karena mengambil teori-teori yang berasal dari sumber yang jelas. dalam artikel ini saya membuat contoh makalah doc dengan tema pendekatan REBT.  Mari Best Jobbers semua kita simak contoh makalah doc di bawah ini.

Contoh Cover Makalah

source : My Archive

Membuat suatu karya ilmiah harus mengikuti prosedur-prosedur yang ada. Ada tata cara dan urutan yang telah ditentukan. Bagian paling awal dalam membuat suatu karya ilmiah adalah membuat cover.

Dalam contoh makalah doc ini, anda dapat melihat cover makalah yang baik seperti contoh  dalam gambar.

Bab I. Pendahuluan

Setelah membuat cover, kita hrus membuat isi dari makalah. Makalah merupakan karya ilmiah sederhana. Setiap makalah berisi 3 bab. Bab I merupakan bagian pendahuluan.

Pada bab I mengulas tentang latar belakang masalah yang diangkat sebagai tema. Latar belakang menjelaskan tentang mengapa penulis mengangkat tema tersebut, apa urgensinya?

Selain itu, latar belakang juga menjadi pijakan teori yang nantinya akan kita abahas pada bab II. Di bawah ini adalah contoh latar belakang

Latar belakang

Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. Pendekatan ini dipelopori oleh Elbert Ellis.

Pandangan dasar tentang manusia dalam pendekatan ini menyatakan bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang didapat melalui belajar sosial.

Disamping itu, individu juga memiliki kapasitas belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.  Pada waktu  berpikir  dan  bertingkah laku  rasional  manusia  akan menjadi individu yang efektif, bahagia, dan kompeten.

Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi,  interpretasi,  dan  filosofi  yang  disadari  maupun  tidak  disadari.

Hambatan psikologis  atau  emosional  adalah  akibat  dari  cara  berpikir  yang  tidak  logis  dan irasional.

Hambatan psikologis  atau  emosional ini akan selalu   menyertai  individu  yang  berpikir  dengan  penuh  prasangka,  sangat personal,  dan  irasional. Berpikir  irasional  diawali  dengan  belajar  secara  tidak  logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan.

Berpikir secara irasional akan  tercermin  dari  penggunaan verbalisasi oleh individu.

Rumusan masalah

Apa yang dimaksud dengan pendekatan REBT?

Bagaimana sejarah REBT?

Bagaimana Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT?

Bagaimana Konsep Dasar REBT?

Apa Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy?

Apa Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT?

Bagaimana Teknik dan Tahapan REBT?

BAB II. PEMBAHASAN

Perspectives of Troy

Inti dari contoh makalah doc dalam artikel ini terdapat pada bab II. Pada bab II ini, semua teori dikomparasikan membentuk suatu pembahasan yang ilmiah.

Penulis dituntut untuk membuat analisa dari teori-teori yang diambil dari literatur yang telah dihasilkan oleh para pakar.

Pengertian Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan psikologis yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran.

Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCD.[1]

Menurut Corey, terapi REBT adalah pemecahan masalah yang fokus pada aspek berpikir, menilai, memutuskan, direktif tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.[2]

Menurut W.S. Winkel, REBT merupakan pendekatan konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dengan akal sehat, berperasaan dan berperilaku, serta menekankan pada perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dan berperasaan yang berakibat pada perubahan perasaan dan perilaku.[3]

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, REBT merupakan terapi yang berusaha menghilangkan cara berpikir klien yang tidak logis, menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional .

Konselor  mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya serta menyerang, menentang, mempertanyakan, dan membahas keyakina-keyakinan yang irasional.

Sejarah REBT

REBT adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tengah tahun 1950-an. Pendekataan ini menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku.

Pada awalnya pendekatan ini disebut dengan Rational Therapy. Kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational Emotive Therapy padat ahun 1961.

Lalu pada tahun 1993 Ellis mengumumkan bahwa ia mengganti menjadi Rational Emotive Behavior Therapy. REBT merupakan pendekatan kognitif-behavioral.

Dalam proses konselingnya, REBT berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi REBT menekankan bahwa tingkah laku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga focus penanganan pada pendekatan REBT adalah pemikiran individu.

Kata rational yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berpikir yang efektif dalam membantu diri sendiri bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis.

Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada penilaian individu berdasarkan keinginan atau pilihannya atau berdasarkan emosi dan perasaannya.

Ellis memperkenalkan kata behavior pada pendekatan REBT dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan.[4]

Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT

Pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem peraasaan.

Sistem berfikir dan sistem peraasaan ini saling berkaitan dalam sistem psikis individu. Individu berfungsi secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut :

Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir. Ia dapat berpikir  rasional dan irasional

Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya

Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional

Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbaling) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akan permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri

Individu berpotensi mengubah arah hidup personal maupun sosialnya

Pikiran dan perasaan yang negatif merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali pesepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional (George & Cristiani, 1990, p,82-83).[5]

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia tergambar dalam Quation dari Epictetus yang dikutip oleh Eliis :

Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them”. (manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karen pandangan terhadap sesuatu).

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia, melekat oada epistemology atau theory of knowledge, dialectic, atau sitem berpikir, sistem nilai dan prinsip etik.

Secara epistimology, individu diajak mencari cara yang reliabel dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menetukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris.

Secara dialetik, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis itu tidak mudah. Kebanyakan individu cenderung ahli dalam befikir tidak logis.

Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah :

saya harus sempurna

saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!

Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.

Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit daam filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan,

yaitu : 1) nilai untuk bertahan hidup (survival) , 2) nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisirkan stres emosional  dan tingkah laku yang merusak diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia.

Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu.

Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut. [6]

Selanjutnya, manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental, yaitu: untuk bertahan hidup (to survie), untuk bebas dari kesakitan (to be relatively free from pain), dan untuk mencapai kepuasan (to be reasonably satisfied or content.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) juga berpendapat bahwa individu adalah makhluk hedonistik, dimana tujuan utama hidupnya  adalah  kesenangan dan bertahan hidup.

Hedonisme dapat diartikan sebagai pencarian kenikamatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonisme khusus yang membutuhkan perhatian adalah penghindaran terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan.

Dalam Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerence (LFT), individu yang memiliki LFT terlihat dari pernyataan-pernyataan verbalnya seperti: ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.

Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu :

Dicintai dan disetujui oleh orang lain adalah sesuatu yang sangat esensial

Untuk menjadi orang yang berharga, individu harus kompeten dan mencapai setiap usahanya

Orang yang tidak bermoral, kriminal dan nakal merupakan pihak yang harus disalahkan

Hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila segala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan

Ketidakbahagiaan merupakan hasil dari peristiwa eksternal yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri

Sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan harus selalu diingat dalam pikiran

Lari dari kesulitan dan tanggung jawab lebih mudah daripada menghadapinya

Seseorang harus memiliki orang lain sebagai tempat bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat yang dapat menjadi tempat bersandar

Masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa diubah

Individu bertanggung jawab atas masalah dan kesulitan yang dialami oleh orang lain

Selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah. Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang benar merupakan bencana.

Ellis berpendapat bahwa secara natural berpikir irasional dan memiliki kecenderungan merusak diri (self-derecting behavior), oleh karena itu individu memerlukan bantuan untuk berpikir sebaliknya.

Namun Ellis juga mengatakan bahwa individu memiliki cinta dan menolong orang lain selama mereka tidak berpikir irasional. Untuk menjelaskannya dalm lingkaran berpikir irasional (the circle of irational thingking).

Berpikir irasional mengarah kepada kebencian terhadap diri (self-hate). Self hate mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri (self distructed behavior).

Setelah itu  individu akan membenci orang lain sehingga pada akhirnya menyebabkan bertindak irasional kepada orang lain.  Pola yang demikian terjadi  secara terus menerus mengikuti lingkaran tersebut. [7]

Konsep Dasar REBT

Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasa REBT yang dapat dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:

Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berineraksi dan mempengaruhi satu sama lain

Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan

Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain disekitarnya.

Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah laku. Individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu selalu menciptakan keyakinan yang irasional mengenai kejadian tersebut.

Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu.

Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya

Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-defeating behavior).

Proses Berpikir

Menurut pandangan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) individu memiliki tiga tingkatan berpikir, yaitu berpikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences), mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation), dan keyakinan terhadap proses inferences dan evaluasi (core belief).

Menurut Ellis, yang menjadinya sumber terjadinya masalah-masalah emosional adalah evaluative belief. Dalam  istilah Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), evaluative belief adalah irational belief  yang dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu

Demands (tuntutan) adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan absolut terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenali dengan kata-kata seperti, harus, sebaiknya, dan lebih baik.

Awfusiling adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.

Low frustaion tolerance (LFT) adalah kelanjutan dari tuntutan untuk selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan.

Global evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bermakna individu dapat diberi peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi bebrapa orang lebih buruk atau tidak berharga dari yang lain.

Ellis membagi pikiran individu dalam iga tingkatan, yaitu: dingin (cool), hangat (warm), dan panas (hot), yang mengilustrasikan bagaimana emosi terintregasi dalam pikiran.

Pikiran dingin (cool) adalah pikiran yang bersifat deskriptif dan mengandung sedikit emosi, sedangkan pikiran yang hangat (warm) adalah pikiran yang mengarah pada suatu preferensi atau atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung unsur evaluasi yang mempengaruhi pembentukan perasaan.

Adapun pikiran yang panas (hot) adalah pikiran yang mengandung unsur evaluasi yang tinggi dan penuh dengan perasaan.

Rasionalitas Sebagai Filosofi Personal (Rationality as a Personal Philosopy)

RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) membantu individu untuk mengembangkan filosofi hidup yang baru yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan kebahagiaan.

Pandangan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) bahwa individu dapat memilih untuk menyakiti diri sendiri dengan pikiran yang tidak logis dan tidak ilmiah aau mengembangkan kebahagiaan hidup dengan berpikir rasional berdasarkan bukti-bukti dan fakta.

Tujuan-tujuan prinsip rasional adalah untuk meningkakan keyakinan dan kebiasaan yang sesuai dengan prinsip untuk bertahan hidup, mecapai kepuasan dalam hidup, berhubungan dengan orang lain dengan cara positif, dan mencapai keterlibatan yang intim dengan beberapa orang.

Teori ABC

Teori ABC adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang pendekatan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT), kemudian ditambahkan D dan E mengakomodasi perubahan dan hasil yang diiginkan dari perubahan tersebut.

Selanjutnya, ditambahkan G yang diletakkan di awal untuk memberikan konteks pada kepribadian individu:

G: (goals) atau tujuan-tujuan yaitu tujuan fundamental

A: (activating evens in a person’s life) atau kejadian yang mengaktifkan atau mengakibatkan individu

B: (beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasional

C: (consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah laku

D: (disputing irrational belief) atau membantah pikiran irasional

E: (effective new philosophy of life) atau mengembangkan filosofi hidup baru yang lebih efektif

F: (further action/new feeling) atau aksi yang akan dilakukan lebih lanjut dan perasaan baru yang dikembangkan.[8]

Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy

Ciri-ciri tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Dalam menelusuri masalah, konselor berperan lebih aktif dibandingkan klien.

Maksudnya adalah konselor harus melibatkan diri dalam proses konseling dengan bersikap efektif, memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien serta bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah klien sesuai dengan keinginan dan disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam proses hubungan konseling harus tetap diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengan klien.

Sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan sangat berpengaruh dalam suksesnya proses konseling karena dapat menciptakan proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.

Hubungan baik ini dapat dipergunakan oleh konselor untuk membantu mengubah cara berfikir klien yang irasional menjadi rasional.

Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.[9]

Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT

Tujuan Konseling

Tujuan utama konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah membantu individu menyadari bahwa mereka dapt hidup dengan lebih rasional dan lebih produktif.

Secara lebih gamblang, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengajarkan individu untuk mengevaluasi kesalahan berfikir.

Hal tersebut diperlukan untuk mereduksi emosi yang tidak diharapkan, selain itu Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) membantu individu untuk mengubah kebiasaan berfikir dan tingkah laku yang merusak diri.

Secara umum, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mendukung konseli untuk menjadi lebuh toleran terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

Ellis dan Benard (1986) mendiskripsikan beberapa sub dan tujuan yang sesuai dengan nilai dasar pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).

Sub tujuan ini dapat membantu individu mencapai nilai untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). tujuan tersebut adalah :

Memiliki minat diri (self interest)

Memiliki minat sosial (social interest)

Memiliki pengarahan diri (self direction)Toleransi (tolerance)

Fleksibel (flexibility)

Memiliki penerimaan (acceptance)

Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)

Dapat menerima diri sendiri (self acceptance)

Dapat mengambil resiko (risk taking)

Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation)

Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi

Memiliki tanggung jawab pribadi

Peran dan Fungsi Konselor

Berikut ini adalah peran konselor dalam pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT):

Aktif Direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk memberikan penjelasan terutama pada awal konseling

Mengkonfrontasi fikiran irasional konseli secara langsung

Menstimulus konseli dengan berbagai teknik untuk berfikir dan mendidik kembali diri konseli sendiri

Secara terus menerus ”menyerang” pemikiran irasional koseli

Mengajak konseli untuk mengatasi maslah ya dengan kekuatan berfikir bukan emosi

Bersifat didajtif (George & Cristiani, 1990, p.86).

Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) banyak didominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal.

Oleh karena itu,  dalam melaksanakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), konselor diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena.

Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan untuk membangun hubungan konseling.

Adapaun keterampilan konseling yang harus dimiliki konselor yang akan menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), adalah sebagi berikut:

Empati (empathy)

Menghargai (Respect)

Ketulusan (gemuineness) [10]

Teknik dan tahapan REBT

Teknik-teknik Rational Emotive Behaviour Therapy

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. teknik-teknik Rational Emotive Behavior Therapy sebagai berikut :

Teknik-Teknik Kognitif

Teknik-teknik kognitif digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik kognitif:

Tahap Pengajaran

Dalam REBT, konselor mengambil peranan yang  lebih aktif. Tahap ini memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.

Tahap Persuasif

Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Dan Konselor juga mencoba meyakinkan, berbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.

Tahap Konfrontasi

Konselor mengubah cara berpikir klien yang tidak logis dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logika.

Tahap Pemberian Tugas

Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.

Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat jika mereka merasa dikucilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.[11]

Teknik-Teknik Emotif

Teknik-teknik emotif  digunakan untuk mengubah arah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:

Teknik Sosiodrama

Konselor memberi peluang kepada klien untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang menekan dirinya melalui suasana yang didramatisasikan.

Dengan demikian, klien dapat secara bebas mengungkapkan emosi dalam dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis. [12]

Teknik Self Modelling

Konselor meminta klien berjanji untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya.

Teknik Assertive Training

Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.

Teknik-Teknik Behaviouristik

Terapi Rasional Emotif banyak menggunakan teknik behavioristik terutama dalam hal upaya modifikasi perilaku negatif klien, dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:

Teknik reinforcement

Teknik reinforcement (penguatan), yaitu: untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis denagn jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).

Teknik ini dimaksudkan untuk mengubah sistem nilai-nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang lebih positif.

Teknik social modeling (pemodelan sosial)

Teknik social modeling (pemodelan sosial), yaitu teknik untuk membentuk perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan.

Model sosial yang dimaksud dapat dilakukan dengan cara mutasi (meniru), mengobservasi dan menyesuaikan dirinya maupun  menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan konselor.

Teknik live models

Teknik live models (mode kehidupan nyata), yaitu teknik yang digunakan untuk menggambar perilaku-perilaku tertentu seperti situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapanpercakapan sosial, interaksi dengan memecahkan maslah-masalah.[13]

Langkah-langkah atau tahap dalam  Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional.

Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk membantu mengatasi permasalahannya.

Dalam proses konseling dengan pendekatan REBT terdapat beberapa tahap yang dikerjakan oleh konselor dan konseli.[14]

Untuk mencapai tujuan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) konselor melakukan langkah-langkah konseling antara lainnya :

Langkah pertama

Menunjukkan pada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai sikapnya yang menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukkan banyak keharusan, sebaiknya dan semestinya klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinannya yang rasional dan keyakinan irasional, agar klien mencapai kesadaran.

Langkah kedua

Membawa klien ketahapan kesadaran dengan menunjukan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosionalnya untuk tetap aktif dengan terus menerus berfikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang dengan kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan mengabadikan masa kanak-kanak, terapi tidak cukup hanya menunjukkan pada klien bahwa klien memiliki proses-proses yang tidak logis.

Langkah ketiga

Berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irasional. Maksudnya adalah agar klien dapat berubah fikiran yang jelek atau negatif dan tidak masuk akal menjadi yang masuk akal.

Langkah keempat

Adalah menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupanya yang rasional, dan menolak kehidupan yang irasional. Maksudnya adalah mencoba menolak fikiran-fikiran yang tidak logis untuk masuk dalam dirinya.[15]

BAB III. PENUTUP

source : Inc.com

Bab III merupakan kesimpulan dari apa yang telah diuraikan di bab II. Dengan demikian contoh makalah doc ini sudah lengkap. Cantumkan pula daftar pustaka yang berisi tentang literatur-literatur yang dijadikan sumber.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.

Ketika  berpikir  dan  bertingkahlaku  rasional  manusia  akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir danbertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.

Dalam pendekatan Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) yang dipelopori oleh Albert Ellis ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Pada teknik kognitif terdapat tahap pengajaran, persuasif, konfrontasi dan pemberian tugas.

Pada teknik emotif terdapat teknik sosiodrama, self modeling, assertive training. Pada teknik behavioristic terbagi menjadi teknik reinsforcemen, teknik social modeling, dan teknik lives models.

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional. Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Eresco.

Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks.

Natawidjaya, Rochman. 2009. Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi Press.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Teori Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Surya, Muhammad. 2003. Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Winkel, W.S. 2007. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia.

Oke, Best Jobbers demikian contoh makalah doc ini saya buat.

Semoga dapat menambah khazanah keilmuan kita semua. Sebelum saya akhiri silahkan download file aslinya dengan klik link di bawah ini untuk mendapatkan format yang lebih sesuai dengan aturan.

download link

Contoh Makalah Yang Benar

       [1]Gantina Komalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT Indeks, 2011), hlm. 201.

       [2]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: PT. Eresco, 1988), hlm. 156.

       [3]W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan (Jakarta: PT. Gramedia, 2007), hlm. 364.

       [4]Gantina Komalasari dkk, Teori dan teknik konseling,… hlm. 201-202.

       [5]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.203

       [6]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.204

       [7]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.205

       [8]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 207-211.

       [9]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.89.

       [10] Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 213-214.

       [11]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985), hlm. 91-92

       [12] Rochman Natawidjaya, Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan (Bandung: Rizqi Press, 2009), hal. 288

       [13]Muhammad Surya, Teori-teori Konseling (Bandung Pustaka Bani Quraisy, 2003),

       [14]Gantina Komalasari,dkk, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 215.

       [15]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konselig,… hlm. 246.

Categories
Karya Tulis makalah

Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Sederhana – Hallo Best Jobbers, salam sejahtera untuk kita semua. Makalah merupakan salah satu bentuk karya ilmiah wajib bagi pelajar dan mahasiswa.

Bagi pelajar yang duduk di bangku SMA/SMK, makalah sudah menjadi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang wajib dikerjakan. Biasanya, siswa SMA/SMK disuruh untuk membuat contoh makalah sederhana oleh guru.

Para siswa disuruh membuat contoh makalah sederhana, disesuaikan dengan kemampuan intelegensi.

Siswa SMA/SMK membuat contoh makalah sederhana, selain sebagai tugas wajib tetapi juga untuk mempersiapkan diri apabila mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi.

Saat mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, makalah adalah hal wajib yang setiap pertemuan harus ada. Mahasiswa tidak lagi membuat contoh makalah sederhana, tetapi diwajibkan membuat makalah yang berdasarkan penelitian.

Berikut saya berikan kepada Best Jobbers semua contoh makalah sederhana. Jangan lupa untuk download file contoh makalah sederhana dalam bentuk dokumen Microsoft Word di link yang sudah saya sediakan diakhir artikel contoh makalah sederhana ini. Simak yaa….

Baca juga : Contoh Makalah Singkat  Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Sederhana Dengan Tema Psikologi Behavioral

contoh makalah sederhana
Source : FIA UB – Universitas Brawijaya

Contoh Makalah Sederhana – Dibawah ini saya akan memberikan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral secara lengkap. Skema penulisan yang baik dalam membuat contoh makalah sederhana berisi tentang:

Cover Makalah

Kata Pengantar Makalah

Daftar Isi Makalah

BAB I : Pendahuluan Makalah

BAB II : Pembahasan Makalah

BAB III : Penutup Makalah

Daftar Pustaka Makalah

Dalam artikel ini saya langsung membahas BAB I sampai BAB III yang merupakan struktur utama dari suatu makalah. Selamat menyimak, Best Jobbers…

Contoh Bab I : Pendahuluan

source : Lokerbali

Dalam contoh makalah sederhana ini, saya tidak menyertakan contoh cover. Contoh cover yang baik sudah pernah saya lampirkan di artikel sebelumnya.

Untuk penjelasannya sudah pernah saya kupas dalam artikel Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar. Mari kita simak isi dari pendahuluan contoh makalah sederhana seperti di bawah ini.

Latar Belakang

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam ilmu psikologi.  Behaviorisme yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913, lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bahwa sadar yag tidak tampak.

Dalam analisis behaviorisme perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan.  Berbeda dari psikoanalisis, perilaku ini lebih mengonsentrasikan pada modifikasi tindakan.

Perilaku ini berfokus pada perilaku saat ini dari pada masa lampau. Belakangan kaum behaviorisme lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.[1]

Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar.

Sehingga, manusia mengembangkan perilaku berdasarkan belajar sosial dengan lingkungan sekitar dirinya bersosialisasi.

Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah pendekatan behavioristik?

Bagaimana pandangan manusia menurut pendekatan behavioristik?

Bagaimana konsep dasar pendekatan behavioristik?

Bagaimana teknik-teknik pendekatan behavioristik?

Contoh Bab II : Pembahasan

source : Vandeputte Law

Contoh makalah sederhanaseperti dalam artikel-artikel sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ujung tombak dari sebuah makalah adalah BAB II yang berisi pembahasan.

Di sini, seluruh teori yang kita gunakan, asumsi-asumsi para pakar dan analisis tentang pembahasan makalah kita tuliskan. Penulisan pembahasan haruslah sistematis dan menggunakan tata bahasa yang baku dan efektif.

Dibawah ini saya contohkan pembahasan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral. Simak ya…

Sejarah

Pendekatan behavioral muncul akibat penolakan terhadap aliran struktualisme. Aliran strukturalisme ini berpendapat bahwa perilaku manusia ingin dipahami, mental, perasaan, dan pikiran hendaknya ditemukan terlebih dahulu.

Maka dari itu, maka munculah teori intropeksi. Berbeda dengan aliran behavioristik, yang mana intropeksi tidak dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para pakar behavioristik adalah sesuatu yang Dubios.

Yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Pendekatan behavioristik memandang point pentingnya adalah perilaku yang dimunculkan oleh seseorang. Berikut beberapa ahli behavior:

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)

Pavlov berasal dari warga Rusia, yang melahirkan teori calssical conditioning. Yang mana eksperimennya menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan diruang kedap suara sebagai penelitian.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa rangsangan secara berulang-ulang ditambah dengan unsur penguat maka akan menghasilkan reaksi. Menurut Pavlov ada dua jenis aktivitas organisme yaitu aktvitas yang bersifa reflektif dan aktifitas yang didasadari. [2]

Pavlov dalam eksperimennya mengguanakan anjing sebagai binatang coba. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila  air liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang yang telah disediakan.

Menurut Pavlov apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur. Perilaku  ini merupakan respons yang alami yang reflektif, yang disebut sebagai respons yang tidak berkondisi.

Apabila anjing mendengar bunyi bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ini juga merupakan respons yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak berkondisi atau gerak telinga sebagai stimulus yang berkondisi.

Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat dibentuk pada anjing suatu perilaku atau respons apabila anjing mendengar bunyi bel lalu mengeluarkan air liur. Hal inlah yang kemudian diteliti secara eksperimental oleh Pavlov.

Dalam eksperimen ini, hasil pada akhirnya bunyi bel berkedudukan sebagai stimulus yang berkondisi dan mengeluarkan air liur sebagai respons berkondisi. Apabila bunyi bel diberikan setelah diberikan makanan, maka tidak akan terjadi respons yang berkondisi tersebut.[3]

Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Thorndike lahir di Williamsbug tahun 1874, salah satu hasil karyanya yaitu penelitian mengenai psikologi binatang serta teori belajar trial and error.

Konsepnya menekankan kepada aspek fungsional perilaku adalah proses mental dan perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Eksperimen Thorindike menetapkan tiga macam hukum yang dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, berikut tiga macam hukum :

The Law of readiness, adalah salah satu faktor penting dalam belajar. Seseorang harus memiliki kesiapan dan kesediaan, yang mana keduanya akan mempengaruhi hasil belajar apakah baik atau buruk.

The law of excercise, mempunyai dua hal penting yaitu hukum kegunaan hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon menjadi semakin kuat jika sering digunakan, kedua

The law of effec, lebih menitikberatkan kepada penguatan atau memperlemah hubungan stimulus dan respons tergantung kepada hasil dari respon yang bersangkutan.

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner ini melahirkan teori pengkondisian operan (operant conditioning). Eksperimen Skinner didemonstrasikan dengan seekor tikus yang lapar, yang diletakkan dalam sebuah kotak yang dinamakan kotak Skinner.

Didalam kotak Skinner tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol dimana terdapat piring makanan dibawahnya. Sebuah lampu kecil diatas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak pelaku eskperimen.

Tikus yang dibiarkan sendiri didalam kotak, berjalan kesana kemari menjelajahi aan sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebut dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkat dasar penekanan jeruji.

Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan diluar kotak Skinner. Sekarang setiap kali tikus menekan jeruji, butir halus makanan terluncur jatuh ke piring makanan.

Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi. Makanan menguatkan (reinforce) penekanan jeruji dan laju penekanan meningkat secara drastic.

Bila tempat makanan tidak dihubungkan dengan jeruji, sehingga penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkan makanan, laju penekanan jeruji akan berkurang.

Berarti, respon operan mengalami pemadaman (extinction) tanpa adanya penguatan, sama seperti yang terjadi pada respon pengkondisian klasik.[4]

John Broadus Watson (1878-1958)

Inti Behavioristik yaitu memprediksi dan mengontrol perilaku. Menurutnya perilaku yang dapat dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran. Karena kesadaran adalah sesuatu yang dubios.

Metode yang dikembangkannya adalah kajian binatang dan anak-anak, seperti pengkondisian pobia dan rasa takut pada anak.

Pandangan Manusia

Menurut Dustin dan George mengemukakan pandangan behavioristik terhadap konsep manusia yaitu:

Manusia dipandang sebagai individu yang pada hakekatnya bukan individu yang baik atau jahat, tetapi sebagai individu yang selalu berada dalam keadaan yang sedang menjalani, yang memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu pada semua jenis perilaku.

Manusia dapat menjabarkan dan mengartikan serta dapat mengontrol perilaku yang ada pada dirinya sendiri. Manusia mampu memperoleh perilaku yang baru.

Manusia bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya peirlakunya yang bisa dipengaruhi orang lain[5]

Ciri Khusus Konseling Behavior

Proses konseling mendasarkan pada prinsip dan prosedur metode ilmiah Mengkaji perilaku saat ini dan faktor yang mempengaruhinya.

Konseli yang terlibat dalam konseling behavior berperan aktif dengan terlibat dalam tindakan spesifik untuk mengangani masalah mereka.

Fokusnya adalah oada menilai perilaku terbuka dan rahasia secara langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan Penaksiran objek atas hasil-hasil konseling[6]

Pribadi sehat

Tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Pribadi yang sehat adalah pribadi yang tingkahlakunya sesuai dengan pengkondisian. Dalam pandangan teori ini kepribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut:

Dapat merespon stimulus yang ada di lingkungan secara tepat

Tidak kurang dan tidak berlebihan dalam tingkah laku, memenuhi kebutuhan

Mempunyai derajat kepuasan yang tinggi atas tingkah laku atau bertingkahlaku dengan tidak mengecewakan diri dan lingkungan

Dapat mengambul keputusan yang tepat atas konflik yang dihadapi

Mempunyai self control yang memadai

Pribadi tidak sehat

Menurut Namora Lumongga Lubis mengatakan adapun peirlaku bermasalah dalam konsep behavioristim adalah perilaku yang tidak sesuai/tepat dengan yang diharapkan oleh lingkungan.

Perilaku yang salah ini dapat ditandai dengan muncuknya konflik antar individu dengan lingkungannya. Pribadi yang tidak sehat adalah sebagai berikut:

Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan

Cara belajar atau lingkungan yang salah

Cenderung merespon tingkah laku negatif dari lingkungan

Gagal dalam belajar[7]

Ciri unik terapi tingkah laku

Terapi tingkah laku berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya ditandai oleh:

Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik

Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah, dan’

Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi

Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku maladaptif, serta memperkua dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.

Tujuan treatment yang spesifik ini maksudnya adalah klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya.

Kemudian, setelah mengembangkan pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment, terapis harus memilih prosedur-prosedur yang paling sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Berbagai teknik tersedia, yang keefetifannya bervariasi dalam mengangani masalah-masalah tertentu.

Misalnya teknik-teknik aversi tampaknya paling berguna sebagai cara-cara untuk mengembangkan kendali dorongan, orang yang mengalami hambatan dalam menampilkan diri dan dalam bergaul bisa mengambil manfaar dari latihan asertif.

Pengulangan tingkah laku berguna untuk menguatkan tingkah laku yang baru diperoleh, desentisasi tampaknya paling berguna bagi penanganan fobia-fobia.

percontohan yang digabunkan dengan perkuatan positif tampaknya cocok bagi perolehan tingkah laku sosial yang kompleks.

Tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas. Tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, untuk mendapatkan  hasil-hasil yang menjadi dapat dievaluasi.

Terapi tingkah laku kriteria yang didefinisikan dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku menekankan evaluasi atas keefektifan teknik-teknik yang digunakan.

Evolusi dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosedur-prosedur treatment menandai proses terapeutik. [8]

Tujuan Konseling Pendekatan Behavior

Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar

Penghapusan hasil belajar yang maladaptive

Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari

Membantu konseli membuang respons-respons yang lama yang merusak diri atau maladaptive dan mempelajari respons-respons baru yang lebih sehat dan sesuai

Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku maladaptive,memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan

Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan Bersama antara konseli dan konselor

Peran dan Fungsi

Konselor harus memainkan peran aktif, direktif, dan menggunakan pengetahuan ilmiah dalam menemukan solusi masalah konseli.

Konselor berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli. Dalam proses konseling, konseli yang menentukan tingkah laku apa (what) yang akan diubah, sedangkan konselor menentukan cara yang digunakan untuk mengubahnya (how). [9]

Desentisasi sistematik (DS)

Teknik DS digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku meghindar. DS dilakukan dengan menerapkan pengkondisian klasik yaitu dengan melemahkan kekuatan stimulus penghasil kecemasan.

Melibatkan Teknik relaksasi Melatih konseli untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi. Cocok untuk : fobia, takut ujian, impotensi, ketakutan yang digeneralisasi

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan

Menyususn tingkat kecemasan

Membuat daftar situasi yang memunculkan taraf kecemasan dari paling rendah hingga paling tinggi

Melatih relaksasi konseli

Konseli mempraktikkan 30 menit setiap hari, hingga terbiasa untuk santai

Pelaksanaan desensitisasi konseli dalam santai dan mata tertutup

Meminta konseli membayangkan situasi yang membuat rileks, kemudian diikuti membayangkan pemicu kecemasan paling rendah

Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas, dan hentikan

Kemudan dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, kemudian membayangkan pemicu kecemasan lagi pada tahap yang lebih tinggi dari seblumnya

Terapi selesai ketika konseli mampu tetap santai pada kondisi membayangkan kecemasan yang sebelumnya dianggap paling menggelisahkan.

Implosif dan pembanjiran

Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan.

Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi sistematik dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengondisian balik maupun tingkatan kecemasan.

Terapis memunculkam stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis beruasaha mempertahankan klien.

Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubugan dengan teknik pembanjiran, yang disebut “terapi impolsif” : seperti halnya dengan desensitisasi sistematik.

Terapi impolsif berasumsi bahwa tingkah laku neurotic melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Terapi impolsif berbeda dengan desensitisasi sistematik dalam usaha terapis  untuk menghadirkan luapan emosi yang masif.

Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhempas.

Klien di arahkan untuk membayangkan situasi-situasi (stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dan dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul.

Stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilan kecemasannya, dan penghindaran neurotic pun terhapus.

Menurut Stampfl (1975), mencontohkan terapi impulsif langsung dengan melukiskan seorang klien yang mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif pada kebersihan.

Klien memiliki ketakutan yang berlebian terhadap kuman dan mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari.

Prosedur-prosedur penanganan klien mencakup :

(1) pencarian stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala,

(2) menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk tingkah laku klien,

(3)meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa desertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya,

(4) bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan ;

(5) mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

Latihan asertif

Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa di terapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakakan yang layak atau benar.

Latihan asertif membantu bagi orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,

(3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkanafeksi dan respons-respons positif lainnya, dan (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-peraaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Shaffer dan Galinsky (1974) menerapkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau “latihan ekspresif” dibentuk dan berfungsi.

Kelompok terdiri atas delapan sampai sepuluh anggota memiliki latar belakang yang sama, dan session terapi berlangsung selama dua jam. Terapis menjadi penyelenggara dan pengarah permainan peran, pelatih, pemberi perkuatan, dan sebagai model peran.

Dalam diskusi-diskusi kelompok, terapis bertindak sebagai seorang ahli, memberikan bimbingan dalam situasi-situasi permainan peran, dan memberikan umpan balik kepada para anggota.

Sepert kelompok terapi tingkah laku lainnya, kelompok laihan asertif ditandai dengan struktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas session berstruktur sebagai berikut :

(1) yang dimulai dengan pengenalan didaktik tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan respons-respons internal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurangtegasan dan pada belajar peran tingkah laku baru yang asertif.

(2) memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing-masing anggota menerangkan tingkah laku spesfik dalam situasi-situasi interpersonal yang dirasakannya menjadi masalah.

Peran anggota kemudian membuat perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri yang semula mereka hindari sebelum memasuki session selanjutnya.

(3) para anggota menerangkan tentang tingkah laku menegaskan diri yang telah di coba dijalankan oleh mereka dalam situasi-situasi dalam kehidupan nyata.

Mereka berusaha mengevaluasi dan jika mereka belum sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan permainan peran.

(4) penambahan lahitan relaksasi, pengulangan perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri, dan yang diikuti oleh evaluasi.

(5) di sesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan individual para anggota. Sejumlah kelompok cenderung berfokus pada permainan peran tambahan, evaluasi, dan latihan.

Kelompok yang lainnya berfokus pada usaha mendiskusikan sikap-sikap dan perasaan-perasaan yang telah membuat tingkah laku menegaskan diri sulit dijalankan.

Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.

Fokusnya adalah mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh.

Dengan demikian individu-individu diharapkan mampu mengatasi dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.

Terapi Aversi

Teknik aversi digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk, meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus tersebut.

Respons dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya. Contohnya ialah untuk menyembuhkan pria homoseks. Kepada pria homoseks diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalirkan setrum listrik pada kakinya yang tidak beralas.

Dalam terapi ini, setiap kali kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang) diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik. Selalu seperti itu setiap melihat foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak tertarik lagi pada pria.

Teknik- teknik pengkondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.

Stimulus-situmulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.

Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan ditarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekuensinya.

Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik kepada anak autistik ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.

Teknik ini merupakan metode yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode untuk membawa orang kepada tingkah laku yang diinginkan.

Dimana kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif.

Sebagian besar lembaga sosial menggunakan teknik ini untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan apa yang telah digariskan.

Sebagai contoh di Gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguhan pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.

Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif seperti ketergantungan alkohol, obat bius, kecanduan merokok, serta penyimpangan seksual seperti homoseksual maupun pedofilia.

Seperti contohnya dalam menangani seorang alkoholik, dia tidak dipaksa untuk menjauhkan diri dari alkohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol disertai pemberian ramuan yang akan membuat mual dan kemudian muntah.

Si alkoholik lambat laun akan merasa sakit bahkan meskipun hanya melihat botol alkohol.[10]

Pengkondisan operant

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif.  Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

Menurut Skinner jika suatu tingkah laku diganjar, maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi.

Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengkondisian operan.

Pengkondisian operan ini mencakup teknik-teknik lain yaitu perkuatan positif, pembetukan respons, perkuatan intermiten, penghapusam percontohan, dan token ekonomi.[11]

Perkuatan positif

Cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku adalah dengan pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Pemerkuat-pemerkuat ini dapat berupa:

Pemerkuat primer, memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh makanan dan tidur atau istirahat.

Pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dan sosial, memiliki nilai-nilai karena berasosiasi dengan pemerkuat-pemerkuat primer. Contoh senyuman, persetujuan, pujian, penghargaan, dan hadiah-hadiah.

Pembentukan respons

Dalam pembentukan respons, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkyat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir.

Pemberntukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam pembentukan respons ini.

Perkuatan intermiten

Disamping membentuk perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memlihara tingkah laku yang telah terbentuk. terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul agar dapat memaksimalkan nilai-nilai pemerkuat.

Oleh kerenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Penguatan ini akan terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan penguatan intermiten diberikan secara lebih bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik.

Tingkah laku yang dikoondisikan oleh penguatan intermiten lebih tahan terhadap penghapusan dibanding tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus.

Terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan pada tahap-tahap permulaan. Hal ini dilakukan dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku.

Setelah tingkah laku yang diinginkan itu muncul, perkuatan-perkuatan diberikan segera. Dengan cara ini, penerimaan perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar.

Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu emningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi.

Seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, misalnya memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan apabila si anak hanya diberi pujian sekali-kali.

Prinsip perkuatan intermiten bisa menerangkan mengapa orang-orang bisa tahan dalam bermain judi atau dalam memasang taruhan paa pacuan kuda. Mereka cukup terganjar untuk bertahan meskipun mereka lebih banyak kalah daripada menang.[12]

Penghapusan

Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tanpa perkuatan maka respon tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode .

cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam itu berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama.

Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh.

Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kebandelan dirumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk mrnghapus kebandelan anak tersebut.

Perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan pada saat yang sama.

Terapis, guru, dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tidak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi.

Contohnya seorang anak yang telah belajar bahwa dia biasanya memperoleh apa yang diinginkan dengan mengomel mungkin akan memperhebat omelannya.

Hal itu dilakukan ketika permintaan tidak segera dipenuhi. Jadi kesabaran menghadapi periode peralihan sangat diperlukan.[13]

Percontohan

Individu cenderung mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model.

Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengamatan langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensinya.

Jadi kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

Juga reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati tanpa mengalami akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.

Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model sangat berarti dan ornag-orang pada umunya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status yang tinggi dan terhormat dimata mereka sebagai pengamat.

Token economy

Apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh, metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku.

Contoh Bab III : Penutup

 

source : Davidson Lawyers LLP

Terakhir, contoh makalah sederhana ditutup dengan BAB III yang berisi kesimpulan dari semua materi yang telah kita tulis di bab sebelumnya. Jangan lupa juga untuk menyertakan daftar pustaka literasi yang menjadi referensi.

Kesimpulan

Pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama.

Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.

Hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar.

Konseling behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang digunakan untuk melakukan pengubahan perilaku berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita L. & Richard G. 2009. Atkinson, Pengantar Psikologi.Jakarta : Erlangga

Setiawan, M. Andi.2018.Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), Yogyakarta:CV Budi Utama

Suryabrata,Sumadi.1998.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Corey,Gerald.2009.Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.Bandung:PT Refika Aditama.

Demikianlah contoh makalah sederhana yang saya tuliskan di artikel ini. Jangan lupa untuk download file Ms. Wordnya di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

[1]Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm. 8

[2]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018), hlm. 33

[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1998), hlm. 261

[4] Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi,…, hlm. 305

[5]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.36

[6]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.38-39

[7]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm. 40

[8]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, (Bandung : PT Refika Aditama, 2009),Hlm. 196-197

[9] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 202

[10]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm.  214-218

[11]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 218-129

[12]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 220

[13]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 221