Categories
makalah

Contoh Makalah Pendidikan Dasar

Contoh Makalah Pendidikan Dasar – Hallo, Best Jobbers, apa kabar hari ini? Apakah anda semua dalam keadaan sehat dan bahagia? Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda semua.

Well, Best Jobbers, kembali lagi di portal bestjobaroundtheworld.com portal yang selalu menyajikan artikel keilmuan yang bermanfaat bagi dunia akademis.

Dalam kesempatan kali ini, lagi dan lagi saya akan menyajikan contoh makalah Contoh Makalah Pendidikan Dasar. Contoh makalah pendidikan dasar ini saya peroleh dari hibah teman saya Eka Puji Astutik, calon sarjana Strata 1 FTIK IAIN Pekalongan.

Tema contoh makalah pendidikan dasar ini mengangkat permasalahan seputar dunia pendidikan. Dalam contoh makalah pendidikan dasar ini dijelaskan tentang permasalahan komersialisasi di dunia pendidikan.

Komersialisasi ini menjadi permasalahan yang cukup diperdebatkan dalam dunia pendidikan.

Contoh makalah pendidikan dasar ini tentu akan sangat bermanfaat bagi anda mahasiswa fakultas keguruan maupun pendidikan lain.

Hal itu karena saya selalu menyertakan sumber atau referensi dari buku-buku maupun literasi yang jelas di setiap contoh makalah yang saya hadirkan. Tidak terkecuali dalam contoh makalah pendidikan dasar ini.

Untuk mengetahui tingkat plagiarisme dari contoh makalah pendidikan dasar ini, anda dapat mengcopy teks yang saya sediakan di sini. Anda juga dapat mendownload file asli dalam format Microsoft word nya di sini.

Selain itu anda juga dapat mendownload via google drive di link yang saya sediakan di akhir artikel.

Well, Best Jobbers, kita simak contoh makalah pendidikan dasar di bawah ini.

Baca Juga : Contoh Makalah Pendidikan, Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Pendidikan Dasar : Komersialisasi Dalam Dunia Pendidikan

Contoh Makalah Pendidikan dasar
Source : GEOTIMES

Dalam artikel ini, saya memberikan Contoh Makalah Pendidikan Dasar dengan mengangkat tema : Komersialisasi Dalam Dunia Pendidikan. Contoh Makalah Pendidikan Dasar ini disusun berdasarkan problema yang marak terjadi di dunia pendidikan.

Komersialisasi sering kita jumpai di ranah pendidikan negeri ini. Dalam Contoh Makalah Pendidikan Dasar yang saya unggah ini, akan disebutkan berbagai hal dari problema tersebut.

Anda dapat menjadikan contoh makalah ini sebagai acuan untuk membuat makalah dengan tema yang serupa karena saya mencantumkan teori-teori dari para pakar yang kredibel.

Mari kita simak dengan seksama….

Bab 1: Pendahuluan

Source : PT. NATAKUSUMA

Bab I yang berisi latar belakang dan Rumusan Masalah. Latar belakang berisi tentang perihal atau  urgensi apa yang menyebabkan seorang penulis menyusun makalah.

Penyusunan  contoh makalah ini berawal dari keprihatinan penulis akan adanya permasalahan kesulitan akses pendidikan bagi masyarakat ekonomi kelas bawah.

Seringkali lembaga pendidikan menerapkan standar pembayaran yang tidak mampu dijangkau oleh masyarakat kelas ekonomi tersebut. Adanya komersialisasi dalam lembaga menjadi pemicunya.

Rumusan masalah dibuat agar permasalahan yang dibahas fokus dalam satu titik. Hal ini agar tidak terjadi bias pembahasan dan bias pemahaman dari pembacanya.

Mari kita simak pembahasan Bab I dari makalah ini.

Latar Belakang Masalah

Pendidikan selain sebagai suatu pembentuk watak atau kepribadian juga mempersiapkan sumber daya manusia yang handal serta dapat dipertanggung jawabkan.

Pendidikan berpengaruh terhadap kehidupan suatu bangsa untuk masuk dan memperoleh dampak-dampak yang ditimbulkan arus globalisasi tersebut.

Dampak yang ditimbulkan arus globalisasi tersebut telah melanda di bidang kehidupan masyarakat bangsa Indonesia pada khususnya, baik bidang sosial, politik, ekonomi, budaya bahkan dalam bidang pendidikan.

Pendidikan telah terjebak dalam arus kapitalisasi yang dalam istilah lain bernama komersialisasi pendidikan.Adanya biaya pendidikan yang tidak murah.

Oleh karena itu hal ini berakibat berakibat  banyaknya anak yang berasal dari kelas ekonomi bawah sulit mendapatkan akses pendidikan yang lebih bermutu.

Sekolah kemudian menerapkan aturan seperti pasar yang berimplikasi pada visiologis pendidikan yang salah. Keberhasilan pendidikan hanya didasari pada besarnya jumlah lulusan sekolah yang dapat diserap oleh sektor industri.

Dunia pendidikan Indonesia saat ini dianggap belum dapat mencapai titik keberhasilan yang diharapkan bersama.

Permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia begitu banyak dan rumit sehingga solusi yang dilakukan untuk keluar dari permasalahan tersebut tidaklah mudah.

Permasalahan yang tidak kalah penting yaitu menyangkut masalah biaya pendidikan saat ini yang semakin mahal.

Setiap jenjang pendidikan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bahkan untuk tingkat sekolah dasar biaya pendidikan yang harus dikeluarkan hampir mendekati atau bahkan jauh lebih mahal daripada sekolah lanjutan sehingga menyaingi biaya pendidikan untuk perguruan tinggi.

Banyak pungutan-pungutan yang ditarik oleh sekolah sehingga biaya yang dikeluarkan oleh peserta didik semakin banyak dan mahal setiap tahunnya.

Pendidikan di Indonesia masih merupakan investasi yang mahal sehingga diperlukan perencanaan keuangan serta persiapan dana pendidikan sejak dini.

Masyarakat Kelurahan Pabiringa yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan, sehingga harus memiliki perencanaan keuangan sejak awal, agar pendidikan anak terus berlanjut dan tidak putus sekolah.

Rumusan Masalah

Apa makna komersialisasi dalam pendidikan?

Bagaimana upaya meminimalisir komersialisasi dalam pendidikan islam ?

Kegunaan Makalah

Untuk mengetahui makna komersialisasi dalam pendidikan

Untuk menjabarkan  upaya meminimalisir komersialisasi dalam pendidikan islam

Bab II : Pembahasan

Source : Inside Higher Ed

Dalam Bab II, dikemukakan teori-teori yang relevan dengan tema. Teori-teori tentang pendidikan dan komersialisasi dijabarkan di sini.

Selain itu, analisa yang sistematis dari penulis juga sangat menentukan arah pembahasan masalah. Analisa yang tepat akan menentukan kualitas makalah.

Makna komersialisasi dalam pendidikan

Komersialisasi pendidikan menurut Agus Wibowo sebagaimana dikutip Asmirawanti juga mengacu pada dua pengertian yang berbeda.

komersialisasi hanya mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pendidikan serta perlengkapan yang serba mahal.

Selain itu, komersialisasi pendidikan juga mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan penarikan uang pendaftaran dan uang sekolah saja, tetapi mengabaikan kewajiban yang harus diberikan kepada siswa.

Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal.

Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat, sehingga lembaga tersebut tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan, tetapi uang pembayaran sekolah sangat mahal.

Pemungutan biaya tinggi hanya untuk memfasilitasi jasa pendidikan serta menyediakan infrastruktur pendidikan bermutu, seperti menyediakan fasilitas teknologi informasi, laboratorium dan perpustakaan yang baik serta memberikan kepada para guru atau dosen gaji menurut standar.

Sedangkan untuk sisa anggaran yang diperoleh, digunakan untuk menanamkan kembali bentuk infrastruktur pendidikan.

Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila, tetapi dapat menimbulkan diskriminasi dalam pendidikan nasional.

Komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang kuliah, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Komersialisasi pendidikan ini biasa dilakukan oleh lembaga atau sekolah-sekolah yang menjanjikan pelayanan pendidikan, tetapi tidak sepadan dengan uang yang pungut.

Komersialisasi pendidikan dapat pula dimaknai  memperdagangkan pendidikan. Hal ini sesuai dengan KBBI yang menyatakan bahwa  kata komersial atau commercialize berarti memperdagangkan.

Adapun istilah “komersialisasi pendidikan”. Dewasa ini terdapat  dua pengertian yang berbeda yang  mengacu pada istilah komersialisasi pendidikan, yaitu:

Komersialisasi pendidikan yang mengacu lembaga pendidikan dengan program serta perlengkapan mahal. Pada pengertian ini, pendidikan hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat.

Berdasarkan kenyataan tersebut,  lembaga seperti ini tidak dapat disebut dengan istilah komersialisasi karena mereka memang tidak memperdagangkan pendidikan. Pemungutan biaya yang tinggi digunakan untuk menfasilitasi jasa pendidikan serta menyediakan infrastruktur pendidikan yang bermutu.

Sisa anggaran yang mereka peroleh, mereka tanamkan kembali bentuk infrastruktur pendidikan. Komersialisasi pendidikan jenis ini tidak akan mengancam idealisme pendidikan nasional atau idealisme Pancasila.  Akan tetapi perlu dicermati juga, karena dapat menimbulkan diskriminasi dalam pendidikan nasional.

Komersialisasi pendidikan pada lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang Pendaftaran dan uang kuliah saja, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan. Komersialisasi pendidikan ini dilakukan oleh lembaga yang menjanjikan pelayanan pendidikan. Akan tetapi tidak sepadan dengan uang yang mereka pungut.

Pada lembaga atau sekolah yang seperti ini, laba atau selisih anggaran yang diperoleh tidak ditanam kembali ke dalam infrastruktur pendidikan, melainkan dipergunakan untuk memperkaya  pihak-pihak yang tidak secara langsung bekerja menyajikan pelayanan di lembaga tersebut.

Pihak-pihak tersebut adalah anggota yayasan atau badan amal pendidikan yang menguasai lembaga pendidikan.

komersialisasi jenis kedua ini jelas berbahaya bagi tujuan pendidikan karen dapat pula melaksanakan praktik memburu gelar akademik tanpa melalui proses serta mutu yang telah ditentukan.

Hal ini jelas dapat membunuh idealisme pendidikan Pancasila. Hal tersebut jelas tercantum di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada bab 1 pasal 1 yang berbunyi:

pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak yang mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara

Dalam bab tersebut ditas jelas dinyatakan bahwa pendidikan itu harus melalui proses belajar dan berakhlak mulia, mungkin ini kurang terdapat dalam komersialisasi pendidikan jenis kedua di atas.

Oleh karena itu, dapat kita simpulkan bahwa komersialisasi penddiikan adalah pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal.

Sehingga hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang operasional pendidikan, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Dalam hal ini, dapat terlihat dari kebiasaan di sebuah sekolah unggulan di Jawa Timur yaitu SMA Trensains Jombang dan SMA Islam Sabilillah Malang.

Dimana di kedua SMA tersebut memberikan syarat bagi siswa baru untuk membayar sebesar 15 Juta Rupiah untuk  18 juta rupiah untuk SMA Islam Sabilillah Malang SMA Trensains Jombang.

Tetapi hal itu sepadan dengan kualitas kedua sekolah tersebut yang sering menjuarai kejuaraan Sains tingkat Internasional.

Komersialisme pendidikan adalah hasil dari Idealisme liberal yang sesungguhnya adalah produk dari modernisasi Barat yang telah menggilas cara pandang lama yang membuat cara berpikir manusia dikendalikan oleh sesuatu di luar dirinya.

Ide modernisme yang menonjol adalah pencerahan (enlightment), sebuah proses kesadaran dari belenggu adat dan budaya kegelapan yang memasung pikiran manusia selama berabad-abad.

Liberalisme klasik melahirkan banyak pemikir yang memiliki cita-cita untuk mengangkat individu menjadi pemilik dunianya secara otonom dan membebaskan diri dari penghalang yang memasung kebebasan indvidu untukmengekspresikandiri sebagai manusia.

Karenanya liberalisme dan individualisme biasa menjadi suatu hal yang tak terpisahkan.

Keduanya membentuk suatu ideologi dan cara pandang yang sangat penting bagi awal-awal pertumbuhan ide-ide modern di Barat.

Tradisi berpikir liberal dapat diidentifikasi menjadi enam prinsip dasar yang pernah disebutkan oleh JulioTeehankee, yaitu :

Individualisme; Kaum liberal percaya bahwa pribadi atau individu adalah sesuatu yang sangat penting.

Seluruh kebijakan liberal mengarah atau diarahkan untuk memmberikan ruang kepada kebebasan dan hak-hak individu. Bagi liberal, individualisme lebih penting dari kolektivisme.

Rasionalisme; Kaum liberal percaya bahwa dunia memiliki struktur yang rasional, yang dapat dipahami secara logis.

Keteraturan dunia bisa dipahami lewat deliberasi pikiran dan pencarian kritis terus menerus.

Kebebasan; Tak ada kata yang lebih penting bagi seorang liberal selain kebebasan.

Kebebasan adalah kemampuan untuk berpikir dan bertindak sesuai dengan mata hati (conscience) dan determinasi. Seluruh filosofi liberalisme berangkat dari kebebasan manusia.

Tanggungjawab; Kebebasan tanpa tanggungjawab adalah keliaran. Orang sering salah memahami liberalisme sebagai liarisme.

Liberalisme adalah kebebasan plus tanggung jawab.

Keadilan; Kaum liberal percaya bahwa keadilan adalah nilai moral yang harus dijunjung tinggi, Keadilan bukan berarti mengorbankan hak seseorang demi membela hak yang lainnya.

Keadilan adalah pemberian kesempatan kepada setiap individu untuk bersaing dan menggapai hak-haknya,

Toleransi; Sebuah sikap menerima atau menghormati pandangan atau tindakan orang lain, sekalipun pandangan atau tindakan itu belum tentu disetujuinya.

Toleransi adalah dasar bagi kebersamaan dan kerukunan hidup. Tanpa toleransi, kebebasan tidak dapat ditegakkan.

Faktor Penyebab terjadinya Komersialisasi dalam pendidikan

Terjadinya komersialisasi pendidikan di Indonesia adalah sesuatu yang possibel, sebab baik secara eksternal maupun kondisi internal, terdapat ruang yang memberi peluang bagi tumbuh suburnya komersialisasi.

Setidaknya dapat dilihat dari dua aspek.

Faktor eksternal

Dalam bidang pendidikan, Komersialisasi berpangkal pada tiga unsur,

yakni Ideologi neoliberalisme yang menyertai globalisasi, hak untuk mendapat keuntungan, dan bagaimana perguruan tinggi melakukan bisnis dalam sistem ekonomi yang berbasis pada pengetahuan, dengan modal profesional dan intelektual.

Komersialisasi pendidikan dalam kontek idiologi neoliberalisme dan kapitalisme, berhubungan dengan kualitas outputnya, profit yang didapatkan berasal dari prodak ilmu pengetahuan yang dapat dijual,

seperti hasil penelitian ilmiah yang dibutuhkan oleh pihak lain dalam mengembangkan perekonomiannya.

Dengan demikian, mahalnya pembiayaan pendidikan terjadi karena outputnya yang berkualitas, sehingga menjadi penyebab bagi tingginya biaya proses, bukan hanya pembiayaannya saja yang mahalnya.

Indonesia merupakan bagian dari dunia yang sudah tentu tidak terlepasa dari peradaban global, termasuk pada bidang ekonomi, sehingga issu-issu ekonomi dan industrialisasi yang merambah pada dunia pendidikan masuk juga ke Indonesia.

Dengan munculnya sekolah-sekolah yang bertaraf internasional dengan pembiayaan yang mahal dapat menimbulkan diskriminasi pendidikan,

Begitu juga perguruan tinggi yang membuka jalur khusus dengan paradigma siswa yang tergantung kepada kesanggupan pembiayaan yang mahal adalah fenomena komersialisasi pendidikan.

Terlebih jika mahalnya pembiayaan pendidikan yang hanya untuk kepentingan pihak tertentu, serta maraknya lembaga pendidikan yang menawarkan gelar tententu.

Tanpa diikuti dengan proses yang seharusnya dijalankan, merupakan contoh dari komersialisasi pendidikan, hal itu merupakan pelanggaran yang seharusnya mendapat sanksi, sebagaimana orang korupsi atau menipulasi.

Fenomena Internal

Keterbatasan Anggaran

Alokasi anggaran negara untuk pendidikan masih terbatas pada tingkat pendidikan dasar, itupun hanya merupakan standar minimal.

Sedangkan pada tingkat SLTA terlebih pada lembaga pendidikan non formal, masih lebih banyak diserahkan kepada orang tua/wali.Bahkan pada Perguruan Tinggi yang membutuhkan pembiayaan pendidikan justru malah diberi hak otonomi.

Kondisi tersebut memberikan peluang bagi lembaga pendidikan untuk mencari pembiayaan dengan dalih peningkatan mutu pendidikan, dengan program-program yang ditawarkan, misalnya melalui BHMN dan BHP.

Namun demikian Strategi tersebut dapat diminimalisir dengan cara-cara yang legal yang disepakati berdasarkan regulasi yang jelas dan tidak ada pihak manapun yang berupaya untuk memperkaya diri.

Disertai  dengan laporan keuangan secara transparan dan memiliki akuntabilitas yang tinggi.

Mentalitas rendah

Sebagian besar masyarakat  Indonesia cenderung memiliki sikap yang hanya semata-mata materialistis.

Terbukti munculnya orang-orang yang diadili karena menyalahgunakan keuangan (korupsi) dan hal itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan pada sektor apa saja, termasuk dalam dunia pendidikan.

Mentalitas seperti itu akan lebih berbahaya jika dimiliki oleh tenga pendidik dan kependidikan, sebab tugas utama pendidik adalah berkaitan dengan kualitas manusia.

Jika hanya berorientasi materialis semata, ia akan bekerja hanya untuk memenuhi tuntutan materialismenya dan dapat mendorong terjadinya komersialisasi pendidikan.

Kesejahteraan

Tingkat Kesejahteraan pegawai termasuk para pendidik yang belum memadai dan tidak merata, padahal faktor kesejahteraan adalah salah satu paktor pendukung performen kinerja berkualitas, terlebih masalah pemerataan.

Kesejahteraan yang tidak seimbang dan merata dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Kondisi tersebut, dapat mengurangi tanggungjawab sebagai seorang pendidik/pekerja.

Di sisi lain juga dapat memicu untuk menyalahgunakan kewenangannya guna menutupi kekurangannya.

Sehingga apa yang ia kerjakan hanya untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat materialistis sementara tanggungjawab terhadap kewajibannya terabaikan.

Dampak komersialisasi Pendidikan

Komersialisasi pendidikan memiliki dua sisi yang salihg bertolak

belakang. Di satu sisi komersialisasi memang memiliki dampak positif, tetapi di sisi lain juga berdampak negatif terhadap penyelanggaraan pendidikan di lndonesia.

Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai dampak sosial tingginya biaya masuk di perguruan tinggi, penulis akan menguraikan terlebih dahulu dampak positif dan negatif yang dikemukakan oleh Edi Suharto, sebagai analis pekerjaan sosial yang juga concern terhadap dunia pendidikan.

Beberapa dampak positif adanya komercialisasi pendidikan antara lain:

Beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang, sehingga anggaran yang tersedia bisa digunakan untuk membiayai aspek lain yang dianggap lebih mendesak. salah satu contoh untuk membiayai pendidikan alternatif yang ditujukan untuk kalangan miskin, anak jalanan atau suku terasing.

Memberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi mencerdaskan bangsa.

Lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif, sehingga berdampak pada peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

Gaji pengajar (dosen dan guru) dapat lebih ditingkatkan. Haliniditujukan untuk memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam memacu perkembangan anak didik.

Beberapa dampak negatif komersialisasi pendidikan yang dikemukakan oleh Edi Suharto sebagai beriku:

Pendidikan menjadi mahal. Komersialisasi pendidikan menyebabkan masyarakat menjadi sulit untuk menjangkaunya. Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat yang tidak mampu, sehingga memberikan peluang pula pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak dan tindak kriminalitas.

Gap dalam kualitas pendidikan. Komersialisasi pendidikan memunculkan sebuah kompetisi.

Lembaga pendidikan yang menang dalam persaingan dan perburuan dana, akan menjadi sekolah unggulan sedangkan lembaga yang kalah menjaditerpuruk. Perguruan tinggi yang ternama dan diunggulkan memang menjadi acuan bagi peserta didik untuk kelanjutan masa depannya.

Adanya diskriminasi. Kesempatan untuk memperoleh pendidikan semakin sempit dan cenderung bersifat diskriminatif.

Orang kaya dapat mengakses pendidikan dengan kualitas yang lebih baik, berbanding terbalik dengan orang yang tidak mampu (miskin).

Munculnya stigmatisasi. Terjadi pelabelan sosial dimana orang menilai bahwa sekolah bagus dan ternama adalah milik orang kaya begitupun sebaliknya.

Akibatnya anak-anak golongan menengah kebawah cenderung tumbuh menjadi anak yang minder, karena tidak mampu mengikuti irama dan suasana glamour sekolah.

Terjadi perubahan misi pendidikan. Pada awalnya pendidikan ditujukan untuk mencerdaskan dan membudayakan kehidupan bangsa.

Komersialisasi dapat menggeser’budaya akademik” menjadi “budaya ekonomis.

“Asumi tersebut berangkat dari pemahaman bahwa semestinya lembaga pendidikan merupakan tempat seseorang untuk mendapatkan pengetahuan dan

keahlian dalam memperbaiki keberlangsungan hidupnya, tetapi sekarang berubah menjadi ‘lahan basah’ yang dapat mendatangkan keuntungan berlipat dalam waktu sekejap.

Memacu gaya hidup konsumerisme. Baik pengajar maupun siswanya terobsesi untuk bergaya hidup mewah.

Hal ini dikhawatirkan akan melahirkan mental “diktator”‘ pada pengajar, sehingga berdampak buruk bagi perkembangan siswany.

Hal ini tentu berdampak sangat buruk dalam dunia pendidikan kita, sebab secara tidak langsung membentuk karakter generasi penerus sebagai konsumen terbesar untuk mengikuti trend masa kini.

Tidak hanya peserta didik bahkan penyelenggara pendidikan juga ikut terlibat di dalamnya.

Dikarenakan konsumerisme tersebut maka mereka tidak segan untuk menarik biaya tinggi pada penerimaan mahasiswa baru.

Memperburuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan kepemimpinan di masa depan.

Hal ini didorong oleh keinginan meningkatkan akumulasi kapital sebesar-besarnya. Kondisi tersebut akan mengancam regenerasi kualitas kepemimpinan masa depan.

Praktek komersialisasi pada penyelenggaraan pendidikan khususnya biaya pendidikan di perguruan tinggi, memang akan sangat sulit sekali untuk ditiadakan.

Umumnya yang terjadi adalah pewarisan sistem tersebut pada generasi selanjutnya.

Rantai kemiskinan semakin mustahil untuk diputuskan. Pendidikan sebagai alat pemberdayaan yang dapat memutus rantai kemiskinan semakin akan kehilangan fungsinya.

Upaya Meminimalisir Komersialisasi Dalam Pendidikan Islam

Pada dasarnya fungsi dan tujuan pendidikan  adalah untuk menghasilkan sumber daya manusia yang cakap, cerdas dan mampu terjun keranah persaingan global.

Fungsi dan tujuan pendidikan Indonesia dalam UU No. 20 Tahun 2003 pada Pasal 3 dijelaskan

”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Pendidikan Indonesia menjadi sebuah problem jangka panjang ketika arah pendidikan nasional kita jauh dari apa yang dicita – citakan.

Pendidikan kita saat ini menjadi sebuah ranah komersialisasi dimana siapa yang berduit akan mendapatkan fasilitas pendidikan yang berkualitas sedangkan yang miskin baru mendapat pendidikan yang di inginkannya ketika harus dikasihani dulu.

Bukankah dalam pembukaan UUD 1945 tersurat “untuk mencerdaskan kehidupan bangsa” merupakan sebuah kalimat yang tidak mendiskrimanasi si kaya dan si miskin dalam mendapatkan kualitas pendidikan.

Namun, sayangnya dilapangan jauh berbeda untuk masuk sekolah yang mutunya bagus harus membayar mahal dan untuk dapat masuk kuliah harus membayar uang pembangunan yang mahal.

Inikah sebuah sistem yang mengarahkan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih baik ketika dalam pendidikan masih uang yang berbicara.

Ketika ingin masuh sekolah atau perguruan tinggi yang bagus harus uang yang berbicara sehingga si miskin hanya bisa bercita – cita untuk sekolah ditempat berkualitas itu tapi tak pernah mampu untuk menggapai cita – citanya.

Semua karena belum juga ingin mendaftar maka biaya tinggi menjadi seperti roh jahat yang siap menerkam mereka ketik ingin masuk kesana.

Tataran pendidikan kita harus terarah dan sesuai dengan fungsi dan tujuan UU yang berlaku sehingga arah kebijakan pendidikan nasional searah dengan ketetapan UU yang bebas dari diskriminasi dan komersialisasi pendidikan.

Memberikan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak bangsa yang memang memiliki kemampuan dalam memperoleh fasilitas pendidikan yang berkualitas dengan dorongan pemerintah khususnya yang berwenang yakni Kementrian Pendidikan Nasional.

Dengan pemerataan pendidikan akan memberikan adil positif bagi si miskin keluar dari kemiskinannya dimasa depan karena pendidikan yang didapatkannya. Andil positif inilah yang akan mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia semakin menuju arah yang lebih baik.

Peringatan 77 tahun International Students’ Day (ISD) tahun 2016 diperingati oleh gerakan mahasiswa di Samarinda, Kalimantan Timur sebagai momentum untuk mengkonsolidasikan kembali perlawanan dalam melawan komersialisasi pendidikan.

Grand Isu “Reformasi Pendidikan Dari, Oleh, dan Untuk Rakyat” dalam aksi tersebut memuat beberapa tuntutan diantaranya :

Tolak Komersialisasi Pendidikan;

Wujudkan sarana dan prasarana yang berkualitas dalam dunia pendidikan;

Wujudkan demokrasi dalam dunia pendidikan;

Perangi korupsi dan pungli dalam dunia pendidikan;

Tangkap dan adili pelaku kekerasan seksual dalam dunia pendidika.  Lingkar Studi Kerakyatan (LSK) meskipun tidak terlibat dalam pembentukan aliansi juga turut bergabung dalam aksi tersebut untuk memberikan dorongan perspektif dengan menyebarkan pamflet berjudul

“Mahasiswa dan Buruh Bersatulah, Lawan Kapitalisme dan Komersialisasi Pendidikan”

Saat ini kita hidup dimana 1 persen orang didunia memiliki kekayaan yang sebanding dengan 99 persen penduduk dunia.

Di Indonesia, Kekayaan 40 orang terkaya setara dengan 60 juta rakyat yang paling miskin.

Hal ini di karenakan sumber penghidupan seperti tanah, sumber daya alam, mesin dan industri pabrik, serta alat-alat produksi lainnya yang dapat memenuhi hajat hidup orang banyak hanya dimiliki secara pribadi, yakni segelintir orang yang mempunyai modal yang sangat besar.

Pemilik modal (kapitalis) ini sangat berkepentingan untuk terus memperluas modalnya tanpa memperdulikan kerusakan lingkungan, budaya, pendidikan, bahkan kemanusiaan. Inilah yang kita sebut sebagai sistem kapitalisme.

Perkembangan yang dicapai oleh manusia dalam sistem tersebut bukan sebesar-besarnya untuk kebutuhan manusia melainkan sebagai komoditi atau barang dagangan, termasuk pada dunia pendidikan.

Dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme sejatinya bukan untuk mencerdaskan dan membebaskan manusia

Dunia pendidikan menjadi sarana untuk mencetak tenaga kerja terdidik yang berbiaya murah demi kebutuhan pasar kapital.

Semenjak kapitalisme mengemuka pasca revolusi Industri di Inggris (1750-1850) yang menandai perkembangan alat produksi manusia, tenaga ahli sangat berguna untuk menjalankan mesin-mesin dan teknologi baru agar tidak jadi rusak dan  berkarat, untuk itulah awal mula dunia pendidikan dibentuk pada awal kemunculan sistem kapitalisme.

Dalam perkembangannya dunia pendidikan di arahkan untuk memproduksi perluasan provit kaum kapialis.

Contohnya pada Perang Dunia ke-II, dimana dunia pendidikan diberi subsidi untuk melakukan berbagai riset dan penemuan untuk memproduksi alat-alat perang, kesehatan, pangan, dan sebagainya.

Setelah penemuan baru ditemukan, hasilnya justru dipatenkan oleh kaum kapilis untuk kepemilikan pribadi bukan kemaslahatan umat manusia.

Sampai sekarang dimana perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dan pabrik-pabrik besar semakin banyak terbuka, maka kebutuhan akan tenaga terdidik yang berbiaya murah menjadi semakin besar akan tetapi hal ini tidak sejalan dengan keberadaan perguruan tinggi yang berkualitas.

Tenaga terdidik yang menjadi prioritas adalah mereka yang memiliki fisik yang bagus, bukan yang serba kekurangan (cacat, difabel, dan disabilitas) karena akan menghambat perkembangan modal.

Dunia pendidikan menjadi tempat untuk mendidik generasi muda agar menjadi penurut dalam tatanan masyarakat kapitalis.

Proses tersebut tersebut dapat kita lihat semenjak mahasiswa memasuki perguruan tinggi.

Baru masuk kuliah saja calon mahasiswa sudah dihadapkan oleh ratusan pesaing untuk masuk di universitas sesuai dengan jurusan yang diinginkannya, tidak sedikit dari mereka yang salah jurusan karena sistem persaingan seperti ini, ditambah lagi dengan mahalnya biaya kuliah.

Setelah masuk perkuliahan mahasiswa dicekoki oleh doktrin untung ruginya para dosen dan menekan mahasiswanya untuk lulus dengan cepat agar mendapatkan pekerjaan, serta berlomba-lomba mendapatkan IPK tertinggi.

Alhasil setelah lulus IPK yang tinggi tadi tidak berguna dalam menghadapi realitas keseharian dan masalah yang ada dalam masyarakat.

Namun kembali berlomba-lomba dengan jutaan sarjana lainnya untuk menggantungkan nasibnya pada institusi-institus kapitalis besar termasuk negara yang notabane hanya untuk menambah provit kaum kapitalis.

Inilah yang membuat banyak generasi muda menjadi teralienasi dari lingkungannya, sebab belajar bukan lagi karena ekspresi diri melainkan kemendesakan dalam hidup.

Model pendidikan seperti ini yang disebut Paulo Freire. sebagai pendidikan “gaya bank”.

Disebut pendidikan gaya bank sebab dalam proses belajar mengajar, dosen tidak memberikan pengertian sejati terhadap ilmu pengetahuan, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada para mahasiswa untuk dikeluarkan dalam bentuk yang sama.

Dosen bertindak sebagai penabung yang menabung informasi sementara mahasiswa dijejali informasi untuk disimpan. Mahasiswa tak lebih hanya sebuah objek, menjadikannya miskin daya cipta.

Dunia pendidikan menjadi tempat berlangsungnya akumulasi modal itu sendiri terjadi.

Proses akumulasi modal tersebut diperas dari nilai lebih yang didapat dari keringat para buruh.

Ini juga yang menyebabkan buruknya sistem belajar mengajar yang dialami oleh mahasiswa.

Dosen misalnya mayoritas berstatus tenaga kerja kontrak (outsourching), honorer, bahkan hubungan kerja yang tak jelas (upah murah, jaminan kesehatan, kecelakaan kerja dan jaminan hari tua).

Ini juga menimpa buruh-buruh di lingkungan kampus lainnya seperti staf-staf kampus, pegawai akademik, satpam, dan pedagang kecil.

Pemotongan anggaran jaminan sosial dan PHK yang terus membayangi para buruh dunia pendidikan tidak sebanding dengan dipotongnya perjalanan dinas para pejabat, pajak progresif bagi perusahaan besar, dan lain-lain.

Oleh karena itu, mahasiswa maupun dosen dan buruh pendidikan lainnya harus menempatkan dirinya sebagai subjek yang berkepentingan mengubah objek, yakni situasi sosio-ekonomi yang kapitalistis sebab sama-sama dirugikan olehnya.

Sudah seharusnya pemilihan pejabat kampus (ketua prodi, dekan, dan rektor) dipilih secara demokratis oleh seluruh buruh-buruh pendidikan.

Karena para buruh inilah yang menentukan berjalannya dunia pendidikan, bukan ditangan segelintir orang birokrat seperti sekarang ini.

Upaya meminimalisir komersialisasi pendidikan yaitu Anggaran pendidikan dalam APBN yang mencapai 20 % harus di gunakan dengan baik.

Gunakan dana yang bertrilyun – trilyun itu secara bijak khususnya pemerataan pendidikan Indonesia.

Jangan ada komersialisasi pendidikan yang hanya akan mengarahkan pendidikan di Indonesia sebagai pendidikan diskriminatif yang hanya dijangkau orang berduit saja.

Komersialisasi pendidikan hanya akan membuka kesempatan adanya korupsi dilembaga pendidikan karena kita tahu korupsi sudah merasuk dalam sendi – sendi dan segala bidang kehidupan negara ini termasuk pendidikan.

Kita yakinkan bersama dengan arah pendidikan Indonesia yang berkeadilan dan menjangkau keseluruh lapisan masyarakat akan membantu dalam memajukan manusia – manusia Indonesia menuju yang lebih baik berdasarkan amanat Undang – Undang Dasar.

Pendidikan akan memberikan sebuah masa depan yang cerah bagi anak bangsa ini yang akan menghadapi era globalisasi yang penuh persaingan.

Sumber daya alam kita yang kaya akan termanfaatkan dengan baik dengan manusia – manusia yang berpendidikan dan terdidik dari pendidikan yang baik.

Membuat anak Indonesia yang miskin pada masa anak – anak dengan ilmu yang dimiliki dan didapat dari pendidikan akan menjadikan mereka terbebas dari sebuah kemiskinan yang membelenggu.

Pendidikan adalah aset penting bangsa ini maka dari itu kita harus mengawal pendidikan nasional kita kearah pendidikan yang merata.

Karena pendidikan adalah hak seluruh warga negara dan untuk kemaslahatan rakyat Indonesia. oleh karena itu untuk meminimalkan komersialisasi dalam pendidikan maka pemerintah mencanangkan program diantaranya :

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan menjadi landasan kuat untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan. Pendidikan  sebagai bekal dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antar bangsa yang berlangsung sangat ketat.

Dengan demikian, pendidikan menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Pendidikan  merupakan faktor determinan bagi suatu bangsa untuk bisa memenangi kompetisi global.

Sejak tahun 1984, pemerintah Indonesia secara formal telah mengupayakan pemerataan pendidikan Sekolah Dasar.

Selanjutnya, pemerintah mencanangkan  wajib belajar pendidikan sembilan tahun mulai tahun 1994. Upaya-upaya ini mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan (dimensi equality of access).

Di samping itu pada tahapan selanjutnya pemberian program beasiswa (dimensi equality of survival) menjadi upaya yang cukup mendapat perhatian dengan mendorong keterlibatan masyarakat melalui Gerakan Nasional Orang Tua Asuh.

Program beasiswa ini semakin intensif ketika terjadi krisis ekonomi, dan dewasa ini dengan program BOS untuk pendidikan dasar.

Hal ini menunjukan bahwa pemerataan pendidikan menuntut pendanaan yang cukup besar tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas tapi juga pemeliharaan siswa agar tetap bertahan mengikuti pendidikan di sekolah.

Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) Tahun 1999-2004 (TAP MPR No. IV/MPR/1999) mengamanatkan, antara lain:

Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti,

Meningkatkan mutu lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk menetapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, olah raga dan seni.

Sejalan dengan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (1) menyatakan bahwa “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu”, dan pasal 11, ayat (1) menyatakan

“Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”.

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya.

Peningkatan taraf pendidikan merupakan salah satu kunci utama mencapai tujuan negara. Tujuan negara bukan saja mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menciptakan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Pendidikan mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa.

Pendidikan memberi kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial. Pendidikan akan menciptakan masyarakat terpelajar (educated people) yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yang sejahtera.

Membangun Sistem Pendidikan Demokratis.

Pendidikan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan terciptanya lingkup demokrasi pendidikan.

Lingkup demokrasi pendidikan demokrasi pendidikan hanya dapat diwujudkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang demokratis.

Namun, faktanya kehidupan yang demokratis masih belum mampu diwujudkan oleh masyarakat kita.

Agar memungkinkan terwujudnya nilai-nilai demokrasi, konsep sistem pendidikan yang demokratis terkait dengan bagaimana pendidikan tersebut disiapkan, dirancang dan dikembangkan.

Ketiga hal tersebut berlaku bagi seluruh komponen pendidikan, yaitu kurikulum, materi pendidikan, sarana prasarana, lingkungan siswa, guru, tenaga pendidik, proses pendidikan dan lainnya.

Bisa juga bersifat khusus yaitu pengemasan komponen-komponen tertentu dari sistem pendidikan tersebut misalnya kurikulum,  bahan pelajaran atau proses belajar mengajar.

Ketiga hal tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga mencerminkan dan memungkinkan terbentuknya nilai-nilai demokrasi.

Dalam mengembangkan sistem pendidikan yang demokratis di Indonesia, perlu memperhatikan tujuh butir prinsip dibawah ini:

Mengutamakan kepentingan masyarakat,

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain,

Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama,

Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan,

Memiliki i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah,

Musyawarah yang dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur,

Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung-jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

Ada beberapa alasan yang mendasari terjadinya komersialisasi pendidikan.

Swastanisasi adalah anak kandung liberalisasi yang semakin menggelobal dan menyentuh berbagai bidang kehidupan.

Merujuk pada George Ritzer, privatisasi pendidikan adalah konsekuensi logis dari menjunjung prinsip kuantifikasi, efisiensi, terprediksi, dan teknologis setiap dalam sendi kehidupan.

Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai public good, pemerintah secara massal untuk menjamin harga murah. Pemerintah merasa tida memiliki dana yang cukup untuk membiayai sektor pendidikan.

Misalnya, karena mengalami kesulitan dana akibatnya krisis ekonomi. Keadaan ini bisa real, dalam arti memang benar pemerintah kekuarangan dana. Namun, bisa juga palsu.

Artinya pemerintah bukan tidak mampu, melainkan tidak mau atau tidak memiliki visi untuk berinvestasi di bidang pendidikan. Dan mungkin pemerintah lebih suka membelanjakan anggrana dengan hal yang lain.

Pemerintah tidak mampu mengelola pendidikan sebagai sektor publik dengan baik.

Akibatnya lembaga pendidikan menjadi tidak efisien (mahal dan tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan), tidak kompetitif (tidak termotivasi untuk bersaing meningkatkan mutu), dan tidak berkembang (mandeg).

Karena swastanisasi merupakan cara untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Lembaga pendidikan kurang memiliki kreativitas dan inovasi dalam melakukan “Fund Raising”, Sehingga hanya mengandalkan siswa dan orang tuanya sebagai target utama perolehan dana.

Secara teoritis, privatisasi pendidikan sesungguhnya tidak selalu bersifat negatif. Berbeda dampak positif yang dapat kita ambil,

Pertama beban pemerintah dalam membiayai pendidikan semakin berkurang. Sehingga anggaran yang tersedia bisa digunakan untuk membiayai aspek lain yang dianggap lebih mendesak.

Misalnya, untuk membiayai “Pendidikan Alternatif”. Semisal pendidikan non-formal untuk kalangan miskin, anak jalanan atau suku terasingkan.

Kedua memeberi peluang lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi mencerdaskan bangsa.

Ketiga lembaga pendidikan menjadi semakin kompetitif. Dapat berdampak pada peningkatan fasilitas dan mutu pendidikan.

Keempat gaji penggiat pendidikan (Dosen dan Guru) dapat lebih ditingkatkan kesejahtraannya yang baik diharapkan dapat memacu kepuasan kerja dan kinerja mereka dalam mencerahkan anak didiknya.

Lemahnya perangkat kebijakan dan penegakan hukum dapat mendistorsi swastanisasi pendidikan yang seblumnya bertujuan mulia.

Privatisasi pendidikan juga dapat membawa dampak sosial yang diharapkan jika tidak disertai aturan main yang jelas dan etika sosial yang benar.

Pendidikan menjadi mahal. Pendidikan menjadi “barang mewah” yang sulit dijangkau oleh masyarakat luas, khsusnya warga kurang mampu.

Hal ini dapat meningkatkan angka putus sekolah pada masyarakat miskin yang pada gilirannya berdampak pada peningkatan pengangguran, anak jalanan, pekerja anak, dan kriminalisasi.

Privatisasi pendidikan dapat meningkatkan kompetisi. Di sisi lain, dampak dari kompetisi adalah terciptanya polarisasi lembaga pendidikan.

Lembaga yang menang dalam persaingan dan perburuan dana akan menjadi sekolah unggulan. Dan sebaliknya lembaga yang kalah dalam persaingan akan menjadi yang terbelakang.

Diskriminasi kesempatan memproleh pendidikan semakin sempit dan diskriminatif.

Orang kaya dapat memproleh pendidikan relatif mudah. Sedangkan orang miskin akan semakin sulit, stigmatisasi.

Terjadi segregasi kelas sosial antara orang kaya dan miskin konsekuensinya terjadi pelebelan sosial yang lebih parah berdampak kepada sikologis anak (kurang mampu) si anak akan merasa minder karena tidak mampu mengikuti irama dan suasana glamour sekolah.

Perubahan misi pendidikan. Pada mulanaya pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan dan memberdayakan masayarakat.

Komersialisasi pendidikan akan menggeser “ budaya akademik” menjadi “ budaya ekonomis”. Para guru akan memiliki mentalitas “ pedagang” ketimbang mentalitas pendidik.

Mereka lebih tertarik mencari pendapatan dari pada mengembangkan pengetahuan.

Gaya Hidup. “besar pasak daripada tiang” banyak anak-anak sekolah gedongan yang membawa mobil mahal (milik orang tuannya) ke sekolah.

Guru dan Dosen dapat terobsesi oleh gaya hidup mewah. Ini akan melahirkan mental “dikator” pada pengajar, yaitu “menjaual diktat untuk beli motor”.

Rantai kemiskinan semakin mustahil diputuskan oleh pendidikan.

Secara sederhana, rantai kemiskinan dapat digambarkan “ Karena Miskin orang tidak sekolah, karena tidak sekolah, ia tidak dapat Pekerjaan.

Karena tidak dapat pekerjaan, ia menjadi miskin dan begitu seterusnnya. Pendidikan sebagai pemberdayaan yang dapat memutus rantai kemiskinan semakin kehilangan fungsinya.

Bab III : Penutup

Source : CNN Indonesia

Makna komersialisasi penddikan adalah bahwa komersialisasi pendidikan yang mengacu pada lembaga pendidikan dengan program pembiayaan sangat mahal sehingga hanya dapat dinikmati oleh sekelompok masyarakat ekonomi kuat yang mengacu pada lembaga-lembaga pendidikan yang hanya mementingkan uang pendaftaran dan uang operasional pendidikan, tetapi mengabaikan kewajiban-kewajiban pendidikan.

Upaya memimalisir komersialisasi dalam pendidikan diantaranya:

Pemerataan Pendidikan di Indonesia

Membangun Sistem Pendidikan Demokratis.

Daftar Pustaka

Asmirawanti,”Komersialisasi Pendidikan”Jurnal Equilibrium Pendidikan Sosiologi Volume IV No. 2 November 2016 ISSN e-2477-0221 p-2339-2401

Astri, Herlina. 2011. “Dampak Sosisal Komersialisasi Pendidikan Tinggi Di Indonesia” Kajian Bidang Kesejahteraan Sosial pada Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi Setjen DPR RI. 16 (3) : 617-622

Bakar , M. Yunus Abu “Pengaruh Paham Liberalisme dan Neoliberalisme Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia” Institut Agama IslamNegeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Vol. 8, No.1,April 2012

Dokumentasi KKL JOMBANG-MALANG PAI IAIN Pekalongan, 24-25 September 2019

Irawaty A. Kahar “ Komersialisasi Pendidikan Di Indonesia : Suatu Tinjauan Dari Aspek Politik, Sosial, Ekonomi dan Budaya. “ Ragam Edisi NO. 23 Tahun XI Januari 2007. Universitas Sumatera Utara

Jayadi, Yadi “ DAMPAK SOSIAL KOMERSIALISASI PENDIDIKAN” (Kemanakah Kita langkahkan Kaki Ini)”, , Mahasiswa UIN SGD Bandung, Bandung, Senin 07 November 2016.

Rustiawan, Hafid. 2015. “Komersialisasi Pendidikan (Analisis Pembiayaan Pendididkan)” Jurnal Keislaman, Kemasyarakatan dan Kebudayaan. 16 (1): 56-60

Suara Progresif, “ Bagaimana Melawan Komersialisasi Pendidikan “Posted on November 27, 2016 by Lingkar Studi Kerakyatan

Demikianlah contoh makalah pendidikan dasar ini saya buat. Untuk lebih memahami sistematika penulisan makalahnya, dapat anda semua download file dalam bentuk Microsoft word di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

Semoga bermanfaat untuk anda semua dan sampai jumpa di contoh makalah berikutnya.

Baca Juga : Contoh Makalah Singkat, Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

 

Categories
makalah

Contoh Makalah Doc

Contoh Makalah Doc – Halo, best jobbers. Salam jumpa dalam portal ilmiah https://bestjobaroundtheworld.com.

Dalam kesempatan kali ini saya akan mengajak Best Jobbers semua untuk kembali membuat karya ilmiah yang menjadi kebutuhan utama kaum intelektual.

Yups apalagi kalau bukan makalah. dalam membuat makalah, format yang sering digunakan adalah bentuk dokumen atau doc. Oleh karena itu, kali ini saya akan mengangkat judul Contoh Makalah Doc untuk artikel saya ini.

Contoh makalah doc ini merupakan makalah asli yang saya buat bersama kawan-kawan saya. Contoh makalah doc ini juga memberikan sumber referensi yang jelas.

Kami sertakan pula footnote dan daftar pustaka, karena memang menjadi syarat utama dalam membuat contoh makalah doc.

Dalam menyusun contoh makalah doc ini saya sedapat mungkin menghindari plagiasi. Mengapa demikian??? Tentu saja karena saya menginginkan hasil yang optimal yang nantinya dapat bermanfaat bagi Best Jobbers semua.

Sehingga dapat Best Jobbers gunakan sebagai salah satu sumber referensi yang jelas. Tak lupa, di akhir artikel ini saya cantumkan pula link download untuk contoh makalah doc  yang otentik.

Di dalam contoh makalah doc  yang otentik ini, semua teori dan materi dapat Best Jobbers jadikan sebagai referensi untuk pembuatan karya ilmiah anda semua.

Kami menggunakan sumber yang jelas dari buku-buku maupun literatur-literatur yang ada dan terverifikasi. Jadi, portal ini akan memudahkan anda untuk membuat sebuah karya ilmiah.

Tanpa menunggu lama lagi, mari kita simak ulasan di bawah ini.

Baca juga : Contoh Makalah Sederhana, Contoh Makalah Singkat

Contoh Makalah Doc Bertema Pendekatan  REBT

contoh makalah doc
source : Irvanhermawanto

Seperti yang telah dijelaskan diatas, membuat makalah biasanya menggunakan format doc atau dibuat dalam software Microsoft Word. Kenapa demikian? Karena software ini sangat familiar digunakan di Indonesia.

Oleh karena itu contoh makalah doc akan sangat membantu anda dalam membuat tugas makalah. Selain itu materi-materi yang saya tuliskan juga dapat anda semua jadikan referensi.

Hal tersebut  karena mengambil teori-teori yang berasal dari sumber yang jelas. dalam artikel ini saya membuat contoh makalah doc dengan tema pendekatan REBT.  Mari Best Jobbers semua kita simak contoh makalah doc di bawah ini.

Contoh Cover Makalah

source : My Archive

Membuat suatu karya ilmiah harus mengikuti prosedur-prosedur yang ada. Ada tata cara dan urutan yang telah ditentukan. Bagian paling awal dalam membuat suatu karya ilmiah adalah membuat cover.

Dalam contoh makalah doc ini, anda dapat melihat cover makalah yang baik seperti contoh  dalam gambar.

Bab I. Pendahuluan

Setelah membuat cover, kita hrus membuat isi dari makalah. Makalah merupakan karya ilmiah sederhana. Setiap makalah berisi 3 bab. Bab I merupakan bagian pendahuluan.

Pada bab I mengulas tentang latar belakang masalah yang diangkat sebagai tema. Latar belakang menjelaskan tentang mengapa penulis mengangkat tema tersebut, apa urgensinya?

Selain itu, latar belakang juga menjadi pijakan teori yang nantinya akan kita abahas pada bab II. Di bawah ini adalah contoh latar belakang

Latar belakang

Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan behavior kognitif yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran. Pendekatan ini dipelopori oleh Elbert Ellis.

Pandangan dasar tentang manusia dalam pendekatan ini menyatakan bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang didapat melalui belajar sosial.

Disamping itu, individu juga memiliki kapasitas belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.  Pada waktu  berpikir  dan  bertingkah laku  rasional  manusia  akan menjadi individu yang efektif, bahagia, dan kompeten.

Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi,  interpretasi,  dan  filosofi  yang  disadari  maupun  tidak  disadari.

Hambatan psikologis  atau  emosional  adalah  akibat  dari  cara  berpikir  yang  tidak  logis  dan irasional.

Hambatan psikologis  atau  emosional ini akan selalu   menyertai  individu  yang  berpikir  dengan  penuh  prasangka,  sangat personal,  dan  irasional. Berpikir  irasional  diawali  dengan  belajar  secara  tidak  logis yang diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan.

Berpikir secara irasional akan  tercermin  dari  penggunaan verbalisasi oleh individu.

Rumusan masalah

Apa yang dimaksud dengan pendekatan REBT?

Bagaimana sejarah REBT?

Bagaimana Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT?

Bagaimana Konsep Dasar REBT?

Apa Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy?

Apa Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT?

Bagaimana Teknik dan Tahapan REBT?

BAB II. PEMBAHASAN

Perspectives of Troy

Inti dari contoh makalah doc dalam artikel ini terdapat pada bab II. Pada bab II ini, semua teori dikomparasikan membentuk suatu pembahasan yang ilmiah.

Penulis dituntut untuk membuat analisa dari teori-teori yang diambil dari literatur yang telah dihasilkan oleh para pakar.

Pengertian Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah pendekatan psikologis yang menekankan pada keterkaitan antara perasaan, tingkah laku dan pikiran.

Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCD.[1]

Menurut Corey, terapi REBT adalah pemecahan masalah yang fokus pada aspek berpikir, menilai, memutuskan, direktif tanpa lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.[2]

Menurut W.S. Winkel, REBT merupakan pendekatan konseling yang menekankan kebersamaan dan interaksi antara berpikir dengan akal sehat, berperasaan dan berperilaku, serta menekankan pada perubahan yang mendalam dalam cara berpikir dan berperasaan yang berakibat pada perubahan perasaan dan perilaku.[3]

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa, REBT merupakan terapi yang berusaha menghilangkan cara berpikir klien yang tidak logis, menggantinya dengan sesuatu yang logis dan rasional .

Konselor  mengkonfrontasikan klien dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya serta menyerang, menentang, mempertanyakan, dan membahas keyakina-keyakinan yang irasional.

Sejarah REBT

REBT adalah pendekatan yang dikembangkan oleh Albert Ellis pada tengah tahun 1950-an. Pendekataan ini menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku.

Pada awalnya pendekatan ini disebut dengan Rational Therapy. Kemudian Ellis mengubahnya menjadi Rational Emotive Therapy padat ahun 1961.

Lalu pada tahun 1993 Ellis mengumumkan bahwa ia mengganti menjadi Rational Emotive Behavior Therapy. REBT merupakan pendekatan kognitif-behavioral.

Dalam proses konselingnya, REBT berfokus pada tingkah laku individu, akan tetapi REBT menekankan bahwa tingkah laku yang bermasalah disebabkan oleh pemikiran yang irasional sehingga focus penanganan pada pendekatan REBT adalah pemikiran individu.

Kata rational yang dimaksud Ellis adalah kognisi atau proses berpikir yang efektif dalam membantu diri sendiri bukan kognisi yang valid secara empiris dan logis.

Menurut Ellis, rasionalitas individu bergantung pada penilaian individu berdasarkan keinginan atau pilihannya atau berdasarkan emosi dan perasaannya.

Ellis memperkenalkan kata behavior pada pendekatan REBT dengan alasan bahwa tingkah laku sangat terkait dengan emosi dan perasaan.[4]

Pandangan Tentang Manusia Dalam REBT

Pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem peraasaan.

Sistem berfikir dan sistem peraasaan ini saling berkaitan dalam sistem psikis individu. Individu berfungsi secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan, dan tingkah laku.

Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya. Secara khusus pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut :

Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir. Ia dapat berpikir  rasional dan irasional

Pikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orangtua dan budayanya

Manusia adalah makhluk verbal dan berpikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional

Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbaling) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akan permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri

Individu berpotensi mengubah arah hidup personal maupun sosialnya

Pikiran dan perasaan yang negatif merusak diri dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali pesepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional (George & Cristiani, 1990, p,82-83).[5]

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia tergambar dalam Quation dari Epictetus yang dikutip oleh Eliis :

Men are disturbed not by things, but by the views which they take of them”. (manusia terganggu bukan karena sesuatu, tetapi karen pandangan terhadap sesuatu).

Landasan filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) tentang manusia, melekat oada epistemology atau theory of knowledge, dialectic, atau sitem berpikir, sistem nilai dan prinsip etik.

Secara epistimology, individu diajak mencari cara yang reliabel dan valid untuk mendapatkan pengetahuan dan menetukan bagaimana kita mengetahui bahwa sesuatu itu benar.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengadvokasi berpikir ilmiah dan berdasarkan bukti empiris.

Secara dialetik, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berasumsi bahwa berpikir logis itu tidak mudah. Kebanyakan individu cenderung ahli dalam befikir tidak logis.

Contoh berpikir tidak logis yang biasanya banyak menguasai individu adalah :

saya harus sempurna

saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!

Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.

Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit daam filosofi Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan,

yaitu : 1) nilai untuk bertahan hidup (survival) , 2) nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, meminimalisirkan stres emosional  dan tingkah laku yang merusak diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh dan bahagia.

Tujuan-tujuan ini dipandang sebagai pilihan daripada kebutuhan. Hidup yang rasional terdiri dari pikiran, perasaan dan tingkah laku yang berkontribusi terhadap pencapaian tujuan-tujuan yang dipilih individu.

Sebaliknya, hidup yang irasional terdiri dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku yang menghambat pencapaian tujuan tersebut. [6]

Selanjutnya, manusia dipandang memiliki tiga tujuan fundamental, yaitu: untuk bertahan hidup (to survie), untuk bebas dari kesakitan (to be relatively free from pain), dan untuk mencapai kepuasan (to be reasonably satisfied or content.

Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) juga berpendapat bahwa individu adalah makhluk hedonistik, dimana tujuan utama hidupnya  adalah  kesenangan dan bertahan hidup.

Hedonisme dapat diartikan sebagai pencarian kenikamatan dan menghindari kesakitan. Bentuk hedonisme khusus yang membutuhkan perhatian adalah penghindaran terhadap kesakitan dan ketidaknyamanan.

Dalam Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), hal ini menghasilkan Low Frustation Tolerence (LFT), individu yang memiliki LFT terlihat dari pernyataan-pernyataan verbalnya seperti: ini terlalu berat, saya pasti tidak mampu, ini menakutkan, saya tidak bisa menjalani ini.

Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu :

Dicintai dan disetujui oleh orang lain adalah sesuatu yang sangat esensial

Untuk menjadi orang yang berharga, individu harus kompeten dan mencapai setiap usahanya

Orang yang tidak bermoral, kriminal dan nakal merupakan pihak yang harus disalahkan

Hal yang sangat buruk dan menyebalkan adalah bila segala sesuatu tidak terjadi seperti yang saya harapkan

Ketidakbahagiaan merupakan hasil dari peristiwa eksternal yang tidak dapat dikontrol oleh diri sendiri

Sesuatu yang membahayakan harus menjadi perhatian dan harus selalu diingat dalam pikiran

Lari dari kesulitan dan tanggung jawab lebih mudah daripada menghadapinya

Seseorang harus memiliki orang lain sebagai tempat bergantung dan harus memiliki seseorang yang lebih kuat yang dapat menjadi tempat bersandar

Masa lalu menentukan tingkah laku saat ini dan tidak bisa diubah

Individu bertanggung jawab atas masalah dan kesulitan yang dialami oleh orang lain

Selalu ada jawaban yang benar untuk setiap masalah. Dengan demikian, kegagalan mendapatkan jawaban yang benar merupakan bencana.

Ellis berpendapat bahwa secara natural berpikir irasional dan memiliki kecenderungan merusak diri (self-derecting behavior), oleh karena itu individu memerlukan bantuan untuk berpikir sebaliknya.

Namun Ellis juga mengatakan bahwa individu memiliki cinta dan menolong orang lain selama mereka tidak berpikir irasional. Untuk menjelaskannya dalm lingkaran berpikir irasional (the circle of irational thingking).

Berpikir irasional mengarah kepada kebencian terhadap diri (self-hate). Self hate mengarah pada tingkah laku yang merusak diri sendiri (self distructed behavior).

Setelah itu  individu akan membenci orang lain sehingga pada akhirnya menyebabkan bertindak irasional kepada orang lain.  Pola yang demikian terjadi  secara terus menerus mengikuti lingkaran tersebut. [7]

Konsep Dasar REBT

Ellis (1993) mengatakan beberapa asumsi dasa REBT yang dapat dikategorisasikan pada beberapa postulat, antara lain:

Pikiran, perasaan dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berineraksi dan mempengaruhi satu sama lain

Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan

Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain disekitarnya.

Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif, emosional, dan tingkah laku. Individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain.

Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi, individu selalu menciptakan keyakinan yang irasional mengenai kejadian tersebut.

Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu.

Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya

Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri (self-defeating behavior).

Proses Berpikir

Menurut pandangan pendekatan Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) individu memiliki tiga tingkatan berpikir, yaitu berpikir tentang apa yang terjadi berdasarkan fakta dan bukti-bukti (inferences), mengadakan penilaian terhadap fakta dan bukti (evaluation), dan keyakinan terhadap proses inferences dan evaluasi (core belief).

Menurut Ellis, yang menjadinya sumber terjadinya masalah-masalah emosional adalah evaluative belief. Dalam  istilah Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT), evaluative belief adalah irational belief  yang dapat dikategorikan menjadi empat, yaitu

Demands (tuntutan) adalah tuntutan atau ekspektasi yang tidak realistis dan absolut terhadap kejadian atau individu yang dapat dikenali dengan kata-kata seperti, harus, sebaiknya, dan lebih baik.

Awfusiling adalah cara melebih-lebihkan konsekuensi negatif dari suatu situasi sampai pada level yang ekstrim sehingga kejadian yang tidak menguntungkan menjadi kejadian yang sangat menyakitkan.

Low frustaion tolerance (LFT) adalah kelanjutan dari tuntutan untuk selalu berada dalam kondisi nyaman dan merefleksikan ketidaktoleransian terhadap ketidaknyamanan.

Global evaluations of human worth, yaitu menilai keberhargaan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bermakna individu dapat diberi peringkat yang berimplikasi bahwa pada asumsi bebrapa orang lebih buruk atau tidak berharga dari yang lain.

Ellis membagi pikiran individu dalam iga tingkatan, yaitu: dingin (cool), hangat (warm), dan panas (hot), yang mengilustrasikan bagaimana emosi terintregasi dalam pikiran.

Pikiran dingin (cool) adalah pikiran yang bersifat deskriptif dan mengandung sedikit emosi, sedangkan pikiran yang hangat (warm) adalah pikiran yang mengarah pada suatu preferensi atau atau keyakinan rasional, pikiran ini mengandung unsur evaluasi yang mempengaruhi pembentukan perasaan.

Adapun pikiran yang panas (hot) adalah pikiran yang mengandung unsur evaluasi yang tinggi dan penuh dengan perasaan.

Rasionalitas Sebagai Filosofi Personal (Rationality as a Personal Philosopy)

RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) membantu individu untuk mengembangkan filosofi hidup yang baru yang dapat membantu mengurangi stress dan meningkatkan kebahagiaan.

Pandangan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT) bahwa individu dapat memilih untuk menyakiti diri sendiri dengan pikiran yang tidak logis dan tidak ilmiah aau mengembangkan kebahagiaan hidup dengan berpikir rasional berdasarkan bukti-bukti dan fakta.

Tujuan-tujuan prinsip rasional adalah untuk meningkakan keyakinan dan kebiasaan yang sesuai dengan prinsip untuk bertahan hidup, mecapai kepuasan dalam hidup, berhubungan dengan orang lain dengan cara positif, dan mencapai keterlibatan yang intim dengan beberapa orang.

Teori ABC

Teori ABC adalah teori tentang kepribadian individu dari sudut pandang pendekatan RationalEmotive Behaviour Therapy (REBT), kemudian ditambahkan D dan E mengakomodasi perubahan dan hasil yang diiginkan dari perubahan tersebut.

Selanjutnya, ditambahkan G yang diletakkan di awal untuk memberikan konteks pada kepribadian individu:

G: (goals) atau tujuan-tujuan yaitu tujuan fundamental

A: (activating evens in a person’s life) atau kejadian yang mengaktifkan atau mengakibatkan individu

B: (beliefs) atau keyakinan baik rasional maupun irasional

C: (consequences) atau konsekuensi baik emosional maupun tingkah laku

D: (disputing irrational belief) atau membantah pikiran irasional

E: (effective new philosophy of life) atau mengembangkan filosofi hidup baru yang lebih efektif

F: (further action/new feeling) atau aksi yang akan dilakukan lebih lanjut dan perasaan baru yang dikembangkan.[8]

Ciri-Ciri Rational Emotive Behaviour Therapy

Ciri-ciri tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

Dalam menelusuri masalah, konselor berperan lebih aktif dibandingkan klien.

Maksudnya adalah konselor harus melibatkan diri dalam proses konseling dengan bersikap efektif, memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien serta bersungguh-sungguh dalam mengatasi masalah klien sesuai dengan keinginan dan disesuaikan dengan potensi yang dimilikinya.

Dalam proses hubungan konseling harus tetap diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengan klien.

Sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan sangat berpengaruh dalam suksesnya proses konseling karena dapat menciptakan proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien.

Hubungan baik ini dapat dipergunakan oleh konselor untuk membantu mengubah cara berfikir klien yang irasional menjadi rasional.

Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien.[9]

Tujuan, Peran dan Fungsi BKPI Dalam REBT

Tujuan Konseling

Tujuan utama konseling dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) adalah membantu individu menyadari bahwa mereka dapt hidup dengan lebih rasional dan lebih produktif.

Secara lebih gamblang, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mengajarkan individu untuk mengevaluasi kesalahan berfikir.

Hal tersebut diperlukan untuk mereduksi emosi yang tidak diharapkan, selain itu Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) membantu individu untuk mengubah kebiasaan berfikir dan tingkah laku yang merusak diri.

Secara umum, Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) mendukung konseli untuk menjadi lebuh toleran terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

Ellis dan Benard (1986) mendiskripsikan beberapa sub dan tujuan yang sesuai dengan nilai dasar pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT).

Sub tujuan ini dapat membantu individu mencapai nilai untuk hidup (to survive) dan untuk menikmati hidup (to enjoy). tujuan tersebut adalah :

Memiliki minat diri (self interest)

Memiliki minat sosial (social interest)

Memiliki pengarahan diri (self direction)Toleransi (tolerance)

Fleksibel (flexibility)

Memiliki penerimaan (acceptance)

Dapat menerima ketidakpastian (acceptance of uncertainty)

Dapat menerima diri sendiri (self acceptance)

Dapat mengambil resiko (risk taking)

Memiliki harapan yang realistis (realistic expectation)

Memiliki toleransi terhadap frustasi yang tinggi

Memiliki tanggung jawab pribadi

Peran dan Fungsi Konselor

Berikut ini adalah peran konselor dalam pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT):

Aktif Direktif, yaitu mengambil peran lebih banyak untuk memberikan penjelasan terutama pada awal konseling

Mengkonfrontasi fikiran irasional konseli secara langsung

Menstimulus konseli dengan berbagai teknik untuk berfikir dan mendidik kembali diri konseli sendiri

Secara terus menerus ”menyerang” pemikiran irasional koseli

Mengajak konseli untuk mengatasi maslah ya dengan kekuatan berfikir bukan emosi

Bersifat didajtif (George & Cristiani, 1990, p.86).

Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) banyak didominasi oleh teknik-teknik yang menggunakan pengolahan verbal.

Oleh karena itu,  dalam melaksanakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), konselor diharapkan memiliki kemampuan berbahasa yang baik karena.

Selain itu, secara umum konselor harus memiliki keterampilan untuk membangun hubungan konseling.

Adapaun keterampilan konseling yang harus dimiliki konselor yang akan menggunakan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), adalah sebagi berikut:

Empati (empathy)

Menghargai (Respect)

Ketulusan (gemuineness) [10]

Teknik dan tahapan REBT

Teknik-teknik Rational Emotive Behaviour Therapy

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. teknik-teknik Rational Emotive Behavior Therapy sebagai berikut :

Teknik-Teknik Kognitif

Teknik-teknik kognitif digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut menerangkan ada empat tahap dalam teknik-teknik kognitif:

Tahap Pengajaran

Dalam REBT, konselor mengambil peranan yang  lebih aktif. Tahap ini memberikan keleluasaan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogisan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut.

Tahap Persuasif

Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya karena pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Dan Konselor juga mencoba meyakinkan, berbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar.

Tahap Konfrontasi

Konselor mengubah cara berpikir klien yang tidak logis dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logika.

Tahap Pemberian Tugas

Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.

Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat jika mereka merasa dikucilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.[11]

Teknik-Teknik Emotif

Teknik-teknik emotif  digunakan untuk mengubah arah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah:

Teknik Sosiodrama

Konselor memberi peluang kepada klien untuk mengekspresikan berbagai perasaan yang menekan dirinya melalui suasana yang didramatisasikan.

Dengan demikian, klien dapat secara bebas mengungkapkan emosi dalam dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis. [12]

Teknik Self Modelling

Konselor meminta klien berjanji untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya.

Teknik Assertive Training

Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.

Teknik-Teknik Behaviouristik

Terapi Rasional Emotif banyak menggunakan teknik behavioristik terutama dalam hal upaya modifikasi perilaku negatif klien, dengan mengubah akar-akar keyakinannya yang tidak rasional dan tidak logis, beberapa teknik yang tergolong behavioristik adalah:

Teknik reinforcement

Teknik reinforcement (penguatan), yaitu: untuk mendorong klien ke arah tingkah laku yang lebih rasional dan logis denagn jalan memberikan pujian verbal (reward) ataupun hukuman (punishment).

Teknik ini dimaksudkan untuk mengubah sistem nilai-nilai dan keyakinan yang irasional pada klien dan menggantinya dengan sistem nilai yang lebih positif.

Teknik social modeling (pemodelan sosial)

Teknik social modeling (pemodelan sosial), yaitu teknik untuk membentuk perilaku-perilaku baru pada klien. Teknik ini dilakukan agar klien dapat hidup dalam suatu model sosial yang diharapkan.

Model sosial yang dimaksud dapat dilakukan dengan cara mutasi (meniru), mengobservasi dan menyesuaikan dirinya maupun  menginternalisasikan norma-norma dalam sistem model sosial dengan masalah tertentu yang telah disiapkan konselor.

Teknik live models

Teknik live models (mode kehidupan nyata), yaitu teknik yang digunakan untuk menggambar perilaku-perilaku tertentu seperti situasi-situasi interpersonal yang kompleks dalam bentuk percakapanpercakapan sosial, interaksi dengan memecahkan maslah-masalah.[13]

Langkah-langkah atau tahap dalam  Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional.

Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri. Untuk mengatasi hal tersebut, konseli membutuhkan konselor untuk membantu mengatasi permasalahannya.

Dalam proses konseling dengan pendekatan REBT terdapat beberapa tahap yang dikerjakan oleh konselor dan konseli.[14]

Untuk mencapai tujuan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) konselor melakukan langkah-langkah konseling antara lainnya :

Langkah pertama

Menunjukkan pada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinan-keyakinan irasionalnya, menunjukkan bagaimana klien mengembangkan nilai-nilai sikapnya yang menunjukkan secara kognitif bahwa klien telah memasukkan banyak keharusan, sebaiknya dan semestinya klien harus belajar memisahkan keyakinan-keyakinannya yang rasional dan keyakinan irasional, agar klien mencapai kesadaran.

Langkah kedua

Membawa klien ketahapan kesadaran dengan menunjukan bahwa dia sekarang mempertahankan gangguan-gangguan emosionalnya untuk tetap aktif dengan terus menerus berfikir secara tidak logis dan dengan mengulang-ulang dengan kalimat-kalimat yang mengalahkan diri dan mengabadikan masa kanak-kanak, terapi tidak cukup hanya menunjukkan pada klien bahwa klien memiliki proses-proses yang tidak logis.

Langkah ketiga

Berusaha agar klien memperbaiki pikiran-pikirannya dan meninggalkan gagasan-gagasan irasional. Maksudnya adalah agar klien dapat berubah fikiran yang jelek atau negatif dan tidak masuk akal menjadi yang masuk akal.

Langkah keempat

Adalah menantang klien untuk mengembangkan filosofis kehidupanya yang rasional, dan menolak kehidupan yang irasional. Maksudnya adalah mencoba menolak fikiran-fikiran yang tidak logis untuk masuk dalam dirinya.[15]

BAB III. PENUTUP

source : Inc.com

Bab III merupakan kesimpulan dari apa yang telah diuraikan di bab II. Dengan demikian contoh makalah doc ini sudah lengkap. Cantumkan pula daftar pustaka yang berisi tentang literatur-literatur yang dijadikan sumber.

Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional  dan  irasional.

Ketika  berpikir  dan  bertingkahlaku  rasional  manusia  akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir danbertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif.

Dalam pendekatan Pendekatan RationalEmotive Behavior Therapy (REBT) yang dipelopori oleh Albert Ellis ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori ABCDE.

Rational Emotive Behavior Therapy menggunakan berbagi teknik yang bersifat kognitif, afektif, behavioral yang disesuaikan dengan kondisi klien. Pada teknik kognitif terdapat tahap pengajaran, persuasif, konfrontasi dan pemberian tugas.

Pada teknik emotif terdapat teknik sosiodrama, self modeling, assertive training. Pada teknik behavioristic terbagi menjadi teknik reinsforcemen, teknik social modeling, dan teknik lives models.

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran dan tingkah laku yang irasional. Dalam proses ini konseli diajarkan untuk menerima bahwa perasaan, pemikiran, dan tingkah laku tersebut diciptakan dan diverbalisasi oleh konseli sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Eresco.

Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: PT Indeks.

Natawidjaya, Rochman. 2009. Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung: Rizqi Press.

Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Pengantar Teori Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.

Surya, Muhammad. 2003. Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Winkel, W.S. 2007. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: PT. Gramedia.

Oke, Best Jobbers demikian contoh makalah doc ini saya buat.

Semoga dapat menambah khazanah keilmuan kita semua. Sebelum saya akhiri silahkan download file aslinya dengan klik link di bawah ini untuk mendapatkan format yang lebih sesuai dengan aturan.

download link

Contoh Makalah Yang Benar

       [1]Gantina Komalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT Indeks, 2011), hlm. 201.

       [2]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, (Bandung: PT. Eresco, 1988), hlm. 156.

       [3]W.S. Winkel, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan (Jakarta: PT. Gramedia, 2007), hlm. 364.

       [4]Gantina Komalasari dkk, Teori dan teknik konseling,… hlm. 201-202.

       [5]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.203

       [6]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.204

       [7]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm.205

       [8]Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 207-211.

       [9]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.89.

       [10] Gantina Komalasari, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 213-214.

       [11]Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985), hlm. 91-92

       [12] Rochman Natawidjaya, Konseling Kelompok Konsep Dasar dan Pendekatan (Bandung: Rizqi Press, 2009), hal. 288

       [13]Muhammad Surya, Teori-teori Konseling (Bandung Pustaka Bani Quraisy, 2003),

       [14]Gantina Komalasari,dkk, Teori dan Teknik Konseling,… hlm. 215.

       [15]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konselig,… hlm. 246.

Categories
Karya Tulis makalah

Contoh Makalah Sederhana

Contoh Makalah Sederhana – Hallo Best Jobbers, salam sejahtera untuk kita semua. Makalah merupakan salah satu bentuk karya ilmiah wajib bagi pelajar dan mahasiswa.

Bagi pelajar yang duduk di bangku SMA/SMK, makalah sudah menjadi tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia yang wajib dikerjakan. Biasanya, siswa SMA/SMK disuruh untuk membuat contoh makalah sederhana oleh guru.

Para siswa disuruh membuat contoh makalah sederhana, disesuaikan dengan kemampuan intelegensi.

Siswa SMA/SMK membuat contoh makalah sederhana, selain sebagai tugas wajib tetapi juga untuk mempersiapkan diri apabila mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi.

Saat mereka melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi, makalah adalah hal wajib yang setiap pertemuan harus ada. Mahasiswa tidak lagi membuat contoh makalah sederhana, tetapi diwajibkan membuat makalah yang berdasarkan penelitian.

Berikut saya berikan kepada Best Jobbers semua contoh makalah sederhana. Jangan lupa untuk download file contoh makalah sederhana dalam bentuk dokumen Microsoft Word di link yang sudah saya sediakan diakhir artikel contoh makalah sederhana ini. Simak yaa….

Baca juga : Contoh Makalah Singkat  Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Sederhana Dengan Tema Psikologi Behavioral

contoh makalah sederhana
Source : FIA UB – Universitas Brawijaya

Contoh Makalah Sederhana – Dibawah ini saya akan memberikan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral secara lengkap. Skema penulisan yang baik dalam membuat contoh makalah sederhana berisi tentang:

Cover Makalah

Kata Pengantar Makalah

Daftar Isi Makalah

BAB I : Pendahuluan Makalah

BAB II : Pembahasan Makalah

BAB III : Penutup Makalah

Daftar Pustaka Makalah

Dalam artikel ini saya langsung membahas BAB I sampai BAB III yang merupakan struktur utama dari suatu makalah. Selamat menyimak, Best Jobbers…

Contoh Bab I : Pendahuluan

source : Lokerbali

Dalam contoh makalah sederhana ini, saya tidak menyertakan contoh cover. Contoh cover yang baik sudah pernah saya lampirkan di artikel sebelumnya.

Untuk penjelasannya sudah pernah saya kupas dalam artikel Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar. Mari kita simak isi dari pendahuluan contoh makalah sederhana seperti di bawah ini.

Latar Belakang

Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam ilmu psikologi.  Behaviorisme yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913, lahir sebagai reaksi atas psikoanalisis yang berbicara tentang alam bahwa sadar yag tidak tampak.

Dalam analisis behaviorisme perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan.  Berbeda dari psikoanalisis, perilaku ini lebih mengonsentrasikan pada modifikasi tindakan.

Perilaku ini berfokus pada perilaku saat ini dari pada masa lampau. Belakangan kaum behaviorisme lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar.[1]

Behaviorisme memandang bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar.

Sehingga, manusia mengembangkan perilaku berdasarkan belajar sosial dengan lingkungan sekitar dirinya bersosialisasi.

Rumusan Masalah

Bagaimana sejarah pendekatan behavioristik?

Bagaimana pandangan manusia menurut pendekatan behavioristik?

Bagaimana konsep dasar pendekatan behavioristik?

Bagaimana teknik-teknik pendekatan behavioristik?

Contoh Bab II : Pembahasan

source : Vandeputte Law

Contoh makalah sederhanaseperti dalam artikel-artikel sebelumnya, telah dijelaskan bahwa ujung tombak dari sebuah makalah adalah BAB II yang berisi pembahasan.

Di sini, seluruh teori yang kita gunakan, asumsi-asumsi para pakar dan analisis tentang pembahasan makalah kita tuliskan. Penulisan pembahasan haruslah sistematis dan menggunakan tata bahasa yang baku dan efektif.

Dibawah ini saya contohkan pembahasan contoh makalah sederhana yang mengangkat tema psikologi behavioral. Simak ya…

Sejarah

Pendekatan behavioral muncul akibat penolakan terhadap aliran struktualisme. Aliran strukturalisme ini berpendapat bahwa perilaku manusia ingin dipahami, mental, perasaan, dan pikiran hendaknya ditemukan terlebih dahulu.

Maka dari itu, maka munculah teori intropeksi. Berbeda dengan aliran behavioristik, yang mana intropeksi tidak dapat menghasilkan data yang objektif, karena kesadaran menurut para pakar behavioristik adalah sesuatu yang Dubios.

Yaitu sesuatu yang tidak dapat diobservasi secara langsung. Pendekatan behavioristik memandang point pentingnya adalah perilaku yang dimunculkan oleh seseorang. Berikut beberapa ahli behavior:

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)

Pavlov berasal dari warga Rusia, yang melahirkan teori calssical conditioning. Yang mana eksperimennya menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan diruang kedap suara sebagai penelitian.

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa rangsangan secara berulang-ulang ditambah dengan unsur penguat maka akan menghasilkan reaksi. Menurut Pavlov ada dua jenis aktivitas organisme yaitu aktvitas yang bersifa reflektif dan aktifitas yang didasadari. [2]

Pavlov dalam eksperimennya mengguanakan anjing sebagai binatang coba. Anjing dioperasi sedemikian rupa, sehingga apabila  air liur keluar dapat dilihat dan dapat ditampung dalam tempat yang yang telah disediakan.

Menurut Pavlov apabila anjing lapar dan melihat makanan, kemudian mengeluarkan air liur. Perilaku  ini merupakan respons yang alami yang reflektif, yang disebut sebagai respons yang tidak berkondisi.

Apabila anjing mendengar bunyi bel dan kemudian menggerakkan telinganya, ini juga merupakan respons yang alami. Bel sebagai stimulus yang tidak berkondisi atau gerak telinga sebagai stimulus yang berkondisi.

Persoalan yang dipikirkan Pavlov adalah apakah dapat dibentuk pada anjing suatu perilaku atau respons apabila anjing mendengar bunyi bel lalu mengeluarkan air liur. Hal inlah yang kemudian diteliti secara eksperimental oleh Pavlov.

Dalam eksperimen ini, hasil pada akhirnya bunyi bel berkedudukan sebagai stimulus yang berkondisi dan mengeluarkan air liur sebagai respons berkondisi. Apabila bunyi bel diberikan setelah diberikan makanan, maka tidak akan terjadi respons yang berkondisi tersebut.[3]

Edward Lee Thorndike (1874-1949)

Thorndike lahir di Williamsbug tahun 1874, salah satu hasil karyanya yaitu penelitian mengenai psikologi binatang serta teori belajar trial and error.

Konsepnya menekankan kepada aspek fungsional perilaku adalah proses mental dan perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Eksperimen Thorindike menetapkan tiga macam hukum yang dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar, berikut tiga macam hukum :

The Law of readiness, adalah salah satu faktor penting dalam belajar. Seseorang harus memiliki kesiapan dan kesediaan, yang mana keduanya akan mempengaruhi hasil belajar apakah baik atau buruk.

The law of excercise, mempunyai dua hal penting yaitu hukum kegunaan hukum yang menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon menjadi semakin kuat jika sering digunakan, kedua

The law of effec, lebih menitikberatkan kepada penguatan atau memperlemah hubungan stimulus dan respons tergantung kepada hasil dari respon yang bersangkutan.

Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Skinner ini melahirkan teori pengkondisian operan (operant conditioning). Eksperimen Skinner didemonstrasikan dengan seekor tikus yang lapar, yang diletakkan dalam sebuah kotak yang dinamakan kotak Skinner.

Didalam kotak Skinner tersebut tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah jeruji yang menonjol dimana terdapat piring makanan dibawahnya. Sebuah lampu kecil diatas jeruji dapat dinyalakan menurut kehendak pelaku eskperimen.

Tikus yang dibiarkan sendiri didalam kotak, berjalan kesana kemari menjelajahi aan sekitar. Kadang-kadang tikus melihat jeruji tersebut dan menekannya. Lalu penekanan tikus pertama terhadap jeruji merupakan peringkat dasar penekanan jeruji.

Setelah menentukan peringkat dasar, pelaku eksperimen menggerakkan bubuk makanan yang diletakkan diluar kotak Skinner. Sekarang setiap kali tikus menekan jeruji, butir halus makanan terluncur jatuh ke piring makanan.

Tikus memakannya dan segera menekan jeruji lagi. Makanan menguatkan (reinforce) penekanan jeruji dan laju penekanan meningkat secara drastic.

Bila tempat makanan tidak dihubungkan dengan jeruji, sehingga penekanan jeruji tidak lagi mengeluarkan makanan, laju penekanan jeruji akan berkurang.

Berarti, respon operan mengalami pemadaman (extinction) tanpa adanya penguatan, sama seperti yang terjadi pada respon pengkondisian klasik.[4]

John Broadus Watson (1878-1958)

Inti Behavioristik yaitu memprediksi dan mengontrol perilaku. Menurutnya perilaku yang dapat dipelajari adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kesadaran. Karena kesadaran adalah sesuatu yang dubios.

Metode yang dikembangkannya adalah kajian binatang dan anak-anak, seperti pengkondisian pobia dan rasa takut pada anak.

Pandangan Manusia

Menurut Dustin dan George mengemukakan pandangan behavioristik terhadap konsep manusia yaitu:

Manusia dipandang sebagai individu yang pada hakekatnya bukan individu yang baik atau jahat, tetapi sebagai individu yang selalu berada dalam keadaan yang sedang menjalani, yang memiliki kemampuan untuk menjadi sesuatu pada semua jenis perilaku.

Manusia dapat menjabarkan dan mengartikan serta dapat mengontrol perilaku yang ada pada dirinya sendiri. Manusia mampu memperoleh perilaku yang baru.

Manusia bisa mempengaruhi perilaku orang lain sama halnya peirlakunya yang bisa dipengaruhi orang lain[5]

Ciri Khusus Konseling Behavior

Proses konseling mendasarkan pada prinsip dan prosedur metode ilmiah Mengkaji perilaku saat ini dan faktor yang mempengaruhinya.

Konseli yang terlibat dalam konseling behavior berperan aktif dengan terlibat dalam tindakan spesifik untuk mengangani masalah mereka.

Fokusnya adalah oada menilai perilaku terbuka dan rahasia secara langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan Penaksiran objek atas hasil-hasil konseling[6]

Pribadi sehat

Tingkah laku manusia didapat dengan cara belajar dan juga tingkah laku tersebut dapat diubah dengan menggunakan prinsip-prinsip belajar.

Pribadi yang sehat adalah pribadi yang tingkahlakunya sesuai dengan pengkondisian. Dalam pandangan teori ini kepribadian individu yang sehat adalah sebagai berikut:

Dapat merespon stimulus yang ada di lingkungan secara tepat

Tidak kurang dan tidak berlebihan dalam tingkah laku, memenuhi kebutuhan

Mempunyai derajat kepuasan yang tinggi atas tingkah laku atau bertingkahlaku dengan tidak mengecewakan diri dan lingkungan

Dapat mengambul keputusan yang tepat atas konflik yang dihadapi

Mempunyai self control yang memadai

Pribadi tidak sehat

Menurut Namora Lumongga Lubis mengatakan adapun peirlaku bermasalah dalam konsep behavioristim adalah perilaku yang tidak sesuai/tepat dengan yang diharapkan oleh lingkungan.

Perilaku yang salah ini dapat ditandai dengan muncuknya konflik antar individu dengan lingkungannya. Pribadi yang tidak sehat adalah sebagai berikut:

Tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan

Cara belajar atau lingkungan yang salah

Cenderung merespon tingkah laku negatif dari lingkungan

Gagal dalam belajar[7]

Ciri unik terapi tingkah laku

Terapi tingkah laku berbeda dengan sebagian besar pendekatan terapi lainnya ditandai oleh:

Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik

Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment

Perumusan prosedur treatment yang spesifik yang sesuai dengan masalah, dan’

Penaksiran objektif atas hasil-hasil terapi

Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku maladaptif, serta memperkua dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan.

Tujuan treatment yang spesifik ini maksudnya adalah klien diminta untuk menyatakan dengan cara-cara yang konkret jenis-jenis tingkah laku masalah yang dia ingin mengubahnya.

Kemudian, setelah mengembangkan pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan treatment, terapis harus memilih prosedur-prosedur yang paling sesuai untuk mencapai tujuan-tujuan itu.

Berbagai teknik tersedia, yang keefetifannya bervariasi dalam mengangani masalah-masalah tertentu.

Misalnya teknik-teknik aversi tampaknya paling berguna sebagai cara-cara untuk mengembangkan kendali dorongan, orang yang mengalami hambatan dalam menampilkan diri dan dalam bergaul bisa mengambil manfaar dari latihan asertif.

Pengulangan tingkah laku berguna untuk menguatkan tingkah laku yang baru diperoleh, desentisasi tampaknya paling berguna bagi penanganan fobia-fobia.

percontohan yang digabunkan dengan perkuatan positif tampaknya cocok bagi perolehan tingkah laku sosial yang kompleks.

Tingkah laku yang dituju dispesifikasi dengan jelas. Tujuan-tujuan treatment dirinci dan metode-metode terapeutik diterangkan, untuk mendapatkan  hasil-hasil yang menjadi dapat dievaluasi.

Terapi tingkah laku kriteria yang didefinisikan dengan baik bagi perbaikan atau penyembuhan. Karena terapi tingkah laku menekankan evaluasi atas keefektifan teknik-teknik yang digunakan.

Evolusi dan perbaikan yang berkesinambungan atas prosedur-prosedur treatment menandai proses terapeutik. [8]

Tujuan Konseling Pendekatan Behavior

Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar

Penghapusan hasil belajar yang maladaptive

Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari

Membantu konseli membuang respons-respons yang lama yang merusak diri atau maladaptive dan mempelajari respons-respons baru yang lebih sehat dan sesuai

Konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku maladaptive,memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan

Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran dilakukan Bersama antara konseli dan konselor

Peran dan Fungsi

Konselor harus memainkan peran aktif, direktif, dan menggunakan pengetahuan ilmiah dalam menemukan solusi masalah konseli.

Konselor berfungsi sebagai guru, pengarah, dan ahli. Dalam proses konseling, konseli yang menentukan tingkah laku apa (what) yang akan diubah, sedangkan konselor menentukan cara yang digunakan untuk mengubahnya (how). [9]

Desentisasi sistematik (DS)

Teknik DS digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku meghindar. DS dilakukan dengan menerapkan pengkondisian klasik yaitu dengan melemahkan kekuatan stimulus penghasil kecemasan.

Melibatkan Teknik relaksasi Melatih konseli untuk santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau divisualisasi. Cocok untuk : fobia, takut ujian, impotensi, ketakutan yang digeneralisasi

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

Analisis tingkah laku yang membangkitkan kecemasan

Menyususn tingkat kecemasan

Membuat daftar situasi yang memunculkan taraf kecemasan dari paling rendah hingga paling tinggi

Melatih relaksasi konseli

Konseli mempraktikkan 30 menit setiap hari, hingga terbiasa untuk santai

Pelaksanaan desensitisasi konseli dalam santai dan mata tertutup

Meminta konseli membayangkan situasi yang membuat rileks, kemudian diikuti membayangkan pemicu kecemasan paling rendah

Dilakukan terus secara bertahap sampai tingkat yang memunculkan rasa cemas, dan hentikan

Kemudan dilakukan relaksasi lagi sampai konseli santai, kemudian membayangkan pemicu kecemasan lagi pada tahap yang lebih tinggi dari seblumnya

Terapi selesai ketika konseli mampu tetap santai pada kondisi membayangkan kecemasan yang sebelumnya dianggap paling menggelisahkan.

Implosif dan pembanjiran

Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa pemberian perkuatan.

Teknik pembanjiran berbeda dengan teknik desensitisasi sistematik dalam arti teknik pembanjiran tidak menggunakan agen pengondisian balik maupun tingkatan kecemasan.

Terapis memunculkam stimulus-stimulus penghasil kecemasan, klien membayangkan situasi, dan terapis beruasaha mempertahankan klien.

Stampfl (1975) mengembangkan teknik yang berhubugan dengan teknik pembanjiran, yang disebut “terapi impolsif” : seperti halnya dengan desensitisasi sistematik.

Terapi impolsif berasumsi bahwa tingkah laku neurotic melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus-stimulus penghasil kecemasan. Terapi impolsif berbeda dengan desensitisasi sistematik dalam usaha terapis  untuk menghadirkan luapan emosi yang masif.

Alasan yang digunakan oleh teknik ini adalah bahwa jika seseorang secara berulang-ulang dihadapkan pada suatu situasi penghasil kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan tidak muncul, maka kecemasan tereduksi atau terhempas.

Klien di arahkan untuk membayangkan situasi-situasi (stimulus-stimulus) yang mengancam. Dengan secara berulang-ulang dan dimunculkan dalam setting terapi dimana konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul.

Stimulus-stimulus yang mengancam kehilangan daya menghasilan kecemasannya, dan penghindaran neurotic pun terhapus.

Menurut Stampfl (1975), mencontohkan terapi impulsif langsung dengan melukiskan seorang klien yang mengalami kecenderungan-kecenderungan obsesif pada kebersihan.

Klien memiliki ketakutan yang berlebian terhadap kuman dan mencuci tangannya lebih dari seratus kali sehari.

Prosedur-prosedur penanganan klien mencakup :

(1) pencarian stimulus-stimulus yang memicu gejala-gejala,

(2) menaksir bagaimana gejala-gejala berkaitan dan bagaimana gejala-gejala itu membentuk tingkah laku klien,

(3)meminta kepada klien untuk membayangkan sejelas-jelasnya apa yang dijabarkannya tanpa desertai celaan atas kepantasan situasi yang dihadapinya,

(4) bergerak semakin dekat kepada ketakutan yang paling kuat yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa yang paling ingin dihindarinya, dan ;

(5) mengulang prosedur-prosedur tersebut sampai kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.

Latihan asertif

Pendekatan behavioral yang dengan cepat mencapai popularitas adalah latihan asertif yang bisa di terapkan terutama pada situasi-situasi interpersonal dimana individu mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan bahwa menyatakan atau menegaskan diri adalah tindakakan yang layak atau benar.

Latihan asertif membantu bagi orang yang (1) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung, (2) menunjukkan kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya,

(3) memiliki kesulitan untuk mengatakan “tidak”, (4) mengalami kesulitan untuk mengungkapkanafeksi dan respons-respons positif lainnya, dan (5) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-peraaan dan pikiran-pikiran sendiri.

Shaffer dan Galinsky (1974) menerapkan bagaimana kelompok-kelompok latihan asertif atau “latihan ekspresif” dibentuk dan berfungsi.

Kelompok terdiri atas delapan sampai sepuluh anggota memiliki latar belakang yang sama, dan session terapi berlangsung selama dua jam. Terapis menjadi penyelenggara dan pengarah permainan peran, pelatih, pemberi perkuatan, dan sebagai model peran.

Dalam diskusi-diskusi kelompok, terapis bertindak sebagai seorang ahli, memberikan bimbingan dalam situasi-situasi permainan peran, dan memberikan umpan balik kepada para anggota.

Sepert kelompok terapi tingkah laku lainnya, kelompok laihan asertif ditandai dengan struktur yang mempunyai pemimpin. Secara khas session berstruktur sebagai berikut :

(1) yang dimulai dengan pengenalan didaktik tentang kecemasan social yang tidak realistis, pemusatan pada belajar menghapuskan respons-respons internal yang tidak efektif yang telah mengakibatkan kekurangtegasan dan pada belajar peran tingkah laku baru yang asertif.

(2) memperkenalkan sejumlah latihan relaksasi, dan masing-masing anggota menerangkan tingkah laku spesfik dalam situasi-situasi interpersonal yang dirasakannya menjadi masalah.

Peran anggota kemudian membuat perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri yang semula mereka hindari sebelum memasuki session selanjutnya.

(3) para anggota menerangkan tentang tingkah laku menegaskan diri yang telah di coba dijalankan oleh mereka dalam situasi-situasi dalam kehidupan nyata.

Mereka berusaha mengevaluasi dan jika mereka belum sepenuhnya berhasil, kelompok langsung menjalankan permainan peran.

(4) penambahan lahitan relaksasi, pengulangan perjanjian untuk menjalankan tingkah laku menegaskan diri, dan yang diikuti oleh evaluasi.

(5) di sesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan individual para anggota. Sejumlah kelompok cenderung berfokus pada permainan peran tambahan, evaluasi, dan latihan.

Kelompok yang lainnya berfokus pada usaha mendiskusikan sikap-sikap dan perasaan-perasaan yang telah membuat tingkah laku menegaskan diri sulit dijalankan.

Terapi kelompok latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan tingkah laku pada kelompok dengan sasaran membantu individu-individu dalam mengembangkan cara-cara berhubungan yang lebih langsung dalam situasi-situasi interpersonal.

Fokusnya adalah mempraktekkan, melalui permainan peran, kecakapan-kecakapan bergaul yang baru diperoleh.

Dengan demikian individu-individu diharapkan mampu mengatasi dan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran mereka secara lebih terbuka disertai keyakinan bahwa mereka berhak untuk menunjukkan reaksi-reaksi yang terbuka itu.

Terapi Aversi

Teknik aversi digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk, meningkatkan kepekaan klien agar mengganti respons pada stimulus yang disenangi dengan kebalikan respons terhadap stimulus tersebut.

Respons dibarengi stimulus yang merugikan atau tidak mengenakan dirinya. Contohnya ialah untuk menyembuhkan pria homoseks. Kepada pria homoseks diperlihatkan foto pria telanjang sambil mengalirkan setrum listrik pada kakinya yang tidak beralas.

Dalam terapi ini, setiap kali kepada klien diperlihatkan stimulus yang disenangi (foto pria telanjang) diikuti dengan rasa sakit akibat di setrum listrik. Selalu seperti itu setiap melihat foto pria telanjang selalu dibarengi rasa sakit dan lama kelamaan tidak tertarik lagi pada pria.

Teknik- teknik pengkondisian aversi, yang telah digunakan secara luas untuk meredakan gangguan-gangguan behavioral spesifik, melibatkan pengasosian tingkah laku yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya.

Stimulus-situmulus aversi biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau pemberian ramuan yang membuat mual. Kendali aversi bisa melibatkan penarikan pemerkuat positif atau penggunaan berbagai bentuk hukuman.

Contoh pelaksanaan penarikan pemerkuat positif adalah mengabaikan ledakan kemarahan anak guna menghapus kebiasaan mengungkapkan ledakan kemarahan pada si anak. Jika perkuatan ditarik, tingkah laku yang tidak diharapkan cenderung berkurang frekuensinya.

Contoh penggunaan hukuman sebagai cara pengendalian adalah pemberian kejutan listrik kepada anak autistik ketika tingkah laku spesifik yang tidak diinginkan muncul.

Teknik ini merupakan metode yang paling kontroversial yang dimiliki oleh para behavioris meskipun digunakan secara luas sebagai metode untuk membawa orang kepada tingkah laku yang diinginkan.

Dimana kondisi-kondisi diciptakan sehingga orang-orang melakukan apa yang diharapkan dari mereka dalam rangka menghindari konsekuensi-konsekuensi aversif.

Sebagian besar lembaga sosial menggunakan teknik ini untuk mengendalikan para anggotanya dan untuk membentuk tingkah laku individu agar sesuai dengan apa yang telah digariskan.

Sebagai contoh di Gereja menggunakan pengucilan, perusahaan-perusahaan menggunakan pemecatan dan penangguhan pembayaran upah, sedangkan pemerintah menggunakan denda dan hukuman penjara.

Dalam setting yang lebih formal dan terapeutik, teknik-teknik aversif sering digunakan dalam penanganan berbagai tingkah laku yang maladaptif seperti ketergantungan alkohol, obat bius, kecanduan merokok, serta penyimpangan seksual seperti homoseksual maupun pedofilia.

Seperti contohnya dalam menangani seorang alkoholik, dia tidak dipaksa untuk menjauhkan diri dari alkohol, tetapi justru disuruh meminum alkohol. Akan tetapi, setiap tegukan alkohol disertai pemberian ramuan yang akan membuat mual dan kemudian muntah.

Si alkoholik lambat laun akan merasa sakit bahkan meskipun hanya melihat botol alkohol.[10]

Pengkondisan operant

Tingkah laku operan adalah tingkah laku yang memancar yang menjadi ciri organisme aktif.  Ia adalah tingkah laku beroperasi di lingkungan untuk menghasilkan akibat-akibat.

Menurut Skinner jika suatu tingkah laku diganjar, maka probabilitas kemunculan kembali tingkah laku tersebut di masa mendatang akan tinggi.

Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan, atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengkondisian operan.

Pengkondisian operan ini mencakup teknik-teknik lain yaitu perkuatan positif, pembetukan respons, perkuatan intermiten, penghapusam percontohan, dan token ekonomi.[11]

Perkuatan positif

Cara yang ampuh untuk mengubah tingkah laku adalah dengan pembentukan suatu pola tingkah laku dengan memberikan ganjaran segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Pemerkuat-pemerkuat ini dapat berupa:

Pemerkuat primer, memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis. Contoh makanan dan tidur atau istirahat.

Pemerkuat sekunder, yang memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis dan sosial, memiliki nilai-nilai karena berasosiasi dengan pemerkuat-pemerkuat primer. Contoh senyuman, persetujuan, pujian, penghargaan, dan hadiah-hadiah.

Pembentukan respons

Dalam pembentukan respons, tingkah laku sekarang secara bertahap diubah dengan memperkyat unsur-unsur kecil dari tingkah laku baru yang diinginkan secara berturut-turut sampai mendekati tingkah laku akhir.

Pemberntukan respons berwujud pengembangan suatu respons yang pada mulanya tidak terdapat perbendaharaan tingkah laku individu. Perkuatan sering digunakan dalam pembentukan respons ini.

Perkuatan intermiten

Disamping membentuk perkuatan-perkuatan bisa juga digunakan untuk memlihara tingkah laku yang telah terbentuk. terapis harus memahami kondisi-kondisi umum dimana perkuatan-perkuatan muncul agar dapat memaksimalkan nilai-nilai pemerkuat.

Oleh kerenanya, jadwal-jadwal perkuatan merupakan hal yang penting. Penguatan ini akan terus-menerus mengganjar tingkah laku setiap kali ia muncul. Sedangkan penguatan intermiten diberikan secara lebih bervariasi kepada tingkah laku yang spesifik.

Tingkah laku yang dikoondisikan oleh penguatan intermiten lebih tahan terhadap penghapusan dibanding tingkah laku yang dikondisikan melalui pemberian perkuatan yang terus-menerus.

Terapis harus mengganjar setiap terjadi munculnya tingkah laku yang diinginkan pada tahap-tahap permulaan. Hal ini dilakukan dalam menerapkan pemberian perkuatan pada pengubahan tingkah laku.

Setelah tingkah laku yang diinginkan itu muncul, perkuatan-perkuatan diberikan segera. Dengan cara ini, penerimaan perkuatan akan belajar, tingkah laku spesifik apa yang diganjar.

Bagaimanapun, setelah tingkah laku yang diinginkan itu emningkat frekuensi kemunculannya, frekuensi pemberian perkuatan bisa dikurangi.

Seorang anak yang diberi pujian setiap berhasil menyelesaikan soal-soal matematika, misalnya memiliki kecenderungan yang lebih kuat untuk berputus asa ketika menghadapi kegagalan dibanding dengan apabila si anak hanya diberi pujian sekali-kali.

Prinsip perkuatan intermiten bisa menerangkan mengapa orang-orang bisa tahan dalam bermain judi atau dalam memasang taruhan paa pacuan kuda. Mereka cukup terganjar untuk bertahan meskipun mereka lebih banyak kalah daripada menang.[12]

Penghapusan

Apabila suatu respon terus-menerus dibuat tanpa perkuatan maka respon tersebut cenderung menghilang. Dengan demikian, pola-pola tingkah laku yang dipelajari cenderung melemah dan terhapus setelah suatu periode .

cara untuk menghapus tingkah laku yang maladaptif adalah menarik perkuatan dari tingkah laku yang maladptif itu. Penghapusan dalam kasus semacam itu berlangsung lambat karena tingkah laku yang akan dihapus telah dipelihara oleh perkuatan intermiten dalam jangka waktu lama.

Wolpe (1969) menekankan bahwa penghentian pemberian perkuatan harus serentak dan penuh.

Misalnya, jika seorang anak menunjukkan kebandelan dirumah dan di sekolah, orang tua dan guru si anak bisa menghindari pemberian perhatian sebagai cara untuk mrnghapus kebandelan anak tersebut.

Perkuatan positif bisa diberikan kepada si anak agar belajar tingkah laku yang diinginkan pada saat yang sama.

Terapis, guru, dan orang tua yang menggunakan penghapusan sebagai teknik utama dalam menghapus tingkah laku yang tidak diinginkan harus mencatat bahwa tingkah laku yang tidak diinginkan itu pada mulanya bisa menjadi lebih buruk sebelum akhirnya terhapus atau terkurangi.

Contohnya seorang anak yang telah belajar bahwa dia biasanya memperoleh apa yang diinginkan dengan mengomel mungkin akan memperhebat omelannya.

Hal itu dilakukan ketika permintaan tidak segera dipenuhi. Jadi kesabaran menghadapi periode peralihan sangat diperlukan.[13]

Percontohan

Individu cenderung mengamati seorang model dan kemudian diperkuat untuk mencontoh tingkah laku sang model.

Bandura (1969) menyatakan bahwa belajar yang bisa diperoleh melalui pengamatan langsung bisa pula diperoleh secara tidak langsung dengan mengamati tingkah laku orang lain berikut konsekuensinya.

Jadi kecakapan sosial tertentu bisa diperoleh dengan mengamati dan mencontoh tingkah laku model-model yang ada.

Juga reaksi emosional yang terganggu yang dimiliki seseorang bisa dihapus dengan cara orang itu mengamati tanpa mengalami akibat yang menakutkan dengan tindakan yang dilakukannya.

Pengendalian diri pun bisa dipelajari melalui pengamatan atas model yang dikenai hukuman. Status dan kehormatan model sangat berarti dan ornag-orang pada umunya dipengaruhi oleh tingkah laku model-model yang menempati status yang tinggi dan terhormat dimata mereka sebagai pengamat.

Token economy

Apabila persetujuan dan pemerkuat-pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh, metode token economy dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku.

Contoh Bab III : Penutup

 

source : Davidson Lawyers LLP

Terakhir, contoh makalah sederhana ditutup dengan BAB III yang berisi kesimpulan dari semua materi yang telah kita tulis di bab sebelumnya. Jangan lupa juga untuk menyertakan daftar pustaka literasi yang menjadi referensi.

Kesimpulan

Pendekatan behavior tidak menguraikan asumsi-asumsi filosofis tertentu tentang manusia secara langsung. Setiap manusia dipandang  memiliki kecenderungan-kecenderungan positif dan negative yang sama.

Manusia pada dasarnya di dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan social budayanya. Segenap tingkahlaku manusia itu dipelajari.

Hakikat manusia pada pandangan behavioris yaitu pada dasarnya manusia tidak memiliki bakat apapun, semua tingkahlaku manusia adalah hasil belajar.

Konseling behavioral memiliki sejumlah teknik spesifik yang digunakan untuk melakukan pengubahan perilaku berdasarkan tujuan yang hendak dicapai.

DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, Rita L. & Richard G. 2009. Atkinson, Pengantar Psikologi.Jakarta : Erlangga

Setiawan, M. Andi.2018.Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), Yogyakarta:CV Budi Utama

Suryabrata,Sumadi.1998.Psikologi Pendidikan.Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Corey,Gerald.2009.Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi.Bandung:PT Refika Aditama.

Demikianlah contoh makalah sederhana yang saya tuliskan di artikel ini. Jangan lupa untuk download file Ms. Wordnya di link ini :

Contoh Makalah Yang Benar

[1]Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi, (Jakarta : Erlangga, 2009), hlm. 8

[2]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi), (Yogyakarta : CV Budi Utama, 2018), hlm. 33

[3] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta : PT. RajaGrafindo Persada, 1998), hlm. 261

[4] Rita L. Atkinson & Richard G. Atkinson, Pengantar Psikologi,…, hlm. 305

[5]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.36

[6]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm.38-39

[7]M. Andi Setiawan, Pendekatan-Pendekatan Konseling (Teori dan Aplikasi)…, hlm. 40

[8]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi, (Bandung : PT Refika Aditama, 2009),Hlm. 196-197

[9] Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 202

[10]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm.  214-218

[11]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…,hlm. 218-129

[12]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 220

[13]Gerald Corey, Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi…Hlm. 221

Categories
Karya Tulis

Contoh Makalah Singkat

Contoh Makalah Singkat-Halo Best Jobbers, selamat datang di portal https://bestjobaroundtheworld.com, portal keilmuan yang aktual tajam dan terpercaya.

Bagi Anda yang masih duduk di bangku sekolah atau perguruan tinggi tugas dalam bentuk makalah adalah sebuah kewajiban. Makalah merupakan suatu karya ilmiah, sudah tentu memiliki kerangka yang baku.

Banyak sekali contoh makalah singkat yang beredar di internet sekarang ini . Diantaranya masih banyak yang salah salah atau tepatnya masih belum sempurna. Tugas membuat makalah sangat menyita banyak waktu.

Seringkali pelajar maupun mahasiswa merasa terbebani olehnya dan hanya membuat makalah yang singkat saja. Berbagai artikel tentang contoh makalah singkat sangat dibutuhkan pelajar maupun mahasiswa.

Contoh makalah singkat yang baik dan benar lebih mengedepankan esensi dari pembahasan. Dalam artikel ini, saya akan memberikan contoh makalah singkat yang dapat Best Jobbers gunakan untuk pedoman dalam membuat makalah.

Contoh makalah singkat yang saya tuliskan di sini mudah-mudahan dapat membantu Best Jobbers dalam membuat sebuah makalah. Jangan lupa, di akhir artikel ini juga akan saya cantumkan link yang dapat anda gunakan untuk mendownload contoh makalah singkat dalam versi doc.

Simak sampai kalimat terakhir ya, Best Jobbers……

Baca juga : Contoh Makalah Yang Benar, Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Contoh Makalah Singkat Bertema Gender

source :Okezone Lifestyle

Di bawah ini saya akan memberikan contoh makalah singkat bertema Gender. Contoh makalah singkat ini merupakan tugas kuliah dari yang saya dapatkan dari kawan saya yang sedang menempuh pendidikan sarjana strata 1 (S1) di salah satu perguruan tinggi Islam negeri.

Kawan saya telah menghibahkan contoh makalah singkat ini kepada saya dan   memberikan izin untuk meng-share makalah ini di https://bestjobaroundtheworld.com. Simak lengkapnya di sini…

Contoh Bab I

source : Suara.com

Bab I berisi tentang pendahuluan yang terdiri dari latar belakang dan rumusan masalah. Pendahuluan merupakan bagian awal dari sebuah makalah. Dalam contoh makalah singkat ini, saya menyertakan pendahuluan yang dapat Best Jobbers semua simak di bawah ini ……

Latar Belakang

Hakikatnya, semua mahluk diciptakan berpasangan. Pada manusia misalnya, ada laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan dalam derajat, harkat, dan martabat yang sama. Kalaupun memiliki bentuk dan fungsi yang berbeda, itu semua agar keduanya saling melengkapi.

Namun dalam perjalanan kehidupan manusia, banyak terjadi perubahan peran dan status atas keduanya, terutama dalam masyarakat. Proses tersebut lama kelamaan menjadi kebiasaan dan membudaya.

Dan berdampak pada terciptanya perlakuan diskriminatif terhadap salah satu jenis kelamin.

Karena itu, masalah stereotip, subordinasi, marjinalisasi, beban ganda, dan kekerasan (terutama terhadap perempuan) seperti pelecehan s#ksual dan perdagangan perempuan (trafficking) telah berlangsung lama. Sama lamanya dengan perjalanan sejarah peradaban manusia.

Rumusan Masalah

Apa definisi gender?

Bagaimana bentuk-bentuk gender?

Apa faktor-faktor yang memengaruhi gender?

Bagaimana kondisi psikologis komunitas gender?

Bagaimana konseling untuk gender?

Contoh Bab 2

Contoh Makalah Singkat
source : ARTIKULA.ID

BAB 2 berisi pembahasan. Pembahasan merupakan inti dari makalah. Pembahasan berisi pemaparan-pemaparan teori, konsep dan asumsi para ahli.

Pembahasan merupakan pengembangan dari BAB I (pendahuluan). Lebih lanjut, untuk mengetahui pembahasan dalam contoh makalah singkat ini, mari Best Jobbers semua simak contoh pembahasan di bawah ini …..

Pengertian Gender

Para ilmuwan sosial mengkonsepsikan gender untuk menjelaskan perbedaan perempuan dan laki-laki yang tidak bersifat bawaan (kodrat) sebagai ciptaan Tuhan dan yang bersifat bentukan budaya yang dipelajari dan disosialisasikan dalam keluarga sejak usia dini.[1]

Kata gender secara etimologis dalam Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Inggris, yaitu ‘gender’. Apabila dilihat dalam kamus bahasa Inggris, tidak secara jelas dibedakan pengertian antara s#x dan gender.

Seringkali gender disamakan pengertiannya dengan s#x (jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan). Oakley mengemukakan bahwa gender adalah perbedaan atau jenis kelamin yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan.

Stoller mengartikan gender adalah konstruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia. Perbedaan biologis merupakan perbedaan jenis kelamin (s#x), dimana hal ini merupakan kodrat dari Tuhan.

Sedangkan gender merupakan behavioral differences (perbedaan perilaku) terkait tugas dan fungsi antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial budaya.

Maksudnya yaitu perbedaan yang bukan ketentuan Tuhan, melainkan dikonstruksikan oleh manusia melalui proses sosial dan kultural yang panjang.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, menjelaskan bahwa gender adalah peran dan fungsi yang dikontruksi masyarakat.

Tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang diharapkan masyarakat agar peran-peran tersebut dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan.

Oleh karena itu gender berkaitan dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang berlaku dimasyarakat, serta ketentuan sosial dan budaya ditempat mereka berada.

Jadi gender adalah pembedaan antara perempuan dan laki-laki dalam peran, fungsi hak dan perilaku tanggung jawab yang dibentuk oleh ketentuan sosial dan budaya masyarakat setempat.[2]

Dari beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa gender adalah suatu konstruksi atau bentuk sosial yang sebenarnya bukan bawaan lahir.

Sehingga secara implementasinya dilapangan dapat dibentuk atau diubah, karena gender bukan kodrat Tuhan yang bersifat permanen seperti s#x, melainkan hasil “buatan” manusia yang dapat dipertukarkan dan memiliki sikap relatif.

Bentuk-Bentuk GenderKetidakadilan dan diskriminasi gender merupakan kondisi kesenjangan dan ketimpangan atau tidak adil akibat dari sistem dan struktur sosial dimana baik perempuan maupun lelaki menjadi korban dari sistem tersebut.

Ketidakadilan gender terjadi karena adanya keyakinan dan pembenaran yang ditanamkan sepanjang usia manusia.

Bentuk-bentuk ketidakadilan dan diskriminasi gender itu meliputi: marjinalisasi atau peminggiran perempuan, sub-ordinasi,  pandangan stereotype, kekerasan fisik, dan beban kerja.

Marjinalisasi atau Peminggiran Perempuan

Yang dimaksud dengan marjinalisasi dan peminggiran perempuan adalah proses, sikap, perilaku masyarakat maupun kebijakan negara yang berakibat pada penyisihan/pemiskinan bagi perempuan atau laki-laki.

Contoh-contoh marjinalisasi adalah: Banyak pekerja perempuan kurang dipromosikan menjadi kepala cabang atau kepala bagian dalam posisi birokrat. Begitu pula politisi perempuan kurang mendapat porsi dan pengakuan.

Peluang untuk menjadi pimpinan di lingkungan TNI (Jenderal) lebih banyak diberikan kepada lelaki. Sebaliknya banyak lapangan pekerjaan yang menutup pintu bagi lelaki seperti industri garmen dan industri rokok karena anggapan bahwa mereka kurang teliti.

Sub-ordinasi

Yang dimaksud dengan sub-ordinasi adalah suatu keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap lebih penting atau lebih utama dibandingkan jenis kelamin lainnya.

Sehingga ada jenis kelamin yang merasa di-nomorduakan atau kurang didengarkan suaranya, bahkan cenderung dieksploitasi tenaganya.

Contoh-contoh sub-ordinasi adalah: Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman kanak-kanak”, ”sekretaris”, atau ”perawat”, yang dinilai  lebih rendah.

Dibanding dengan pekerjaan lelaki seperti direktur, dosen di perguruan tinggi, dokter dan tentara. Hal tersebut berpengaruh pada pembedaan gaji yang diterima oleh perempuan.

Sebagai seorang lelaki yang menjadi bawahan seorang perempuan, maka pola pikir seorang lelaki masih memandang bos perempuan tadi sebagai mahluk lemah dan lebih rendah. Sehingga lelaki bawahan merasa ”kurang maskulin”.

Pandangan Stereotype

Pandangan stereotype adalah suatu pelabelan atau penandaan yang sering kali bersifat negatif secara umum terhadap salah satu jenis kelamin  tertentu.

Contoh-contoh  stereotype  adalah: Tugas dan fungsi serta peran perempuan hanya melaksanaan pekerjaaan yang berkaitan dengan kerumahtanggaan atau tugas domestik.

Label kaum perempuan sebagai ”ibu rumah tangga” sangat merugikan  mereka jika hendak aktif dalam kegiatan lelaki seperti kegiatan politik,  bisnis maupun birokrasi.

Sementara label lelaki sebagai pencari nafkah utama (a main breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan oleh perempuan dianggap sambilan saja (a secondary breadwinner).

Sebagai akibat dari stereotipe, maka ketika jenis pekerjaan, profesi atau kegiatan di masyarakat  bahkan di tingkat pemerintahan dan negara yang dilakukan oleh perempuan hanyalah ”perpanjangan” dari peran domestiknya.

Misalnya karena perempuan dipekerjakan di bagian penjualan karena dianggap pandai merayu. Apabila seorang lelaki marah, maka dianggap tegas tetapi apabila perempuan marah atau tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri.

Standar penilaian tersebut lebih banyak merugikan perempuan. Kekerasan Fisik Bentuk diskriminasi gender yang lain adalah kekerasan, yang dimaksudkan dengan kekerasan atau violence adalah suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologi seseorang.

Oleh karena itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti  perkosaan, pemukulan, dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik seperti pelecehan seksual, ancaman dan paksaan.

Pelaku kekerasan yang bersumber karena gender ini bermacam-macam. Ada yang bersifat individual seperti di dalam rumah tangga sendiri maupun ditempat umum dan juga di dalam masyarakat dan negara.

Contoh-contoh kekerasan gender anatara lain:

Menghina/mencela kemampuan seksual atau kegagalan karier pasangan,

Istri tidak boleh bekerja oleh suami setelah menikah,

Istri tidak boleh mengikuti segala macam pelatihan dan kesempatan meningkatkan SDM-nya,

Istri tidak boleh mengikuti kegiatan sosial di luar rumah,

Suami memukul dan menendang  istri,

Orangtua memukul dan menghajar anaknya.

Beban Kerja

Bentuk diskriminasi gender yang terakhir adalah beban kerja, yang dimaksud adalah peran dan tanggung jawab seseorang dalam melakukan berbagai jenis kegiatan sehari-hari.

Contoh-contoh beban kerja adalah perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah  tangga,  sehingga bagi mereka yang bekerja di luar rumah, selain bekerja di wilayah publik mereka juga masih harus mengerjakan pekerjaan  domestik.

Dengan demikian perempuan melakukan beban ganda yang memberatkan (double burden).

Seorang ibu dan anak perempuannya mempunyai tugas untuk menyiapkan makanan dan menyediakannya di atas meja, kemudian merapikan kembali sampai mencuci piring-piring yang kotor.

Seorang bapak dan anak lelaki setelah selesai makan, mereka akan meninggalkan meja makan tanpa merasa berkewajiban untuk mengangkat piring kotor yang mereka pakai.

Apabila yang mencuci isteri, walaupun ia bekerja mencari nafkah keluarga ia tetap menjalankan tugas pelayanan yang dianggap sebagai kewajibannya. [3]

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Gender

Menurut Mufidah, diskriminasi gender dalam berbagai bentuk yang terjadi pada perempuan secara umum disebabkan oleh berbagai hal, yaitu :

Budaya Patriarkhi. Yakni suatu sistem, kebudayaan yang bercirikan laki-laki (ayah), dimana laki-laki yang berkuasa untuk menentukan, mengatur dan mengambil segala keputusan.

Teks Agama,  Yang diintrepretasikan “bias gender”, hal ini disebabkan oleh pemahaman secara parsial dan tekstual, sehingga kurang mencerminkan “pesan-pesan” agama secara komprehensif dengan menghargai perempuan.

Atau metode penafsiran terhadap teks yang “kurang tepat” yang hanya bersifat tekstual bukan kontekstual, sehingga menghasilkan pandangan atau persepsi keagamaan yang bersiffat diskriminatif.

Kebijakan Pemerintah. Baik melalui peraturan perundang-undangan maupun manajemen pemerintahan yang kurang esponsive gender menyebabkan diskriminasi gender.[4]

Kondisi Psikologis Komunitas Gender

Pada umumnya orang yang mengalami diskriminasi gender mempunyai kondisi psikologis sebagai berikut :

Mengalami stress

Menurut Siagian, definisi stress adalah kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran, dan kondisi fisik sesorang. Orang-orang yang mengalami diskriminasi gender kondisi psikologisnya sangat tertekan dan dapat berakibat menjadi stress.

Sebagai contoh seorang perempuan yang bekerja untuk menambah penghasilan keluarga, mereka juga harus mengerjakan pekerjaan domestik seperti membersihkan rumah, menyiapkan makanan dan mengasuh anak.

Banyak wanita berperan ganda mengakui bahwa secara operasional sulit untuk membagi waktu bagi urusan rumah tangga dan urusan pekerjaannya (Izzaty, 1999).

Pekerjaan dan keluarga dapat menjadikan stress, stress dalam menghadapi peran gandanya tersebut, apalagi jika pekerjaan dan keluarganya memberi tekanan dalam waktu yang bersamaan.

Tidak adanya rasa percaya diri

Adanya budaya patriarkhi yang menimbulkan marginalisasi, stereotip dan subordinasi terhadap perempuan berakibat negatif pada diri perempuan yaitu hilangnya rasa percaya diri perempuan.

Ia tidak lagi  mengembangkan potensi yang dimilikinya karena anggapan dari masyarakat bahwa perempuan dinggap sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Trauma Korban dari tindakan kekerasan yang dialami seseorang secara psikologis dapat mengakibatkan trauma dan kecemasan.

Sebagai contoh kondisi psikologis korban KDRT, dilansir dari Kompasiana.com [5] bahwa seorang wanita korban KDRT yang dilakukan oleh suaminya sendiri akan mudah cemas, karena kejadian demi kejadian yang dialaminya.

Kejadian kekerasan bisa muncul setiap hari dalam rumah tangganya. Munculnya kecemasan akibat korban kekerasan terhadap wanita yang dilakukan suaminya membuat korban tersebut mengalami trauma.

Trauma merupakan segala bentuk pengalaman yang melukai kondisi kejiwaan dan kerohanian seseorang.

Konseling dan Terapi Gender

Dalam beberapa literatur konseling dan psikoterapi, keberadaan gender menduduki tempat tersendiri. Beberapa istilah yang digunakan adalah unis#x, feminisme, maskulin, dan gemder itu sendiri.

Isu gender sudah lama muncul, bangkitnya feminisme dan tumbuhnya gerakan laki-laki telah meningkatkan perdebatan tentang peran laki-laki dan perempuan. Isu ini akhirnya merembes ke terapi, misalnya dalam asumsi-asumsi terkait gender yang dibawa terapis dan klien ke dalam kehidupan pribadinya, maupun ke dalam terapi.

Tujuan terapi untuk kedua jenis kelamin pada umumnya untuk membantu masing-masing klien menggunakan kekuatan dan potensinya. Membuat pilihan yang tepat guna, memperbaiki keterampilan yang buruk dan mengembangkan konsep diri yang positif dan fleksibel.

Di samping itu tujuan terapi yang berkaitan dengan peran gender sering kali bisa melibatkan kedua pasangan. Konseling feminis merupakan model terapi yang relatif baru.

Khusus tentang teori dan praktik konseling terhadap feminis, ada beberapa pendekatan yang bisa digunakan, yaitu:

Pendekatan Integrasionis, yaitu menciptakan integrasionisme feminis yang terinformasikan dengan baik, dengan segala kekuatan dan kelemahan yang diasosiasikan secara umum kepada pendekatan integratis dan feminis.;

Terapi Feminis model Stone Center yang dikembangkan oleh Miller merupakan suatu usaha untuk memahami dimensi psikologis ketidaksamaan sosial dan kekuasaan yang dialami oleh wanita.

Konsep inti dari model ini adalah relatedness (keterhubungan) dan self-in-relation (posisi diri dalam hubungan); Terapi feminis radikal, yang tertarik kepada lingkungan sosial dan material di mana wanita itu tinggal.

Konseling feminis bermaksud memberdayakan orang dan mengembangkan rasa percaya diri yang lebih besar dan kontrol atas kehidupannya.

Tujuan terapi untuk laki-laki dapat mencakup paling tidak tiga isu yang diidentifikasi dalam gender-role-conflict-scale, yaitu kebutuhan eksesif untuk sukses, kekuasaan dan persaingan.

Emosionalitas yang terbatas dan perilaku kasih sayang yang terbatas di antara kaum laki-laki. Munculnya gerakan yang mengatasnamakan gender, mempengaruhi pendekatan yang ada dalam konseling secara umum untuk ikut serta memecahkan persoalan tersebut.

Banyak terapis laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakan terapi dengan fokus yang lebih besar untuk menyembuhkan distress psikologis yang berasal dari sosialisasi peran gender yang restriktif dan seksisme.

Pendekatan psikodinamik oleh Jung lebih menekankan pentingnya feminitas dari pada Freud. Jung mengakui pentingnya arketip ibu, yang tampak pada banyak aspek.

Di samping itu Jung menganggap manusia biseksual secara psikologis, bahwa laki-laki memiliki anima (personifikasi sifat feminin) dan perempuan memiliki animus (personifikasi sifat maskulin).

Psikologi Jungian menyediakan dasar untuk mengeksplorasi isu-isu peran gender dengan tingkat kesadaran yang bervariasi. Pendekatan humanistik dapat digunakan dan diadaptasikan untuk menangani isu-isu peran gender.

Klien dalam terapi person centered dapat mengalami dan mengeksplorasi isu-isu yang berhubungan dengan sosialisasi peran gender sebelumnya, isu-isu peran gender saat ini serta konflik-konflik dalam iklim emosional yang aman dan terpercaya.

Terapis gestalt dapat menggunakan intervensi-intervensi, seperti eksperimen kesadaran, penggunaan kursi kosong dan analisis mimpi untuk memfokuskan pada pembelajaran peran gender .

Di samping itu, dalam analisis transaksional, terapis dapat membantu klien untuk mengeksplorasi petunjuk skrip tentang perilaku-perilaku peran gender dan mencapai kebebasan memilih untuk membuang hal-hal yang bersifat merusak.

Pendekatan behavioristik juga memberikan fokus pada isu-isu peran gender. Misalnya dalam rasional emotif, keyakinan irrasional terkait gender dapat dideteksi, didispute (diperdebatkan) dan dibuang atau disajikan kembali menjadi lebih rasional.

Dalam kognitif terapi, terapis dan klien dapat mengidentifikasi dan mempertanyakan realitas pikiran-pikiran otomatis terkait gender yang mengacaukan fakta dengan inferensi.

Bilamana perlu, terapis dapat bekerja bersama klien untuk mengganti pikiran-pikiran otomatis sebelumnya yang seksis dan self oppressing (menindas diri) dengan pikiran yang sadar dan realistis.[6]

Contoh Bab 3

source : Kompasiana.com

Contoh makalah singkat yang baik dan benar selalu berisi 3 bab. Bab 1 adalah pembahasan, bab 2 pembahasan dan bab  3 merupakan penutup. Dalam bab 3, penulis mencantumkan 2 subbab yaitu kesimpulan dan saran.

Di bawah ini contoh kesimpulan dan saran dari contoh makalah singkat bertema gender. Silahkan dicermati…..

Kesimpulan

Gender adalah suatu konstruksi atau bentuk sosial yang sebenarnya bukan bawaan lahir, sehingga secara implementasinya dilapangan dapat dibentuk atau diubah.

Gender bukan kodrat Tuhan yang bersifat permanen seperti s#x, melainkan hasil “buatan” manusia yang dapat dipertukarkan dan memiliki sikap relatif. Bentuk-bentuk gender yaitu marjinalisasi atau peminggiran perempuan, Sub-ordinasi, Pandangan Stereotype.

Kekerasan fisik, beban kerja, Faktor-faktor yang memengaruhi gender disebabkan oleh berbagai hal yaitu: budaya patriarkhi, teks agama, kebijakan pemerintah.

Pada umumnya orang yang mengalami diskriminasi gender mempunyai kondisi psikologis sebagai berikut yaitu, mengalami stress, tidak memiliki rasa percaya diri dan adanya rasa trauma.

Pemberian konseling terhadap komunitas gender yang terdiskriminasi bisa dengan menggunakan pendekatan psikodinamik, pendekatan humanistic, dan pendekatan behavioristic.

Saran Menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih menjelaskan secara detail tentang pembahasan makalah. Kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penulisan makalah di kemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Riant. 2008. Gender dan Strategi Pengarusutamaan di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Utaminingsih, Alifiulahtin. 2017. Gender dan Wanita Karir. Malang: Universitas Brawijaya Press.

Wahjono. Sentot Imam. Gender Problem in Family Business. Jurnal Balance. Vol No. 6 (2010)

Mufidah, Pengarusutamaan Gender Pada Basis Keagamaan Pendekatan Islam,Strukturasi &Konstruksi Sosialo, UIN-Malang Press,2009

Qibtiyah, Maryatul. “Peran Konseling Keluarga Dalam Menghadapi Gender Dengan Segala Permasalahannya”. Jurnal SAWWA-Vol. 9, No. 2, (April 2014)

Https://www.kompasiana.com/rumahshine/55004715813311791bfa747c/abuse-menyebabkan-wanita-mudah-mengalami-kecemasan, diakses pada tanggal 21 November 2018 Pukul 13.11

footnote :

[1] Riant Nugroho, Gender dan Strategi Pengarusutamaan di Indonesia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hlm. 17-18

[2] Alifiulahtin Utaminingsih, Gender dan Wanita Karir, (Malang: Universitas Brawijaya Press, 2017), hlm. 2-5.

[3] Sentot Imam Wahjono. “Gender Problem in Family Business. Jurnal Balance. Vol No. 6 (2010), hlm. 273-274.

[4] Mufidah, Pengarusutamaan Gender Pada Basis Keagamaan Pendekatan Islam,Strukturasi &Konstruksi Sosialo, UIN-Malang Press,2009.Hlm.9

[5] https://www.kompasiana.com/rumahshine/55004715813311791bfa747c/abuse-menyebabkan-wanita-mudah-mengalami-kecemasan, diakses pada tanggal 21 November 2018 Pukul 13.11

[6] Maryatul Qibtiyah. “Peran Konseling Keluarga Dalam Menghadapi Gender Dengan Segala Permasalahannya”. Jurnal SAWWA-Vol. 9, No. 2, (April 2014) hlm. 375-378

Demikianlah contoh makalah singkat ini. Semoga dapat menambah khazanah keilmuan Best jobbers semua. Seperti yang telah saya sampaikan di awal, saya menyediakan link untuk mendownload format asli (doc) dari contoh makalah singkat ini.

Caranya cukup dengan klik tombol download di bawah ini :

Contoh Makalah Yang Benar

Categories
Karya Tulis

Contoh Makalah Yang Benar

Contoh Makalah Yang Benar – Salam Sejahtera, Best Jobbers di manapun Anda berada saat ini. Selamat datang di portal bestjobaroundtheworld.com, portal  keilmuan yang aktual dan terpercaya.

Makalah adalah salah satu jenis karya tulis ilmiah dengan pembahasan permasalahan tertentu berdasarkan hasil kajian teori atau kajian lapangan.

Pada umumnya contoh makalah yang benar dibuat untuk memenuhi tugas-tugas tertentu baik tugas akademik maupun tugas non-akademik.

Contoh makalah yang benar menjadi sarana informasi, demonstrasi dan pemahaman penulis tentang sebuah permasalahan yang dikaji oleh penulis.

Dalam hal ini contoh makalah yang benar selalu menerapkan suatu prosedur, prinsip, atau teori yang berhubungan dengan masalah tertentu.

Selain itu, makalah bukan sebuah rangkuman dari penelitian yang sudah pernah dilakukan atau literatur tertentu.

Contoh makalah yang benar harus menjadi  sarana untuk menunjukkan kemampuan pemahaman terhadap isi dari berbagai sumber yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah.

Baca Juga : Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Fungsi yang harus dipenuhi dalam membuat contoh makalah yang benar antara lain:

  • Media pelatihan  untuk menyusun karya ilmiah secara benar dan cermat.
  • Media untuk  memperluas wawasan keilmuan bagi penulis dan pembaca.
  • Mendemostrasikan pemahaman teori seorang penulis maupun kemampuan untuk menerapkan prosedur-prosedur yang berkaitan dengan permasalahan.
  • Memberikan sumbangan pemikiran secara teoretis maupun praktis.
  • Memberikan andil kemanfaatan bagi perkembangan konsep keilmuan.

Di bawah ini, akan saya berikan contoh makalah yang benar dengan tema pembahasan Pendekatan Studi Islam. Silahkan Best Jobbers simak dengan seksama….jangan lupa di akhir artikel ini akan saya berikan link untuk melihat file asli dari contoh makalah yang benar ya….

Contoh Makalah Yang Benar Dengan Tema Pendekatan Studi Islam

Contoh Makalah Yang Benar
source : The New York Times

Pendekatan Studi Islam merupakan salah satu subbab dari mata kuliah Metodologi Studi Islam. Mata kuliah ini biasa  diajarkan dalam fakultas maupun perguruan tinggi Islam di seluruh Indonesia.

Di bawah ini akan saya paparkan sistematika contoh makalah yang benar dengan tema pendekatan studi Islam. Simak terus ya…

Contoh Cover

Contoh cover yang benar memuat tentang informasi seperti : judul makalah, peruntukkan makalah, logo institusi, identitas penulis, nama institusi dan tahun pembuatan makalah. Untuk detailnya bisa dilihat di sini.

Contoh Pendahuluan Makalah Yang Benar

source : SlideShare

Bab pertama (BAB I) dari contoh makalah yang benar adalah bab Pendahuluan. Pendahuluan berisi  tentang persoalan yang akan dibahas meliputi:

Latar Belakang

Latar belakang adalah penjelasan dalam bentuk uraian paragraf. Latar belakang berisi alasan mengapa sebuah makalah dibuat.

Misalnya, dalam artikel kali ini saya memuat contoh makalah yang benar tentang Pendekatan Studi Islam, berarti saya harus menjelaskan mengapa topik makalah tersebut dibuat.

Pembaca dapat mengetahui apa yang akan dibahas dalam makalah  dengan adanya latar belakang.

Nah, agar latar belakang yang kita tulis tidak melenceng dari pembahasan,  kita harus memperhatikan beberapa poin penting di bawah ini:

Kondisi ideal tentang bagaimana seharusnya suatu keadaan dari permasalahan yang kita tuliskan.

Kondisi faktual tentang sebuah suatu objek penelitian, dapat berupa masalah sehingga menjadi dasar dibuatnya suatu makalah.

Membahas penelitian yang sudah pernah dilakukan oleh peneliti lain.

Tujuan penelitian, dan Metode penelitian yang digunakan dalam makalah.

Perumusan singkat mengenai pertanyaan seputar penelitian.

Nah langsung saja best Jobbers, kita akan melihat contoh Latar Belakang dari contoh makalah yang benar dengan tema Pendekatan Studi Islam berikut ini.

Contoh Latar Belakang

Metodologi Studi Islam secara etimologi, metodologi berasal dari kata “method” yang berati cara dan “logos” yang berarti ilmu.[1]

Islam berasal dari bahasa arab dari kata “salima, aslamaa” yang berarti selamat, tunduk, berserah dan kepatuhan.

Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat, dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran maupun sejarahya.[2]

Dalam Studi Islam dikenal berbagai macam pendekatan antara lain pendekatan teologis, pendekatan normatif, pendekatan antropologis, dan pendekatan sosiologi.

Selain itu adapula  pendekatan fisiolofis, pendekatan psikologis, pendektan historis, pendekatan fenomenologi, pendekatan arkeologis, pendekatan sufism/ tasawuf, pendekatan tekstual dan kontekstual, dan pendekatan kawasan/studi wilayah.

Berbagai pendekatan tersebut diperlukan agar kehaidiran Islam secara fungsional dapat dirasakan.

Dalam hal ini akan membahas mengenai pendekatan arkeologis, pendekatan sufism/ tasawuf, pendekatan tekstual dan kontekstual, dan pendekatan kawasan/ studi wilayah.

Pendekatan arkeologi, Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.

Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data berupa artefak (budaya bendawi), ekofak (benda lingkungan) maupun fitur (situs arkeologi).

Pendekatan Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek kerohanian manusia yang selanjutnya menimbulkan kebaikan akhlak mulia.

Lalu pendekatan tekstual dan kontekstual, pendekatan tekstual artinya sebuah pendekatan studi terhadap suatu pendekatan studi terhadap suatu nash/teks.

Pendekatan tekstual menjadikan lafal-lafal nash/teks tersebut sebagai obyek, dan pendekatan kontekstual yiatu suatu pendekatan yang semata-mata tidak hanya melihat keumuman lafadz, tetapi lebih dipengaruhi latar belakang turunnya.

Studi Kawasan Islam adalah kajian yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi.

Fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya.

Contoh Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pendekatan arkeologis dalam studi Islam ?
  2. Bagaimana pendekatan sufism/ tasawuf dalam studi Islam ?
  3. Bagaimana pendekatan tekstual dan kontekstual dalam studi Islam ?
  4. Bagaimana pendekatan kawasan/ studi wilayah dalam studi Islam ?

Contoh Pembahasan

Contoh Makalah Yang Benar
source SlideShare

Pembahasan merupakan inti dari masalah. Berbagai teori dan analisis permasalahan yang dibahas dan  tuangkan dalam pembahasan. Dalam pembahasan teori dipaparkan secara sistematis. Berikut adalah contoh pembahasan dari contoh makalah yang benar. Lanjut menyimak ya, Best Jobbers…

Pendekatan Arkeologis

Arkeologi, berasal dari bahasa Yunani, archaeo yang berarti “kuno” dan logos, “ilmu”. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan (manusia) masa lalu melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditinggalkan.

Kajian sistematis meliputi penemuan, dokumentasi, analisis, dan interpretasi data.  Interpretasi data dapat berupa artefak , ekofak  maupun fitur (artekfaktual yang tidak dapat dilepaskan dari tempatnya (situs arkeologi).

Teknik penelitian yang khas adalah penggalian (ekskavasi) arkeologi, meskipun survei juga mendapatkan porsi yang cukup besar.[3]

Dalam kaitannya dengan studi Islam, maka arkeologi sebagai satu disiplin ilmu digunakan untuk merekontruksi perkembangan Islam di suatu tempat.

Caranya adalah  melalui benda-benda artefak maupun situs peninggalan Islam sehingga memahami Islam di suatu tempat tersebut pada masa lampau.

Hal tersebut dilakukan agar generasi mendatang dapatmemahami Islam dengan bukti-bukti benda material.

Dengan demikian akan muncul arkeo-Islamologi atau arkeologi Islam yakni hubungan antara studi Islam dengan arkeologi ilmu-ilmu bantu arkeologi.

Melalui prinsip-prisip arkeologi dan ilmu-ilmu bantunya, kajian tentang Islam dapat direkonstruksi sejak pra-Kerasulan, masa Kerasulan, dan pasca Kerasulan Nabi Muhammad Saw.

Secara lebih luas dapat mengaitkan titik temporal yang kaitan dengan Islam, misalnya: orang Islam, dunia Islam, domain Islam, negara Islam dan lain-lain ke dalamsuatu tata urutan tertentu.

Sebagai satu disiplin ilmu arkeologi sebagai salah salah satu pendekatan dlam studi Islam tidak dapat terlepas dari ilmu-ilmu lain.

Misalnya, arkeologi Islam dengan epigrafi studi prasasti, arkeologi Islam dengan filologi studi naskah kuno, arkeologi Islam dengan arsitektur bangunan sakral, arkeologi Islam dengan antropologi kebudayaan, arkeologi Islam dengan sosiologi sejarah pesantren.[4]

Pendekatan Sufism/ Tasawuf

Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek kerohanian manusia yang selanjutnya menimbulkan kebaikan akhlak mulia.

Pembersihan aspek rohani manusia selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoterik dari diri manusia.

Melalui Tasawuf seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta mengamalkannya dan tampil sebagai manusia yang dapat mengendalikan dirinya.

Atau ketika manusia melakukan aktivitas dapat menjaga kejujuran hati nurani, keikhlasan, tanggung jawab dan dapat membendung penyimpangan moral, seperti manipulasi nilai, korupsi nilai, kolusi dan lain-lain yang subur dalam negara kita yang notabene mayoritas Islam.[5]

Istilah yang berkembang pertama dalam tasawuf adalah tasawuf itu sendiri. Secara etimologi merupakan bentuk masdar darikata “suf” yang berarti “wol”, yaitu untuk menunjukkan penggunaanjubah wol.

Kata suf (kain wol) menggambarkan orang yang hidupsederhana dan tidak mementingkan dunia.

Dari segi linguistic (kebahasaan) dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mentalyang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana,rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bersikap kebajikan.

Sikap jiwa yang demikian itu pada hakikatnya adalah akhlak mulia.

Kedua, sufi. Sufi yaitu suci. Seorang sufi adalah orang yang disufikan atau yang disucikan dan kaum sufi adalah orang-orang yang telah mensucikan dirinya melalui latihan berat dan lama.

Dalam arti yang lain sufi atau sufiyah diartikan sebagai orang yang selalu mengamalkan ajaran-ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, sufi merupakan orang yang mensucikan dirinya dangan mengingat Allah (zikrullah), menempuh jalan kembali kepada Allah sampai kepada pengetahuan yang hakiki (ma`rifah).[6]

Tasawwuf atau sufisme ialah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam Islam.

Tujuan dari mistisisme itu adalah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seorang berada di hadirat Tuhan.

Intisari dari mistisisme termasuk di dalamnya tasawuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi.

Kesadaran itu selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan dalam istilah Arab disebut ittihad dan istilah Inggris mystical union.[7]

Sejalan dengan fungsi dan peran tasawuf, maka kalangan para ahli tasawuf timbul upaya dalam membuat bentuk dalam penelitian tasawuf. Secara ringkas akan dikemukakan model-model penelitian tasawuf.

Model Sayyed Husein Nashr (Metode Tematik)

Pendekatan tematik dalam pengkajian tasawuf yakni pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu.

semacam ini dilakukan oleh HuseinNasir dan termasuk di dalamnya pada kritik terhadap ajaran tasawufyang pernah berkembang dalam sejarah Islam.

Hasil penelitiannya dalam bidang tasawuf ia sajikan dalam bukunya yangberjudul Tasawuf dulu dan sekarang yang diterjemahkan oleh Abdul Hadi WM dan diterbitkan oleh pustaka Firdaus, Jakarta tahun 1985.

Di dalam bukunya tersebut disajikan hasil penelitiannya di bidang tasawuf dengan menggunakan pendekatan tematik.

Model Mustafa Zahri (Pendekatan Eksploratif)

Pendekatan eksploratif menggali ajaran tasawuf dari berbagai literatur ilmu tasawuf.

Dalam penelitian ini menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literatur yang ditulis oleh para ulama dengan mencari sandaran dari Alquran dan Hadis.

Seperti yang dilakukan oleh Mustafa Zahri, karyanya Kunci Memahami Ilmu Tasawuf  dengan menggali dari berbagai sumber yang membahas tentang ajaran-ajaran tasawuf.

Model Kautsar Azhari Noor (Pendekatan Tokoh)

Pendekatan yang dilakukan dengan studi tokoh seperti yang dilakukan oleh dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta Kautsar Azhari, Ibn Arabi Wahdat al-Wujud dalam Perdebatan.  

\Penelitian ini cukup menarik, karena dilihat dari paham yang dibawakannnya Wahdat al-Wujud, yang menimbulkan kontroversi di kalangan para ulama karena paham tersebut membawa paham reingkarnasi.

Yakni  paham serba Tuhan, yakni Tuhan menjelma dalam berbagai ciptaan-Nya, sehingga mengganggu zat Tuhan.

Model Harun Nasution (pendekatan tematik)

Hasil penelitiannya dalam bidang tasawuf ia tuangkan antaralain dalam bukunya yang berjudul falsafat dan misitisisme dalam Islam, yang diterbitkan oleh Bulan Bintang Jakarta terbitan pertama tahun 1973.

Penelitian yang dilakukan Harun Nasution pada bidang tasawuf ini mengambil pendekatan tematik.

Model AJ. Arberry (Pendekatan Kesejarahan)

Pendekatan kombinasi yaitu dengan menggabungkan antarapendekatan tematik dengan studi tokoh.

Hal ini dilakukan oleh A.J. Alberry dalam bukunya yang berjudul Pasang Surut Aliran Tasawuf.

Dengan mencoba mengemukakan firman Tuhan, kehidupan Nabi, para zahid, para sufi, para ahli teori tasawuf, struktur teori tasawufdan amalan tasawuf.

Dalam penelitian tersebut nampak bahwa beliau menggunakan analisa kesejarahan.

Yakni berbagai tema dipahami berdasarkan konteks sejarahnya, dan tidak dilakukan proses aktualisasi nilai atau mentrasformasikan ajaran-ajaran tersebut ke dalam kehidupan modern.[8]

Pendekatan Tekstual dan Kontekstual

Pendekatan Tekstual

Secara etimologis, tekstual berasal dari kata benda bahasa Inggris text, yang berarti isi, bunyi, dan gambar-gambar dalam sebuah buku.

Tekstual juga berarti catatan yang samapersis menurut naskahnya dan sama benar dengan naskahnya.  Secara terminologis, pemahaman tekstual adalah pemahaman yang berorientasi pada teks dalam dirinya.

Oleh karena itu, lewat pendekatan ini, wahyu dipahami melalui pendekatan kebahasaan, tanpa melihat latar sosio-historis, kapan dan dimana wahyu itu diturunkan

Al Qur’an sebagai teks utama dalam Islam dan merupakan firman Tuhan yang abadi.

Al Qur’an merupakan kitab tunggal dimana dengan melaluinya, Tuhan mentransformasi umat Islam menjadi sebuah peradaban buku.Metode tekstualmenjadikan teks wahyu sebagai pegangan dalam memahami Islam.

Al Qur’an dan hadis telah komplit dan sempurna menyediakan pelbagai konsep dan jawaban terhadap segala persoalan keagamaan yang dihadapi manusia sejak masa Rasulullah hingga akhir zaman.

Ada tiga elemen yang berperan dalam menentukan makna suatu teks. Yaitu:

Makna ditentukan oleh pengarang

Pengarang teks memformulasikan maksudnya ketika ia membentuk sebuah teks, dan pembaca harus memahami maksud dari pengarang. Untuk teks al Qur’an, ia adalah media pengarang (Tuhan) untuk mengungkapkan maksudnya.

Makna ditentukan oleh teks

Perdebatan apapun di seputar makna, maka yang menjadi rujukan perdebatan adalah teks.

Al Qur’an adalah teks yang memiliki otonomi tersendiri (maksud tekstual), memiliki kaidah-kaidah bahasa yang dapat digunakan untuk memahami dan menentukan makna.

Penetapan makna dilakukan oleh pembaca.

Teks al Qur’an tidak akan bermakna tanpa peran pembaca. Dan, dalam melakukan proses pembaaan teks sangat dimungkin membawa subjektifitasnya sendiri-sendiri.

Jadi, yang dimaksud dengan istilah pendekatan tekstual dalam kajian ini adalah suatu kecenderungan atau metode pendekatan yang menitikberatkan pada makna teks harfiah.

Dengan tanpa menyertakan konteks sosio-historis teks dalam aktivitas penafsiran: dimana, kapan, dan mengapa teks tersebut lahir, dan bagaimana proyeksi makna teks ke depan.

Karena mengedepankan makna harfiah teks  di satu sisi dan menafikan peran dan keterlibatan sang penafsir di sisi lain, maka penetapan maknanya sepenuhnya menjadi domain otoritas teks.

Di luar teks tidak ada makna yang bisa diyakini maupun dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Pendekatan Kontekstual

Kontekstual berasal dari bahasa Inggris, context yang berarti istilah yang berhubungan dengan kata-kata, konteks, suasana, dan keadaan.

Lalu menjadi contextual yang berhubungan dengan konteks, atau dengan pengertian lain yakni keadaan atau situasi dimana suatu kalimat atau perkataan itu dikatakan.

Dengan pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa Islam kontekstual adalah Islam yang dipahami sesuai dengan situasi dan kondisi dimana Islam itu dikembangkan.

Menurut Suryadi, batasan pendekatan kontesktual antara lain: Menyangkut bentuk atau sarana yang tertuang secara tekstual. Dalam hal ini tidak menuntut seseorang untuk mengikuti secara saklek (apa adanya).

Sehingga bila ingin mengikuti Nabi tidak harus berbicara dengan bahasa Arab, memberi nama yang Arabisme, berpakaian Gamis ala Timur Tengah dan sebagainya.

Karena semua ini produk budaya yang tentu secara zahir antara setiap wilayah berbeda.

Aturan yang menyangkut manusiasebagai makhluk individu dan biologi

Jika Rasulullah makan hanya menggunakan tiga jari maka tidak harus mengikuti dengan tiga jari, karena kontek yang dimakan Rasulullah adalah kurma atau roti.

Sedangkan bila makan nasidan sayur asem harus tiga jari betapa malah tidak efektifnya.

Ide dasar yang dapat runut pada diri Nabi dalam konteks ini adalah bagaimana makan yang halal baik, tidak berlebihan dan dengan ahlak yang baik pula.

Aturan yang menyangkut manusia sebagai mahluk sosial.

Bagaimana manusia berhubungan dengan sesama, alam sekitar dan binatang adalah wilayah kontekstual. Sebagaimana isyarat hadis antum a’lamu biumuri dunyakum.

Ide dasar yang disandarkan pada Nabi adalah tidak melanggar tatanan dalam rangka menjaga jiwa, kehormatan keadilan dan persamaan serta stabilitas secara umum sebagai wujud ketundukan pada Sang Pencipta.

Terkait masalah sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dimana kondisi sosial, politik, ekonomi, budaya yang sedemikian kompleks, maka kondisi pada zaman Nabi tidak dapat dijadikan sebagai parameter sosial.[9]

Pendekatan Kawasan / Studi Wilayah

Pengertian Studi Kawasan Islam adalah kajian yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi.

Fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya.

Mulai dari pertumbuhan, perkembangan, serta ciri-ciri karakteristik sosial budaya yang ada didalamnya, termasuk juga tentang faktor-faktor pendukung bagi munculnya berbagai ciri dan karakter serta pertumbuhan kebudayaan dimasing-masing dunia kawasan Islam.

Oleh karena itu, objek formal studinya harus meliputi aspek-aspek geografis, demografis, historis, bahasa serta berbagai perkembangan sosial dan budaya, yang merupakan ciri-ciri umum dari keseluruhan perkembangan yang ada setiap kawasan budaya.[10]

Terkait dengan pembelajaran Islam dengan menggunakan pendekatan wilayah, berikut ada beberapa perkembngan Islam di berbagai kawasan:

Islam di Asia tenggara

Adapun mengenai kedatangan Islam ke Asia Tenggara terdapat tiga pendapat yaitu:

Pertama, pendapat pertama menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia tenggara berasal langsung dari arab atau tepatnya Hadramaut.

Pendapat ini pertama-tama dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann, de Hollander (1861), dan Veth (1878).

Kedua, pendapat kedua menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggar dari India. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh Pijnapel pada tahun 1872.

Ketiga, pendapat yang ketiga menyatakan bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara berasal dari Banggali (kini Bangladseh). Pendapat ini digunakan oleh Fatimi.[11]

Islam di Indonesia

Agama Islam yang masuk ke Indonesia di anggap sebagai agama yang asing, karena hampir semua wilayah Nusantara masyarakatnya sudah memiliki kepercayaan dan tradisi keberagamaan sendiri yang sudah melekat kuat.

Akan tetapi dengan sifat agama Islam yang fleksibel atau tidak kaku, Islam akhirnya dapat membaur dengan berbagai bentuk kebudayaan yang ada.

Terdapat beberapa Teori tentang cara masuknya agama Islam ke Indonesia. Terdapat 4 teori besar yang dikenal dengan empat Grand Teory, yaitu:

Teory Gujarat, teori ini dikemukakan oleh G.W.J. Drewer dan dikembangkan oleh Snouk Hurgronje.

Pendapat iini didasarkan pada kesamaan orang-orang Arab yang menetap di Gujarat dan Malabar yang bermadzhab syafi’i dengan orang-orang Gujarat dan malabar yang menetap di Indonesia.

Teori Bengal, menyatakan bahwa Islam datang dari Bengal.

Pendapat ini didasarkan bahwa adanya batu nisan Fatimah  Binti Maimun yang ditemukan di Leran Gersik Jawa timur bertahun 475 H atau 1082 M memiliki kesamaan dengan batu nisan yang ada di wilayah bengal.

Teori Malabar, Menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia itu berasal dari kolomader dan malabar pendapat ini dikemukakan oleh W. Arnold da Marison.

Alasan yang memperkuat pendapat ini adalah bahwa wilayah-wilayah tersebut memiliki kesamaan madzhab dengan agama Islam yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Teori Arab, itu Islam datang berasal dari sumber  aslinya yaitu Arab pendapat ini banyak dikemukakan oleh para sejarawan yang intens dengan kajian Islam di Asia Tenggara.

di antaranya adalah Crawfurd 1820, Keyzer 1859, Nieman 1861, De Holander 1861, Veth 1878.

Teori ini juga didukung olelh sejarawan Asia Tenggara asal Malaysia yaitu Naquib Al Attas, dan juga sejarawan Indonesia Uka Tjandra Sasmita dan S.Q. Fatimi.[12]

Islam di Timur Tengah

Masyarakat Islam dibangun diatas peradaban Timur Tengah Kuno yang telah mapam sebelumnya.

Masyarakat Islam berkembang dalam sebuah lingkungan yang sejak masa awal sejarah umat manusia telah menampilkan dua aspek yang fundamental, yaitu asal-usul dan struktur sejarah yang telah berlangsung.[13]

Perjalanan panjang Islam di daerah Tiimur tengah berlangsung sekitar 622 M Sampai 1002 M, yang berlangsung dalam 3 fase:

Fase penciptaan sebuah komunitas baru yang bercorak Islam di Arabia sebagai hasil dari transformasi wilayah pemikiran dengan sebuah masyarakat kekerabatan yang telah berkembang sebelumnya menjadi sebuah tipe monotheistik Timur Tengah.

Fase Penaklukan terhadap kawasan-kawasan di Timur Tengah oleh komunitas muslim yang telah terbentuk tersebut, kemudian membangun sebuah kebudayaan Islam secara menyeluruh.

Fase kesultanan (945-1200), pada fase pola dasar kultural dan institusional dari era khalifah berubah menjadi pola-pola negara dan institusi Islam.[14]

 Contoh Penutup

source : SlideShare

Penutup berada di BAB III yang merupakan bab terakhir dari contoh makalah yang benar. Bab III minimal berisi tentang kesimpulan dari pembahasan makalah. Selanjutnya, makalah ditutup dengan daftar pustaka. Daftar pustaka mencantumkan sumber atau literatur yang kita jadikan  rujukan teorinya.

Kesimpulan

Metodologi studi Islam adalah prosedur yang ditempuh secara ilmiah, cepat, dan tepat dalam mempelajari Islam secara luas dalam berbagai aspeknya, baik dari segi sumber ajaran, pemahaman terhadap sumber ajaran maupun sejarahya.

Dalam studi Islam dikenal berbagai macam pendekatan antara lain pendekatan arkeologis, pendekatan sufism/ tasawuf, pendekatan tekstual dan kontekstual, dan pendekatan kawasan/ studi wilayah.

Dalam kaitannya dengan studi Islam, maka arkeologi sebagai satu disiplin ilmu digunakan untuk merekontruksi perkembangan Islam di suatu tempat melalui benda-benda artefak maupun situs peninggalan Islam sehingga memahami Islam di suatu tempat tersebut pada masa lampau.

Dalam pendekatan sufisma ada beberapa meodel yang dapat dipelajari diantarnya, Model Sayyed Husein Nashr (Metode Tematik), Model Mustafa Zahri (Pendekatan Eksploratif),

Model Kautsar Azhari Noor (Pendekatan Tokoh), Model harun Nasution (pendekatan tematik) dan Model AJ. Arberry (Pendekatan Kesejarahan).

Pendekatan tekstual dalam kajian ini adalah metode pendekatan yang menitik beratkan pada makna teks harfiah dengan tanpa menyertakan konteks sosio-historis teks dalam aktivitas penafsiran.

Pendekatan kontesktual antara lain: Menyangkut bentuk atau sarana yang tertuang secara tekstual. Dalam hal ini tidak menuntut seseorang untuk mengikuti secara saklek (apa adanya).

Pengertian Studi Kawasan Islam adalah kajian yang tampaknya bisa menjelaskan bagaimana situasi sekarang ini terjadi, karena fokus materi kajiannya tentang berbagai area mengenai kawasan dunia Islam dan lingkup pranata yang ada dicoba diurai didalamnya.

 DAFTAR PUSTAKA

Azra, Azyumardi. 2009.Studi Kawasan Dunia Islam. Jakarta: Rajawali       Pers.

Hakim Abdul. 2017. Metodologi Studi Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hakim, Atang Abd dan Jaih Mubarok. 2000. Metodologi Studi Islam.          Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Khalim, Samidi. 2008.Islam dan Spiritualitas Jawa. Semarang: Ra Sail        Media Group.

Lapidus, Ira M. 1999.Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: PT Raja            Grapindo Persada.

Mustofa,Hidayatul. 2018.Pendekatan Tekstual Dan Kontekstual Dalam      Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Al- Muhamadiyah Cepu.

Wanto, Sugeng. 2014. Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan           Aplikasinya Di Era Modern. Jurnal At-Tafkir Vol. VII No. 1.            Sumatera Utara: IAIN Sumatera Utara.

https://www.academia.edu/8682537/pendekatan_arkeologis (diakses 30/10/2019, pukul 07.18)

http://khamidun-khamidun.blogspot.com/2011/10/pendekatan-arkeologi-dalam-studi-Islam.html?m=1 (diakses 30/10/2019, pukul 07.51).

Footnote :

[1] Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017)  hal. 3.

[2] Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam…, hal. 4.

[3]https://www.academia.edu/8682537/pendekatan_arkeologis (diakses 30/10/2019, pukul 07.18)

[4]http://khamidun-khamidun.blogspot.com/2011/10/pendekatan-arkeologi-dalam-studi-islam.html?m=1 (diakses 30/10/2019, pukul 07.51).

[5] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern, JurnalAt-Tafkir Vol. VII No. 1 (Sumatera Utara: IAIN Sumatera Utara, 2014), Hlm 131.

[6] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,… 132.

[7] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,… 137.

[8] Sugeng Wanto, Pendekatan Tasawuf Dalam Studi Islam Dan Aplikasinya Di Era Modern,… 138-139.

[9]Hidayatul Mustofa, Pendekatan Tekstual Dan Kontekstual Dalam Islam, ( Sekolah Tinggi Agama Islam Al- Muhamadiyah Cepu, 2018)

[10]Azyumardi Azra, Studi Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2009), Hlm 2.

[11] Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), Hlm 168-169.

[12] Samidi Khalim, Islam dan Spiritualitas Jawa, (Semarang: Ra Sail Media Group, 2008), Hlm 2-3.

[13] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT Raja Grapindo Persada, 1999), Hlm 3.

[14] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Ummat Islam,… Hlm 14

Nah, itulah tadi contoh makalah yang benar dari saya. Untuk file aslinya dapat langsung Best Jobbers semua download di link yang sudah saya sediakan di sini :

Contoh Makalah Yang Benar

Semoga bermanfaat.

Categories
Karya Tulis

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar – Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar selama ini menjadi kebutuhan yang cukup vital bagi pelajar dan mahasiswa. Bagi pelajar yang sudah memasuki jenjang SMA terutama bagi mereka yang jurusan bahasa, makalah sudah menjadi tugas wajib yang harus diselesaikan.

Membuat makalah bukan merupakan hal yang mudah dikerjakan bagi para pelajar yang tergolong pemula. Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar akan sangat membantu mereka dalam menyelesaikan tugas.

Pelajar tingkat SMA mulai mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar sebagai referensi untuk mengerjakan tugas makalah yang diberikan oleh guru. Para guru biasanya menganjurkan kepada para siswa untuk mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar di situs-situs yang disediakan internet.

Hal tersebut dikarenakan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar yang disediakan di internet dapat memberikan gambaran yang jelas bagi para pelajar dalam mengerjakan tugas makalah.

Berbicara makalah, mahasiswa merupakan pengguna Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar yang paling getol. Mahasiswa begitu die hard  untuk mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar di berbagai portal yang tersebar di internet.

Hal tersebut dikarenakan makalah bukan sekedar tugas yang menjadi keharusan di setiap mata kuliah, namun juga syarat kelulusan bagi mahasiswa yang bersangkutan untuk memenuhi standar kelulusan mata kuliah tersebut.

Sehingga mahasiswa berusaha dengan keras untuk mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar. Oke Best Jobbers,  di sini kita akan langsung membuat Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar.

Dalam artikel kali ini, saya akan menjelaskan tentang  bagian-bagian makalah, cara membuat cover makalah yang baik, cara membuat pendahuluan sampai pada pembahasan dan penutup.

Di akhir artikel, saya juga menyediakan link download bagi Best Jobbers yang ingin mengetahui secara langsung bentuk Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar.

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum membuat makalah

source : Udemy

Bagi para pembuat makalah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum anda menulis sebuah makalah. Diantaranya  adalah format pengaturan kertas, model tulisan, ukuran huruf dan lain-lain. Berikut ini beberapa hal tersebut daintaranya :

  • Ukuran  Kertas : A4 (kuarto) / 21 cm x 29,7 cm
  • Model huruf : Times New Roman
  • Ukuran huruf: 12
  • Jarak spasi : 1,5
  • Margin :  atas : 4 cm; bawah : 3 cm; kanan : 3 cm; dan kiri : 4 cm

Ukuran diatas merupakan ukuran baku dari sebuah Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar pada umumnya. Ukuran ini sekilas terlihat hal yang sepele, namun menjadi suatu keharusan. Apabila tidak dipenuhi, ada kemungkinan anda akan disuruh untuk merevisi hasil makalah anda.

Selanjutnya, hal yang harus anda perhatikan dalam membuat makalah adalah penulisan isi makalah. Pada dasarnya Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar mengandung beberapa poin penting, diantaranya :

  • Cover Makalah
  • Kata Pengantar Makalah
  • Daftar Isi Makalah
  • BAB I : Pendahuluan Makalah
  • BAB II : Pembahasan Makalah
  • BAB III : Penutup Makalah
  • Daftar Pustaka Makalah
  • Lampiran Makalah (jika ada yang perlu dilampirkan)

Sebenarnya, di setiap institusi pendidikan, tidak mematok secara paten tentang 8 point isi makalah. Ada yang mengatakan bahwa makalah itu adalah karya ilmiah sederhana, sehingga tidak memerlukan kata pengantar, daftar isi dan lampiran.

Baca juga: Contoh makalah Yang baik dan benar terkait gangguan kepribadian

3 hal ini sering ditiadakan dalam membuat makalah. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana dosen atau guru mengarahkan tata cara pembuatan makalah. Banyak diantara dosen atau guru yang lebih mengedepankan substansi dari makalah, sehingga tidak memerlukan kata pengantar dan daftar isi.

Pembuatan makalah seringkali hanya menuangkan asumsi dan teori pakar disertai analisis penulisnya tanpa studi kasus atau penelitian lapangan. Dengan demikian tidak selalu memerlukan lampiran-lampiran.

Dalam artikel ini saya juga tidak akan memberikan contoh kata pengantar dan daftar isi. Di lain kesempatan nanti, saya akan mencantumkan beberapa contohnya agar dapat menjadi referensi Best Jobbers semua dalam membuat makalah yang lengkap.

Nah, langsung saja saya akan membahas tentang isi dari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar.

Contoh Makalah Psikologi Sosial : Sikap Dan Persuasi

source : Quick and Dirty Tips

Di bawah ini saya akan memberikan contoh sebuah makalah Psikologi Sosial tentang sikap dan persuasi yang saya buat sendiri. Makalah ini merupakan contoh yang penulisannya dapat Best Jobbers semua perhatikan.

Format dari makalah ini merupakan format contoh makalah  yang baik dan benar. Untuk Best Jobbers yang kuliah di jurusan psikologi, makalah ini dapat didownload di link yang sudah saya sediakan agar tidak susah-susah membuat. Silahkan Best Jobbers semua simak ya….

Contoh Cover Yang Baik Dan Benar

source : My Archive

Cover merupakan identitas dari makalah. Cover ini berada di halaman paling depan dari sebuah makalah.  Melalui cover, dosen atau guru dapat melihat tema pembahasan dan pembuat makalah.

Cover juga menunjukkan dari institusi mana pembuat makalah berasal serta makalah tersebut dibuat untuk memenuhi tugas apa.

Pada dasarnya membuat cover makalah yang baik dan benar memiliki aturan yang jelas dari setiap institusi. Umumnya, sebuah cover memuat :

Judul makalah. Judul makalah diletakkan di bagian paling atas dari sebuah cover. Ditulis menggunakan huruf kapital dan dan dicetak tebal (bold). Ukuran font yang baku menggunakan 14.

Peruntukkan Makalah. Di bawah judul biasanya dicantumkan makalah dibuat untuk memenuhi tugas apa dan oleh dosen/guru siapa.

Logo Institusi. Logo kampus atau sekolah dicantumkan di bawah peruntukkan makalah. Ini sudah menjadi aturan baku dalam membuat cover. Hal ini dikarenakan agar pembaca dapat langsung mengetahui darimana makalah ini berasal.

Identitas Penyusun Makalah. Identitas penyusun dicantumkan di bawah logo institusi. Cantumkan nama lengkap dan nomor ID/NIM/Nomor induk anda.

Identitas Institusi. Tuliskan nama institusi tempat anda bernaung/ belajar. penulisan identitas institusi dimulai dari kelas terkecil sampai institusi utama (prodi-Jurusan-Fakultas-Sekolah/Perguruan Tinggi/Institut/Universitas)

Tahun pembuatan. Urutan terakhir dari pembuatan cover yang baik dan benar adalah menyertakan tahun pembuatan makalah.

Untuk lebih jelasnya, Best Jobbers semua dapat melihat pada gambar yang sudah saya sediakan di atas. Setelah selesai membuat cover maka lanjutkan dengan menyusun BAB I yang akan saya jelaskan selanjutnya. Best Jobbers semua, simak ya…..

Contoh Pendahuluan Makalah Sikap dan Persuasi

source My Archive

Bab I dari sebuah makalah disebut juga bab pendahuluan. Pendahuluan yang baik dan benar minimal berisi 2 sub bab yaitu latar belakang masalah dan rumusan masalah. Selain itu ada pula yang menuliskan sub bab lain seperti tujuan penulisan dll. Namun, di institusi tempat saya berkuliah hal tersebut tidak berlaku. Tujuan penulisan sudah jelas dituliskan di cover makalah. Oke, Best Jobbers mari kita cermati bersama contoh pendahuluan dari contoh makalah yang baik dan benara di bawah ini ……

Latar Belakang

Manusia adalah makhluk yang unik.  ia memilki perbedaan dengan individu lainnya. Sikap (attitude) merupakan konsep yang sangat  penting dalam psikologi sosial. Psikologi sosial membahas unsur sikap baik sebagai individu maupun kelompok. Banyak kajian dilakukan untuk merumuskan pengertian  sikap, proses terbentuknya sampai pada perubahannya. Banyak pula penelitian telah dilakukan terhadap sikap dalam kaitannya dengan efek dan peran dalam pembentukan karakter dan sistem hubungan antarkelompok. Persuasi ialah suatu usaha untuk merubah perilaku seseorang melalui pesan-pesan bervariasi.

Kecenderungan individu untuk merespon dengan cara yang khusus terhadap stimulus merupakan bentuk dari sikap. Sikap adalah kecenderungan untuk mendekat atau menghindar, postif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi, pribadi, situasi, ide, konsep dan sebagainya.

Oleh karena itu kami akan membahas lebih spesifik lagi mengenai sikap dan persuasi.  Untuk itu Dalam makalah ini penulis akan menguraikan mengenai pengertian sikap, proses dan komponen sikap, faktor – faktor yang mempengaruhi sikap, teori- teori tentang  sikap serta pengertian persuasi.

Rumusan Masalah

Apa makna sikap?

Apa makna persuasi?

Contoh Pembahasan Makalah Sikap dan Persuasi

source : My Archive

Pembahasan merupakan penjabaran dari asumsi-asumsi dan teori-teori yang telah kita kumpulkan dan kita susun sedemikian rupa agar relevan. Sebuah contoh makalah yang baik dan benar akan selalu mencantumkan  pembahasan  karena hal ini  merupakan inti dari makalah yang kita buat. Berikut ini adalah contoh pembahasan makalah sikap dan persuasi. Simak ya Best Jobbers….

Makna sikap

Eagly dan Chaiken pada tahun 1993, membaginya menjadi dua pendekatan atau model pendefenisian. sikap didefenisikan sebagai sebuah kombinasi dari reaksi afektif, kognitif, dan prilaku terhadap suatu objek tertentu.[1]

Sikap adalah pengalaman tentang suatu objek atau persoalan. Rumusan ini tidak pernah didukung secara tegas. Tidak semua pengalaman memenuhi syarat untuk disebut sebagai sikap.

Sikap bukan sekedar ‘suasana hati’ atau ‘reaksi aktif’ yang disebabkan oleh stimulus dari luar. Suatu persoalan atau objek dikatakan merupakan sebagian dari pengalaman.

Sikap setiap orang bisa sama dan bisa tidak sama. Rumusan ini bergantung pada ide bahwa sikap dapat diungkapkan dengan bahsa karena bahasa memungkoinkan orang membuat catatan dan pad aide bahwa sikap berkaitan dengan dunia luar.

Sejumlah orang yang mempunyai sikap berbeda pada suatu objek akan berbeda pula dalam pendapat masing-masing mengenai apakah yang benar atau salah mengenai objek itu.

Kemungkinn ada persamaan  dan perbedaan dalam sikap berarti bahwa seseorang akan  menafsirkan pernyataan mengenai sikap sebagai suatu sikap yang mengandung nilai kebenaran yang pada prinsipnya dapat diukur melalui interaksi dengan objek bersangkutan.

Namun, hal itu tidak berarti bahwa sikap terbentuk setelah ada penyelidikan terlebih dahulu atas fakta-fakta terkait. Hubungan antara keyakinan berlandaskan fakta dan penilaian harus dibuktikan di lapangan.

Isi, Struktur Dan Fungsi Sikap

Isi Sikap,  sikap menurut Maio dan Haddock (2007) adalah konstruk-kontruk Psikologis yang diekspresikan oleh sikap, seperti keyakinan dan afeksi.

Penelitian mengenai isi dari sikap, seperti sudah disampaikan sebelumnya, didominsi oleh dua perspektif, yaitu the three-component model dan the expectancy-value model.

Menurut perspektif yang pertama, sikap mengekspresikan perasaan, keyakinan, dan perilaku dimasa lampau yang berhubungan dengan objek sikap, sedangkan menurut perspektif yang kedua sikap mengekspresikan keyakinan-keyakinan terhadap objek sikap.[2]

Struktur Sikap, Seperti telah dijelaskan di depan para ahli dalam membahas mengenai masalah sikap cukup menunjukkan adanya pandangan yang berbeda satu dengan yang lain.

Thurstone menekankan pada komponen afektif, Rokeach menekankan pada komponen kognitif dan konatif, sedangkan pada Baron Byrne, juga Myers dan Gerungan, pada komponen kognitif, afektif, dan konatif.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut diatas pada  umumnya pendapat yang banyak diikuti ialah bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu :

Komonen kognitif (komponen perceptual), yaitu komponen yag berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.

Komponen afektif (komponen emosional) adalah komponen yang berhubngan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang tergolong dalam hal yang positif, sedangkan rasa yang tidak senang tergolong ke dalam hal yang negatif. Komponen ini menunjukkan arah positif dan negatif  suatu sikap  .

Komponen konatif (Komponen prilaku, atau action component), yaitu komponen yangberhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini   menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berprilaku seseorang terhadap objek sikap.

Komponen-komponen tersebut diatas merupakan komponen yang membentuk struktur sikap. Analisis dengan melihat komponen-komponen yang membentuk sikap disebut analisis komponen atau analisis struktur.[3]

Fungsi Sikap, Menurut Katz (1964) dalam buku Wawan dan Dewi (2010) sikap mempunyai beberapa fungsi, yaitu:

Fungsi instrumental (fungsi penyesuaian/fungsi manfaat)

Fungsi ini berkaitan dengan sarana dan tujuan. Orang memandang sejauh mana obyek sikap dapat digunakan sebagai sarana atau alat dalam rangka mencapai tujuan.

orang akan bersifat positif terhadap obyek tersebut apabila obyek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya. Sebaliknya,  orang akan bersikap negatif terhadap obyek sikap bila obyek sikap menghambat pencapaian tujuan.

Fungsi pertahanan ego

Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam keadaan dirinya atau egonya.

Fungsi ekspresi nilai

Sikap merupakan jalan bagi untuk mengekspresikan nilai yang ada pada diri individu. seseorang akan mendapatkan kepuasan dengan mengekspresikan diri. Kemudian dapat menunjukkan kepada dirinya.

Individu yang bersangkutan menggambarkan keadaan sistem nilai yang ada pada dirinya  dengan mengambil sikap tertentu akan.

Fungsi pengetahuan

Individu mempunyai dorongan untuk ingin mengerti dengan pengalaman-pengalamannya. Dapat diartikan bahwa ketika seseorang mempunyai sikap tertentu terhadap suatu obyek, menunjukkan tentang pengetahuan orang terhadap obyek yang bersangkutan.

Teori-Teori Sikap

Di bawah ini merupakan teori-teori sikap yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya :

Teori Keseimbangan

Inti dari teori ini terletak pada upaya individu untuk tetap konsisten dalam bersikap. Sikap  dalam hidup yang melibatkan hubungan- hubungan antara seseorang dengan dua objek sikap.  Dalam bentuk sederhana, ketiga elemen tersebut dihubungkan dengan :

sikap favorable ( baik, suka, positif )

sikap unfavorable ( buruk, tidak suka, negatif )

Teori Konsistensi kognitif – Afektif

Fokus teori ini terletak pada bagaimana seseorang berusaha membuat kognisi mereka konsisiten dengan afeksinya. Selain itu penilaian seseorang terhadap suatu kejadian akan mempengaruhi keyakinannya. Sebagai contoh:

“Tidak jadi makan direstoran X karena temannya bilang bahwa restoran tersebut tidak halal padahal dia belum pernah kesana.”

Teori Ketidaksesuaian

Fokus teori ini terletak pada bagaimana individu menyelaraskan elemen – elemen kognisi, pemikiran atau struktur ( Konsonansi selaras ) dan disonasi atau kesetimbangan yaitu pikiran yang amat menekan dan memotivasi seseorang untuk memperbaikinya.

Terdapat 2 elemen kognitif dimana disonasi terjadi jika kedua elemen tidak cocok sehingga menganggu logika dan penghargaan. Sebagai contoh Misalnya: ”Merokok membahayakan kesehatan” konsonansi dengan ”saya tidak merokok”; tetapi disonansi dengan ”perokok”.

Teori Atribusi

Fokus teori ini terletak pada bagaimana individu mengetahui akan sikapnya dengan mengambil kesimpulan sendiri dan persepsinya tentang situasi.

Implikasi pada teori ini adalah perubhan perilaku yang dilakukan seseorang menimbulkan kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah. Sebagai contoh memasak setiap kesempatan baru sadar kalu dirinya suka menyukai/ hobi memasak

Makna persuasi

Persuasi (menurut Gorys Keraf) suatu seni verbal yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh pembicara (bentuk lisan, misalnya pidato) atau oleh penulis (bentuk tulisan, cetakan,elektronik) pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang.

Syarat-syarat persuasi

Pembicara harus mampu meyakinkan pendapatnya itu kepada orang lain dan percaya diri pada apa yang dia bicarakan.

Kemampuan pembicara mengendalikan emosi. Hal ini akan mendukung keputusan  yang diambilnya.

Diperlukan bukti-bukti yang meyakinkan untuk mendukung kebenarannya.

Ciri-ciri persuasi

Harus menimbulkan kepercayaan pendengar/pembacanya.

Bertolak atas pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah.

Harus menciptakan persesuaian melalui kepercayaan antara. pembicara/penulis dan yang diajak berbicara/pembaca.

Harus menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan tujuan tercapai.

Harus ada fakta dan data secukupnya.

Yang tergolong kedalam persuasi

Bentuk pidato, misalnya  kampanye lisan, dan penjual jamu ditempat-tempat terbuka.

Bentuk tulisan berupa iklan dan selebaran.

Bentuk elektronik, misalnya iklan di televisi, bioskop, dan internet

Metode-metode persuasi

Beberapa metode atau bentuk persuasi yang bermoral yaitu  metode yang  melibatkan     dan didasari oleh pengaruh alami dan rasa hormat yang sejati. Metode persuasi yang bermoral yaitu :

Pendidikan

Pendidikan merupakan bagian dari persuasi. Dengan ilmu yang diajarkan, Pendidik (guru,dosen atau       instruktur) berusaha mepengaruhi atau mengubah perilaku siswa.

Terapi

Terapi juga melibatkamn penggunaan pengaruh secara alami. dimana kita mengharapkan seseorang untuk sanggup mengendalikan hidup mereka sendiri serta bebas mengaktualisasikan potensi-potensi diri mereka.

Dialog

Sikap saling menghormati yang memungkinkan”sumber” untuk berdialog dengan “sasarannya” adalah Aspek penaruh alami lainnya, sehingga nantinya siapa yang menjadi “sumber” dan siapa yang menjadi “sasaran” akan menjadi kabur dan serinng kali guru serta para ahli terapi mendapati bahwa justru diri mereka telah belajar dari murid atau kliennya.

Kesadaran

Kita bisa menjadi manusia yang lebih baik jika berusaha untuk lebih terbuka terhadap dunia di sekitar kita.[4]

Contoh Penutup Makalah Sikap dan Persuasi

Source : My Archive

Langkah terakahir Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar adalah menyusun BAB III yaitu penutup dan daftar pustaka. Penutup berisi minimal 1 subbab yaitu kesimpulan. Daftar pustaka berisi sumber-sumber dari berbagai literatur yang kita cantumkan dalam makalah.

Kesimpulan

Sikap adalah pengalaman tentang suatu objek atau persoalan.

Isi Sikap,  sikap menurut Maio dan Haddock (2007) adalah konstruk-konstruk Psikologis yang diekspresikan oleh sikap, seperti keyakinan dan afeksi.

Sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu : komponen kognitif, afektif, dan konatif.

Fungsi sikap : fungsi instrumental, pertahanan ego, ekespresi nilai dan pengetahuan

Teori-teori sikap : Teori keseimbangan, teori kognitif afektif, teori ketidaksesuaian dan teori atribusi.

Persuasi (menurut Gorys Keraf) suatu seni verbal yang bertujuan untuk meyakinkan seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh pembicara (bentuk lisan, misalnya pidato) atau oleh penulis (bentuk tulisan, cetakan,elektronik) pada waktu ini atau pada waktu yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Rahman, Agus Abdul.2014. Psikologi Sosial.Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Walgito, Bimo.1978. Psikologi Sosial (Suatu Pengantar). Yogyakarta:  ANDI Yogyakarta

Widiharto, Argo. 2010. Psikologi Sosial. Semarang: FIP IKIP PGRI SEMARANG.

[1] Agus Abdul Rahman, Psikologi Sosial.( Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014) hal. 124

[2] Agus Abdul Rahman, Psikologi Sosial,(Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2014) hal. 126

[3] Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Penagantar), ( Yogyakarta:  ANDI Yogyakarta: 1978) Hal. 111

[4] Argo Widiharto. 2010. Psikologi Sosial. Semarang: FIP IKIP PGRI SEMARANG.hal. 96.

Demikainlah best Jobbers contoh makalah yang baik dan benar dari saya. Jangan lupa untuk mendownload file aslinya di link di bawah ini, apabila Best Jobbers semua tidak mau capek-capek membuat makalah.

Makalah ini juga saya cantumkan sumber-sumber yang valid dan relevan untuk best Jobbers dari kalangan mahasiswa jurusan Psikologi maupun mahasiswa jurusan Sosial yang sedang mengambil mata kuliah psikologi sosial. Semoga bermanfaat.

Berikut ini link downloadnya (doc) :

Atau (rar) :

 

Categories
Karya Tulis

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar merupakan kebutuhan pokok mahasiswa karena makalah merupakan suatu karya ilmiah wajib bagi mahasiswa yang sedang melaksanakan studi di perguruan tinggi. Sebagian besar dosen di berbagai Perguruan tinggi, seringkali menugaskan mahasiswanya untuk membuat karya ilmiah berupa makalah.

Seringkali, mahasiswa merasa kesulitan karena banyaknya tugas makalah yang dibebankan kepadanya.  Hal ini disebabkan oleh pembuatan makalah yang memakan waktu yang cukup lama, mulai dari mengumpulkan materi, mencari referensi materi sampai mengetiknya. Hal tersebut jelas memakan banyak waktu. Hal tersebut pula yang menjadikan mahasiswa cenderung frustasi. Dengan demikian, mereka perlu mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar di internet.

Dewasa ini, internet menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Tidak terkecuali kebutuhan mahasiswa dalam membuat makalah. Mahasiswa sering kesulitan untuk membuat makalah dan sering kebingungan dalam menyusun makalah.

Oleh karena itu, mahasiswa banyak memanfaatkan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar dari portal-portal yang bertebaran di internet. Buat anda best jobbers yang yang sedang mencari Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar,

di bawah ini portal bestjobaroundtheworld.com akan memberikan Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar secara lengkap mulai dari Pendahuluan, pembahasan, penutupan daftar isi dan dilengkapi pula dengan footnote dari sumber yang sangat jelas dan terpercaya.

Contoh Makalah Gangguan Kepribadian

Contoh Makalah Yang Baik dan benar
source :Amen Clinics

Contoh Makalah yang Baik Dan Benar dengan tema pembahasan Gangguan Kepribadian di bawah ini kami berikan kepada Best Jobbers semua . Di sini kita akan bersama-sama belajar tentang membuat Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar.

Contoh Pendahuluan

source: Hello Sehat

Pada dasarnya, pendahuluan berisi tentang gambaran umum tema pembahasan dalam makalah. Dalam Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar,  pendahuluan  minimal berisikan beberapa sub bab. Sebuah Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar , minimal berisi 3 sub bab, yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penulisan.

1. Latar Belakang Masalah

Kepribadian adalah watak  atau temperamen spesifik, reaktivitas emosional,  kewajaran, hubungan interpersonal yang dibangun, kebutuhan, harapan, kekikiran, kedermawanan, arogansi, kemerdekaan, dll.
Yang terbentuk sejak masa anak, remaja sampai dewasa dini, dan dipertahankan sepanjang kehidupan.

Kepribadian  terbentuk dan ada sebagai hasil interaksi antara faktor herediter dan kontak psikososial. Kepribadian merupakan kombinasi dari pikiran, emosi dan perilaku yang membuat seseorang unik, berbeda satu sama lain. dan juga bagaimana seseorang melihat diri sendiri.

Karakter kepribadian secara mencolok membedakan diri seseorang dengan orang lain. Sedangkan gangguan kepribadian merupakan istilah umum untuk suatu jenis penyakit di mana cara berpikir, memahami situasi, dan berhubungan dengan orang lain tidak berfungsi.

Dalam beberapa kasus, kemungkinan penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki gangguan kepribadian karena cara berpikir dan berperilaku tampak alami bagi si penderita, dan penderita mungkin  menyalahkan orang lain atas keadaannya.

Sehingga penderita yang mengalami gangguan kepribadian yang akut saja yang ditindak lanjuti dan diberi solusi penanganan oleh psikiater atau psikolog.  edangkan orang awam yang ingin mengetahui apakah kepribadian mereka mengalami gangguan, terkadang mengalami kendala bagaimana solusi untuk bisa berkonsultasi tanpa harus menemui seorang psikiater atau psikolog.

2. Rumusan Masalah

  1. Sebutkan dan jelaskan apa itu gangguan kepribadian !
  2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis gangguan kepribadian !

3. Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui apa itu gangguan-gangguan kepribadian.
  2. Untuk mengetahui jenis-jenis gangguan kepribadian.

Contoh Pembahasan

source : My Archive

Pembahasan masalah merupakan inti dari semua makalah. Segala teori, metode penelitian  dan penjabaran atas penelitian dipaparkan dalam pembahasan. Pembahasan merupakan penjabaran dari teori-teori yang sudah kita ulas di dalam rumusan masalah.

Pada bagian ini data-data ilmiah yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif disajikan. Teori-teori dari para ahli digunakan untuk menguatkan gagasan. Apabila kita mengambil teori dari suatu referensi, kita harusmenuliskan sumber referensi tersebut dalam bentuk footnote maupun innote.

Semua asumsi yang ada dalam pembahasan ini harus didasarkan referensi yang berupa literatur maupun data empiris. Kita tidak diperbolehkan untuk mencantumkan gagasan kita sendiri yang bersifat objektif.

Berikut ini adalah contoh pembahasan yang dapat anda Best jobbers gunakan sebagai bahan referensi.

A.Gangguan-gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.

Gangguan-gangguan kepribadian disebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya. Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama.

Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari (misalnya, dalam relasi sosial dan pekerjaan). Perlu juga diketahui bahwa:

(1) kebanyakan individu yang menderita gangguan kepribadian tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, dan walaupun tetap dirawat, tetapi hanya dirawat sebagai pasien luar;

(2) Banyak diantara orang orang tersebut tidak menganggap diri mereka sakit, dengan demikian mereka tidak mencari perawatan;

(3) sejumlah besar individu tersebut dikurung sebagai narapidana.

B.Jenis-jenis Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.[1]  Gangguan-gangguan kepribadian  disebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya.[2]

Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap situasi serta mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari (misalnya, dalam relasi sosial dan pekerjaan).[3]

Perlu juga diketahui bahwa: (1) kebanyakan individu yang menderita gangguan kepribadian tidak cukup sakit untuk dirawat di rumah sakit, dan walaupun tetap dirawat, tetapi hanya dirawat sebagai pasien luar; (2) Banyak diantara orang orang tersebut tidak menganggap diri mereka sakit, dengan demikian mereka tidak mencari perawatan;

(3) sejumlah besar individu tersebut dikurung sebagai narapidana. Oleh karena itu pada statistik mereka digabung sebagai penghuni lembaga lembaga penjara. [4]

Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa orang yang menderita gangguan-gangguan kepribadian memiliki pola tingkah laku yang maladaptif, tidak mampu menyesuaikan diri dan hal tersebut berlangsung lama. Pada dasarnya mereka tidak menyadari hal tersebut, karena mereka tidak merasa ada hal yang aneh dalam dirinya (merasa tidak sakit).

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of  Mental Disorders (DSM-IV) gangguan kepribadian dibagi ke dalam 3 kelompok besar, yaitu :

Kelompok A    :

Gangguan-gangguan pola kepribadian, orang-orang yang dianggap aneh atau eksentrik.  Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian paranoid, skizoid, dan skizotipal;

Kelompok B    :

Kelompok ini terdiri dari gangguan kepribadian antisosisal;

Kelompok C   :

Gangguan-gangguan sifat kepribadian, orang yang sering kali tampak cemas dan ketakutan. Kelompok ini mencakup gangguan kepribadian menghindar, dan obsesif-kompulsif, dependen, histrionik, narsistik..[5]

1.Gangguan-gangguan pola kepribadian

a.Gangguan kepribadian Paranoid

Kepekaan tajam dalam hubungan hubungan antar pribadi yang disertai dengan kecenderungan untuk memproyeksikan perasaan perasaan curiga, cemburu yang extrem, dan iri hati dalam hubungan hubungan itu merupakan ciri yang sangat khas dari kepribadian paranoid. Ia juga hypersensitive, rigid (kaku), anxious (pecemburu) dan argumentatif (suka berdebat).[6]

Mereka cenderung melihat diri sendiri sebagai yang baik, yang tidak memiliki cacat, dan jarang mampu melihat kekurangan dirinya, meskipun dia tahu. Mereka juga sangat sensitif terhadap kritikan, baik itu nyata maupun yang dibayangkan. Karena mereka hypersensitive, mereka akan cenderung tidak mempercayakan rahasia pribadi pada orang lain karena mereka yakin bahwa informasi pribadi akan digunakan untuk menyerang mereka.

b.Gangguan kepribadian Skizoid

Simtom utama gangguan kepribadian skizoid ialah tidak tertarik kepada orang lain atau hubungan hubungan sosial.[7] Dia sering sering kali digambarkan sebagai penyendiri atau eksentrik, ia juga kehilangan minat pada hubungan sosial serta jarang memberikan respons terhadap orang lain.

Boleh dikatakan bahwa orang yang memiliki gangguan kepribadian skizoid adalah orang yang selalu menyendiri, tidak mampu memasuki hubungan-hubungan antar pribadi yang hangat. Mereka tampak selalu menjaga jarak, dan sikap acuh tak acuh terhadap pujian, kritikan atau perasaan orang lain. Wajah mereka cenderung tidak menampilkan ekspresi emosional, dan mereka jarang bertukar senyum sosial atau salam.

c.Gangguan kepribadian Skizotipal

Individu yanng mengalami gangguan skizotipal memiliki ciri-ciri khas skizofrenia. Orang yang menderita gangguan ini memiliki kepercayaan-kepercayaan yang aneh, secara sosial aneh dan terisolasi atau memperlihatkan tingkah laku eksentrik atau khas atau tidak memberi perhatian sedikitpun terhadap penampilanya.

Tetapimeskipunsimtom-simtomituadanamunorang yang mengalamigangguankepribadianskizotipal tetap berada pada posisi normal dalam garis yang memisahkan orang-orang normal dari skizofrenia.

d.Gangguan Kepribadian Perbatasan (borderline)

Gangguan kepribadian ini ciri utamanya adalah ketidakstabilan yang berat dalam tingkah laku, emosi, identitas, dan hubungan hubungan antarpribadi. Ketidakstabilan tingkah laku kelihatan dalam tingkah laku impulsif, dalam seks, makan, penyalahgunaan zat zat (obat-obat), dan tindakan-tindakan yang merusak diri sendiri (langkah-langkah bunuh diri, misalnya).

Ketidakstabilan itu juga terlihat  pada emosi yang terjadi tiba- tiba dan menderita depresi. Jadi, individu ini tidak hanya mengalami suatu gangguan tunggal, tetapi mengalami berbagai gangguan yang kemudian dinamakan gangguan perbatasan.

2.Gangguan-gangguan Sifat Kepribadian

a.Gangguan Kepribadian Pasif-Agresif

Karena dasarnya sama dengan psikopatologi, maka tipe gangguan sifat kepribadian ini dikelompokkan sebagai berikut: tipe pasif-dependen, tipe pasif-agresif, dan tipe agresif.

Tipe pasif-dependen

Ciri-ciri khasnya ialah tidak berdaya, tidak tegas dan tergantung pada orang lain. Apabila mereka dituntut untuk memikul tanggung jawab atau mengambil prakarsa, mereka segera cemas dan panik.

Tipe pasif-agresif

Sikap pasif mereka hampir sama dengan tipe pasif-dependen, namun orang orang ini memiliki pola agresi yang halus dan tak langsung pada hubungan mereka dengan orang lain, mengungkapkan kebencian dengan cara mencibir, bersungut-sungut, keras kepala, tidak efisien, membuang-buang waktu atau berlengah-lengah. Mereka sering kali menghalangi kegiatan orang lain yang berhubungan dengan diri mereka dengan melawan secara pasif.

Dalam dunia digital masa kini, mereka inilah yang disebut dengan haters oleh sebagian besar netizen.mereka adalah orang-orang yang mengujar kebencian terhadap sesuatu tidak secara langsung.

Tipe agresif

Simtom utama penderita gangguan ini adalah emosinya cenderung tidak stabil dan anti sosial, memperlihatkan ledakan-ledakan kemarahan, dan bertingkah laku merusak respons terhadap frustasi-frustasi yang kecil sekalipun. Reaksi mereka dapat berbentuk perasaan dendam yang tidak sehat atau patologik. Bentuk-bentuk agresi mereka secara terbuka ialah menyebarkan desas-desus dan dengki.

Penderita gangguan ini tidak segan-segan menunjukkan kebencian ataupun kemarahan pada setiap hal yang mereka temui, sering merasa frustasi dengan keadaan, walau sekecil apapun permasalahan yang dihadapinya.

b.Gangguan kepribadian Obsesif Kompulsif

Orang orang dengan gangguan obsesif kompulsif memiliki kebutuhan yang tinggi akan kesempurnaan, tata tertib dan kontrol; kehidupan mereka dikuasai oleh sifat yang teratur dan disiapkan dengan baik. Perhatian mereka yang berlebihan terhadap hal hal yang terinci menyebabkan mereka tidak dapat melihat “gambaran yang luas” dan mereka mungkin menghabiskan begitu banyak waktu pada aspek suatu masalah yang tidak berarti dan tidak penting.

Orang orang yang mengalami gangguan kepribadian obsesif kompulsif tidak mampu mengadakan hubungan antar pribadi yang bermakna karena mereka sangat terikat pada usaha supaya pekerjaan mereka teratur dan tidak memiliki waktu untuk persahabatan. Obsesi mereka akan kontrol menyebabkan pribadi mereka kaku, tidak hangat dan tidak dapat merasakan persahabatan yang hangat dan akrab.

Dalam kehidupan sehari-hari, gangguan kepribadian ini sering disebut juga over-perfeksionis, di mana mereka sangat terpaku pada kebutuhan akan kesempurnaan sehingga mereka tidak dapat menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu. Apa yang orang lain lakukan pasti gagal memenuhi harapan mereka, dan mereka memaksa diri untuk mengerjakan ulang pekerjaan tersebut.

c.Gangguan kepribadian yang menghindar (Avoidant)

Individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian yang menghindar sangat peka terhadap penolakan orang lain dan merasa terhina oleh penolakan itu. Karena mereka berpikir tentang penolakan, maka individu-individu ini menghindari hubungan dengan orang lain kecuali kalau ada jaminan bahwa mereka diterima tanpa dicela.

Individu dengan gangguan ini sebenarnya sangat ingin berelasi dengan orang lain, namun mereka malu dan sangat takut jika tidak diterima. Mereka juga memiliki perasaan rendah diri, tidak percaya diri, takut berbicara di depan publik atau meminta sesuatu dari orang lain. Mereka sering kali menyalah artikan komentar dari orang lain sebagai menghina atau mempermalukan dirinya

d.Gangguan kepribadian dependen

Individu-individu yang mengalami gangguan kepribadian dependen membiarkan secara pasif orang lain mengambil keputusan yang penting untuk mereka. Ketidakmampuan individu-individu ini untuk mengambil keputusan dapat menyebabkan kecemasan dan depresi serta dapat mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan sesuatu apabila mereka ditempatkan dalam peran-peran dan tugas-tugas yang memerlukan tanggung jawab atau kepemimpinan.

Dapat dikatakan pula sebagai  orang yang memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk  diasuh oleh orang lain. Hal ini membuat mereka sangat patuh dan melekat dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Mereka juga sangat sulit melakukan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan dari orang lain.

e.Gangguan kepribadian histrionik

Ada tiga karakteristik individu yang mengalami gangguan kepribadian histrionik.  Pertama, orang seperti itu biasanya menarik mempesona, dan menggiurkan secara seksual. Namun bila orang orang lain mulai bersungguh-sungguh ia mundur dengan cepat. Kedua, individu ingin menjadi pusat perhatian dan sering bertindak dalam cara-cara yang sangat dramatis dan emosional untuk menarik perhatian.

Ketiga, walaupun memperlihatkan afek yang hebat, namun emosi dari individu histrionik sangat dangkal dan emosinya mungkin cepat sekali berpindah dari orang yang satu ke orang yang lain atau dari positif ke negatif. Biasanya individu histrionik memiliki tingkah laku yang bersemangat , cenderung menonjolkan diri dan ekstrovert pada individu yang emosional dan mudah terstimulasi oleh lingkungan.

Namun, dia tidak mampu menciptakan hubungan yang mendalam dan menjaga hubungan dalam jangka waktu panjang.

f.Gangguan kepribadian narsisistik

Arketipe untuk gangguan kepribadian narsistik adalah Narcissus__sandiwara dalam mitologi Yunani__ yang jatuh cinta dalam bayangannya sendiri dalam kolam. Individu yang mengalami gangguan ini adalah orang yang merasa bahwa dirinya sangat penting dan ia dikuasai oleh fantasi-fantasi tentang keberhasilan, kekuasaan, kecerdasan, dan kecantikan.

Karena ia berfikir bahwa ia adalah orang yang istimewa, maka ia menuntut perhatian dan kekaguman terus menerus dari orang orang yang ada disekitarnya.

Individu ini memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka membesar-besarkan prestasi mereka dan berharap orang lain menghujani mereka dengan pujian.

g.Gangguan kepribadian sadistik

Gangguan kepribadian sadistik digunakan untuk orang yang memperlihatkan suatu pola yang tetap untuk bersikap kejam dan agresif dalam respons terhadap orang lain. Individu yang mengalami gangguan ini memperoleh kesenangan dalam menyakiti atau menghina orang lain atau senang melihat serta terhibur oleh penderitaan orang orang lain.

h.Gangguan kepribadian yang merusak diri sendiri

Individu dengan gangguan ini cenderung menghindari atau mengabaikan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan masuk ke dalam hubungan-hubungan atau situaasi-situasi dimana ia akan menderita dan tidak membiarkan orang lain membantunya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa orang ini kelihatanya mencari kegagalan. Beberapa ahli teori mengemukakan bahwa individu yang bertingkah laku merusak diri sendiri berusaha untuk menghukum dirinya sendiri.

Individu dengan gangguan ini memiliki rasa percaya diri yang sangat minor. Dia terlalu tidak percaya pada dirinya sendiri dan menganggap kegagalan bersumber dari dirinya. Individu ini sangat rentan dengan depresi, tidak mampu bangkit dari kondisi tersebut dan ujung-ujungnya dia akan melampiaskannya perasaan tertekannya dengan melukai dirinya sendiri. Individu dengan gangguan ini sangat memiliki kecenderungan mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara-cara yang tragis.

3.Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan kepribadian anti sosial adalah sebutan diagnosis untuk masalah yang akan dibicaarakan dalam bagian ini, tetapi individu yang mengalami gangguan ini biasanya disebut sebagai orang yang psikopat atau sosiopat. Orang yang didiagnosis sebagai orang yang megalami gangguan kepribadian antisosial adalah orang yang tidak memiliki kematangan emosi, kurang memiliki pertimbangan dan rasa tangguang jawab, tidak mampu menilai akibat akibat dari tingkah laku.

a.Simtom

Simtom simtom gangguan kepribadian antisosial dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yakni simtom suasana hati, simtom kognitif dan simtom motor.

1)Simtom suasana hati

Simtom pertama yang sangat penting dalam gangguan kepribadian antisosial adalah tidak ada kecemasan atau rasa bersalah. Simtom kedua ialah orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial hedonist (mencari kesenangan). Simtom ketiga adalah kedangkalan perassaan perassaan dan tidak ada cinta emosional

2)Simtom kognitif

Sesuatu yang penting diketahui adalah orang yang mengalami gangguan kepribadian kelihatan sangat cerdas, memiliki keterampilan verbal dan sosial yang berkembang dengan baik dan memiliki kemampuan ini, maka kalau ia menemuai kesulitan maka dapat menemukan jalan keluar tapi merasionalisasikan tingkah laku yang tidak tepat sehingga kelihatanya masuk akal dan dapat dibenarkan.

3)Simtom motor

Karena orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial tidak cemas, maka ia bertinngkah laku impulsif. Suatu hal yang menarik dari tingkah lakunya mencari sensasi yang tinggi. Orang dengan gangguan kepribadian ini melakukan kegiatan kegiatan yang berbahaya.

b.Penyebab

Tiga pendekatan untuk menjelaskan penyebab dari gangguan kepribadian antisosial, yakni pendekatan psikodinamik, pendekatan belajar, penddekatan fisiologis. Ketiga pendekatan itu akan dibahas secara rinci dalam bagian ini.

1)Pendekatan Psikodinamik

Terdapat dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisosial. Pertama, menggunakan pendekaatan struktural dari Freud terhadap kepribadian beberapa ahli mengemukakan karena kurang cemas dan kurang merasa bersalah karena ia tidak mengembangkan superego yang kuat.

Kedua, penjelasan psikoanalisis mengemukakan karena telah melekat pada tahap awal perkembangan psikoseksual artinya disebabkan karena kebutuhan kebutuhan akan cinta, dukungan dan penerimaan tidak dipuaskan oleh orang tuanya dan kegagalan dalam memuaskan kebutuhan kebutuhan ini menghalangi perkembangan ke tahap tahap berikuttnya.

2)Pendekatan belajar

Ada dua penjelasan mengenai gangguan kepribadian antisosial, yakni teori kekurangan dalam pengondisian klasik dan teori penghindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Teori kekurangan dalam pengondisian klasik. Mengemukakan bahwa orang yang menderita gangguan antisosial tidak cemas karena ia tidak mampu mengembangkan respons respons kecemasan yang terkondidi secara klasik kurang (lemah).

Teori penghindaran kecemasan yang terkondisi secara operan. Mengemukakan bahwa anak anak itu menghindari hukuman yang menyusul tingkah laku yang tidak tepat dan dengan demikian menghindari kecemasan dan melenyapkan kekangan kekangan terhadap tingkah laku yang buruk.

3)Pendekatan fisiologis

Mengemukakan bahwa orang orang yang menderita gangguan kepribadian antisosial disebabkan oleh “rangsangan neurologis yang kurang”. Rangsangan neurologis yang kurang itu digunakan untuk menjelaskan kecemasan yang relatif kurang yang kelihatan pada orang orang yang mengalami gangguan tersebut. Rangsangan elektrokortikal. Ini mengacu pada tingkat tingkataktivitas listrik pada otak dan aktivitas diukur dengan rekaman-rekaman EEG. Genetika.

Dalamkebanyakanpenelitian yang telahdifokuskan, padaherita- bilitasgangguankepribadianantisosial, tingkah

kriminal digunakan sebagai ukuran gangguan tersebut. Tetapi tingkah laku kriminal bukan satu satunya ukuran untuk gangguan itu dan karena tingkah laku kriminal bukan suatu ukuran yang baik, maka hasil hasil dari penelitian akan menyimpang.

4.Gangguan-gangguan Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ketergantungan dan penyalahgunaan zat merupakan bentuk lain dari gangguan kepribadian. Pada umumnya, mereka yang melakukan penyalahgunaan zat dan mengalami ketergantungan, memiliki gangguan kepribadian. Ada beberapa kategori ketergantungan dan penyalahgunaan zat, diantaranya :

a.Diagnosis Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ketergantungan zat psikoaktif, ditunjukkan dengan simtom-simtom di bawah ini :

Individu tidak dapat mengontrol penggunaan obat / zat tersebut;

Individu mengalami deteriorisasi tingkah laku; dan,

Individu mengalami simtom-simtom putus zat.

Penyalahgunaan zat psikoaktif, yaitu perilaku maladaptive yang dilakukan oleh seseorang akibat dari penyalahgunaan obat, dan bukan merupakan ketergantungan (kecanduan). aksi kebut-kebutan dalam kondisi mabuk, depresi dan memilih untuk mengonsumsi alkohol sebagai pelarian.

Gangguan mental organik disebabkan oleh terlalu banyak dari zat psikoaktif (psikotoksik). Contoh : penggunaan obat batuk cair dalam dosis tinggi dan jumlah yang banyak dapat

efek nge-fly (mabuk) dan halusinasi hebat dalam jangka waktu sampai berjam-jam. [9]

Jika ditilik lebih dalam,  diagnosis pertama adalah kondisi terparah dari gangguan mental akibat ketergantungan zat, dimana individu sudah tidak mempunyai kontrol terhadap dirinya sendiri. Perilaku ini cenderung lebih sulit disembuhkan, kecuali dengan rehabilitasi dan berada di lingkungan yang terisolir. Bahkan, bila tidak segera mendapatkan tindakan dapat berakibat fatal.

Dengan toleransi yang makin berkembang bukan tidak mungkin individu akan overdosis dalam penggunaan obat untuk efek yang dia inginkan, hal ini tidak jarang dapat menyebabkan kematian.

Pada diagnosis yang kedua dan ketiga, individu melakukan perilaku yang maladaptive dan kadang berbahaya, namun ada kemungkinan dapat disembuhkan lebih mudah karena individu masih memiliki control penuh atas dirinya, setelah efek obat tersebut berakhir.

b.Penyebab Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk menggunakan zat psikoaktif, yaitu : 1) ekspose media tentang zat psikoaktif; 2) faktor situasi individu, misalnya individu yang mengalami gangguan insomnia cenderung akan mengkonsumsi pil tidur dengan dosis berlebihan;

3) Karakteristik keluarga pada masa kanak-kanak; 4) faktor kepribadian antisosial dan depresif; 5) faktor genesis dan lingkungan (fisiologis).Menurut penelitian, Faktor lingkungan memiliki dampak yang sangat signifikan. Seseorang yang tinggal di lingkungan kondusif, memiliki kecenderungan jauh dari perilaku maladaptif dan penyalah gunaan zat psikoaktif, atau sebaliknya.[10]

c.Berbagai Macam Zat Psikoaktif dan Masalah yang timbul Akibat Ketergantungan dan Penyalahgunaannya

Ketergantungan terhadap pemakaian narkoba ini sangat berbahaya dikarenakan beberapa hal di bawah ini :

Otak dan syaraf dipaksa untuk bekerja di luar kemampuan yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak wajar.

Peredaran darah dikarenakan pengotoran darah oleh zat-zat yang mempunyai efek yang sangat keras, akibatnya jantung di rangsang untuk bekerja di luar kewajiban.

Pernapasan tidak akan bekerja dengan baik dan cepat lelah.

Penggunaan lebih dari dosis yang dapat ditahan oleh tubuh akan mendatangkan kematian secara mengerikan.

Timbul ketergantungan baik rohani maupun jasmani sampai timbulnya keadaan yang serius karena putus obat.[11]

Berdasarkan efeknya, zat psikoaktif dapat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu :

1)Depresan (Alkohol, Barbiturat dan Benzodiazepin)

Alkohol yang diminum berpengaruh pada penglihatan dan kesadaran, mengganggu kemampuan kognitif, meninggalkan alkohol dapat mengalami simtom putus alkohol berupa  traumatis yang berat hingga berujung kematian. Simtom putus alkohol yang pertama adalah agitasi dan kontraksi otot yang tidak terkendali, selanjutnya akan merasa mual, muntah dan bercucuran keringat disertai delirium.

Penggunaan barbiturate pada dosis tertentu akan menimbulkan efek simtom putus barbiturate. Simtom-simtomnya biasanya meliputi tremor, tegangan, kehilangan control motor, mual-mual, delirium berupa penglihatan dan pendengaran, dan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan kematian.

Narkotika (opium, morphin dan heroin)

Mereka yang terbiasa memakai zat yang berasal dari opiat umumnya mempunyai sugesti tinggi untuk menginginkannya terus menerus. Gejala lainnya adalah cemas, sulit tidur, tak punya nafsu makan, tak berani menatap mata lawan bicara dan seringkali disertai tindak kekerasan.[12]

Pemakaian dalam waktu lama akan menyebabkan ketergantungan dan toleransi dari ketiga obat ini semakin lama semakin meningkat. Simtom pertama putus opiate adalah gelisah yang memicu agitasi dan kekerasan disertai panas dingin dan sesak nafas. Individu tidak dapat mengontrol motorik tubuh, kejang otot yang menyakitkan, diare dan berkeringat banyak. Individu menjadi lebih agresif dan cenderung berlaku bengis, berusaha melakukan apa saja untuk mendapatkan zat psikoaktif ini.

Pada dosis yang tinggi dia bisa menyayat-nyayat tangan dan meminum darahnya sendiri, karena darah itu telah bercampur dengan zat opiate. Simtom tingkat akhir adalah mengeluarkan busa dari mulut, gagal jantung dan kematian.

2)Stimulan (amfetamin, kokain, kafein, nikotin)

Penggunaan amfetamin dosis tinggi dapat menyebabkan euphoria berujung tingkah depresif, pembuluh darah otak juga bisa pecah karena tekanan darah meningkat drastis, mengalami simtom delusi seperti skizofrenia paranoid, dan cenderung berperilaku agresif.

Simtom-simtompenggunakokain yaitu dapat menyebabkan kerusakan yang berat pada membran lendir dan dapat menyebabkan kematian. penggunaan kafein dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan agitasi, tegangan, iritabilitas, meningkatnya denyut jantung, kehilangan selera makan dan sakit kepala.

Efek nikotin dalam jangka waktu yang lama yaitu tremor otot, penyempitan pembuluh darah dalam kulit dan memicu beberapa penyakit seperti kanker paru-paru, jantung dan pembuluh nadi koroner.

3)Halusinogen (canabis, LSD, psilobin dan maskalin)

Ganja umumnya relatif jarang menimbulkan sugesti ketagihan. Sementara efek LSD pada kesehatan bisa mengganggu sistem pernafasan dan otak, terkena halusinasi dan menjadi paranoid. [13] Pengguna halusinogen dalam dosis tinggi menyebabkan perilaku maladaptif yang sangat merugikan. Misalnya, dia bisa saja melompat dari jendela atau atap gedung karena berhalusinasi bisa terbang.

Oleh karena itu, meskipun cenderung tidak menimbulkan efek ketagihan, namun halusinasi yang ditimbulkan sangat berbahaya. Apabila diteruskan maka lama-kelamaan akan merusak sistem kerja otak, mematikan pandangan terhadap kenyataan dan tidak jarang berakibat kematian.

 

[1] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene, Psikologi Abnormal : Edisi ke lima jilid I, (Jakarta : Erlangga, 2005), hlm. 273

[2] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.17

[3] Fitri Fausiah, dan Julianti Widury, Psikologi Abnormal : Klinis Dewasa, (Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 2008) hlm. 142

[4] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.18

[5] Jeffrey S. Nevid, Spencer A. Rathus, dan Beverly Greene, Op.Cit. hlm. 273

[6] Sutardjo A. Wiramihardja, Pengantar Psikologi Abormal, (Bandung  : PT Refika Aditama,  2007), cet. 2, hlm. 117

[7] Yustinus Semium, Kesehatan Mentasl 2, (Yogyaarta:Kanisius, 2006).hlm.

[8] Yustinus Semium, Kesehatan mental 2, (yogyakarta : kanisius, 2006), hlm 43

[9]Yustinus semium, Kesehatan mental 2. (yogyakarta : kanisius, 2006). hlm .18-135

[10] Yustinus semium, Kesehatan mental 2, (yogyakarta : kanisius, 2006), hlm 121-124

[11] Fransiska Novita Eleanora, Jurnal Hukum, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (suatu tinjauan teoritis) Vol XXV, No. 1, April 2011. Jakarta:  FH Universitas MPU Tantular

[12]  Topo Santoso dan Anita Silalah.Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I .2000. hal. 37 – 45

[13] Topo Santoso dan Anita Silalah.Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I .2000. hal. 37 – 45

Contoh Penutup

Source : My Archive

Setelah pembahasan selesai maka step terakhir dari Contoh Makalah Yang Baik dan Benar adalah membuat penutup. Penutup ini berisikan ringkasan-ringkasan dari pembahasan makalah yang sudah dituangkan dalam pembahasan. Jangan lupa pula Best Jobbers untuk membuat daftar pustaka yang berisikan literatur-literatur yang menjadi sumber referensi anda semua dalam menyusun makalah.

Kesimpulan

Gangguan kepribadian (personality disorder) adalah pola perilaku atau cara berhubungan dengan orang lain yang benar-benar kaku. Kekakuan tersebut menghalangi mereka untuk menyesuaikan diri terhadap tuntutan eksternal; sehingga pola tersebut pada akhirnya bersifat self-defeating.

Jenis-jenis Gangguan Kepribadian :

Gangguan-gangguan pola kepribadian : gangguan kepribadian paranoid, gangguan kepribadian skizoid , gangguan kepribadian skizotipal, gangguan kepribadian perbatasan (borderline).

Gangguan-gangguan Sifat Kepribadian : gangguan kepribadian pasif-agresif (tipe pasif-dependen, tipe pasif-agresif, tipe agresif), gangguan kepribadian obsesif kompulsif, gangguan kepribadian yang menghindar (avoidant), gangguan kepribadian dependen, gangguan kepribadian histrionik, gangguan kepribadian narsisistik,gangguan kepribadian sadistik, gangguan kepribadian yang merusak diri sendiri.

Gangguan kepribadian antisosial

Gangguan-gangguan seksual : homoseksualitas, parafilia, disfungsi-disfungsi seksual, gangguan identitas gender

Gangguan-gangguan Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat

Diagnosis Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat : ketergantungan zat psikoaktif, penyalahgunaan zat psikoaktif, gangguan mental organik.

Penyebab Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat : ekspose media, faktor situasi, Karakteristik keluarga, faktor kepribadian antisosial dan depresif, faktor genesis

Berbagai Macam Zat Psikoaktif : Depresan,Narkotika, Stimulan, Halusinogen

DAFTAR PUSTAKA

  1. Wiramihardja, Sutardjo. 2007. Pengantar Psikologi Abormal. cet. 2. Bandung: PT Refika Aditama

Eleanora, Fransiska Novita. 2011. Jurnal Hukum, Bahaya Penyalahgunaan Narkoba serta Usaha Pencegahan dan Penanggulangannya (suatu tinjauan teoritis) Vol XXV, No. 1.Jakarta:  FH Universitas MPU Tantular

Fausiah, Fitri dan Julianti Widury. 2008. Psikologi Abnormal: Klinis Dewasa. Jakarta : UI-Press

Nevid, Jeffrey S, Spencer A. Rathus dan Beverly Greene. 2005 . Psikologi Abnormal : Edisi ke lima jilid I, Jakarta : Erlangga.

Santoso, Topo dan Anita Silalah. 2000.  Jurnal Kriminologi Indonesia Vol. 1 No. I

Semium, Yustinus.2006.Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius

Contoh Makalah Yang Baik Dan Benar seperti itu bisa Best Jobbers semua dapatkan gambaran utuh dengan cara mendownload file yang sudah kami sediakan. Caranya, klik tombol download di bawah ini. Selamat mencoba, semoga sukses !


atau di sini